Rabu, Desember 16, 2009

sebuah praktik kekerasan (catatan menyambut Pilkada Kukar)

Ponsel saya berdering. Bunyi nada menandakan sebuah pesan singkat. Nada standar dari sebuah Ponsel yang teramat standar di tengah hiruk pikuk iklan model Ponsel keluaran terbaru. Tapi, sumpah, saya tidak pernah risau dengan hal yang satu ini. Isi pesan singkat tadi lah yang membuat saya sangat-sangat risau.
"Mesin perahunya macet". Begitu isi SMS yang dikirimkan istri saya sekitar pukul 19:06:46. Tanggal 16 Desember 2009. Saat itu, rombongan KPUD Kutai Kartanegara, istri saya termasuk satu dalam rombongan, sedang menuju Kecamatan Kembang Janggut untuk sebuah kegiatan Bimtek Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Petugas Pemutahiran Data Pemilih (PPDP).
Selama 15 menit, long boat yang ditumpangi rombongan terkatung-katung di atas Sungai Mahakam di pedalaman Kalimantan Timur. Katanya, tali kipas mesin perahu itu putus. Suasana sudah gelap gulita. Di tepi-tepi sungai, cuma hutan-hutan yang memamerkan gigil malam dengan warna sunyi yang pekat. Duh, saya tidak bisa membayangkan suasana itu.
***
Saya tahu benar ketakutan si pengirim SMS ini. maklum, dia seorang perenang dengan satu-satunya gaya, 'gaya batu'. Berkali-kali, ia selalu mengeluhkan 'kekurangan'-nya yang satu itu. Memang, dia menikah dengan seorang 'anak seribu pulau' yang dilahirkan di sebuah pulau di tengah perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Meski kemampuan berenang saya, tidak terlalu bisa diandalkan.
Signal Ponsel memang sempat hilang. Kerisauan jadi tambah mengental. Akhirnya, setelah menelpon beberapa menit kemudian, saya lega. Rombongan tiba dengan selamat. Alhamdulillah. Tapi, saya lagi kepikiran soal lain. Soal bagaimana seharusnya mewujudkan akses transportasi yang nyaman dan aman bagi masyarakat, khususnya di Kutai Kartanegara (Kukar).
Ini bukan soal merumitkan sesuatu yang sederhana atau menyederhanakan sesuatu yang rumit. (Kata teman saya, ini penyakit yang kerap menjangkiti kaum akademisi). Ah, untung saya bukan akademisi.
Memang persoalan ini terkesan klise, jamak, dan sudah sangat biasa. Bahwa tanggung jawab pemerintah lah mewujudkan akses transportasi seperti membangun jalan, jembatan, dan infrastruktur mendasar lain untuk warganya.
****
Dengan APBD yang begitu besar, persoalan ini seharusnya memang bukan masalah bagi Kutai Kartanegara. APBD Perubahan Tahun 2009 saja yang disahkan baru-baru ini mencapai Rp5,1 triliun. Jumlah uang yang besar bukan?
Karena belum pernah melakukan perjalanan ke wilayah Hulu Mahakam, saya memang belum paham betul soal seluk beluk moda transportasi di sana. Katanya, memang bisa ditempuh lewat darat meski sebagian jalan belum terlalu mulus. Ada juga yang masih harus ditempuh dengan jalur sungai.
Yang unik, di daerah ini ada sebuah jembatan yang selesai dibangun dengan dana miliaran. Sampai sekarang, jembatan megah dengan model meniru sebuah jembatan di Amerika itu belum bisa digunakan. Karena, jalan yang akan dihubungkannya justru belum dibangun. Jalan dulu atau jembatan dulu? Jadi ingat pertanyaan, duluan mana telur atau ayam, karena tak habis pikir dengan keanehan jembatan ini. Orang di sini bilang jembatan “Abu Nawas”.
****
Mungkin, mengalami masalah mesin perahu yang mati di tengah sungai Mahakam sudah biasa bagi penduduk setempat. Tapi, bukan soal biasa jika pemerintah sangat punya kemampuan untuk ‘membebaskan’ warganya dari hal ‘biasa’ ini. Bagaimana jika terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan?
Ingatan saya melayang pada seorang peneliti Sosiologi kekerasan, Prof. Johan Galtung. Kalau tidak salah, ia juga membangun asumsi bahwa Negara (baca: pemerintah) tidak hanya bisa melakukan kekerasan terhadap warganya melalui mekanisme represif (aparat militer, polisi, dll). Represive State Aparatus (RSA), meminjam bahasa seorang pemikir Marxis, Louis Althusser.
Thesis Galtung, ketika pemerintah mampu mencegah resiko yang mengancam nyawa warganya, tapi tidak melakukannya, maka itu adalah sebuah bentuk kekerasan. Semoga, hasil Pilkada Kukar 1 Juni 2010 mendatang menghasilkan pemimpin cinta damai dan tak suka dengan praktik kekerasan seperti disitir Prof Galtung.

Tenggarong, 17 Desember 2009
Posted by si buah terlarang
on 12/16/2009

Jumat, November 13, 2009

Etalase

di sini kami menjerang rasa lapar yang dibejanakan kekuasaan. Lalu di gerang mana dirimu, tuan? di hutan jatimu yang kau sulap jadi pajangan di etalase bagi mereka yang memburu harga sebagai fetish serupa keris pusaka turun temurun? atau kau sedang dibuai sekian gelinjang kenikmatan yang kau dapatkan dari panenmu di ladang bursa?


Oh, betapa jauh jarak kutub utara tempat kau membekukan hati nurani . lalu kau suburkan kemiskinan yang kian termodernisasi. Di mana ladang padi kami. Sedang rimbunan palawija, sayuran yang berkecambah, kau gantikan dengan mal dan kawasan perbelanjaan yang lebih perkasa dari akasia tapi kian memanaskan udara.

Tapi kami tidak menyesal. Kemiskinan adalah kawan paling karib sebelum selimut usang terhempaskan. Sementara tidur sendiri telah lelah menjadi pehibur derita panjang yang mengendap di bibir ranjang dan tak juga laku hendak dijual. Kami tegar, tuan. Kami tegar meski kaki kami kerap gemetar. Menahan getar terhadap ketidakadilan yang menjelmakan setiap detik-detik di jam dinding kami yang juga lapar.

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/13/2009

Semenanjung

tunggulah aku di pintu
aku sedang kembali
kepada mata , lengan, dan sekujur mu
yang menubuhkan rindu

ada isyarat merah kubaca
di matamu
tapi bukan amarah, kekasih

seakan senja baru saja kupungut
yang dikulum laut
lalu kusimpan
di sebalik kulitku

nantikan di beranda
sang penjala
menguncupkan tiang dan layar
pulang dari semenanjung:
ke-ingat-an wajahmu

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/13/2009

Selasa, November 03, 2009

kau yang menyalakan lilin di hari ulangtahunku

: Uni Eka Wirawati Amal


kau yang menyalakan lilin
di hari ulang tahunku

aku lalu seperti menghitung detik-detik
yang luruh
terjatuh
bersama embun bening dua matamu

seakan sekian waktu
kembali kau nyalakan di lilin itu

lalu yang mana hendak aku padamkan
jika pejam mata kau
adalah diam
serupa karang di semenanjung kesetiaan

maka biarkan embun di matamu pulang
tinggalkan jejak yang paling sajak
untuk setiap esok yang juga kelak

karena kau juga yang akan selalu
menyalakan lilin di hari ulang tahunku....


Kutulis di hari ulang tahunku, 29 Oktober 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

lebur

ini jiwa
setelah namamu tuah
melesatkan doa-doa

tak perlu kunamai cinta

lebur sudah
hingga kerak sajadah

Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

sebuah sajak untuk sahabat di pertemuan yang berjarak

kupikir begitulah dia dinamai waktu, kawanku
aku mengingat peristiwa
sementara kau pada akhirnya
menghitung jarak kejadian

ada yang terlupakan, bukan
setelah persahabatan
dipangkas oleh pulau
lautan
serta kenangan

dan kali ini kita saling membaca jejak
pada bertemuan yang dibentang jarak

berlesatan sebuah ingatan
tentang keriangan di sudut ruang kelas
lalu kita pulang dengan catatan
yang mengendap di seragam putih abu-abu

hidup,
seperti juga pelayaran
dalam naungan angin sakal dari arah selatan
jejak camar hanya petunjuk kita yang samar

aku membayangkan
betapa semuanya juga
kelak tumbang
ke haribaan usia

akan ada doa yang kita altarkan
untuk persahabatan
yang tak pernah terkunci oleh jaman

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

hikayat bulan yang tak lagi purnama

tentang perang
yang hadir di bibir ranjang
berdesing-desing

di luar ngiau kucing
seperti berebut tulang
menabrak kaleng-kaleng rombeng

pada selimut dan tirai
ada luka cakar
hingga malam tak lagi bisa berkelakar

hei, angin mengintip kita di jendela
dan embun serupa matamu yang berkaca-kaca
kau membenci rembulan, bukan
percayakah kau tak lagi ia purnama:
di hatiku.

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

Rabu, Oktober 21, 2009

lembar doa menuju samudera yang ribuan pena tak akan menghabiskannya sebagai tinta

kemarau
lembar-lembar doa
berguguran
di pucuk sajadah

kitab yang terlipat
menyimpan reranting zikir
yang patah
di sela-selanya

azan bergegas
pada subuh yang lamat
melambat
di puncak surau

bukan oase, musafir
bangun dan hela kafilahmu

tepi samudera yang kau tuju
tak habis kau timba
meski ribuan pena
menjadikannya tinta
Posted by si buah terlarang
on 10/21/2009

pulang

aku akan pulang
seperti pinta bulan
sembari menggamit lengan malam
yang kian menua

seperti kau yang telah mengirimkan puisi sunyi malam tadi
yang membuat aku tiba-tiba bertanya
"sejak kapan kucecap asin kenangan"

dari dua aliran sungai
yang tak tahu kemana muara
terlebih arah pulang:
ke bola mataku?

aku akan pulang
tak seperti cintamu itu
seakan lahir dari rahim sajak yang tersakiti
Posted by si buah terlarang
on 10/21/2009

Kamis, Oktober 08, 2009

Tentang rindu seperti nyala suar yang menunjuk arah pulang

I

Kukirimkan sisa belukar rindu
yang terbakar di kejauhan

asap dan abu
lalu jadi sesak
di rongga dadamu

menjelma lidah api
membiru tungku

di gigil malam
di antara kaki
yang kedinginan


II

kau telah suar
di menaramu
yang jauh

jauh sebelum aku
mengenal
lekuk-lekuk tubuh lautan

kau telah suar
sejak kapal-kapal tua
berderak hendak pecah

menahan lunas
buritan
dan kerinduan

sayap-sayap camar
yang matanya nanar
menunjuk ke arah pulang

Tenggarong, 2009

Posted by si buah terlarang
on 10/08/2009

Senin, Oktober 05, 2009

sajak pertengkaran

dalam diam
aku membaca
jejak karang

yang membatu
di laut
hatimu

Posted by si buah terlarang
on 10/05/2009

sajak yang lahir dari senyuman pertama Zahra

ranum tubuhmu
adalah jejak pergulatan abadi
di palung bunda
yang kini ceruk dan mengerut

bola matamu
seperti bulatan bulan
yang beranjak purnama

cikal lesung pipimu
seakan kejora
yang paling binar di ufuk selatan

lihatlah, pecahan tangis pertamamu
masih terlipat rapi
dan belum mau beranjak pergi
mendadak berlari ke balik lemari

setelah bibir mungilmu
dihiasi lengkung senyum
jejak bulan sabit

segera, bencah purnamanya
menggoreskan cemburu di wajah malam
dan embun-embun yang mengintipmu
menangis di kaca jendela
Posted by si buah terlarang
on 10/05/2009

Jumat, September 25, 2009

Setelah tanak letih kita

Mungkin telah tanak letih
Yang kita jerang semalaman
Mengapa gairah tak jua jera
Usai senggama tak sudah-sudah?

Hingga terjaga
kita dapati pagi tersengal
bibir selimut ikut menggigil
setelah ditelikung rasa mabuk paling kemaruk

maka,
usai telimpuh kita
pada hasrat yang paling purba
lalu nantikan pertempuran lebih gelora

Samarinda, 2009


Posted by si buah terlarang
on 9/25/2009

Kamis, September 24, 2009

di hatimu ada muara

di hatimu ada muara
kutitip sajakku yang paling cinta
seperti bertemu sungai dan lautan
lalu senja menyimpan kesaksian


di hatimu ada muara
melubuk sajakku yang paling rindu
seperti sungai dan lautan bercumbu
seperti rona senja yang tersipu

di hatimu ada muara
pertemuan sungai dan lautan
menyuburkan bait-bait hujan
melahirkan sajak-sajakku yang sangsai

Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 9/24/2009

Selasa, September 15, 2009

mahakam

mungkin telah banyak peristiwa
juga sekian nama
yang telah kau larungkan

bersama alur
dan gurat-gurat
di balik rona wajah kecoklatanmu

pada lengkung alis jembatan
dan tiang serta tali temalinya yang kepayang
aku melihat kau memanggil senja

ia datang seperti gadis berkerudung lembayung
seakan hendak kau giring
ke kedalaman palung

selepas itu lalu kau mencumbu mesra
bulan setengah yang keperakan
hingga malam memejam matanya

Dan di sini aku merasa direngkuh
dari muaramu
di tepi-tepimu
seperti diremas mata airmu

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009

tentang kesetiaan

Aku akan dendangkan kidung kesetiaan
seperti yang dipinta dedaunan kepada akar pohonan.

Tuliskanlah dengan pena dan kertas
untuk warisan sekian abad

kelak huruf-huruf saling berlepasan
rongga jiwa mengurainya
menjadi renik-renik kesuburan
lalu segala yang bebunga tumbuh di taman hatimu

disitu akhirnya aku meringkuk
berlindung dari semua ruap cuaca
hingga musim gugur tiba
kasih kita mengabadi di haribaan usia

Oh, sambutlah kemarau helai-helai sajakku
dengan tangan musim semimu, kekasih…


Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009

Muaramu

kita pernah berkobar
pada senja merah
asmarandana
dikepung biru lautan

bersama buih-buih
ikan-ikan berenang
dan mekarnya terumbu karang
kita sambut semua cinta
di kedalaman
dari sekian aliran muara

oh...kini dan disini, kekasih
betapa kesepian
mematungku
serupa jemarinya yang perupa

sambutlah!
aku pulang, sayang
menyusur semua semenanjungmu
tanjung dan telukmu
geriak pasir-pasir di pantaimu

akan mekar pula terumbumu
setelah sekian senggama
yang sempat terjeda

gerianglah!
arus ini menuju
ke muaramu


Tenggarong,Agustus 2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009

Kamis, Agustus 06, 2009

Prosa di Wajahmu

Aku pernah membaca prosa
yang ditulis Sang Pengarang di wajahmu

ada setangkup tanda koma
melengkung indah di sudut bibirmu ketika kau senyum


lalu aku merapalrapalnya dengan mata terpejam
hingga barisbaris prosa itu kini
selalu menyerbuku dalam mimpi

aku baru terbangun dan menemui pagi
setelah prosa itu dijeda sebuah noktah hitam
yang kesepian di cuping hidungmu....



Tenggarong, 10 Juni 2009
--sesuatu yang lancang kusebut puisi karena diinspirasi "sepasang noktah kesepian" milik penyair Kurniawan Yunianto. semoga rahmat Sang Kekasih melimpah untuk penyair ini....
Posted by si buah terlarang
on 8/06/2009

Rabu, Juli 22, 2009

setelah sekian senggama itu

menunggu ketuban matahari pecah di rahim pagi
segera lahir anak-anak sajak
Setelah sekian senggamaku, bukan dengan buku.
tapi dengan kemaluanmu yang kau simpan di langit malam.

lazuardi, cakrawala, kejora berebut menjadi nama.
tapi para bocah telah nyenyak dipeluk syair.
dibuai merdu nyanyian gurindam
usai lelah merengek seharian.
Posted by si buah terlarang
on 7/22/2009

Kamis, Juni 04, 2009

Rumah Kami

kami tengah menunggu berdirinya
sebuah rumah tanpa dinding bata
dan pintu dari jati

disanalah jendela tak bosanbosannya membuka
lalu kami akan selalu menerima dan melepaskan salam
tak hanya pagi, juga malam

ketika dingin merasuk
menusuk hingga ke ulu hati
sederhana saja cara kami
menghangatkan poripori

pada tangan kanan dan kiri saling mengenggam
kami menentramkan anakanak zaman
yang tidur telentang setengah telanjang
membentuk dekap di perut dan dada mungil mereka

kami pun tak lagi takut pada pencuri
meski para peronda malam terus dibuai dewidewi mimpi

sebab dinding rumah kami
terbuat dari harapan tak terbeli oleh hatihati yang tercemari
tak kan ada jua bisa menjamah pintu
karena kuncinya kami gantung di langit tertinggi

Rumah itu…
mungkin teramat sederhana
Yang akan kami bangun segera
Itulah rumah hati kami…
Posted by si buah terlarang
on 6/04/2009

Rabu, Mei 20, 2009

Wawancara dengan Gus Acep Zamzam Noor

Bersama Kang Acep di Hotel Lesong Batu
Perbincangan singkat ini, coba saya sarikan menjadi berita. Meski saya yakin banyak reduksi yang saya lakukan dari seorang Gus Acep, tapi sengaja tulisan ini saya simpan agar suatu waktu bisa menjadi oase dalam pembelajaran saya. Terima kasih berkenan membacanya…. Lokasi berbincang di lobi Hotel Lesong Batu, Tenggarong, Sabtu Tanggal 16 Mei 2009.

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:……
(Menjadi Penyair Lagi)

---Acep Zamzam Noor:
Penyair Itu Pengamat Kehidupan
Acep Zamzam Noor, penyair yang lahir di Cipasung, tepatnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung. Karena dilahirkan dan dibesarkan di Ponpes, nuansa keislaman pada sebagian karyanya sangat terasa. Apalagi, ayahnya memang seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) terkenal di Ponpes Cipasung.
Namun, bukan berarti ia “terjebak”. Acep pun menulis banyak puisi yang juga romantis bahkan nakal. Karya terbarunya, antologi puisi Menjadi Penyair Lagi, diambil dari salah satu judul puisi dalam antologi itu. Sabtu (16/5) lalu, di Hotel Singgasana Tangga Arung, Acep yang kini pemimpin Ponpes Cipasung, bertutur tentang kerja kepenyairan bersama Koran Kaltim.
Bagi Acep, puisi itu dibangun dari sebuah intensitas dan kekhusyukan terhadap sebuah kerja kepenyairan. Sehingga, puisi tidak hanya melulu bertemakan cinta pada seseorang. Dimensi sosial, politik, alam, religi dan sebagainya adalah bahan dasar puisi.
Apakah memang puisi itu harus terbangun dari sebuah kepedihan yang mendalam? Menurutnya, hal itu salah satu yang menjadi bisa menjadi pemicu. Tapi, sebenarnya kesedihan dan kegembiraan, keduanya sama-sama bisa menjadi sebuah puisi.
Tema cinta, misalnya, bisa menjadi salah satu pemicu dari intensitas penulisan puisi. Dan lewat angle cinta itu, kita bisa berbicara tentang sosial, alam, dan sebagainya. Jadi, tidak melulu ketika seseorang jatuh cinta harus selalu menghasilkan puisi-puisi romantis. Lantas, sah-sah saja jika sebuah kekecewaan atau kegagalan cinta menjadi pintu kepenyairan?
“Justru, itu nggak masalah. Itu hidayah. Jika cinta kita ditolak, itu lebih dahsyat. Kalau cinta yang diterima biasanya tidak banyak melahirkan puisi. Itu sah-sah saja. Malah kegagalan disitu akan menjadi hidayah,” ujarnya, tertawa.
Bahkan, kata Acep, hal seperti bukanlah sebuah pelarian. Tapi, itu adalah sebuah pengalaman yang sangat digeluti dan menjadi salah satu yang membuat seseorang menjadi penyair.
Namun, intensitas kepenyairan tidaklah seperti menulis yang terjadwal dan harus setiap hari. Puisi, katanya, bisa lahir dalam seminggu hanya hitungan jari. Sebab, yang paling penting adalah kehusyukan terhadap kerja kepenyairan yang melibatkan kerja seluruh indera. Tidak hanya pikiran, perasaan juga pendengaran, penciuman, dan lainnya.
“Kapan puisi itu lahir, itu juga bergantung pada momen-momen tertentu yang hadir. Puisi juga bisa kita paksakan ditulis sekarang, tapi bisa juga mengendap dulu, temanya kita belum tau, akhirnya bisa muncul belakangan,” katanya.
Dikatakannya, penyair itu tidak bekerja ketika menghadapi mesin ketik. Tapi, ia bekerja ketika berhadapan dengan kehidupan. Sehingga produktivitas kepenulisan bukan sebuah indikator bagi seorang penyair.
“Bukan kemalasan sebenarnya. Penyair itu adalah pengamat kehidupan. Dan itu yang lebih berat. Kalau kita perhatikan penyair-penyair terkemuka kita, bukan penulis-penulis produktif. Kecuali beberapa seperti Taufik Ismail yang produktif menulis,” katanya.
Sejauh mana pengaruh pembacaan seseorang terhadap teks sastra atau puisi dengan kemampuan menulis? “Itu salah satu yang bisa menjadi latihan dan pembelajaran kepenulisan. Itu akan membuat kita bisa tahu bahwa begitu banyak ungkapan-ungkapan puisi dan sastra yang sudah ada,” katanya.
Bahkan, pembacaan terhadap teks-teks rumit seperti filsafat dan teori-teori sosial juga bisa menjadi bahan pengayaan. Hanya saja, tukas Acep, ada sejumlah orang yang terlalu suntuk dalam pembacaan teks jenis ini hingga gagal menulis puisi. “Mungkin ketika mengutip teori ini lancar sekali. Tapi, mereka kesulitan mencari ungkapan-ungkapan yang lahir dari intuisi. Jadi, bagi saya memang harus diniatkan dan pendekatannya berbeda,” katanya.
Namun, karena menyadari jebakan-jebakan teks tadi, bukan berarti penyair harus tidak membaca dan menjadi bermasa bodoh. “Itu tetap harus. Namun, menurut saya, orang-orang yang gagal itu karena terlalu suntuk mengutip pendapat orang. Padahal, penyair itu dengan intuisinya juga bisa menghasilkan filsafat,” paparnya.
Intuisi, adalah senjata penyair yang sangat berhubungan dengan kreatifitas dan alam bawah sadar dan tidak berhubungan dengan teori-teori. Berbeda dengan nalar Cartesian yang serba teratur dan dominatif. “Lahirnya orisinalitas itu kan bukan pembongkaran secara keseluruhan. Tapi merupakan penyegaran terhadap sesuatu yang sudah ada. Itu lah bagian dari bagaimana kita menggunakan intuisi,” ujarnya.
Tentang puisi Menjadi Penyair Lagi, Acep mengakui bahwa perempuan bernama Melva disitu adalah nama sebenarnya. Bahkan, nama hotel Karang Setra juga nama hotel yang sebenarnya. Di puisi itu yang agak naratif itu, ia sebenarnya lahir dari pengamatan ssoial dan ingin berbicara tentang Indonesia, namun dengan gaya berbeda seperti puisi sosial Rendra. “Makanya, bisa lahir semacan cerita di dalamnya,” ujarnya.
Puisi tersebut adalah puisi lama yang sempat hilang. “Sempat saya kirimkan ke sebuah pertemuan penyair di festival di Surabaya. Memang ada bukunya. Akhirnya saya ketemukan lagi. Makanya muncul belakangan,” tambahnya.
Posted by si buah terlarang
on 5/20/2009

Senin, Mei 18, 2009

aku selalu mengenalmu, sayangku

tubuh ini baru saja rebah
belum juga mata ini mengetuk pintu istirah

di ranjang kita yang tak empuk itu
setelah penat menjajah dan matahari merajam kulitku siang tadi

kau bisik tentang ketakutanmu
"jika matamu buta, bisakah kau mengenali bentuk wajahku"

setengah kantuk, jawabku
jari-jari ini selalu bisa mengenali tiap lekukan landai kedua payudaramu, sayang
dan aku tak kan pernah tergelincir...

Posted by si buah terlarang
on 5/18/2009

Rabu, Mei 13, 2009

aku akan mengadu padaMu

Untuk seorang perempuan yang merelakan susah payah rahimnya berbilang bulan
rasanya pantas kumembunuh setiap desir di perlintasan hati
Meski kadang, aku juga tergagap ketika sepasukan hasrat hendak menaklukkan garis depan kelelakianku....


tunggulah....
malam nanti akan kukeluhkan ini, Tuhan
ketika semesta sedang terlelap
dan Engkau menatap satu persatu mereka dengan kerahmanan dan kerahimanMu

bahwa aku telah membunuh dia di hatiku
sebuah rasa yang hadir berhari-hari lalu kunikmati
karena kuyakini sebagai sebagian dari tatapan kasih sayangMu

disinilah aku....
yang terus dibenamkan oleh rasa yang absurd itu

Aku sungguh akan mengadu padaMu
wahai, nantikan kepulanganku
Posted by si buah terlarang
on 5/13/2009

Jumat, Mei 08, 2009

Ah, Cemburukah kamu pada puisi?

beringsutlah mendekat, sayang
usai saling silang berpagutan di tarian sepanjang malam
lelah peluh perjumpaan kita bercucuran
kenapa sepasang bibirmu itu masih bersungutan?

Ah, kau cemburu pula rupanya
pada puisi itu yang masih juga terbata-bata
sini, kubisikkan rahasia padamu......


dia hanya sejenak persinggahan rasa
maka tak berkekalan lah ia
kuasah tajamtajamkan saja rasa di bibir kata
dikau tetap sebenar dan sepenuh asa

engkau adalah pelita cinta
menyala lah aku karena minyak kasih sayangmu
tanpa celupan itu
kegelapan aku ini, kesurupan dalam keremangan yang tak berujung
Posted by si buah terlarang
on 5/08/2009

Puisi (katanya) yang membenci

Rupanya kau senang memainkan dawai-dawai kata
Sungguh ia tak merdu di telinga
Parasmu, cenderung jiwa di kala senja
Gelombang pantai membuyarkannya lalu punah di cakrawala

katamu, kejenuhan menenggelamkan kita
bagiku, kebimbangan lah yang mengapungkan rasa
dermaga nampak sudah di tepian sana
berkayuhlah, suar petunjukmu menyala-nyala

terakhir kali kau cuma berbisik,
'aku ingin meretas dalam pasungan'
Sayang, ketakutanmu pada dinding-dinding
yang katamu bertelinga dan punya mata

Ah, bukankah sudah kusumpahi bumi dan seisinya
‘Bungkam lah kalian semua!’


Posted by si buah terlarang
on 5/08/2009

Selasa, Mei 05, 2009

Sebuah Pertanyaan

Dia bertanya padaku
"Bagaimana rasanya mencintai dua perempuan"

Ah, sederhana jawabku...
seperti mencintai matahari
dan menggairahi rembulan

Siang kala meretas harapan
di sekujur peluh
Pada malam kau merendanya
dengan nyenyak mimpi-mimpi
Posted by si buah terlarang
on 5/05/2009

Minggu, Mei 03, 2009

Lelaki yang melepas rembulan di pekarangan belakang

Malam...
seorang lelaki
saling berbisik tentang ketidakberdayaannya
menjamah jarijemari rembulan

keduanya saling mendengarkan
dititipnya pesan agar ia tak datang lagi
mengganggunya di mimpi-mimpi
dipintanya malam menguapkan angan-angan



Lelaki itu bersama Malam
melepas rembulan di pekarangan belakang...
Posted by si buah terlarang
on 5/03/2009

Jumat, Mei 01, 2009

Aku Pulang

sebagai mula, izinkan kubertakzim pada pengakuan. betapa tak mudah menanggalkan.
gairah yang hadir karena pemujaan. wajahmu sungguh menggenang memenuhi angan.

Tapi, kuputuskan untuk pulang
usai kutaklukkan kau perawan
pada ketundukan akan kata
dalam perjamuan makna yang tak bersemaian


Akhirnya aku pulang. Kumelangkah memasuki pekarangan yang seolah lama kutinggalkan. Bidadariku meyambut girang dengan wajah yang dijajah rindu berbilang malam. Bocahku tak kalah riang. menggelantung di pinggang tak ingin berlepas.

Oh, kurasakan lagi damai. kudekat. mendekap. Bersandar lah engkau letih. Dan resah menguap lah. Kini kutundukkan hasrat-hasrat itu. Bidadariku...sungguh kau bagai dahan. Setia pada kepastian. Bahwa di suatu senja, sang elang pulang dari kelana jiwa. Usai menjelajah ujung-ujung benua.

Ranjang ikut merayakan kepulanganku. usai penaklukan itu. Sebab, kutetap Maha Diraja atas jiwa. Yang terbebas dari kudeta balatentara budak. Yang agungkan panji-panji kesenangan raga. Ya!...Kutaklukkan dia di perjamuan makna. perawan itu tersipu lalu ketakutan pada temaram. Meski kupuja dia bak rembulan.


*Didedikasikan untuk yang menolak 'ketelanjangan' dengan alasan apapun. Prinsip, dan smua-smuanya.
Posted by si buah terlarang
on 5/01/2009

Selasa, April 28, 2009

Catatan Selasa Malam

Kupeluk dia dan hatiku semakin dirundung rindu
Adakah aku bisa berdekatan dengannya setelah itu?
Kucium bibirnya agar hilang gejolak dihati
Namun hasrat bersua semakin menjadi-jadi

Kerinduan belum lagi terobatkan
Karena dua bibir yang saling bersungutan
Hatiku seakan tak perna padam membara
Kecuali setelah jiwa kami bersanding bersama***


***********

Sore tadi, petir benar berkata, tak berbohong. Gelegarnya yang berkali-kali segera disusul rinai berkepanjangan. Oh...Tuhan, gerangan apa rinai itu. Ia petanda kalut hatiku?

Di seberang sana, pada sebuah tanya, angka ganjil itu mengubah namanya. Menjadi sebuah aksara. Ah, kau tetap juga ganjil ternyata. Aku menghitungnya. Tentunya kumulai dari huruf "A".

Duhai.... aku memang memujamu. Kuakui! tentang hasrat-hasrat liarku. Meski bercintaan mata kita hampir tak pernah ada. Salahkan aku saja! sungguh lancang aku sejak benak hendak melahirkan kata.....telanjur aku pada pinta itu ’sekali saja’...

Kini....ijinkan aku memujamu lagi. Aku janji. Kulecut semua lancangku itu. Pada niatan bercintaan yang kau tak berkenan, tak pernah terbayang kau layaknya pelacur binal...Bahkan jika pun iya, persetan! Sudah kupuja engkau seperti penyangga-penyangga langit....

***********

Tuhan.....kini ajari aku cara memuja semesta-Mu. Yang Kau hamparkan pada gurun, savana, lautan dan gua-gua atau pada mahluk-mahlukMu itu. Segera cabut hasrat-hasratku ini, yang pernah Kau adonkan di lempung hitam dulu....jika tak berkenan Kau mengajarkanku!

Ohhh.....aku pergi darinya dan kini datang lagi padaMu. Tapi, ajari aku memuja keindahannya. Bukankah dia penampakan terindah-Mu, seperti dalam syair-syair para makrifatMu....

Sungguh tak ingin lagi hasratku berpatuh pada keliaran. Jika datang lagi, biar kupendam saja. Bukankah kendali rasa itu sebentuk jihad? Bahkan, pada sebuah sabda; yang mati memendam cinta akan dibalas surga.... Duhai Engkau....himpunkan aku dalam taman cintaMu. Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.



***Ibnuur Rumi seperti dikutip Abdul Qayyim Al-Jauziyah dalam Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.


*Judul diiinspirasi dari syair lagu Doel Sumbang berjudul Catatan Selasa Malam
Posted by si buah terlarang
on 4/28/2009

Senin, April 27, 2009

Tabula(h) Rasa

cuma ini kah aku dan kau bisa?
selebihnya tak bisa bisa
pernah kau ingin selingkuh kita
tak hanya canda kata berujung tawa ?

tapi nampak lah sengaja pada rencana
sekadar untuk berselingkuh kata
tak ingin ada singkap selubung rasa
lewat tubuh tanpa busana
di ranjang-ranjang tabula(h) rasa


*didedikasikan untuk yang tak mau mengalah dalam kekalahan akan kata dan hasrat-hasrat liarnya berpendam...
Posted by si buah terlarang
on 4/27/2009

Minggu, April 26, 2009

Di Selasar Subuh Ketelanjangan

Pada cium cumbu itu di selasar subuh
kucoba bisikkan larik baris nubuah
agar aku dan kau tak larut sungguh
dalam bercintaan dangkal yang hanya berpuas lelah

bahwa dekap dan peluk kita adalah karamah
bagi hasrat-hasrat jiwa pemuja syariah
upaya lah rintih selalu jaga dalam puja-puji kalimah
sembari nafas mengikat kalam menata desah

Di selasar subuh ketelanjangan
usai zikir terakhir di sajadah hamparan
mufakatkan nawaitu pada kenikmatan
untuk buih-buah rahimmu nantinya kebanggaan
Posted by si buah terlarang
on 4/26/2009

Jumat, April 24, 2009

sudilah engkau hai savana

bersudikah engkau?
tentang niatan banal binal
dan lancang khayal
membayangkanmu biarkanku merumput di savana dua bukit itu

Jika wajah temaram tiba...
dan terpejamlah semua mata
jadilah kita sepasang kijang yang bebas meronta
liar kemana hasrat hendak membawa

melenguh lah panjang pendek ulang berulang
perdengarkan pada rembulan dan semua gemintang
meski terlarang bagi penguasa rimba
yang merantai setiap makna desah rintih dan hela pertemuan raga

oooh...bersudikah engkau?
jika tak lagi khayal kebinalanku
usai merumput di savana dua bukit itu
kutuntaskan dahaga banal di gua-gua... tanpa cermin yang menggenang di matamu...
Posted by si buah terlarang
on 4/24/2009

Rabu, April 22, 2009

Sekadar Curhat

Akhir-akhir ini semangat kerjaku seolah berada di titik nol. Sepertinya saya butuh momen untuk menyegarkannya kembali. Tapi, sampai saat ini, saya belum menemukan kapan waktunya, apa bentuknya, dan bagaimana caranya….momen itu dihadirkan.
Seingat saya, kejenuhan ini bermula dari sebuah larangan akan suatu peliputan. Sebagai karyawan, loyalitas kepada atasan adalah harga mati. Tak ada istilah menawar jika hal itu bersangkutan dengan persoalan pekerjaan.
Saya teringat kata-kata ayah ketika masih kanak-kanak dulu. “Ketaatan pada pemimpin adalah keharusan sepanjang itu tidak bertentangan dengan perintah Tuhan”. Saya ingat persis, ia tak mengucapkan langsung padaku. Tapi, hal itu adalah prinsip hidupnya yang kutangkap sebagai pelajaran.
Kembali pada persoalan liputan tadi, larangan itu memang berkaitan erat dengan kepentingan politik. Hari itu....saya lupa dan tak mau mengingat-ingat waktunya, sebuah pesan pendek datang. Berisi larangan agar tak meliput lagi kasus tindak pidana Pemilu yang sebelumnya hampir tak pernah saya absen dalam setiap persidangan.
Sebagai karyawan, tentu saya tak mau menanyakan alasannya. Selain karena loyalitas tadi, saya cukup paham apa di balik kasus itu. Setidaknya bisa mengira dan menduga-duga setelah melihat serpihan-serpihan fakta di lapangan.
Memang, saya sempat menawar. Sebab, kasus itu menyisakan vonis hakim. Kepentingan melayani pembaca adalah alasan mengapa saya tetap ingin meliput kasus itu. Bagi saya, prinsip jurnalisme yang tertinggi adalah kesetiaan terhadap pembaca. Dan itu harus mengalahkan segalanya.
Sayang, saya bukan siapa-siapa. Liputan itu harus kutinggalkan. Saya cuma berujar dalam hati, “jika begini, seharusnya dari awal saya diberitahu.”
Kecewa? memang iya. Perasaan itu saya ibaratkan dengan momen saat berhasil menaklukkan perempuan. Perempuan itu yang mau dirayu, disentuh, dan dicumbu, dan memang setuju untuk sebuah persetubuhan. Tapi menjelang klimaks, ia memilih membiarkanku berakhir dengan orgasme yang tak kesampaian....
Hmmm.....komersialisme yang bersenyawa dengan jurnalisme memang kerap melahirkan pragmatisme. Meski komersialisme adalah patahan yang tak bisa dielakkan dalam mekanisme pasar jaman mengglobal ini. Tapi, jika itu dilakukan dengan cara-cara yang tak elegan, komersialisme yang dibingkai kepentingan-kepentingan sesaat hanya akan menjadi bumerang bagi jurnalisme itu sendiri. Wallahu Alam!!!

Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009

dari pertanyaan seorang kawan

sepertinya yang sejati itu datang dari pengungkapan
ilmu sejati itu yang menghadirkan
obyek dan subyek saling mengenal dan tak saling mencari...
berlari saling mendekati
meski yang 'satu' lebih dekat
dan tak perlu berlari
Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009

Kamis, April 16, 2009

jelaga di telaga nikmat

usai sudah cerita kira
membawa kita
di ujung temu
dan sungging senyum di bibirmu.


usai sudah kisah terduga
membawa kita
di titik mula kenangan
digulung relung penyesalan

yang pasti kita pernah bercinta
di tepi sebuah telaga
jelaga di hatimu...di hatiku...
tak ingkari betapa nikmat pertemuan-pertemuan itu…

*(saat ditemani sebatang Cigarillos dan Kucing Garong winamp)
Posted by si buah terlarang
on 4/16/2009

Selasa, April 14, 2009

Seni Berdiskusi dan Seni Aktualisasi Diri

Selasa sore. Jarum jam menunjuk pukul 3. Saya kembali ke rumah. Perut yang melilit, rumah dalam keadaan kosong, memaksa saya kembali ke kebiasaan lama. Sebuah kebiasaan semasa kuliah. Meremas bungkus mi instan lalu merejang air. Sekejap kemudian, mi siap santap. Istri masih di kantor. Sibuk dengan aktivitas entry data perolehan suara Pemilu Legislatif 2009.
Entah kenapa, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu buku lama. Novel itu selalu menggelitik untuk dikeluarkan dari lemari, meski sekadar diintip selembar saja. Judulnya Dunia Sophie. Sebenarnya, buku ini kepunyaan istri. Ada nilai historis sampai buku ini jadi miliknya. Justru, nilai historis itu juga salah satu yang memantik ide di benak saya untuk menulis beberapa paragraf di sini.
Karena hanya berniat mengintip selembar saja, saya membuka sekenanya. Sembari menikmati sesuap demi suap mi instan rasa Coto Makassar yang masih beruap dan cukup pedas. Selain kembali ke kebiasaan lama, perut ini rupanya tetap primordialis soal cita rasa. Tak ke warung Coto, tetap ada Indomie rasa Coto Makassar. Yang penting ‘gak seperti kata Cak Nun (Emha Ainun Najib) soal orang di Sulsel yang (pernah atau masih) meyakini berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng sama pahalanya berhaji di Mekah. Kata Cak Nun, mereka ibarat orang ingin makan soto ayam. Tak ada soto ayam, indomi rasa soto ayam pun jadi.
Saat membolak-balik halaman novel itu, jari saya terhenti pada sebuah sub judul. Berhenti di sini juga sekenanya. Gak diniatkan. Seni Berdiskusi. Sub judul ini bagian dari bab yang mengupas tentang sosok Socrates.
Seingat saya, di situ digambarkan bagaimana etika Socrates berdiskusi dengan orang lain. Sang filsuf ini digambarkan si penulis buku sebagai seorang pendengar yang baik. Ia tak pernah mengesankan diri sebagai orang yang paling tahu segalanya. Ia tak suka seperti guru. Ia mendengar dan mendengar. Pada saatnya kemudian berbicara.
Socrates, lahir dari ibu yang berprofesi sebagai bidan. Karenanya, ia selalu bilang, saya ingin seperti bidan. Bukan guru. Bidan adalah orang yang membantu proses kelahiran. Bukan orang yang melahirkan. “Saya adalah bidan untuk membantu melahirkan cara berpikir dan berwawasan secara benar”. Begitu kira-kira keinginan filsuf yang satu ini. Baginya, semuanya harus lahir dari dalam diri orang itu sendiri. Pencerahan bukan sesuatu yang terberi.
Membaca ulasan sub judul yang tak terlalu panjang itu, seni berdiskusi, membuat saya terpikir. Betapa banyak orang yang berdiskusi tanpa seni ala Socrates. Lebih banyak orang yang ingin menonjolkan ide-idenya sendiri. Tanpa sadar, mereka berlagak bagai guru. Tak bisa menjadi bidan.
Hingga, terngiang lagi masa-masa di kampus dulu. Semangkuk mi instant, kebiasaan lama saat kuliah, rasa Coto Makassar lagi, rupanya sangat membantu memanggil kembali penggalan-penggalan memori yang sudah berada di recycle bin otak saya. Di sebuah dini hari, saat itu sedang persiapan menyambut kedatangan mahasiswa baru (Maba) dan hari pertama ospek, kawan saya nyeletuk. Kalau tak salah ingat, dia bilang; momen yang dinantikan tiba, momen aktualisasi diri para senior. Yah, Maba adalah pelatuk dari seni aktualisasi diri para seniornya. Saat di mana semua Maba dijejali kata-kata sulit. Persetan, apa paham mereka soal definisi kata-kata itu. Yang penting, kalimat ini diucapkan salah satu senior saya, ‘asal mereka (Maba, Red) kagum’.
Untuk menjunjung tinggi etika dan aspek hukum komunikasi, dan agar tak menuai gugatan di kemudian hari, saya memilih meng-anonim-kan nama kawan dan senior yang dikutip kata-katanya di tulisan ini. Semoga Allah SWT merahmati dan senantiasa mencurahkan rezeki kepada mereka. Amin.
Soal aktualisasi diri itu, harus diakui, dilakukan dalam beragam modus operandi. Tergantung maqam plus sejauh mana tingkat pengorbanan di atas altar intelektual nan penuh motif tadi. Di titik ini, saya mau menjelaskan soal historis novel Dunia Sophie yang ada di depan saya.
Suatu saat, persis waktunya sudah lupa, istri saya mengakui bahwa buku Dunia Sophie itu pemberian seorang seniornya saat masih Maba. “Kamu harus baca ini, Dek. Ini buku bagus,” ucapnya, meniru kata-kata sang senior.
Ketika buku itu dipinjam seorang kawan, alumni filsafat, Mas Jerry Sarimole, saya wanti-wanti jangan sampai hilang. Punya istri. Begitu tahu cerita di balik buku itu, dia terbahak. “Hahahhah. Lagu lama. Ternyata buku ini punya nilai historis ya!” Mulailah dia cerita tentang beragam modus senior saat menyambut Maba. Perbincangan kami tentu tak jauh-jauh dari seni aktualisasi diri tadi.
Akhirnya, indomie itu nyaris tak bersisa. Pori-pori mengucurkan keringat deras. Reaksi yang timbul dari cita rasa pedas, tentunya. Kututup dunia Sophie Admundsen, tokoh utama di novel tersebut. Novel yang pernah kubeli dan hilang setelah dipinjam teman, karena dipinjam temannya, lalu meminjamkan lagi pada temannya, yang meminjamkan lagi, hingga tak jelas, kisanak yang kini memegang buku itu. Kini, setiap memandang novel itu di lemari, saya selalu tersenyum dan bergumam , “Beruntung kau Dunia Sophie. Andai bukan, kau tak kuizinkan berada di lemari bersanding dengan bukuku yang lain. Tabe’ senior!”

Ditulis saat menjalani piket malam
Posted by si buah terlarang
on 4/14/2009

Puisi Orang Bangun Kesiangan

Jemari merunut untaian tasbih
kala mentari bersiap pamer kepada semua penghuni bumi
tilawah tak kan pernah habis
semuanya bertawaf memuji baju kesombongan-Nya.

Jangan sombong
Ketahuilah,
kau sedang mengambil baju-Nya itu....


Posted by si buah terlarang
on 4/14/2009

Jumat, April 10, 2009

Ketakutanmu

masih terngiang
bisikmu di malam buta
tentang ketakutan
kelebat ajal jika datang menjemput sebelumku
bagimu
kesetiaan adalah sepanjang nafas
yang kau baktikan benar-benar
dari kaki hingga ujung rambut

inginmu
aku mati lebih dulu
dan nisan itu menjadi kunci
ruang hati yang menutup kembali

entah kenapa
kau selalu takut menjemput ajal sebelumku
'aku tenang di sisimu'
bisikmu setiap menjelang tidur

Posted by si buah terlarang
on 4/10/2009

Rabu, April 08, 2009

Catatan Menyambut Pemilu 2009

Matahari esok pagi, katanya, membawa sebuah harapan baru. Bahwa, negeri ini akan lebih baik di semua sendi-sendinya. Esok pagi adalah waktu bagi sebuah prosesi demokrasi. Ia sengaja digelar karena lahir dari sistem yang sudah disepakati bersama warga bangsa ini.
Pemilu Legislatif 2009, bagi sebagian orang menyimpan harapan besar. Bahwa, akan lahir sosok-sosok baru, atau muka lama dengan visi baru, yang menempati kursi-kursi parlemen sebagai pembaharu. Akankah perubahan itu hadir?
Pertanyaan ini tentu saja bernada pesimis. Tapi, bukankah pesimisme tak lahir dengan sendirinya? Bagaimana jika itu lahir dari rahim sosial-politik- ekonomi yang selama ini ibarat benang kusut?
Tak salah jika sebagian orang memilih untuk tidak memilih. Toh, itu juga satu pilihan yang maujud. Bagi orang yang percaya, tentunya. Bahwa partai politik hari ini tak ubahnya mesin-mesin penyedot. Dan caleg-caleg mereka sama halnya vampir pengisap darah.
Begitu gampangnya hak-hak dan kebutuhan mendasar warga dijadikan jargon perjuangan, diusung dan dikibar menyentuh awan. Tapi, ketika tujuan tercapai, segera, kesibukan baru orang-orang berdasi menyita mereka. Segala tindak-tanduk berubah dalam derajad satu lingkaran penuh.
Tadinya dekat dengan rakyat menjadi kian berjarak. Tadinya akrab bersahabat, menjadi berwibawa amat. Tadinya menyeruput kopi di kedai sebuah gang, berubah cappucino di sudut mal. Gengsi dong!
Katanya, berjuang untuk semua golongan. Begitu terpilih, pintu rumah dibuka lebar bagi orang-orang tertentu saja. Janji sejahterakan warga. Nyatanya, cuma kantong sendiri yang diisi penuh. Uang rakyat dijarah tanpa malu. Buat anak istri yang doyan belanja produk-produk luar negeri. Bah, siapa yang mau dikadali sekian kali oleh mereka, orang-orang berdasi itu.
Jika tak percaya. Setelah esok pagi, buktikan lah sendiri. Yang jelas, adalah hak setiap orang, meski tak harus bersepakat, untuk tidak berada di barisan orang-orang yang menagih janji dan merasakan kecewa.
Hari ini, persaksikan lah, bahwa aku tidak berada di barisan itu. Kalau memang harus sendiri, karena tak punya barisan, biar lah ku berjalan sendirian. Tapi, aku yakin, barisan itu ada. Barisan yang tidak ingin menagih janji dan kecewa karena janji. Kami memilih kecewa tanpa harus menagih sebuah janji. Hari ini pula, aku lebih memilih dosa karena melanggar sebuah fatwa MUI bahwa Golput itu haram. Toh, orang-orang itu lebih berdosa jika menyalahi janji-janji yang sudah diumbarnya.
Semoga, negeri ini selalu dirahmati oleh sifat kerahmanan dan kerahiman-Nya. Salam Golput.
Posted by si buah terlarang
on 4/08/2009

Selasa, April 07, 2009

Pesan untuk Anakku

Nak
perkasamu nanti untuk dia
perempuan yang mengeja namamu
seperti aksara kitab langit


Nak
kelelakianmu kelak
bukan kadar sepasang paha
sesungguhnya mata hati


Jika saatnya tiba
hendak kau jadikan ia ladangmu
sebelum menyusur setiap lekuk tubuhnya
sujud dan tersungkurlah dulu, Nak
Posted by si buah terlarang
on 4/07/2009

Kamis, April 02, 2009

Memandikan Anak, Agenda Tambahan sebelum Rapat Pagi

Sudah dua hari ini saya menjalankan sebuah aktivitas baru. Memandikan anak setiap bangun pagi sebelum ngantor dan hadir di rapat redaksi. Aktivitas ini sebenarnya adalah sebuah kompromi atas kondisi yang dihadapi keluarga saya. Namun, saya tetap menjalaninya dengan syukur dan senang hati. Cuma, harus sampai kapan?
Memandikan anak mulai saya lakukan karena istri harus masuk kantor pagi-pagi. Sementara, anak saya belum bangun. Apalagi saya, tentunya. Yah, mau tak mau kerjaan baru ini harus dilakoni. Hitung-hitung, membuat saya bisa menikmati celoteh anak saat mandi pagi. Hal yang jarang saya temui sebelumnya karena itu memang kerjaan istri.
Di hari pertamanya bekerja sebagai CPNS di KPU Kutai Kartanegara (Kukar), istri saya sempat memandikan anak sebelum masuk kantor. Kebetulan, anaknya bangun lebih awal. Seolah tahu, ibunya harus menjalani hari dengan kesibukan baru. Jadi, begitu selesai mandi, saya tinggal mengantar anak untuk dititipkan kepada seseorang yang sudah seperti keluarga. Beruntung, dia mau. Setelah itu, menuju kantor.
Disini lah letak masalah yang belum terpecahkan. Sampai kapan saya menitipkan anak di tempat sekarang? Jawabannya memang tidak mungkin selamanya. Sejumlah rencana sudah melompat-lompat di benak saya. Mudah-mudahan, salah satunya akan menjadi solusi yang paling baik.
Ada rencana menitipkan anak di play grup atau lembaga PAUD. Sebenarnya banyak sisi positifnya. Potensi anak bisa lebih terarah dan terasah. Hanya saja, terbentur pada persoalan waktu yang terbatas. Biasanya, anak bisa dititip tak sampai sehari. Sementara, jam kerja saya bisa dikata lebih dari pegawai kantoran biasa.
Semua orang bisa maklum soal jam kerja profesi wartawan. Saya memang kadang tak bisa memperkirakan waktu rehat. Apalagi untuk kembali ke rumah buat anak. Pagi rapat redaksi, lalu meliput. Sore, pukul 4 sudah harus ngantor untuk mengedit halamanku lalu menulis berita hasil liputan. Malamnya, saya harus menunggu semua halaman Koran masuk ke percetakan. Maklum, di kantor saya dipanggil ketua kelas. Katanya, saya ini Koordinator Liputan. Sekali lagi, katanya. Untungnya, salary memang membuktikan kebenarannya.
Jam kerja istri juga sekarang tak bisa diperkirakan. Meski dia CPNS. Pasalnya, sekarang adalah waktu-waktu paling sibuk di kantornya. KPU sedang mempersiapkan pesta demokrasi, Pemilihan Legsilatif 2009. Pulangnya sore sekali. Bahkan, bisa-bisa lembur nantinya.
Ke kantor pun, dia memakai jasa ojek yang disepakati dibayar perbulan. Itu karena tak mungkin mengharapkan saya untuk mengantarnya. Maklum, waktu tidur yang amburadul merubah saya menjadi orang yang paling susah bangun pagi di seantero dunia.
Rencana lain menghadapi kondisi ini adalah memakai jasa baby sitter. Tapi, ini juga masih jadi pertimbangan. Selain sulit mencari orang, adaptasi anak, masih banyak pertimbangan-pertimbangan soal pilihan ini.
Sampai akhirnya, di tengah kebingungan, saya pun minta bantuan Ibu untuk mencari sanak famili yang mau ke Kalimantan dan menjaga anak saya. Mudah-mudahan, ini bisa direalisasikan. Setidaknya, anak tetap berada di rumah. Jika senggang atau liputan kelar, tinggal menengoknya. Cuma, rasa-rasanya ini tak mungkin bisa segera direalisasikan, walau pun ada sanak famili yang rela jauh-jauh ke pulau Borneo. Untuk yang satu ini, saya tak bisa menjelaskan pasal penyebabnya.
Yang jelas, memandikan anak setiap pagi, butuh solusi. Karena, meski ikhlas dan senang hati memandikan anak lalu menitipkannya, toh tetap menyisakan masalah. Saya jadi terlambat datang rapat pagi. Hal yang tak terpuji tentunya. Semoga, solusi segera menghampiri.
Posted by si buah terlarang
on 4/02/2009

Pernikahan Siri Bisa Diresmikan, Asal.....

PRAKTEK nikah siri di masyarakat merupakan fenomena yang tak bisa dipungkiri. Banyak kaum pria melakukannya dengan beragam alasan. Padahal, nikah siri dan pernikahan yang tidak tercatat secara sah menurut hukm positif, punya dampak yang merugikan di kemudian hari. Utamanya bagi kaum perempuan dan anak-anak yang dilahirkan dari jenis pernikahan tersebut.
“Ini memang fenomena yang jamak terjadi. Jika begitu, apakah kita akan menutup mata? Rasanya tidak mungkin “ ujar Ketua Pengadilan Agama (PA) Tenggarong, Marzuki Rauf SH MH, didampingi Humas Syamsuri, baru-baru ini.
Menurut Marzuki, dampak pernikahan siri dan nikah yang tidak tercatat terhadap kaum perempuan dan anak dari hasil pernikahan jenis ini akan terasa dalam hal yang menyangkut hak-hak keperdataan dan perlindungan hukum, misalnya nafkah, harta bersama, warisan dan lain-lain.
Suatu perkawinan yang tidak diakui oleh hukum positif, tambahnya, secara otomatis tidak dapat perlindungan hukum. Jika suami meninggal, istri dan anak hasil dari nikah siri itu bisa saja terlantar. “Atau jika si suami menelantarkan istri atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atas dasar apa si istri meminta perlindungan hukum. Kalau sudah begini, siapa yang akan disalahkan?” tukasnya.
Selain itu, dampak lainnya adalah sulit bagi anak-anak hasil pernikahan siri untuk mendapatkan pengakuan dan memperoleh hak-haknya di mata hukum. Contohnya, anak harus mendapatkan akta kelahiran. “Akta ini penting sekali di jaman sekarang. Mau masuk SD saja, akta kelahiran biasanya menjadi salah satu syarat penting,” ujarnya.
Karena tak bisa menutup mata itu lah, PA sebagai peradilan yang mempunyai kewenangan dalam penetapan pernikahan yang sah (Itsbat Nikah) memungkinkan untuk melaksanakan sidang Itsbat Nikah “Tapi, sebenarnya, kita ingin agar masyarakat tidak mempraktikkan nikah siri itu. Terlebih kaum perempuan agar lebih mempertimbangkan. Karena konsekuensinya di belakang hari cukup berat bagi mereka, “ timpal Syamsuri.
Meski dimungkinkan permohonan itsbat nikah, bukan perkara mudah bagi PA. untuk memeriksa dan mengadilinya. Berdasarkan KMA/032/SK/IV/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan telah diatur soal itsbat nikah ini. “Perkawinan yang tidak tercatat oleh PPN banyak berindikasikan penyelundupan hukum. Misalnya mempermudah poligami tanpa proses hukum atau untuk memperoleh hak waris atsu hak-hak lain atas kebendaan. Karena itu, pengadilan agama harus berhati-hati dalam memeriksa dan memutus sebuah permohonan penetapan sahnya nikah,“ tukasnya.
Salah satu langkah yang diberlakukan saat ini adalah dengan diadakannya masa sanggah. Caranya, setiap permohonan itsbat nikah itu diumumkan terbuka kepada publik melalui media cetak atau elektronik sebanyak 3 kali dalam masa 3 bulan. “Ini adalah ketentuan baru sesuai keputusan MA tadi,” paparnya.
Tujuannya, pihak-pihak yang keberatan dengan itsbat nikah tersebut bisa menyampaikan ke PA dimana permohonan itsbat nikah diajukan. “Misalnya, ada perempuan yang mengaku sebagai istri sah secara hukum dari pria yang bermohon itsbat nikah, dia akan diposisikan sebagai pihak dalam perkara,” tukasnya.
Setelah diumumkan sebanyak 3 kali dalam masa 3 bulan itu, Pengadilan akan memeriksa perkara. “Jika terbukti di persidangan misalnya, sang pria benar memiliki istri yang sah berdasarkan UU No l Tahun 1974 tentang perkawinan, maka Majelis Hakim kemungkinan menolak permohonan Itsbat Nikah itu, “ jelasnya.
Mekanisme ini diharapkan mengeliminir peluang para pemohon untuk melakukan kebohongan. Bagaimana langkah hukum selanjutnya jika permohonan itsbat Nikah itu ditolak karena seorang pria terbukti memiliki istri yang sah? “Upaya hukum adalah banding atau Kasasi. Jika sifat perkara itu permohonan (Voluntoir) yang produk akhirnya berupa penetapan (beschikking), maka upaya hukumnya adalah Kasasi. Dan jika sifat perkara berubah karena adanya sengketa (Kontentiosa) yang produk akhirnya berupa putusan (vonis), maka upaya hukum adalah Banding, “katanya.
Marzuki menjelaskan, sifat perkara sengketa terjadi ketika ada pihak yang berkeberatan dengan permohonan penetapan. “Misalnya kasus si perempuan yang mengaku sebagai istri sah. Dia harus dilibatkan dalam perkara. Di sini ada dua cara. Pertama, si perempuan harus aktif sebagai pihak yang mengintervensi atau menjadi penggugat. Atau, majelis memerintahkan si suami yang bermohon menarik perempuan tadi untuk dilibatkan dalam perkara. Kalau pria yang mengajukan itsbat nikah menolak melibatkannya, sementara perempuan tadi juga tidak aktif, maka sifat kasusnya masih voluntoir,” katanya.
Namun, PA sendiri bakal selektif memberlakukan soal masa sanggah. “Utamanya bagi pernikahan-pernikahan di bawah tahun 1970-an sebelum undang-undang perkawinan keluar. Misalnya orang-orang tua, para veteran. Biasanya karena persoalan administrasi saja hingga pernikahan mereka tidak tercatat,” katanya.
Posted by si buah terlarang
on 4/02/2009

Minggu, Maret 22, 2009

Sebuah Tahu bahwa Tahu Belumlah Cukup

hari ini saya tiba pada sebuah tahu. Tahu yang berbeda. Karena sebenarnya sudah lama saya tahu akan hal ini. Bahwa menjadi seorang manusia yang baik adalah dengan tidak menyimpan iri hati sedikit pun, pada siapa pun. Tapi, tahu ku ini adalah sebuah tahu, bahwa tahu itu belumlah cukup....
Saya teringat kata Gus Dur. Kyai nyentrik yang satu ini selalu jadi rujukan. Ia pernah menulis, pengetahuan tak selalu berbanding lurus dengan perilaku. Seorang yang banyak paham akan agama, bisa jadi malah punya track record kualitas moral yang buruk. Sebaliknya, orang punya laku moral yang bagus, padahal pahaman agamanya tak bisa dibilang banyak.
*******
Entah kenapa, saya selalu merasa seseorang itu selalu tak senang dengan setiap tindakanku. Rasanya, dia memang sedang iri. Celakanya, kadang-kadang saya ikut terbawa perasaan hati. Merasa saya lebih baik dari dia dan merasa, ia layak untuk iri. Tapi, jangan-jangan itu kesan personaku saja. Mungkin saja ia tak pernah iri sehingga merasa perlu memperlakukanku biasa-biasa saja. Tak perlu mengapresiasi setiap tindakanku.
Mudah-mudahan, yang kusebut terakhir ini adalah benar. Dengan begitu, saya harus menata ulang hati. Bahwa, setiap orang punya kebaikan. Itulah yang menjadikannya mahluk Tuhan yang harus dihormati dan diapresiasi.
Posted by si buah terlarang
on 3/22/2009

Selasa, Maret 10, 2009

SKandal Watergate yang menumbangkan Presiden Nixon

Watergate adalah skandal politik yang paling terkenal dalam sejarah Amerika, dan Deep Throat adalah nara sumber misterius paling terkenal dalam sejarah jurnalistik.
Peristiwa yang tadinya tampak sebagai pencurian yang tidak berbahaya di bulan Juni 1972 akhirnya berujung pada tumbangnya Presiden Richard Nixon.
Skandal itu juga mengungkapkan berbagai aktifitas pengintaian politik, sabotase dan penyuapan.
Sebagian orang mengatakan, skandal itu mengubah budaya Amerika untuk selamanya, menjatuhkan sang presiden dari singgasananya serta membuat media massa lebih berani.
Dua wartawan surat kabar Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein memainkan peranan penting dalam memusatkan perhatian kepada skandal itu, dibantu oleh informasi penting dari informan misterius mereka.
Nama itu juga merupakan nama sebuah kompleks yang terdiri dari berbagai kantor, hotel dan apartemen di Washington DC.
Di kompleks itulah pada tanggal 17 Juni 1972 lima laki-laki ditangkap ketika sedang memasang alat penyadap di perkantoran Komite Nasional Partai Demokrat.
Insiden yang terjadi saat kampanye pemilihan sedang berlangsung di tahun tersebut, setelah diselidiki ternyata dilakukan oleh sejumlah anggota kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden.
Dua pencuri dan dua orang lain yang ikut serta divonis bersalah bulan Januari 1973, namun banyak orang, termasuk hakim yang memimpin sidang itu John Sirica, menduga ada sebuah konspirasi yang mencapai sejumlah pejabat tinggi di pemerintahan.
Peristiwa itu berubah menjadi skandal yang lebih luas ketika salah seorang pencuri yang divonis bersalah, yang dihukum berat karena menolak mengungkapkan informasi soal skandal itu, menulis kepada hakim Sirica dan menyatakan ada upaya tutup mulut besar-besaran.

Rekaman rahasia
Senat meluncurkan penyelidikan yang melibatkan sejumlah tokoh politik besar termasuk mantan jaksa agung John Mitchell dan kepala penasehat Gedung Putih John Ehrlichman dan HR Haldeman.
Woodward dan Bernstein banyak menulis berita ekslusif mengenai skandal Watergate
Di bulan April 1974, Nixon tunduk kepada tekanan publik dan menerbitkan sebagian catatan pembicaraannya yang direkam sehubungan dengan Watergate.
Namun hal itu tidak menghentikan merosotnya dukungan bagi pemerintahannya, ataupun persepsi publik bahwa dia ikut serta dalam konspirasi itu.
Bulan Juli di tahun yang sama, Mahkamah Agung memerintahkan Nixon agar menyerahkan semua kaset rekaman pembicaraannya mengenai skandal itu.
Sementara itu, Komite Hukum Konggres telah menyelesaikan penyelidikannya dan meloloskan tiga poin impeachment terhadap Nixon.
Tanggal 5 Agustus Nixon memberikan catatan tiga rekaman pembicaraan. Dia mengakui bahwa dirinya mengetahui adanya upaya untuk menutup-nutupi tidak lama setelah peristiwa Watergate dan bahwa dia mencoba menghentikan penyelidikan FBI.
Empat hari kemudian, dia menjadi satu-satunya presiden Amerika yang mengundurkan diri dari jabatqannya, dan kemudian digantikan oleh Wakil Presiden Gerald Ford.
Presiden Ford kemudian mengampuni Nixon untuk menghindari sidang pengadilan, sementara para penasehat Nixon, Haldeman, Ehrlichman dan Mitchell adalah diantara orang-orang yang divonis bersalah pada tahun 1975 atas peran mereka.

Mengikuti arah uang
Woodward dan Bernstein menulis berbagai berita eksklusif ketika skandal itu semakin berkembang.
Buku mereka mengenai skandal itu, All The President's Men, dibuat film dengan pemeran utama Dustin Hoffman dan Robert Redford.
Lebih 30 tahun setelah skandal Watergate terungkap, mantan Wakil Kepala FBI Mark Felt akhirnya mengakui dia adalah Deep Throat
Berbagai adegan yang diingat orang termasuk pertemuan pertama Woodward dengan Deep Throat, yang menyalakan rokok di kegelapan, garasi parkir yang sederhana, dan seorang sumber yang mengatakan kepada Woodward agar "mengikuti arah uang".
Ketika skandal Watergate terus terungkap, Deep Throat menjadi khawatir perannya dalam penyelidikan Washington Post akan dibeberkan, kata Woodward kemudian.
Deep Throat diyakini menuntut agar dia dan Woodward berhenti berbicara lewat telpon, karena takut saluran telpon disadap, dan keduanya mulai bertemu di malam hari dalam sebuah garasi tempat parkir umum di Washington.
Bila Woodward ingin bertemu Deep Throat, wartawan itu mengubah posisi pot bunga di jendela apartemennya.
Bila Deep Throat ingin bertemu Woodward, dia melingkari halaman 20 koran New York Times yang diantarkan tukang kurang ke rumah Woodward.
Selama beberapa dekade ada spekulasi mengenai identitas Deep Throat, namun hal itu hanya menambah misteri.
Akhirnya, spekulasi itu telah berakhir.
Mimpi buruk politik
Watergate adalah istilah umum untuk menggambarkan rangkaian skandal politik yang kompleks antara tahun 1972 sampai 1974.
SKANDAL WATERGATE
17 Juni 1972: Kantor Partai Demokrat di kompleks Watergate dimasuki orang
11 Nov 1972: Nixon terpilih lagi
30 Jan 1973: Tujuh orang divonis bersalah dalam insiden memasuki kompleks Watergate
18 Mei 1973: Senat memulai dengar pendapat mengenai skandal itu yang ditanyangkan di televisi
17 Nov 1973: Nixon menyatakan, 'Saya bukan seorang pecundang'
27 Juli 1974: Konggres meng-impeach Nixon
8 Agustus 1974: Presiden Nixon mengundurkan diri

Dikutip dari http://decembery.multiply.com/journal/item/18/
Posted by si buah terlarang
on 3/10/2009

Mazhab Cinta


Diajarkan-Nya cinta pada setiap gerak semesta
Yang membaca dengan mata terpejam
Tengadah tangannya
berganti tawar menawar

Diminumkan-Nya anggur cinta
Yang meneguk dari cawan-cawannya
tak pernah puas
kehausan dalam samudera takterhinggaan

Dia lah Cinta
Yang disenandungkan dalam nyanyian
dikutip wirid dan tilawah
tersebut dalam mazhab-mazhab kekasih-Nya

Posted by si buah terlarang
on 3/10/2009

Rabu, Februari 25, 2009

Sang Munafik dengan kenikmatannya

Lubang yang mengapit itu
Katamu menjepit, membuat nikmat
Gelinjangmu, detak jantung yang terhenti sesaat

Ada yang lebih nikmat dari lubang itu, kata Jenar.

Engkau mencari kenyang di sudut mal itu
Di sebuah kedai siap saji
dengan minuman yang menusuk hidung kala bersendawa

kenyang oleh sekerat roti dan segelar air putih
tak beda dengan kenyang berjenis makanan, kata Ihwan Al-Shafa.

Sang munafik berujar jujur, 'aku bukan lah Sang Makrifat’


Posted by si buah terlarang
on 2/25/2009

Senin, Februari 16, 2009

Sebuah Madrasah Bernama Karbala

Hadir di peringatan Hari Arbain kesyahidan Imam Husain di Pendopo Odah Etam. Kata-kata Habib itu mengusik hatiku. Madrasah Karbala. Di sini tersaji puncak semua aspek kehidupan. kemuliaan, kesetiaan, kesyahidan, ketataan, dan semuanya.
"Siapa pun anda, apakah anda seorang ibu, seorang ayah, pemuda, bahkan bayi sekali pun. Di Madrasah Karbala semua puncak itu tersaji," kata Habib asal Bogor ini.
Kata-katanya mengalir detil. Detik-detik kesyahidan Husain, keberanian cucu-cucu Rasul menyambut pedang dan anak panah musuh, hingga perlakuan kasar yang diterima kaum perempuan ahlul bait.
Apa di benak Yazid? Ketika ia dengan laknatnya menjadikan kepala Husain yang tak pernah alpa dari sujud kepada Rabb-nya itu sebagai hiasan gerbang istana. Diaraknya bersama senandung syair-syair penghinaan. Ah, aku bersyukur bisa mengenal mazhab para pecintanya. Meski kadarnya mungkin tak bisa disebut penganut.
Teringat, ketika kubaca peristiwa Saqifah semalam suntuk. Esok paginya 'Islam' ku goncang sesaat. Beberapa lamanya kutinggalkan salat. Pertanyaaanku ketika itu, inikah wajah Islamku? Ah, aku bersyukur bisa melewati proses itu dan bisa menakar kecintaanku yang sederhana kepada ahlul bait.
Hingga, kala habib itu mengajak semuanya berdoa. Ia berujar, ".....doa untuk orang tua kita. Jika mereka belum mengenal madrasah karbala,kita mensyukuri lahir dari rahim suci mereka, mereka yang kesusahan menyapih kita, tidur mereka tak nyenyak selama merawat kita.....semoga Allah mempersatukan kita bersama Imam....
Oh, kuamini setiap bait doa-doa itu dengan tetesan bening di kedua mataku. Ya Rabb, andai mata ini tak bisa menangis saat itu, di sudut manakah aku di mata-Mu??
Posted by si buah terlarang
on 2/16/2009

Rabu, Februari 04, 2009

Akhirnya cuti juga

Aku ingat kata-kata Pak Mansyur Semma (alm). "Jadi wartawan itu ada titik jenuhnya, Di." Kalimat itu diucapkannya saat aku menuntunnya menuruni tangga FIS I di kampusku. Ia tahu, aku begitu mendamba jadi dosen.
Tapi, ia memang tak salah. Rutinitas selalu menyiksa siapa saja jika tak pandai menyiasatinya. Karena itu, aku selalu dimotivasi kata-kata seorang pujangga muda di Macazzart sana. Bahwa hidup itu sebuah rutinitas yang besar. Makan, tidur, mandi, cuci piring, makan lagi...itu berulang nyaris setipa hari. Tapi, kenapa kita tidak merasakannya sebagai sebuah rutinitas?
Ah, akhirnya aku cuti juga. Selamat tinggal rutinitas untuk semntara waktu. Mau puas-puasin nih bersantai bersama kleuarga. Mau maen PS juga nih
Posted by si buah terlarang
on 2/04/2009

Kamis, Januari 22, 2009

Menulis dengan Eufimistis

Alkisah, di sebuah negeri, seorang penguasa bertahta. Ia bak raja di jaman dulu meski kekuasaannya adalah produk konstitusi modern. Tak heran, media massa yang hidup dari ‘kemurahan’ dan ‘kedermawanan’nya, menjuluki dia, Sang Kaisar.
Kekuasaannya nyaris mutlak seperti praktik monarki absolut. Titahnya dijunjung tinggi. Perkataannya nyaris tanpa cela di mata ‘rakyat’. Itu karena, perilakunya yang dermawan. Setiap yang datang, tak akan pulang dengan kantong kosong.


Uang, entah dari mana asalnya, begitu mudah mengalir begitu saja. Karena hidup dalam konstitusi modern, banyak aturan yang dilabrak begitu saja. Tapi, karena bak raja, semuanya bungkam seribu bahasa.
Aparat hukum seolah tak punya taji dan taring di hadapan penguasa yang satu ini. Lawan politiknya mengkritik tapi tak vulgar. Para aktivis yang vokal dirangkul hingga akhirnya terbuai hangat di ketiaknya. Maka, ia meredam kritik. Nyaris tanpa represi. Sangat persuasif, tangguh dalam menjinakkan.
Aku ingat kata Gramsci soal wajah ganda kekuasaan. Atau Althusser dengan ideological state apparatus dan represif state apparatus-nya. Intinya, kekuasaan tak hanya tampil dengan wajah beringas dalam mencapai tujuannya. Ia bisa mulus dengan modus membujuk, infiltrasi nilai, atau apa saja. Hasilnya, obyek kekuasaan manut. Ada kepatuhan yang muncul karena kekuatan persuasif itu.
******
Kini, penguasa itu telah jatuh dari tahtanya. Bahkan, ia harus menuai buah dari praktik yang disemainya. Ia dijerat pasal tindak pidana korupsi. Berlapis pula kasus yang menjeratnya. Dihukum jauh dari tanah kelahirannya, pidana kurungan lebih dari lima tahun.
Karir politiknya sudah berakhir. Tapi, kharismanya ternyata masih belum pudar. Sebab, tak terhitung banyaknya orang yang merasa berhutang budi. Karena itu tadi. Kedermawanan dan kemurahan hatinya dalam menghambur-hamburkan duit.
Sepeninggal si penguasa ini, negerinya jadi tak stabil. Dia ibarat membangun sebuah gunung es. Ketika ia tak lagi hadir untuk merawat suhu dan temperatur, seketika gunung es itu mencair. Lelehannya menjadi rebutan banyak predator yang sejak lama kehausan. Uniknya, konflik yang terjadi seperti perang dingin. Mugkin saja karena memperebutkan lelehan es.
Tak hanya itu. Lelehannya ikut makan korban. Produk kebijakannya yang dulu melabrak konstitusi membuat orang-orang di sekitarnya, bawahannya, juga jadi korban. Sayang, ada yang benar-benar menjadi korban dalam pengertian yang sebenar-benarnya korban.
******
Aku menyaksikan jelas serpihan cerita itu hari ini. Tepatnya dalam sebuah sidang korupsi. Seorang staf biasa menjadi terdakwa dalam kasus dengan kerugian Negara Rp10 milyar lebih. Ia didakwa menikmati uang negara senilai Rp150 juta. Sisanya dibawa kontraktor yang kini kabur ke luar negeri.
Memang, proyek ini, secara kasat mata, menyalahi aturan. Seharusnya proyek itu dilelang tapi dilakukan penunjukan langsung (PL). Itu kebijakan sang penguasa. Dalam bentuk disposisi setuju. Saksi di persidangan, mantan Sekretaris Daerah saat proyek ini dilelang mengatakan, “PL memang sudah jadi style kepemimpinan (penguasa) kala itu. Tak ada yang bisa mengingatkannya, bahkan menegurnya.” Benar bukan? Kalau dia seorang raja.
*******
Aku sedang dilema kawan! Sebagai wartawan, aku kini hidup dalam bagian dari gunung es yang belum sepenuhnya mencair itu. Dia memaksa aku untuk menulis eufimistis. Jika melanggar, diedit….eh ….disensor pastinya!
Posted by si buah terlarang
on 1/22/2009

Kamis, Januari 15, 2009

Sentuhan Kecundang, Demam Lagu Malaysia

Sudah beberapa malam ini, suasana ruang redaksi dihinggapi "penyakit" demam. Demamnya aneh. Entah mahluk apa yang pertama kali membawa virus ini dan menancapkan kukunya. Hingga, terjadilah demam....lagu Malaysia.
Yang aku ingat, semuanya bermula dari sebuah komentar seorang pujangga muda Kaltim, Nala Arung, di-Facebook kawanku si korektor bahasa, Mas Jerry Sarimole. Soalnya, orang yang disebut belakangan ini menulis statusnya....'Sentuhan Kecundang'. Ini mungkin virus yang membawa demam yang menerpa ruang redaksi belakangan ini.

Mas Nala Arung, mengomentari "Sentuhan Kecundang" yang memang merupakan salah satu judul lagu Malaysia. Katanya, ini salah satu lagu Malaysia yang paling berpengaruh di era '90-an. Bagi generasi di masa-masa itu, pasti akan merindukan lagu ini jika diperdengarkan kembali. Dia bahkan mengusulkan dibentuk grup band, khusus untuk menyanyikan lagu ini. Syairnya , 'putus tak bisa disambung, kusut tak berurai, hilang tak bisa disentuh, patah kekeringan. Cinta terlarang bagai terbuang, hilang dalam rimba gelap dan penuh duriiiiiiii..
Bagiku, lagu ini memang sangat mendayu-dayu. Kenangan-kenangan indah yang sudah terkubur di sudut memori otak yang paling sublim pun, bahkan yang sudah di-ctrl delete sekali pun, seketika bisa di-recycle bin untuk ditampilkan kembali di monitor angan-angan.
Sejak itulah, "Sentuhan Kecundang" punya Ekamarta ini selalu mengawali Malaysian Song Night di ruang redaksi disusul deretan lagu-lagu lain yang membawa kami kembali ke era 90-an ke atas. Entah kapan 'demam' tersebut sembuh. Yang pasti tak ada obatnya. Mungkin akan sembuh sendirinya seiring waktu yang terus berjalan. Sejauh ini, semua awak redaksi menikmati 'demam' ini tanpa ada yang bertanya, apa obat penawarnya. Apalagi bertanya, sejak kapan mereka mengidapnya…
Posted by si buah terlarang
on 1/15/2009

bete...bete...Ah!

aku bukan orang yang suka berprasangka terhadap orang lain. Tapi, akhir-akhir ini ada keanehan di lingkungan kerjaku. Di kantor, ada indikasi kalau tulisanku tak lagi diakomodir di halam tertentu. Mungkin tulisanku kali ya kurang berbobot?
Tapi, kalau udah ditulis, mungkin bisa keliatan bobotnya. Bagaimana kalau itu gak pernah mau diakomodir. Jadinya kan aku gak nulis. Pertanyaanya kenapa ya? padahal dari segi isu gak terlalu bisa dibilang biasa. Ah, malas jadinya. Tapi itu tadi. aku bukan orang yang suka berprasangka. Aku ingin melihat sejauh mana kondisi ini berlangsung sehingga nantinya 'keadaan' itu sendiri yang 'berbicara' tentang apa sebenarnya terjadi.
Yang penting, hidupku harus enjoy. Hati selalu diisi energi positif. Itu bisa jadi kekuatan besar yang bahkan bisa menghentikan tsunami apa pun...he... heh...yang namanya tsunami ya tsunami. Maklum lagi lelah dan.. bete...bete...ah!
Posted by si buah terlarang
on 1/15/2009

Rabu, Januari 14, 2009

Dasar Gaptek!

Aku sedang berusaha belajar menyingkat postinganku. Beberapa hari ini, di sela-sela acara begadangku menunggui semua kloter halaman di-print, aku menjelajahi tips-tips menyingkat postingan blog. tapi...
Entah kenapa, usahaku selalu gagal. Bukannya readmore-nya terinstal. malah postinganku awut-awutan. Ah, memang aku yang gaptek sampai tips-tips itu gak ada yang bisa aku pratikkan secara sempurna. Padahal, menyingkat posting itu penting biar tampilan blog jadi terlihat rapi. ada ya yang bisa bantu??? Please deh.
Posted by si buah terlarang
on 1/14/2009

Selasa, Januari 13, 2009

Saling Tuding di Sidang Korupsi

Hari ini aku menyaksikan sebuah sidang kasus korupsi yang berjalan sangat seru. Nilai kerugian negara dalam kasus ini fantastis. Rp 19,3 miliar. Ada dua terdakwa dalam kasus ini. Yang pertama, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kutai Kartanegara, HM Hardi. Satunya lagi, bendahara khusus penerima, Muh Noor.
Dalam sidang itu, Hardi jadi terdakwa. Sementara, si Muh Noor jadi saksinya. Dalam istilah ilmu hukum, terdakwa yang juga menjadi saksi bagi terdakwa dalam kasus yang sama disebut saksi mahkota.
Muh Noor dalam kesaksiannya benar-benar mengubah alur persidangan sebelumnya. Ia menyatakan dengan yakinnya, kalau cek yang dicairkan sebanyak 14 buah senilai Rp19,3 M itu atas perintah atasannya. Uang sebanyak itu, katanya, semuanya diserahkan langsung pada atasannya, Hardi.
Uniknya, aku Noor, uang sebanyak itu diserahkan di dalam mobil di halaman kantor BPKD. Dari mobilnya, ia memasukkan uang sebanyak itu ke mobil Hardi. Konon, mereka cuma berdua tanpa ada saksi satu pun.
Kesaksiannya ia ungkapkan tanpa tedeng aling-aling. Semuanya dibeberkan tanpa ada kesan untuk menyembunyikan apa pun. Hal ini dibantah mentah-mentah oleh sang atasan. Dapat dibayangkan bagaimana jalannya sidang itu. Sama-sama menuding satu sama lain yang berbohong. Sampai bawa-bawa nama Tuhan segala.
Entah, siapa yang benar. Sebab, kata Hardi, 11 cek tidak pernah ditandatanganinya. Sementara, si bendahara bilang, dialah yang mencantumkan angka di cek yang akan dicairkan itu. Semakin menarik kasus ini untuk diikuti.
Sayang, sepertinya saya harus terbentur pada sebuah tembok besar untuk menulis kasus ini. Saya harus mem-frame berita ini sedemikian rupa. Tidak perlu saya rincikan apa masalahnya. Yang jelas, ini murni kepentingan pemilik modal. Terngiang kata-kata guru jurnalistikku, Prof Dr Sinansari Ecip, “tak ada ideologi wartawan. Yang ada adalah ideologi media.” Aku merasa itu lah fakta saat ini yang tak bias aku ingkari….
Posted by si buah terlarang
on 1/13/2009

Kamis, Januari 01, 2009

Ayah, belikan aku terompet!

MAKNA tahun baru bagiku, entah kenapa, tak pernah begitu istimewa. Seakan ada yang menahan dan mengajak segala rasa untuk bertahan di sini dan sekarang. Sebab, ada yang tak pasti di ‘depan’ sana. Sesuatu yang gaib, yang lepas dari jangkauan rasio, akal budi, dan semua matra insaniah yang bisa mengecapnya.
Karena itu, aku tak pernah sepenuhnya terpana dengan warna-warni percik kembang api. Apa lagi tergugah dengan suara terompet tahun baru. Malah, aku tak senang dengan kebisingan yang ditimbulkannya.
Aku berpikir. Di ‘sana’, ada sesuatu yang tak jelas bentuk dan warnanya, tapi pasti terjadi. Namun, waktu harus berjalan. Gerak harus terjadi. Bukankah, ‘gerak’ adalah sunnatullah yang terjadi di setiap tingkatan kosmos.


Bukankah sang Khalik, yang maha suci dari rasa kantuk dan tak pernah tidur itu, senantiasa memperbaharui setiap eksistensi, sekecil dan selemah apa pun dia. Hingga semuanya bisa melakukan ‘gerak’ yang titik akhir dan muaranya adalah kesempurnaan.
Karena itu, Dia mengajarkan, melalui sang Perintis Jalan Cinta, Rasulullah SAW, tentang ayat, yang salah satunya mengajarkan optimisme dalam sikap hidup. Akhirnya, aku terdiam dan merenungi gerak waktu ini. Di tengah hirup pikuk dan keramaian kota yang aku lewati, di sana-sini ada dentuman musik, terompet yang berteriak congkak, sebuah suara halus tiba-tiba menyergap lamunanku, “ayah, belikan aku terompet!”
Aku terkesiap mendengarnya. Makna tahun baru 2009 seakan terasa berwujud nyata di hadapanku, kala itu. Berbentuk seorang bocah berusia tiga tahun dengan segenap kenakalan dan kemanjaan pada dirinya. Yah, dia putra pertamaku. Maulana Wahid Ramadan.
Ah, aku lupa, tahun ini dia semakin bisa, dan terus berusaha menafsir hidup dengan paradigma dan dunia berpikirnya sendiri. Ternyata, aku lah yang selalu tak menyisakan ruang untuk sekadar tahu, bagaimana dia kini menafsir realitas. Gembirakah dia? Seperti di malam tahun baru itu, ia minta dibelikan terompet. Ia begitu senang dengan keramaian.

Sebab, karena kesibukanku yang terengah-engah mengalahkan rutinitas, dia lebih banyak di dalam rumah bersama ibunya. Kerja jurnalistik ini cukup menyita kebersamaanku dengan mereka. Suaranya yang begitu lirih itu, menyadarkanku satu hal. Bahwa tahun baru 2009, punya makna besar. Bahwa anakku sudah bisa meniup terompet yang dimintanya itu dengan suara yang tak kalah bisingnya dengan anak-anak lain. Dia gembira. Tugasku, sebagai ayahnya, menjaga kegembiraannya itu, kalau bisa tak hanya di malam tahun baru. Persetan, apa pun yang menanti di depan sana. Sebab, aku bukan penyembah setan. Aku yakin Al-Haqq akan beserta orang-orang yang menganggap kerja keras adalah ibadah tanpa melupakan ibadah kepada-Nya…Kepada-Mu kami menyembah…kepada-Mu kamu meminta pertolongan (Al-Fatihah). Tidak bisa dibalik!!!!
Posted by si buah terlarang
on 1/01/2009