Rabu, April 22, 2009

Sekadar Curhat

Akhir-akhir ini semangat kerjaku seolah berada di titik nol. Sepertinya saya butuh momen untuk menyegarkannya kembali. Tapi, sampai saat ini, saya belum menemukan kapan waktunya, apa bentuknya, dan bagaimana caranya….momen itu dihadirkan.
Seingat saya, kejenuhan ini bermula dari sebuah larangan akan suatu peliputan. Sebagai karyawan, loyalitas kepada atasan adalah harga mati. Tak ada istilah menawar jika hal itu bersangkutan dengan persoalan pekerjaan.
Saya teringat kata-kata ayah ketika masih kanak-kanak dulu. “Ketaatan pada pemimpin adalah keharusan sepanjang itu tidak bertentangan dengan perintah Tuhan”. Saya ingat persis, ia tak mengucapkan langsung padaku. Tapi, hal itu adalah prinsip hidupnya yang kutangkap sebagai pelajaran.
Kembali pada persoalan liputan tadi, larangan itu memang berkaitan erat dengan kepentingan politik. Hari itu....saya lupa dan tak mau mengingat-ingat waktunya, sebuah pesan pendek datang. Berisi larangan agar tak meliput lagi kasus tindak pidana Pemilu yang sebelumnya hampir tak pernah saya absen dalam setiap persidangan.
Sebagai karyawan, tentu saya tak mau menanyakan alasannya. Selain karena loyalitas tadi, saya cukup paham apa di balik kasus itu. Setidaknya bisa mengira dan menduga-duga setelah melihat serpihan-serpihan fakta di lapangan.
Memang, saya sempat menawar. Sebab, kasus itu menyisakan vonis hakim. Kepentingan melayani pembaca adalah alasan mengapa saya tetap ingin meliput kasus itu. Bagi saya, prinsip jurnalisme yang tertinggi adalah kesetiaan terhadap pembaca. Dan itu harus mengalahkan segalanya.
Sayang, saya bukan siapa-siapa. Liputan itu harus kutinggalkan. Saya cuma berujar dalam hati, “jika begini, seharusnya dari awal saya diberitahu.”
Kecewa? memang iya. Perasaan itu saya ibaratkan dengan momen saat berhasil menaklukkan perempuan. Perempuan itu yang mau dirayu, disentuh, dan dicumbu, dan memang setuju untuk sebuah persetubuhan. Tapi menjelang klimaks, ia memilih membiarkanku berakhir dengan orgasme yang tak kesampaian....
Hmmm.....komersialisme yang bersenyawa dengan jurnalisme memang kerap melahirkan pragmatisme. Meski komersialisme adalah patahan yang tak bisa dielakkan dalam mekanisme pasar jaman mengglobal ini. Tapi, jika itu dilakukan dengan cara-cara yang tak elegan, komersialisme yang dibingkai kepentingan-kepentingan sesaat hanya akan menjadi bumerang bagi jurnalisme itu sendiri. Wallahu Alam!!!

0 komentar:

Posting Komentar