Sabtu, November 14, 2020

Mata Pelajaran Paling Sulit itu...adalah...

Kalau ada kata-kata yang pernah saya ucapkan dan harus ditarik kembali malam ini, segera, adalah: pelajaran Matematika itu sulit! 

Matematika ternyata bukan mata pelajaran paling sulit diajarkan ke anak kelas 4 SD. Yang sulit itu ternyata pelajaran Agama.

Malam ini, seperti biasa, saya mulai "meneror" bungsuku. "Ambil buku. Kerjakan tugas!" Semua video materi pelajaran dan tugas dari guru kelas disimak. Dia memilih membuka video mapel Agama lebih dulu. Menyiapkan buku.  Menyimak. "Bagus. Ini bakal mudah," pikirku.

Senja di Kota Samarinda.


Materinya, keteladanan Nabi Ayub. Baru menyimak awal video, bocah ini tiba-tiba unjuk pertanyaan. Saya kelabakan.

"Ada gak, Yah, Nabi dari Indonesia?" Nabi-nabi, kata dia, semua dari Arab. Jlebbb! Kalau saya jawab gak ada, dia pasti tanya "kenapa?" Mikir super keras!

Saya jawab singkat, leluhur Nabi Muhammad bukan asli penduduk Mekah. Syukurnya, di kepala anak ini, Arab itu "hanya" Mekah. Dia bungkam. Hmmmm...

Lanjut...

Narasi video itu akhirnya mengisahkan sumpah Nabi Ayub. 100 kali cambukan buat istrinya.  "Loh, kan gak boleh suami mukul istri, Yah?" Video itu dijedanya. Kali ini, urusan jadi lebih serius. Mata beradu mata. Dahinya mengernyit.   

Aduh, Mak! 

Saya ambil gawai dari tangannya. Layar kusentuh. Video berlanjut. "Tuh, kan? Dengar sendiri. Allah dengan kasih sayang-Nya mengganti kayu dengan 100 lidi. Jadi hanya sekali saja, tapi terhitung sama dengan 100 kali," jawabku. Saya tunggu "serangan" susulan. 

Rupanya dia diam. Puas? Entahlah. Lima poin pertanyaan dari gurunya tuntas dijawabnya sendiri. Mungkin, dia yakin dengan narasi video. Bahwa janji atau sumpah harus tetap dilaksanakan. 

Di titik ini, saya tiba-tiba ingin tampil seperti Gus Baha di depan anak. Kebetulan, dua hari lalu, saya menyimak materi video akun Santri Gayeng, juga tentang topik ini. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya," gumamku.

***

Pagi tadi, saya juga gagap dengan pertanyaan kakak perempuannya. 

Bermula dari kaing anjing tetangga. Beberapa hari lalu, mereka pindah. Rumah kosong. Gelap saat malam hari. Sejak itu, suara anjing bikin saya terganggu. 

Entah apa pertimbangannya, anjing itu masih dirantai di samping rumah yang kosong melompong. Saya husnuzan. Mungkin masih ada barang yang ditinggal. Apalagi, anak tetangga itu saya lihat sempat datang lagi.

Di rumah kami, ada 3 ekor kucing pejantan besar. Semua diurusi Zahra. Sisa makanan dikumpulkan lalu dibagikan secara terpisah kepada kucing-kucing itu. Biar tak terjadi adu kekuatan.

"Masih ada sisa daging semalam? Tambahkan nasi, masukkan ke sini!" Saya sodorkan bekas kotak makanan. "Buat apa?" "Anjing itu lapar. Ayo, kita beri makan."

Dia diam. Sorot matanya menolak. Awalnya, saya berpikir karena takut. Anak ini memang takut dengan anjing. "Gak usah, anjing kan haram!" ujarnya.

Saya diam sejenak. Lalu, kotak nasi kuambil. Ada sisa potongan paha bebek. "Ayo, tambah nasinya," saya memerintah lagi. Dia ke dapur. 

Zahra lalu menyusul langkah kaki saya. Menyeberang jalan. Anjing itu pun melahap habis nasi dengan cepat. 

Di keran air depan rumah tetangga itu ada ember kecil. Saya tunjuk. "Ambil itu, isi air. Buat minum anjingnya." 

Kali ini Zahra bergegas. Dia senang anjing itu tampak lugu. Persentuhan pertamanya dengan anjing tak sehoror di pikirannya.

"Ayah, apakah kita bisa masuk surga dengan memberi makan anjing?" 

Tiba-tiba, ingin sekali kuceritakan padanya, kisah seorang seorang pelacur yang rontok semua dosanya.  Hanya karena memberi minum seekor anjing.

Ingin kuceritakan kisah KH Mas Mansyur, Ketua Muhammadiyah, yang memarahi anaknya karena lupa mengikat anjing piaraan. Sebab, gara-gara anjing jenis Keeshond itu, insiden terjadi. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Hasbullah yang datang bersilaturrahmi langsung melompat dan berdiri di atas kursinya. 

Ingin kuceritakan juga, Nabi membiarkan dua permata hatinya, imam Hasan dan Husain, kala bocah, bermain dengan anak anjing. Atawa, kisah para Ashabul Kahfi yang turut ditemani anjing. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya!"

Pertanyaan anak perempuan ini hanya saya jawab sekenanya. "Memberi makan kucing dan anjing, akan membawa kita ke surga. Tapi, yang paling penting, kasih sayang Allah. Sayangilah semua mahluk Allah, Allah akan sayang kepada kita. Bisa gak kita masuk neraka kalau Allah sudah sayang sama kita?"

Posted by huldi amal
on 11/14/2020

Minggu, September 13, 2020

Teror Pinjol


 
Berbulan-bulan dapat teror aplikasi pinjaman online (Pinjol). "Ini dengan Ibu Del*****?". Bosan juga meladeni penelpon yang gonta-ganti. Dari pemilik suara bas sampe yg mezzo-sopran. Mulai cara debat pake dasar-dasar hukum logika sampe saya harus membentak. 

Mereka mulai bosan saat tak diladeni.    Apalagi, kalau ponsel saya dekatkan di speaker keyboard Casio WK-7600. Lalu, saya mainkan satu dua nada, mirip tebak-tebakan judul lagu di acara kuis Berpacu Dalam Melodi di era keemasan TVRI sebagai pemain tunggal dunia broadcasting analog.

Para penelpon ini, dari aplikasi pinjaman online yang namanya juga sebelumnya saya tak kenal. Menelpon berulang. Jedanya kadang hanya sehari. Padahal, mereka sendiri bilang, "percakapan ini terekam otomatis dan jadi bahan laporan ke perusahaan." 

Kalau begitu, temanmu yg nelpon bulan lalu, dia kemanakan rekaman suaraku? Diapakan? Buat nakut-nakutin, bosmu? Biar naik gaji? Fucek!!! 


Kini, sudah tak pernah ada lagi suara manis di ujung telepon, menanyakan nama wanita malang yang terjerat hutang. Entah siapa dan tinggal dimana gerangan dirinya, saya juga tak ambil pusing. 

"Itu karena perempuan yang dicari mereka punya nomor kontak sampean," begitu penjelasan kawan yang menggeluti dunia marketing berpadu algoritma era digitalisasi.

Nah, siapa dia? Bikin penasaran! Siapa perempuan yang menyimpan kontak saya tapi tak kukenal? Apa motifnya? Tak pernah mengontak juga! Kan, minimal WhatsApp, lah. Say Hello, gitu! Kalau memang kamu secret admirer, kumaafkan. Tak apa sy jadi korban tagihan cicilanmu, tapi setidaknya saya tahu juga nomor WA-mu...

Masalahnya, saat teror aplikasi ini sudah berakhir, teror baru muncul. SMS tawaran pinjaman dana, produk pembesar dan 'tahan lama', sampe judi togel, mampir 3 kali sehari. Mirip resep dokter!!! Asseeeemmm....😠

Posted by huldi amal
on 9/13/2020

Rabu, Juli 29, 2020

Jante Arkidam

Setelah Sapardi pergi, menyusul Ajip Rosidi. Saya pernah terpesona dengan pembacaan puisi Jante Arkidam. Oleh seorang tokoh seni teater negeri ini. Namanya Kang Iman Soleh I. Beliau hadir dengan sastrawan, Kang Acep Zamzam Noor. Di Festival Lanjong tahun 2009. 

Usai pembacaan puisi yang berkisah soal bromocorah sakti itu, saya langsung menghampiri sang mahaguru teater. "Itu puisi siapa, Kang?" tanpa sungkan dan malu, saya bertanya. 

Pikir saya, buat apa malu? Saya bukan orang yang melek sastra. Waktu itu, saya wartawan kriminal, malah disuruh liputan festival seni dan kebudayaan. Namanya kuli. Mau tak mau taat pada titah majikan berduli.

Mungkin, keawaman saya pada sastra tak jauh bedanya dulu dengan sekarang. Namun, setidaknya, dari jawaban maestro teater yg begitu ekspresif dalam membaca Jante, saya membeli kumpulan puisi Ajip Rosidi...
Ajip Rosidi
Ajip Rosidi. (merdeka.com)


Kepergian dua sastrawan yang berdekatan membuat rasa kehilangan semakin kuat. Sayangnya, orang-orang seperti mereka tetap 'tinggal'. Tak beranjak dari benak. Sebab, mereka punya karya. Monumen ingatan paling hakikat. 

Saya termenung membayangkan, bahwa kita yang pulang belakangan, justru akan paling cepat terlupakan. Tidak seperti jejak-jejak mereka yang melampaui zaman...
Posted by huldi amal
on 7/29/2020

Sabtu, Juli 18, 2020

Aksara dan Romantisme

Mengejawantahkan romantisme itu, anakku, selalu dimulai dari aksara. Mungkin, aksara lah yang akan paling bisa membuat kekasihmu bungah. Bahagia. Tertawa lepas. Aku pernah melihat adegan itu. Suatu hari. Dulu sekali. Saat ayahmu masih bocah. 

Almarhum kakekmu, perantau yang awalnya tiba di sebuah pulau kecil di tengah Teluk Tomini, Pulau Unauna, Sulawesi Tengah, adalah seorang guru. Rupanya ia berbekal ketrampilan aksara khas sukunya. 

Hari itu, nenekmu yang guru SD, lulusan SPG, memegang kertas dan pena. Aku lupa waktu itu duduk SD kelas berapa. Yang kuingat, kakekmu mengambil pena itu lalu menulis. Nenekmu duduk di sampingnya. Menyimak. 

Deretan abjad itu begitu asing. Di mataku. Juga buat nenekmu. Beberapa saat, kakekmu menjelaskan cara ejaan. Nenekmu mengeja beberapa huruf. Sejurus kemudian, perempuan ini tertawa manja. "Oh, namaku ternyata!" ujarnya. 

Derai tawa keduanya tak dibuat-buat. Membuat perhatianku teralihkan dari mainan mobil-mobilan. Rasanya, itu momen paling romantis yang pernah kusaksikan. Ya, kakekmu menulis nama nenek dengan aksara Bugis. Aksara lontara'.

Aku tumbuh sebagai manusia separuh bugis. Di desa yang mayoritas dihuni para perantau bugis. Belajar mengaji pun pakai cara bugis. Membayar guru ngaji dengan upah harian: menimba sumur hingga semua penampungan air penuh.

Ada hal istimewa lain yang selalu kuingat soal aksara ini, Nak. Kupikir, itu yang membuatku selalu merasa masa kecilku penuh warna dan romansa. 

Dulu, di desaku, kala perayaan maulid tiba, ada tradisi barzanji. Kitab yang dibacakan memakai aksara bugis. Jangan kau bayangkan ini maulidan biasa. Durasinya mengalahkan film terpanjang di bioskop 21 yang pernah kutonton. Dimulai selepas isya. Selesai hampir subuh.

Meski tidur dan baru bangun saat jamaah bubar,  aku selalu diajak kakekmu. Ayahmu ini selalu bersemangat. Bagiku, barzanji yang pakai aksara bugis atau aksara arab, sama saja. Maknanya MAKAN ENAK. 

Aku kerap menikmati privilese. Orang-orang belum memulai barzanji kalau aku dan kakekmu belum nongol. Suatu ketika aku protes. 

Ceritanya, malam sebelumnya, kami sekeluarga, pasukan lengkap, ikut barzanji kitab beraksara lontara. Seperti biasanya, aku tertidur. Pagi harinya mengeluh. "Malas ikut barzanji Bugis. Terlalu lama. Sokko' (penganan khas bugis dari beras ketan) dan onde-onde (klepon) sudah keras dan dingin," kataku pada kakekmu.

Rupanya, keluhanku sampai ke panitia pelaksana. Malam harinya, datang Sokko' dan nampan penuh berisi onde-onde hangat. Kamu tau, Nak. Sensasi ketika gula merah klepon yang hangat, pecah dan memenuhi rongga mulut, itu yang paling kusukai! 

Sayang, para tetua berpulang, tradisi barzanji ini pun hilang. Manuskrip sirah Nabi Muhammad SAW yang beraksara lontara itu kini entah di tangan siapa.

                          ***

Konon, para kolonialis menganggap bangsa kita orang-orang Barbar. Liyan. Yang harus ditaklukkan. Mungkin, berangkat dari kesombongan logika Cartesian. Kita dianggap bodoh.

Padahal, nenek moyang kita sudah terbiasa mentransmisikan pengetahuan. Di Jawa ada hanacaraka. Di Bugis ada Lontara. Ada kitab-kitab berbahasa Pegon. 

Jangan rendah diri, Nak. Soalnya, kalau orang Barat menganggap moyang kita gak bisa baca tulis, kakekmu pernah membodohi salah satu dari mereka.

Sewaktu kuliah di IKIP Menado di kisaran tahun 60-an, dia punya dosen dari Belanda. Saat ujian, kakekmu bikin contekan (jangan ditiru ya!) pakai aksara Lontara. "Apa ini!" hardik si dosen. "Surat dari Ibu, Meneer!" Kakekmu lolos.

           ****

Sudah lama aku tertarik dengan La Galigo. Sejak membaca the Bugis-nya Christian Pelras. Orang Perancis. Ini mahakarya, Nak. Manuskrip beraksara lontara yang dinobatkan sebagai epos sastra terpanjang di dunia. Mengalahkan epos Mahabharata. Terimakasih pada kak Andi Aisyah Lamboge yang membantu mendapatkan buku edisi lux ini.

Orang Bugis, kata Pelras, kerap disalahartikan. Semisal disematkan sebagai bangsa bajak laut. Padahal, bukan. Kelak kalian harus juga membaca soal Bugis. Penting bagi kita untuk membaca asal-usul para leluhur. Sudah fitrah....setiap serpihan merindukan asal agar dia merasa jadi bagian sebuah keseluruhan.
Posted by huldi amal
on 7/18/2020

Senin, Juli 06, 2020

BENDI

Kerajinan tangan adik saya di tojo-unauna


Kampung saya, Ampana, Tojo-Unauna, Sulteng, begitu majemuk dari komposisi penduduk. Salah satu yang cukup dominan adalah perantau dari Gorontalo. 

Ayah saya, perantau dari Bone, Sulsel, akhirnya membeli sebidang tanah. Membangun rumah. Pemilik sebelumnya adalah seorang Gorontalo, maestro pembuat Bendi, alat transportasi legendaris di kampung saya. Di tempat lain disebut dokar, atau delman. 

Setelah menjual tanahnya, pemilik workshop bendi itu pindah ke seberang jalan. Di situ, saya kerap bermain-main dengan kawan sebaya. Melihat dr dekat pembuatan bendi. Kadang kami dimarahi karena lancang memainkan perkakas berbahaya. 

Selain bentuknya khas, bendi buatan orang2 Gorontalo kukuh dan ramping. Artistik juga. Setiap sisi dilapisi seng dipipihkan lalu dicat warna sesuai selera. 

Kala SMA, saya masih pulang sekolah naik bendi. Waktu pulang kampung terakhir kali, bendi jarang terlihat lagi. Lebih banyak becak motor. Tukang ojek bejibun. Kalau ojek online juga beroperasi, masih kah orang mengenang bendi? Padahal, bendi punya teknik khusus. Kalau kudanya berak saat narik penumpang, jatuhnya di karung. Dipasang di dekat pantat kuda. Letaknya di sisi bawah bagian depan. Kecuali kudanya, maaf, mencret, kotorannya meleset.😀 

Saya terkenang kuda betina milik kami. Namanya Kelly. Dijual murah oleh Om Aruji (alm), si maestro pembuat bendi di depan rumah. Karena Kelly, sy pernah belajar berkuda. Belajar memanah saja yang belum. Wajar kalau belum bisa mengamalkan ayat..."mastna wa tsulatsa wa ruba'..."😁😁 

#kerajinantangan
#kreatif #ampanakota
#tojounauna
Posted by huldi amal
on 7/06/2020

Minggu, Juli 05, 2020

Mahakam Bridge

Harapan selalu akan. Di balik mendung awan. Tersungkur selalu dalam syukur. Jangan gaduh dengan keluh. Kelak kau akan menertawai setiap kesementaraan...

Hidup hanya berpindah dari satu masalah ke solusi. Lalu, solusi menjadi soalan baru. Hari yang berganti membuat kita jadi 'baru'. Paksalah diri bahagia. Agar tak luput melihat ragam nikmat dari Tuhan. Atau, bahagialah tanpa alasan. Sebab, jika bahagia butuh alasan, ada resikonya: bahagia hilang saat alasan tadi hilang. 
Samarinda, 5 Juli 2020
Posted by huldi amal
on 7/05/2020