Sudah beberapa malam ini, suasana ruang redaksi dihinggapi "penyakit" demam. Demamnya aneh. Entah mahluk apa yang pertama kali membawa virus ini dan menancapkan kukunya. Hingga, terjadilah demam....lagu Malaysia.
Yang aku ingat, semuanya bermula dari sebuah komentar seorang pujangga muda Kaltim, Nala Arung, di-Facebook kawanku si korektor bahasa, Mas Jerry Sarimole. Soalnya, orang yang disebut belakangan ini menulis statusnya....'Sentuhan Kecundang'. Ini mungkin virus yang membawa demam yang menerpa ruang redaksi belakangan ini.
Mas Nala Arung, mengomentari "Sentuhan Kecundang" yang memang merupakan salah satu judul lagu Malaysia. Katanya, ini salah satu lagu Malaysia yang paling berpengaruh di era '90-an. Bagi generasi di masa-masa itu, pasti akan merindukan lagu ini jika diperdengarkan kembali. Dia bahkan mengusulkan dibentuk grup band, khusus untuk menyanyikan lagu ini. Syairnya , 'putus tak bisa disambung, kusut tak berurai, hilang tak bisa disentuh, patah kekeringan. Cinta terlarang bagai terbuang, hilang dalam rimba gelap dan penuh duriiiiiiii..
Bagiku, lagu ini memang sangat mendayu-dayu. Kenangan-kenangan indah yang sudah terkubur di sudut memori otak yang paling sublim pun, bahkan yang sudah di-ctrl delete sekali pun, seketika bisa di-recycle bin untuk ditampilkan kembali di monitor angan-angan.
Sejak itulah, "Sentuhan Kecundang" punya Ekamarta ini selalu mengawali Malaysian Song Night di ruang redaksi disusul deretan lagu-lagu lain yang membawa kami kembali ke era 90-an ke atas. Entah kapan 'demam' tersebut sembuh. Yang pasti tak ada obatnya. Mungkin akan sembuh sendirinya seiring waktu yang terus berjalan. Sejauh ini, semua awak redaksi menikmati 'demam' ini tanpa ada yang bertanya, apa obat penawarnya. Apalagi bertanya, sejak kapan mereka mengidapnya…
Yang aku ingat, semuanya bermula dari sebuah komentar seorang pujangga muda Kaltim, Nala Arung, di-Facebook kawanku si korektor bahasa, Mas Jerry Sarimole. Soalnya, orang yang disebut belakangan ini menulis statusnya....'Sentuhan Kecundang'. Ini mungkin virus yang membawa demam yang menerpa ruang redaksi belakangan ini.
Mas Nala Arung, mengomentari "Sentuhan Kecundang" yang memang merupakan salah satu judul lagu Malaysia. Katanya, ini salah satu lagu Malaysia yang paling berpengaruh di era '90-an. Bagi generasi di masa-masa itu, pasti akan merindukan lagu ini jika diperdengarkan kembali. Dia bahkan mengusulkan dibentuk grup band, khusus untuk menyanyikan lagu ini. Syairnya , 'putus tak bisa disambung, kusut tak berurai, hilang tak bisa disentuh, patah kekeringan. Cinta terlarang bagai terbuang, hilang dalam rimba gelap dan penuh duriiiiiiii..
Bagiku, lagu ini memang sangat mendayu-dayu. Kenangan-kenangan indah yang sudah terkubur di sudut memori otak yang paling sublim pun, bahkan yang sudah di-ctrl delete sekali pun, seketika bisa di-recycle bin untuk ditampilkan kembali di monitor angan-angan.
Sejak itulah, "Sentuhan Kecundang" punya Ekamarta ini selalu mengawali Malaysian Song Night di ruang redaksi disusul deretan lagu-lagu lain yang membawa kami kembali ke era 90-an ke atas. Entah kapan 'demam' tersebut sembuh. Yang pasti tak ada obatnya. Mungkin akan sembuh sendirinya seiring waktu yang terus berjalan. Sejauh ini, semua awak redaksi menikmati 'demam' ini tanpa ada yang bertanya, apa obat penawarnya. Apalagi bertanya, sejak kapan mereka mengidapnya…

0 komentar:
Posting Komentar