Malam-malam
di kantor redaksi kami, akhir-akhir ini, makin heboh. Penyebabnya lagu dangdut
dan gerutuan yang timbul karenanya. Adalah Tomi Syahputra. Si Elektronik Data
Processing (EDP) ini kerap memutar lagu-lagu beraliran dangdut 'antah
berantah'. Syair-syairnya itu loh. "aku gadis tapi bukan
perawan. keperawananku sudah hilang. gara pacaran....bla...bla...."
Mas
Bambang, salah satu redaktur menggerutu. "Ini lagu gak beres."
gerutunya. Yang lain cuma tergelak. "Dasar Tomi. Lagumu itu aneh,"
tukas Rusman, layouter yang duduk tepat di samping Tomi. Anak muda ini
cuma cengar-cengir kuda.
Setelah
lagu itu, meluncur lagi syair dangdut yang tak kalah 'canggih'. "aku
jalak, bukan jablay. aku janda galak, bukan janda lebay..." . Semuanya
jadi hafal lirik ini gara-gara Tomi. Rupanya, tugas mengoleksi data berupa
foto-foto untuk keperluan redaksi menjalarinya sebuah kreativitas lain.
Mengoleksi lagu dangdut 'antah berantah'. Koleksinya lumayan. Bila ruangan
redaksi mulai hening, terdengar cuma suara keyboard dipatuk-patuk
jari-jemari wartawan dan redakur, Tomi segera beraksi. Lagu-lagu dangdut itu
mengalun dengan volume kecil. Celakanya, bila sudah mengalun, request
bermunculan dari para wartawan. "volumenya ditambah. Jalak ya."
Rupanya, lagu-lagu ini digemari wartawan. Karena wartawan yang sedang
ngetik berita terhibur, lagu-lagu ini rupanya “membantu” di ruang redaksi.
Walaupun efek sampingnya ada redaktur yang menggerutu. Jadilah Tomi berfungsi
ganda. Menyiapkan lalu lintas data di server berupa berita dan foto, plus
operator musik dangdut pesanan wartawan. Redaktur harus belajar
menikmatinya....
on 12/26/2013
No comments
