Kamis, Desember 26, 2013

redaktur menggerutu, wartawan malah request

Malam-malam di kantor redaksi kami, akhir-akhir ini, makin heboh. Penyebabnya lagu dangdut dan gerutuan yang timbul karenanya. Adalah Tomi Syahputra. Si Elektronik Data Processing (EDP) ini kerap memutar lagu-lagu beraliran dangdut 'antah berantah'. Syair-syairnya itu loh. "aku gadis tapi bukan perawan. keperawananku sudah hilang. gara pacaran....bla...bla...."
Mas Bambang, salah satu redaktur menggerutu. "Ini lagu gak beres." gerutunya. Yang lain cuma tergelak. "Dasar Tomi. Lagumu itu aneh," tukas Rusman, layouter yang duduk tepat di samping Tomi. Anak muda ini cuma cengar-cengir kuda.
Setelah lagu itu, meluncur lagi syair dangdut yang tak kalah 'canggih'. "aku jalak, bukan jablay. aku janda galak, bukan janda lebay..." . Semuanya jadi hafal lirik ini gara-gara Tomi. Rupanya, tugas mengoleksi data berupa foto-foto untuk keperluan redaksi menjalarinya sebuah kreativitas lain. Mengoleksi lagu dangdut 'antah berantah'. Koleksinya lumayan. Bila ruangan redaksi mulai hening, terdengar cuma suara keyboard  dipatuk-patuk jari-jemari wartawan dan redakur, Tomi segera beraksi. Lagu-lagu dangdut itu mengalun dengan volume kecil. Celakanya, bila sudah mengalun, request bermunculan dari para wartawan. "volumenya ditambah. Jalak ya." Rupanya, lagu-lagu ini digemari wartawan. Karena wartawan yang sedang  ngetik berita terhibur, lagu-lagu ini rupanya “membantu” di ruang redaksi. Walaupun efek sampingnya ada redaktur yang menggerutu. Jadilah Tomi berfungsi ganda. Menyiapkan lalu lintas data di server berupa berita dan foto, plus operator musik dangdut pesanan wartawan. Redaktur harus belajar menikmatinya....

Posted by huldi amal
on 12/26/2013