Senin, September 22, 2014

homo-animus

“Saya menatap diri saya tengah menatap diri saya sendiri”. (Jacques Lacan).

TERSEBUTLAH seorang pemuda bernama Narsisus (Yunani: Narkissos), dari Thespian. Ketika Narsisus masih kecil, seorang peramal bernama Teiresias berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak ini akan berumur panjang apabila tidak melihat dirinya sendiri. Ia berwajah amat tampan. Ketampanannya membuat banyak orang jatuh cinta.
Tidak seorang pun dibalas cintanya. Perempuan bernama Ekho, frustasi karena cintanya tak bersambut. Dewi Nemesis mendengar doanya lalu mengutuk Narsisus jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Ketika si pemuda melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, ia terpesona. Sampai mati, Narsisus terus menatap wajah sendiri.
Dari tokoh mitologi Yunani ini kemudian lahir istilah “Narsisisme”, kerap diartikan kecintaan berlebihan pada diri sendiri. Sigmund Freud, memakainya sebagai pisau analisis gejala patologi dalam kepribadian manusia dan seksualitasnya.
Arti narsis kemudian lebih ‘sederhana’. Utamanya dalam kosa kata anak-anak muda zaman kini. Narsis itu ‘eksis’ dan mejeng di mana saja. Di media sosial, fotomu majang paling unik, paling keren, atau paling ‘konyol’ sekalipun. Pokoknya narsis abis!
Zaman kini Narsisus-Narsisus baru lahir. Menatap wajah tidak lagi dari pantulan permukaan kolam. Berbagai gadget kini menawarkan kamera hingga belasan megapixel. Lewat foto dan mengabadikan video, mereka tenggelam dalam kegairahan dan keasyikan dengan diri sendiri—semacam “narsisisme”, kecenderungan memandang dunia sebagaimana layaknya sebuah cermin. .
Apa saja bisa direkam dengan kamera gadget. Dari wajah hingga aurat. Narsisus zaman modern tenggelam dalam kondisi ecstasy. Segala dimensi dan nilai spiritualitas telah tenggelam. Ekstasi dalam bentuk yang narsisistik tidak lagi merasa perlu membedakan mana moral dan amoral, baik dan tidak baik, rasa malu pun ditolak. Di sini semuanya serba terbalik. Yang imoral itu bikin bangga, buruk tak memalukan, wilayah privasi diumbar tanpa selubung apapun. (lihat Yasraf, 2010, 91)     
Jangan heran, Narsisus zaman kini senang tatkala melakukan kekerasan, merasa bangga saat berlakon cabul, merasa sempurna dengan keburukan. Bahkan, seorang guru madrasah di era gadget bisa mendadak begitu ‘Narsis’. Menyuruh siswinya sendiri melakukan adegan tak senonoh lalu merekam dengan kamera tabletnya.
Pepatah lama, guru gugu ditiru, kini runtuh. Setidaknya, di era ‘Narsisisus’ ala gadget, oknum guru di madrasah Samarinda itu telah bermetamorfosa menjadi homo-animus—mahluk tanpa rasa malu yang penuh gelora hasrat.    

Posted by huldi amal
on 9/22/2014

Rabu, September 17, 2014

Profesional Parpol

Jokowi-JK saat mengumumkan psotur kabinet (sumber:merdeka.com)
Apa gerangan aktivitas berbahasa itu? Apakah bahasa itu sebuah praktek ‘telanjang’ di mana manusia mencanangkan makna ‘apa adanya’? Atawa, praktek berbahasa adalah medan persembunyian manusia karena mungkin ‘ada sesuatu’ di balik makna sebuah kata?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan kajian murni kebahasaan atau formalisme linguistik. Ini mengandaikan semacam fungsi bahasa yang membentuk dunia kesepahaman antarpenutur; alat komunikasi sehari-hari. Sedangkan pertanyaan terakhir tentu saja menyuarakan semacam kecurigaan besar.

Ihwal ‘ada-apa’ di balik praktek berbahasa adalah pertanyaan yang terentang dalam studi relasi bahasa dan kekuasaan.  Tersebutlah nama-nama seperti Habermas, Foucault, Baudrilard, Antonio Gramsci yang kerap diasosiasikan dalam mazhab pemikiran post-struktralis.

Para pemikir ini tentu saja tak lagi memahfumkan bahwa bahasa sebagai praktek ‘telanjang’. Alih-alih, bahasa justru sebuah medan kontestasi atau pertarungan makna. Bahasa adalah peranti untuk menegaskan diri atau mempertahankan status quo. Di sini, menabur bahasa berarti menuai kuasa.

Habermas misalnya menyatakan, “language is also medium of domination of power”. Dengan demikian, bahasa identik dengan ideologi kekuasaan. Melalui bahasa, kekuasaan politik misalnya, berupaya memenangkan pertarungan makna. Kekuasaan berjuang menjangkau kesadaran lewat hegemoni bahasa guna menghasilkan ‘kepatuhan’.

Jangan heran ketika kekuasaan kemudian memproduksi serentetan kosa kata ambigu. Ingat bagaimana orde baru memakai  ‘ekstrim kanan’ dan ‘ekstrim kiri’, ‘organisasi tanpa bentuk’. Seperti apa rupanya organisasi tanpa bentuk itu dalam kenyataannya?    

Salah satu modus ajang operasi kekuasaan dalam bahasa adalah eufimisme. Fowler (1996) mendefinisikan bahwa “euphemism is the use of mild or periphastic expression as substitute for blunt precision or disagreable. Pemakaian suatu ungkapan yang lembut, samar, atau berputar-putar untuk menggantikan presisi yang kasar, atau suatu kebenaran yang kurang enak.

Rasa-rasanya, eufisme menjadi pilihan niscaya bagi kekuasaan. Simak saja ketika Jokowi-JK mengumumkan postur kabinet yang tak (lagi) ramping itu karena mempertahankan 34 kementerian.  Ada 18 menteri dari kalangan pofesional dan 16 profesional parpol.

Profesional Parpol? Saya mendadak bertanya-tanya ihwal kosa kata yang menarik ini. Kenapa tak disebut saja seperti biasa, menteri dari kader Parpol. Apakah Jokowi sedang berusaha meyakinkan bahwa ia sedang tidak disandera Parpol pendukungnya yang minta jatah menteri? Bukankah sejak awal ia mencitrakan soal koalisi tanpa syarat dan menterinya harus profesional?

Baiklah, itu hak prerogatif Jokowi sebagai presiden. Saya masih menunggu janjinya yang lain soal para ‘profesional Parpol’ harus melepas jabatan partai kalau duduk di kabinet. Jika janji yang satu ini urung juga, maka saya harus belajar menerima definisi ‘profesional Parpol’ itu.  
Posted by huldi amal
on 9/17/2014

Senin, Mei 12, 2014

Kisah si wartawan magang

Memutuskan sesuatu itu harus cepat. itu yang saya lakukan hari ini. seorang wartawan magang saya putuskan mengundurkan diri setelah yang bersangkutan tidak masuk tanpa alasan. Lebih tepat ini disebut menjalankan aturan. bukan keputusan. di mana-mana, setiap karyawan magang yang tidak masuk tanpa alasan dianggap langsung mengundurkan diri. saya hanya menjalankan aturan bukan?

Harus diakui, kinerja si anak magang yang satu ini tidak bisa dibilang bagus untuk menjadi wartawan. dia punya masalah besar dari segi mental. Dari segi tulisan sih, sudah ada peningkatan. tapi, kembali lagi pada persoalan bahwa menjadi wartawan tidak hanya sekadar bisa menulis. wartawan harus tangguh di lapangan, percaya diri dan mampu membangun jejaring lobi.

Mungkin, si anak magang ini tumbuh di lingkungan keluarga yang mengekangnya. dia akhirnya tumbuh menjadi anak yang pasif, motivasi dan rasa percaya dirinya kurang. Introvert. Ini yang menjadi hambatan besar saat dia ditugaskan di lapangan. 

Setiap penugasan yang diberikan  menjadi beban berat bagi dia. Masalahnya, setiap diberi tugas dia akan mengeluh kepada siapa saja. rekan kerjanya semua jadi tempat curhat. tak ada orang di sampingnya saat hendak Curcol, ia menelpon semua rekan kerjanya. Tujuannya cuma untuk berkeluh kesah. nah, semua rekan-rekannya pun ikut-ikutan mengeluh karena terganggu dengan keluhannya. Lumayan berabe.

Justru, ketika tidak diberi tugas, dia akan kelimpungan sendiri. Nah, sudah pasti dia akan mengeluh. telpon sana-sini, gedor pintu mes kawan yang lain, hanya untuk mendengar keluhannya. Persoalan ini sudah lama sampai di telinga saya. 

Hingga akhirnya, kemarin dia tidak masuk tanpa kabar apapun. Saya anggap, dia mundur. Saya bersyukur, dia tidak jadi 'dipecat'. saya memang sudah mengusulkan masa magangnya tidak diperpanjang. Rupanya, hal ini dia tidak terima dengan baik. Alasannya, dia punya urusan keluarga sehingga belum bisa masuk kerja. Kalau ini perusahaan moyangmu, silakan aja kamu gak masuk berhari-hari. Tapi di sini ada aturan perusahaan, bro. Yah, saya hanya bisa mendoakan dia sukses di tempa lain. Sebab, saya pernah bilang ke dia, masalahmu ada di dirimu sendiri. Jika kau tidak bisa menaklukkan dirimu sendiri, sampai kapan pun dan dimanapun kau akan jadi pecundang.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014

DUA BAGIAN YANG LANCANG AKU SEBUT PUISI UNTUKMU

I
Pada lengkung senyummu itu
semacam alamat puisi yang
telah lama aku terlupa.
Hari ini kau meminta aku mengirimkan puisi, bukan?

Aku butuh alamat itu.
“besok alamat itu aku kirimkan”
Katamu. Aku menunggu dengan mata yang pejam.

Lalu kesunyian mematung.
Malam ditunggangi bayang-bayang
Mimpi-mimpi berkelebat.

II
Kini, istirah kita pengantar singkat
Kerna kesibukan begitu merajam
Pertemuan yang lebih panjang
Kita cari lewat mimpi masing-masing

Jika kebetulan bertemu
Apakah benar kita saling memimpikan?

Ketika aku memikirkanmu,
Kerinduan menjelang.
Seperti memacu detak waktu,
detak jantungku.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014