“Saya
menatap diri saya tengah menatap diri saya sendiri”. (Jacques Lacan).
TERSEBUTLAH seorang pemuda bernama Narsisus (Yunani: Narkissos), dari Thespian. Ketika Narsisus
masih kecil, seorang peramal bernama Teiresias
berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak ini akan berumur panjang apabila
tidak melihat dirinya sendiri. Ia berwajah amat tampan. Ketampanannya membuat
banyak orang jatuh cinta.
Tidak seorang pun dibalas cintanya. Perempuan bernama Ekho, frustasi karena
cintanya tak bersambut. Dewi Nemesis mendengar doanya lalu mengutuk Narsisus
jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Ketika si pemuda melihat bayangan
dirinya di sebuah kolam, ia terpesona. Sampai mati, Narsisus terus menatap
wajah sendiri.
Dari tokoh mitologi Yunani ini kemudian lahir istilah “Narsisisme”, kerap diartikan
kecintaan berlebihan pada diri sendiri. Sigmund Freud, memakainya sebagai pisau
analisis gejala patologi dalam kepribadian manusia dan seksualitasnya.
Arti narsis kemudian lebih ‘sederhana’. Utamanya dalam kosa kata anak-anak muda
zaman kini. Narsis itu ‘eksis’ dan mejeng di mana saja. Di media sosial, fotomu
majang paling unik, paling keren, atau paling ‘konyol’ sekalipun. Pokoknya narsis
abis!
Zaman kini Narsisus-Narsisus baru lahir. Menatap wajah tidak lagi dari
pantulan permukaan kolam. Berbagai gadget kini menawarkan kamera hingga belasan
megapixel. Lewat foto dan mengabadikan video, mereka tenggelam dalam kegairahan
dan keasyikan dengan diri sendiri—semacam “narsisisme”, kecenderungan memandang
dunia sebagaimana layaknya sebuah cermin. .
Apa saja bisa direkam dengan kamera gadget. Dari wajah hingga aurat. Narsisus
zaman modern tenggelam dalam kondisi ecstasy. Segala
dimensi dan nilai spiritualitas telah tenggelam. Ekstasi dalam bentuk yang
narsisistik tidak lagi merasa perlu membedakan mana moral dan amoral, baik dan
tidak baik, rasa malu pun ditolak. Di sini semuanya serba terbalik. Yang imoral
itu bikin bangga, buruk tak memalukan, wilayah privasi diumbar tanpa selubung
apapun. (lihat Yasraf, 2010, 91)
Jangan heran, Narsisus zaman kini senang tatkala melakukan kekerasan, merasa
bangga saat berlakon cabul, merasa sempurna dengan keburukan. Bahkan, seorang
guru madrasah di era gadget bisa mendadak begitu ‘Narsis’. Menyuruh siswinya
sendiri melakukan adegan tak senonoh lalu merekam dengan kamera tabletnya.
Pepatah lama, guru gugu ditiru, kini runtuh. Setidaknya, di era ‘Narsisisus’
ala gadget, oknum guru di madrasah Samarinda itu telah bermetamorfosa menjadi homo-animus—mahluk tanpa rasa malu yang
penuh gelora hasrat.
on 9/22/2014
No comments


