Selasa sore. Jarum jam menunjuk pukul 3. Saya kembali ke rumah. Perut yang melilit, rumah dalam keadaan kosong, memaksa saya kembali ke kebiasaan lama. Sebuah kebiasaan semasa kuliah. Meremas bungkus mi instan lalu merejang air. Sekejap kemudian, mi siap santap. Istri masih di kantor. Sibuk dengan aktivitas entry data perolehan suara Pemilu Legislatif 2009.
Entah kenapa, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu buku lama. Novel itu selalu menggelitik untuk dikeluarkan dari lemari, meski sekadar diintip selembar saja. Judulnya Dunia Sophie. Sebenarnya, buku ini kepunyaan istri. Ada nilai historis sampai buku ini jadi miliknya. Justru, nilai historis itu juga salah satu yang memantik ide di benak saya untuk menulis beberapa paragraf di sini.
Karena hanya berniat mengintip selembar saja, saya membuka sekenanya. Sembari menikmati sesuap demi suap mi instan rasa Coto Makassar yang masih beruap dan cukup pedas. Selain kembali ke kebiasaan lama, perut ini rupanya tetap primordialis soal cita rasa. Tak ke warung Coto, tetap ada Indomie rasa Coto Makassar. Yang penting ‘gak seperti kata Cak Nun (Emha Ainun Najib) soal orang di Sulsel yang (pernah atau masih) meyakini berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng sama pahalanya berhaji di Mekah. Kata Cak Nun, mereka ibarat orang ingin makan soto ayam. Tak ada soto ayam, indomi rasa soto ayam pun jadi.
Saat membolak-balik halaman novel itu, jari saya terhenti pada sebuah sub judul. Berhenti di sini juga sekenanya. Gak diniatkan. Seni Berdiskusi. Sub judul ini bagian dari bab yang mengupas tentang sosok Socrates.
Seingat saya, di situ digambarkan bagaimana etika Socrates berdiskusi dengan orang lain. Sang filsuf ini digambarkan si penulis buku sebagai seorang pendengar yang baik. Ia tak pernah mengesankan diri sebagai orang yang paling tahu segalanya. Ia tak suka seperti guru. Ia mendengar dan mendengar. Pada saatnya kemudian berbicara.
Socrates, lahir dari ibu yang berprofesi sebagai bidan. Karenanya, ia selalu bilang, saya ingin seperti bidan. Bukan guru. Bidan adalah orang yang membantu proses kelahiran. Bukan orang yang melahirkan. “Saya adalah bidan untuk membantu melahirkan cara berpikir dan berwawasan secara benar”. Begitu kira-kira keinginan filsuf yang satu ini. Baginya, semuanya harus lahir dari dalam diri orang itu sendiri. Pencerahan bukan sesuatu yang terberi.
Membaca ulasan sub judul yang tak terlalu panjang itu, seni berdiskusi, membuat saya terpikir. Betapa banyak orang yang berdiskusi tanpa seni ala Socrates. Lebih banyak orang yang ingin menonjolkan ide-idenya sendiri. Tanpa sadar, mereka berlagak bagai guru. Tak bisa menjadi bidan.
Hingga, terngiang lagi masa-masa di kampus dulu. Semangkuk mi instant, kebiasaan lama saat kuliah, rasa Coto Makassar lagi, rupanya sangat membantu memanggil kembali penggalan-penggalan memori yang sudah berada di recycle bin otak saya. Di sebuah dini hari, saat itu sedang persiapan menyambut kedatangan mahasiswa baru (Maba) dan hari pertama ospek, kawan saya nyeletuk. Kalau tak salah ingat, dia bilang; momen yang dinantikan tiba, momen aktualisasi diri para senior. Yah, Maba adalah pelatuk dari seni aktualisasi diri para seniornya. Saat di mana semua Maba dijejali kata-kata sulit. Persetan, apa paham mereka soal definisi kata-kata itu. Yang penting, kalimat ini diucapkan salah satu senior saya, ‘asal mereka (Maba, Red) kagum’.
Untuk menjunjung tinggi etika dan aspek hukum komunikasi, dan agar tak menuai gugatan di kemudian hari, saya memilih meng-anonim-kan nama kawan dan senior yang dikutip kata-katanya di tulisan ini. Semoga Allah SWT merahmati dan senantiasa mencurahkan rezeki kepada mereka. Amin.
Soal aktualisasi diri itu, harus diakui, dilakukan dalam beragam modus operandi. Tergantung maqam plus sejauh mana tingkat pengorbanan di atas altar intelektual nan penuh motif tadi. Di titik ini, saya mau menjelaskan soal historis novel Dunia Sophie yang ada di depan saya.
Suatu saat, persis waktunya sudah lupa, istri saya mengakui bahwa buku Dunia Sophie itu pemberian seorang seniornya saat masih Maba. “Kamu harus baca ini, Dek. Ini buku bagus,” ucapnya, meniru kata-kata sang senior.
Ketika buku itu dipinjam seorang kawan, alumni filsafat, Mas Jerry Sarimole, saya wanti-wanti jangan sampai hilang. Punya istri. Begitu tahu cerita di balik buku itu, dia terbahak. “Hahahhah. Lagu lama. Ternyata buku ini punya nilai historis ya!” Mulailah dia cerita tentang beragam modus senior saat menyambut Maba. Perbincangan kami tentu tak jauh-jauh dari seni aktualisasi diri tadi.
Akhirnya, indomie itu nyaris tak bersisa. Pori-pori mengucurkan keringat deras. Reaksi yang timbul dari cita rasa pedas, tentunya. Kututup dunia Sophie Admundsen, tokoh utama di novel tersebut. Novel yang pernah kubeli dan hilang setelah dipinjam teman, karena dipinjam temannya, lalu meminjamkan lagi pada temannya, yang meminjamkan lagi, hingga tak jelas, kisanak yang kini memegang buku itu. Kini, setiap memandang novel itu di lemari, saya selalu tersenyum dan bergumam , “Beruntung kau Dunia Sophie. Andai bukan, kau tak kuizinkan berada di lemari bersanding dengan bukuku yang lain. Tabe’ senior!”
Ditulis saat menjalani piket malam
Entah kenapa, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu buku lama. Novel itu selalu menggelitik untuk dikeluarkan dari lemari, meski sekadar diintip selembar saja. Judulnya Dunia Sophie. Sebenarnya, buku ini kepunyaan istri. Ada nilai historis sampai buku ini jadi miliknya. Justru, nilai historis itu juga salah satu yang memantik ide di benak saya untuk menulis beberapa paragraf di sini.
Karena hanya berniat mengintip selembar saja, saya membuka sekenanya. Sembari menikmati sesuap demi suap mi instan rasa Coto Makassar yang masih beruap dan cukup pedas. Selain kembali ke kebiasaan lama, perut ini rupanya tetap primordialis soal cita rasa. Tak ke warung Coto, tetap ada Indomie rasa Coto Makassar. Yang penting ‘gak seperti kata Cak Nun (Emha Ainun Najib) soal orang di Sulsel yang (pernah atau masih) meyakini berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng sama pahalanya berhaji di Mekah. Kata Cak Nun, mereka ibarat orang ingin makan soto ayam. Tak ada soto ayam, indomi rasa soto ayam pun jadi.
Saat membolak-balik halaman novel itu, jari saya terhenti pada sebuah sub judul. Berhenti di sini juga sekenanya. Gak diniatkan. Seni Berdiskusi. Sub judul ini bagian dari bab yang mengupas tentang sosok Socrates.
Seingat saya, di situ digambarkan bagaimana etika Socrates berdiskusi dengan orang lain. Sang filsuf ini digambarkan si penulis buku sebagai seorang pendengar yang baik. Ia tak pernah mengesankan diri sebagai orang yang paling tahu segalanya. Ia tak suka seperti guru. Ia mendengar dan mendengar. Pada saatnya kemudian berbicara.
Socrates, lahir dari ibu yang berprofesi sebagai bidan. Karenanya, ia selalu bilang, saya ingin seperti bidan. Bukan guru. Bidan adalah orang yang membantu proses kelahiran. Bukan orang yang melahirkan. “Saya adalah bidan untuk membantu melahirkan cara berpikir dan berwawasan secara benar”. Begitu kira-kira keinginan filsuf yang satu ini. Baginya, semuanya harus lahir dari dalam diri orang itu sendiri. Pencerahan bukan sesuatu yang terberi.
Membaca ulasan sub judul yang tak terlalu panjang itu, seni berdiskusi, membuat saya terpikir. Betapa banyak orang yang berdiskusi tanpa seni ala Socrates. Lebih banyak orang yang ingin menonjolkan ide-idenya sendiri. Tanpa sadar, mereka berlagak bagai guru. Tak bisa menjadi bidan.
Hingga, terngiang lagi masa-masa di kampus dulu. Semangkuk mi instant, kebiasaan lama saat kuliah, rasa Coto Makassar lagi, rupanya sangat membantu memanggil kembali penggalan-penggalan memori yang sudah berada di recycle bin otak saya. Di sebuah dini hari, saat itu sedang persiapan menyambut kedatangan mahasiswa baru (Maba) dan hari pertama ospek, kawan saya nyeletuk. Kalau tak salah ingat, dia bilang; momen yang dinantikan tiba, momen aktualisasi diri para senior. Yah, Maba adalah pelatuk dari seni aktualisasi diri para seniornya. Saat di mana semua Maba dijejali kata-kata sulit. Persetan, apa paham mereka soal definisi kata-kata itu. Yang penting, kalimat ini diucapkan salah satu senior saya, ‘asal mereka (Maba, Red) kagum’.
Untuk menjunjung tinggi etika dan aspek hukum komunikasi, dan agar tak menuai gugatan di kemudian hari, saya memilih meng-anonim-kan nama kawan dan senior yang dikutip kata-katanya di tulisan ini. Semoga Allah SWT merahmati dan senantiasa mencurahkan rezeki kepada mereka. Amin.
Soal aktualisasi diri itu, harus diakui, dilakukan dalam beragam modus operandi. Tergantung maqam plus sejauh mana tingkat pengorbanan di atas altar intelektual nan penuh motif tadi. Di titik ini, saya mau menjelaskan soal historis novel Dunia Sophie yang ada di depan saya.
Suatu saat, persis waktunya sudah lupa, istri saya mengakui bahwa buku Dunia Sophie itu pemberian seorang seniornya saat masih Maba. “Kamu harus baca ini, Dek. Ini buku bagus,” ucapnya, meniru kata-kata sang senior.
Ketika buku itu dipinjam seorang kawan, alumni filsafat, Mas Jerry Sarimole, saya wanti-wanti jangan sampai hilang. Punya istri. Begitu tahu cerita di balik buku itu, dia terbahak. “Hahahhah. Lagu lama. Ternyata buku ini punya nilai historis ya!” Mulailah dia cerita tentang beragam modus senior saat menyambut Maba. Perbincangan kami tentu tak jauh-jauh dari seni aktualisasi diri tadi.
Akhirnya, indomie itu nyaris tak bersisa. Pori-pori mengucurkan keringat deras. Reaksi yang timbul dari cita rasa pedas, tentunya. Kututup dunia Sophie Admundsen, tokoh utama di novel tersebut. Novel yang pernah kubeli dan hilang setelah dipinjam teman, karena dipinjam temannya, lalu meminjamkan lagi pada temannya, yang meminjamkan lagi, hingga tak jelas, kisanak yang kini memegang buku itu. Kini, setiap memandang novel itu di lemari, saya selalu tersenyum dan bergumam , “Beruntung kau Dunia Sophie. Andai bukan, kau tak kuizinkan berada di lemari bersanding dengan bukuku yang lain. Tabe’ senior!”
Ditulis saat menjalani piket malam

0 komentar:
Posting Komentar