Kamis, Juni 04, 2009

Rumah Kami

kami tengah menunggu berdirinya
sebuah rumah tanpa dinding bata
dan pintu dari jati

disanalah jendela tak bosanbosannya membuka
lalu kami akan selalu menerima dan melepaskan salam
tak hanya pagi, juga malam

ketika dingin merasuk
menusuk hingga ke ulu hati
sederhana saja cara kami
menghangatkan poripori

pada tangan kanan dan kiri saling mengenggam
kami menentramkan anakanak zaman
yang tidur telentang setengah telanjang
membentuk dekap di perut dan dada mungil mereka

kami pun tak lagi takut pada pencuri
meski para peronda malam terus dibuai dewidewi mimpi

sebab dinding rumah kami
terbuat dari harapan tak terbeli oleh hatihati yang tercemari
tak kan ada jua bisa menjamah pintu
karena kuncinya kami gantung di langit tertinggi

Rumah itu…
mungkin teramat sederhana
Yang akan kami bangun segera
Itulah rumah hati kami…
Posted by si buah terlarang
on 6/04/2009