ranum tubuhmu
adalah jejak pergulatan abadi
di palung bunda
yang kini ceruk dan mengerut
bola matamu
seperti bulatan bulan
yang beranjak purnama
cikal lesung pipimu
seakan kejora
yang paling binar di ufuk selatan
lihatlah, pecahan tangis pertamamu
masih terlipat rapi
dan belum mau beranjak pergi
mendadak berlari ke balik lemari
setelah bibir mungilmu
dihiasi lengkung senyum
jejak bulan sabit
segera, bencah purnamanya
menggoreskan cemburu di wajah malam
dan embun-embun yang mengintipmu
menangis di kaca jendela
adalah jejak pergulatan abadi
di palung bunda
yang kini ceruk dan mengerut
bola matamu
seperti bulatan bulan
yang beranjak purnama
cikal lesung pipimu
seakan kejora
yang paling binar di ufuk selatan
lihatlah, pecahan tangis pertamamu
masih terlipat rapi
dan belum mau beranjak pergi
mendadak berlari ke balik lemari
setelah bibir mungilmu
dihiasi lengkung senyum
jejak bulan sabit
segera, bencah purnamanya
menggoreskan cemburu di wajah malam
dan embun-embun yang mengintipmu
menangis di kaca jendela

0 komentar:
Posting Komentar