Senin, Oktober 05, 2009

sajak yang lahir dari senyuman pertama Zahra

ranum tubuhmu
adalah jejak pergulatan abadi
di palung bunda
yang kini ceruk dan mengerut

bola matamu
seperti bulatan bulan
yang beranjak purnama

cikal lesung pipimu
seakan kejora
yang paling binar di ufuk selatan

lihatlah, pecahan tangis pertamamu
masih terlipat rapi
dan belum mau beranjak pergi
mendadak berlari ke balik lemari

setelah bibir mungilmu
dihiasi lengkung senyum
jejak bulan sabit

segera, bencah purnamanya
menggoreskan cemburu di wajah malam
dan embun-embun yang mengintipmu
menangis di kaca jendela

0 komentar:

Posting Komentar