Senin, Mei 12, 2014

Kisah si wartawan magang

Memutuskan sesuatu itu harus cepat. itu yang saya lakukan hari ini. seorang wartawan magang saya putuskan mengundurkan diri setelah yang bersangkutan tidak masuk tanpa alasan. Lebih tepat ini disebut menjalankan aturan. bukan keputusan. di mana-mana, setiap karyawan magang yang tidak masuk tanpa alasan dianggap langsung mengundurkan diri. saya hanya menjalankan aturan bukan?

Harus diakui, kinerja si anak magang yang satu ini tidak bisa dibilang bagus untuk menjadi wartawan. dia punya masalah besar dari segi mental. Dari segi tulisan sih, sudah ada peningkatan. tapi, kembali lagi pada persoalan bahwa menjadi wartawan tidak hanya sekadar bisa menulis. wartawan harus tangguh di lapangan, percaya diri dan mampu membangun jejaring lobi.

Mungkin, si anak magang ini tumbuh di lingkungan keluarga yang mengekangnya. dia akhirnya tumbuh menjadi anak yang pasif, motivasi dan rasa percaya dirinya kurang. Introvert. Ini yang menjadi hambatan besar saat dia ditugaskan di lapangan. 

Setiap penugasan yang diberikan  menjadi beban berat bagi dia. Masalahnya, setiap diberi tugas dia akan mengeluh kepada siapa saja. rekan kerjanya semua jadi tempat curhat. tak ada orang di sampingnya saat hendak Curcol, ia menelpon semua rekan kerjanya. Tujuannya cuma untuk berkeluh kesah. nah, semua rekan-rekannya pun ikut-ikutan mengeluh karena terganggu dengan keluhannya. Lumayan berabe.

Justru, ketika tidak diberi tugas, dia akan kelimpungan sendiri. Nah, sudah pasti dia akan mengeluh. telpon sana-sini, gedor pintu mes kawan yang lain, hanya untuk mendengar keluhannya. Persoalan ini sudah lama sampai di telinga saya. 

Hingga akhirnya, kemarin dia tidak masuk tanpa kabar apapun. Saya anggap, dia mundur. Saya bersyukur, dia tidak jadi 'dipecat'. saya memang sudah mengusulkan masa magangnya tidak diperpanjang. Rupanya, hal ini dia tidak terima dengan baik. Alasannya, dia punya urusan keluarga sehingga belum bisa masuk kerja. Kalau ini perusahaan moyangmu, silakan aja kamu gak masuk berhari-hari. Tapi di sini ada aturan perusahaan, bro. Yah, saya hanya bisa mendoakan dia sukses di tempa lain. Sebab, saya pernah bilang ke dia, masalahmu ada di dirimu sendiri. Jika kau tidak bisa menaklukkan dirimu sendiri, sampai kapan pun dan dimanapun kau akan jadi pecundang.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014

DUA BAGIAN YANG LANCANG AKU SEBUT PUISI UNTUKMU

I
Pada lengkung senyummu itu
semacam alamat puisi yang
telah lama aku terlupa.
Hari ini kau meminta aku mengirimkan puisi, bukan?

Aku butuh alamat itu.
“besok alamat itu aku kirimkan”
Katamu. Aku menunggu dengan mata yang pejam.

Lalu kesunyian mematung.
Malam ditunggangi bayang-bayang
Mimpi-mimpi berkelebat.

II
Kini, istirah kita pengantar singkat
Kerna kesibukan begitu merajam
Pertemuan yang lebih panjang
Kita cari lewat mimpi masing-masing

Jika kebetulan bertemu
Apakah benar kita saling memimpikan?

Ketika aku memikirkanmu,
Kerinduan menjelang.
Seperti memacu detak waktu,
detak jantungku.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014