Kamis, September 02, 2010

MASALAH dan masalah (huruf kecil)

Beberapa menit sebelum mem-posting tulisan ini, saya menerima pesan lewat fasilitas chatting di facebook. Seorang perempuan muda yang tidak saya kenal secara personal, menyapa. Seperti biasa, ketika disapa oleh teman facebook yang tidak saya kenal secara pribadi, hal yang saya lakukan pertama kali adalah mengintip informasi pribadi orang itu.
Pertama, saya ingin meraba-raba kalau akun facebook-nya bukan anonim. Informasi tentang identitas tentu penting untuk mengetahui, meski hanya sedikit, siapa orang yang mengajak chatting. jenis kelamin, tempat tinggal, status, usia, tentu akan sangat menentukan konteks komunikasi. begitu teori dalam komunikasi antarpribadi.
Begitu juga yang saya lakukan pada perempuan itu. Pada mulanya kami sebatas basa-basi saja. setelah komunikasi kami menemukan efek diadik, dia mulai bercerita kalau dia sedang punya masalah pribadi. Masalahnya cukup rumit untuk perempuan seusianya. Patah hati. hehehheh. hampir semua orang normal pernah mengalaminya.
tanpa butuh waktu lama, saya segera menemukan sebuah kontradiksi dalam diri perempuan muda ini. Ia mengaku patah hati. Lucunya, ketika ia mengaku patah hati, perempuan ini masih memasang foto profil dirinya dengan sang pacar saling berpelukan. mesra sekali malah.
Jadi, saya langsung saja mencecar dia. "Kamu patah hati karena pria di foto profil itu?" dia jawab, iya. Saya tertawa. Eh, dia protes. "kok diketawain sih!" Saya bilang, "kalau dilihat dari foto profilmu, kamu justru tidak sedang patah hati". Perempuan ini ngotot sampai bersumpah segala.
Menurutnya, karena masalah ini ia tidak bisa tidur hingga selarut itu. Saya ketawa lagi. "Hidup=Masalah," kata saya. Karena itu, Tak Ada Masalah=Tidak Hidup alias MATI. Kemudian saya mencecarnya lagi. "Mau tahu bagaimana mengatasi masalahmu dengan segera?" ia sepertinya tertarik.
Saya bilang padanya. Jika saya adalah kamu, hal pertama kali yang saya lakukan ketika patah hati karena lelaki itu adalah mengeluarkannya dari foto profil facebook. Yah, ganti foto itu. Saya benar-benar memprovokasinya. "Buktikan segera kalau lu bukan lagi apa-apanya dia dan dia bukan siapa-siapa yang bisa nyakitin lu!! sesekali saya pake logat betawian. biar ada proximity (kedekatan), menurut teori komunikasi yang saya pelajari di bangku kuliah dulu.
Memang, informasi pribadinya menyebutkan lawan bicara saya kali ini dari Jakarta. Logat chattingnya juga kental anak ibu kota. "Hayo, ganti sekarang. Jangan pake lama!" Saya terus mencecarnya. Perempuan muda itu langsung nurut. "Iya. saya akan ganti foto saya sendiri," katanya. lima menit kemudian, foto profil di facebook-nya sudah berganti. Bagi saya, dengan menyingkirkan foto pacarnya, dia sudah menyelesaikan, paling tidak, mulai membereskan apa yang dia sebut MASALAH.
Setelah chatting singkat yang tak disengaja itu, saya tersadar. Bahwa, dari situ saya mendapat sebuah perspektif baru dalam memandang apa yang bagi saya, atau mungkin semua orang menyebutnya; MASALAH. Bahwa masalah terkadang benar-benar menjadi MASALAH karena kita sendiri menghadirkan sebuah kontradiksi dalam diri sendiri tanpa pernah menyadarinya. Dengan menyadari dan segera menyingkirkan kontradiksi itu, MASALAH mungkin segera menjadi masalah atau tidak menjadi apa-apa lagi bagi kita. Wallahu alam.
Posted by si buah terlarang
on 9/02/2010

Senin, Agustus 23, 2010

tinggal menunggu hari untuk sebuah keputusan

Beberapa hari lagi akan ada keputusan besar dalam hidup saya. Tapi, ini sepenuhnya tidak membuat risau. Mungkin karena keputusan ini tidak diambil dengan terburu-buru atau disebabkan emosi sesaat. Sudah banyak timbang pikir dan unjuk saran dari beberapa kawan. Saya sebut besar karena punya implikasi yang cukup besar terhadap finansial keluarga.
Yang membuat saya sedikit terganggu cuma satu. Jika diterawang ke belakang, keputusan serupa pernah saya ambil ketika bekerja di Harian Tribun Batam, 2004 silam. Kondisi saat ini juga agak mirip. Saya sedang bekerja di sebuah media massa. Pada 2004 , saya memutuskan meninggalkan Kota Batam dan berhenti dari pekerjaan tersebut.
Yang berbeda, saat ini saya sudah berkeluarga. Tapi, suara hati saya sudah bulat untuk menempuh hal serupa. Tentu memperhitungkan beragam hal dan kemungkinan yang menunggu sebagai konsekuensi di depan sana. Saya tak perlu merinci. Jika harus disebutkan, cukup satu saja. Saya ingin merintis karir sebagai penulis. targetnya, ada buku hasil karya saya yang diterbitkan pada tahun depan. Kenapa harus mengorbankan pekerjaan yang sekarang? Jawabannya simpel. Soal irama kerja.
Tak perlu dirinci. Yang jelas, dengan irama kerja yang ada saat ini, sudah pasti menyita waktu. Dengan begitu, sebuah hil yang mustahal bagi saya bisa menulis buku. Ditambah lagi, sederetan rencana yang akan saya lakukan setelah resign. Beruntung, istri benar-benar mendukung sepenuhnya rencana ini. Itu lah kenapa, keputusan besar ini tinggal menunggu hari. semoga Allah selalu bersamaku.
Posted by si buah terlarang
on 8/23/2010

Selasa, Agustus 10, 2010

Sebuah catatan tentang kesalahan yang teramat fatal

Hari ini saya melakukan sebuah kesalahan fatal sebagai seorang wartawan. Saya tidak ingin mencari pembenaran apa pun terhadap kesalahan ini. Sebab, kalau ditimbang-timbang, kesalahan yang saya lakukan mendasar sekali bagi profesi wartawan.
Kalau dirunut kesalahan itu, kira-kira begini. Sebagai wartawan, harus merekam wawancara dengan narasumber. Jangan pernah percaya ingatan sendiri. Kredo ini sudah ditanamkan sejak Diklat Jurnalistik paling dasar. Dan ini saya langgar. Saya percaya dengan ingatan saya. Akhirnya, saya melakukan kesalahan itu. Mendasar sekali bukan?
Persoalan kedua. Narasumber saya wanti-wanti apa yang dikatakannya itu off the record. Artinya, dari segi etika jurnalistik, hukumnya haram dijadikan berita. Tapi, karena saya tidak merekam wawancara tersebut, saya lupa kalau bagian itu off the record. Memang, pada saat wawancara kami ngobrol lepas dan seingat saya ada beberapa bagian yang diwanti-wanti narasumber; off the record. Karena lupa itu lah, bagian off the record, bagian yang diharamkan menjadi berita dari segi etika jurnalistik itu, tersaji sebagai berita. Fatal bukan????
Ah, rasanya selama menjadi wartawan, seingat saya sudah dua kali merugikan narasumber. Pertama ketika awal-awal menjadi wartawan di Tribun Timur, harian di Makassar, Sulsel. Tapi, saya merasa, kalau bisa dibilang begini, tidak murni kesalahan saya. Hanya kurang koordinatifnya para pejabat di instansi tersebut atau bagian humasnya yang kurang berfungsi. Jadinya, instansi tersebut akhirnya ‘mengemis-ngemis’ supaya saya melakukan ralat pemberitaan.
Nah, kejadian kedua yang saya lakukan Senin 9 Agustus 2010 dan baru saya ketahui hari ini. Ini memang benar-benar kesalahan mendasar seperti sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini. Kesalahan yang mungkin susah dimaafkan.
Kesalahan yang memang harus menjadi pelajaran berharga dan harus benar-benar diupayakan jangan sampai terulang. Semoga. Beruntung, narasumber saya hanya mengingatkan. Bagaimana ya jika dia menuntut karena dirugikan. Atau karirnya terancam karena berita yang saya tulis. Mudah-mudahan yang terakhir ini tidak sampai terjadi.
Yang pasti, kesalahan hari ini semakin menebalkan keyakinan saya, bahwa menjadi wartawan itu tidak mudah. Profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar. Pekerjaan ini memang harus melibatkan segenap panca indera untuk menangkap, merekam, dan menafsir realitas sosial kemudian tidak menyajikannya begitu saja tanpa berpikir dampak pemberitaan itu. Merenungkan hal ini dan kesalahan yang saya lakukan, saya benar-benar merasa bersalah. Ya Allah, lindungi saya dengan kalam-Mu dan ajarkan kebenaran sehingga hamba-Mu ini bukan termasuk golongan yang melebihi batas.
Posted by si buah terlarang
on 8/10/2010

Kamis, Agustus 05, 2010

aroma asing

aroma tubuhmu yang meruap dan tertinggal di ruangan ini
segera menyadarkanku tentang sebuah alamat rindu
yang telah asing

atau barangkali dua matamu itu bukan lagi sepasang cermin
di mana alamat itu pernah kutuliskan....

barangkali juga kau pernah mengganti dua matamu di sebuah optik di sudut kota lalu kau segera berubah menjadi kau dan aku sendiri tiba-tiba harus membaca serangkai huruf-huruf braille seperti lelaki yang terlahir buta untuk mencari optik tempat kau mengganti mata, membelinya, memasangkannya kemudian di dua mataku hanya untuk menemukan alamat usang itu...

cukup saja kucari jejak-jejak udara
karena telah pengap semua aroma

bukankah perkenalan kita tak sekadar tatapan atau ciuman yang menyesatkan?
tapi rasa yang meresap ke pori-pori
menjelmakan keringat yang kelak menguap pula memenuhi sebuah ruangan
bernama kenangan

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 8/05/2010

Rabu, Mei 26, 2010

Kepada Bunda

Bunda,
Aku mengeja namamu
Pada ukiran granit peradaban
renta ditatah
tahun berbilang

Silih siang bergilir malam
Kasihmu yang telah tanak
kian setia bertandang
ke dalam relung paling mimpi

Menyelinap di langkah-langkahku
mengunjungiku
dari beranda kanak-kanak
dan setiap sudut kedewasaan
hingga menghamparkan bejana kerinduan

Bunda,
aku selalu mengakhirkan namamu
dalam bilangan doa
karena cintamu
mengkhatami sekian perjalanan

Posted by si buah terlarang
on 5/26/2010

Senin, Mei 24, 2010

kepura-puraan

Pada keranda dan pusara
Mari titipkan waktu dan ruang
Yang kita cangkul dari keterlenaan
Atau juga kepura-puraan mengenai-Nya

Bukan kah Dia Maha Tahu
Ketakberdayaan kita menjamah-Nya
Sebab Cinta-Nya telah mengalahkan pecinta mana pun
yang datang secepat lari kuda yang ketakutan
Posted by si buah terlarang
on 5/24/2010

Rabu, Mei 19, 2010

sepanjang kesetiaan



di setiap hela helai rambutmu,
aku menghidu sekian aroma
dan tak mampu menghitung
berapa panjang ia menyimpan kesetiaan...


sungguh tak ada garis tepi
sebagai petanda
Oooo... hanya ada perlambang ketakberhinggaan
ketika angin mencoba
menyibak misteri
di ujung-ujungnya
Posted by si buah terlarang
on 5/19/2010

Rabu, Mei 05, 2010

Kekasih senja

kepak sayap camar telah irama yang abadi dari teluk yang terjauh semenjak aku mendengar legenda ikan-ikan yang berthawaf di bawah duli karang-karang menghidupi semenjak itu pula, laut aku belajar mengabadikan rindu pada kekasihku serupa ombak yang tak pernah sepi dari bibir pantaimu Kau bertanya, lautan mana perajin gelombang dan degar jantera para nakhoda? seperti pada lekuk tubuhmu ada angin berkesiuh karang melagu dan semenanjung bersenandung mengantarkanku melabuh di bibirmu duhai...kekasih senjaku
Posted by si buah terlarang
on 5/05/2010

Jumat, April 23, 2010

kidungMu


di dingin yang paling gigil,
aku gagu
tapi tersebut namaMu.

apakah Engkau yang berbisik di dinding lathifah,
di pintu percabangan,
saat seluruh suaraku disedot gema
dan hiruk pikuk raga?

Aku sungguh belum mengenal
kidung dan nyanyiMu, Gusti...

belum juga lebur gairah ini
ke cenderung jiwa
dan kebahasaan Cinta

Posted by si buah terlarang
on 4/23/2010

Selasa, April 13, 2010

lagu larut

aku benar tak tahu bagaimana melewatkannya
ketika kau memutuskan
berlari di bawah rinai
bersama senja yang begitu tak berdaya:
dikepung waktu

sepi ini begitu mengiris
seakan sepasukan asing
menyergap dari arah kegelapan
lalu membangun kerajaan sunyi

kudengar sayup-sayup abad
yang lewat
enggan singgah pada istana
dan istal-istal kehilangan telapak dan ringkik kuda

aku ingin datangmu, kekasih
meski hanya kelebat bayang
biar kurayakan jejak dan bau rambutmu yang tertinggal
sebagai orchestra paling hening,
komposisi yang paling diam.

aku dan kau,
nada yang berkejaran di tiap titian
yang tuntas dalam lagu paling larut
dengan lenguh paling panjang:
semalaman




*catatan yang belum tuntas
Posted by si buah terlarang
on 4/13/2010

Senin, April 05, 2010

Ketika sebuah rindu itu memanggil-manggil...

kebiasaan semasa kecil
Ketika kerinduan akan kampung halaman begitu memanggil-manggil, saya memilih untuk mengenangkan kata-kata ayah. "Lebih baik kamu merantau saja. Iklim di sini, mungkin kamu akan sulit berkembang". Ia juga dengan kerasnya mendorong saya kuliah di kota lain.
Belakangan saya tahu, di balik sikap super kerasnya dalam mendidik anak, ternyata ia begitu rapuh dan mudah dikalahkan jarak. Di seberang sana, ia begitu mudah menitik airmata ketika tahu cucunya sedang sakit keras. Nada suaranya serak di ujung telepon. Ia juga tak kuasa menahan isak ketika kami; saya, istri, beserta cucunya yang kecil, berpamitan padanya. Dan segera kami akan dipisahkan lautan luas setelah purna libur lebaran.
Di kampung kecil itu, laut, pantai, dan ombak selalu menjadi seperangkat kenangan tentang masa kecil dan tak kan pernah lekang dari ingatan saya.

Oh ya, sekadar gambaran. Saya tumbuh di sebuah desa di tepi pantai di Teluk Tomini. Dulu, desa ini menjadi bagian dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sekarang, sudah mekar dan menjadi kabupaten tersendiri.
Jika senja tiba, tak ada yang lebih asyik bagi saya dan teman-teman sepermainan selain berenang di laut. Di dekat rumah, ada sebuah dermaga kapal tanker milik Pertamina. Sekali sebulan, kapal minyak ‘kencing’ di sini. Maka, jadi lah satu-satunya dermaga konstruksi beton itu menjadi tempat bocah-bocah bercengkerama dengan laut jika tak ada aktivitas bongkar muat. Kami tak pernah peduli dengan larangan, "Dilarang Mandi di Sini". Memang, tanda larang itu lebih ditujukan kepada kami, para bocah-bocah pembangkang. Meski beberapa kali petugas keamanan internal datang dan mengejar kami, disitulah seninya. Kami bisa mengejek petugas itu dan berenang menjauh. Sebab, tak mungkin dia ikut melompat dari dermaga hanya untuk menangkap kami. Mengingat kenakalan semasa bocah itu, saya kerap tersenyum sendiri.
Dari segi demografi penduduk, desa tempat saya tumbuh, hampir didominasi etnis bugis. Ada juga etnis lokal dan etnis-etnis lain. Saya sempat berpikir, etnis bugis di sini 'tercerabut' dari asal-usulnya. Leluhur mereka tiba di kampung ini dan beranakpinak setelah melarikan diri dari tanah kelahirannya. Rata-rata, warga bugis disini sebelum bermukim di desa ini, mereka berpindah-pindah dari beberapa daerah. Konon, orang-orang tua mereka lari saat pecah pemberontakan Kahar Muzakkar yang memproklamirkan negara Islam di Sulawesi Selatan. Mereka tak tahan dengan teror. Dari cerita-cerita orang tua-tua, teror dilakukan sekelompok orang bersenjata dan mengaku pengikut Kahar. Minta kerbau, kuda, dan bahan makanan. Kerap, permintaan mereka harus ditebus nyawa warga yang mempertahankan harta miliknya.
Ayah saya juga bercerita kalau kakek meregang nyawa di masa-masa teror itu. Diseret ke hutan dan tak ada anggota keluarga yang melihat dimana kakek dikubur. Tapi, ayah tiba di desa ini sebagai perantau dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tak seperti yang lain, ia datang ke desa ini untuk memenuhi sumpah PNS-nya. Ia seorang guru SMP. Bertemu gadis lokal dan menikah. Saya dan adik lalu terlahir sebagai manusia separuh bugis.
Kebanyakan etnis bugis berdomisili di ujung kampung. Saya cukup banyak menghabiskan masa kecil di ujung kampung itu meski rumah keluarga kami berada cukup jauh. Salah satu aktivitas yang menyebabkan saya sering berinteraksi dengan orang-orang ini adalah belajar mengaji. Di masa itu, belum dikenal metode membaca Quran dengan sistem Iqra dan lainnya. Jadi, saya masih produk sistem pembelajaran membaca Quran dengan cara ejaan berbahasa bugis. Sangat tradisional.
Di ujung kampung itu, saya paling ingat seorang teman sepermainan. Kami pernah sekelas waktu SMP. Namanya Iswadi. Pendiam tapi keras hati. Jika sudah tersinggung, ia siap menghadapi dan berkelahi dengan siapa saja. Karena ia juga murid ayah, Wadi sering datang ke rumah bersama teman-teman sekelas lainnya.
Kami tumbuh remaja bersama-sama. Saya ingat Iswadi bukan cuma karena sikap kerasnya. Tapi, dia tumbuh sebagai anak yatim karena sebuah nilai budaya yang menjadi bagian dari konsep hidup orang-orang bugis. Mungkinkah ia korban dari konsep yang kami sebut dengan budaya siri’? Bisa jadi, ini yang membentuk karakternya menjadi anak keras hati.
Wadi, begitu kami memanggilnya, yatim ketika ia, juga saya, masih bayi yang baru belajar merangkak. Ayahnya dibunuh demi menegakkan budaya siri’ itu. Waktu yang barangkali sudah membenamkan peristiwa ini ke dalam memori terdalam setiap orang. Atau, mereka sudah tak ingin mengingat-ingat peristiwa berdarah itu. Meski tak tahu persis kejadiannya, saya masih merasakan horor justru ketika saya bertumbuh sebagai remaja.
Peristiwa berdarah itu sebenarnya terjadi sekitar tahun 1982 silam. Menurut cerita yang saya nguping dari orang tua-tua, hari itu, Jumat, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri. Yang membuatku bergidik, pembunuhan itu terjadi tepat di masjid kampung kami. Seusai shalat Jumat, begitu keluar dari pintu masjid, seorang pria menghujamkan badik ke tubuh ayah Wadi. Ia tewas di dalam masjid.
Bukan cuma itu. Ada dua pria lainnya yang tewas di pekarangan masjid saat itu juga. Konon, salah satunya kebal senjata tajam. Meski dikeroyok beberapa orang, ia tak terluka dan berhasil menikam satu lawannya. Yang kebal ini, kalau tidak salah, masih terhitung paman Wadi. Ia baru jatuh bersimbah darah ketika ditikam dengan bambu berukuran kecil yang tajam dan berwarna kuning. Konon pula, ia sendiri yang membocorkan kelemahan ilmu kebalnya itu.
Pemicu pembunuhan itu adalah silariang. Bahasa bugis yang berarti kawin lari. Mulanya, paman Wadi, adik dari ayahnya, jatuh cinta dengan perempuan dari keluarga N (saya memilih menyamarkan). Karena cinta mereka tak direstui keluarga N, dua muda-mudi itu sepakat mendobrak semua belenggu dan dinding penyekat cinta mereka. Perempuan itu ikut dalam sebuah pelarian dengan pujaan hatinya.
Keluarga N murka. Dalam adab orang bugis, silariang adalah aib yang mencoreng harga diri keluarga perempuan. Meski di keluarga pihak pria juga hal yang mencoreng muka. Maka, direncanakan lah sebuah perhitungan oleh keluarga N. Sayang, satu korbannya adalah ayah Wadi yang mungkin tak tahu kalau adiknya akan berbuat senekat itu.
Peristiwa ini kemudian menyuburkan dendam di antara dua keluarga itu. Hingga bertahun-tahun. Seingat saya, ayah juga pernah bilang padaku,” orang bugis itu punya kekurangan yang tak bisa dibantah. Mereka pandai merawat dendam”.
Meski si pembunuh akhirnya tertangkap setelah perburuan aparat yang cukup panjang, dendam keluarga Wadi seakan tak pernah surut. Setiap saat, apa saja bisa memicu konflik dua keluarga itu. Hal yang paling remeh temeh sekali pun.
Seperti suatu siang ketika saya masih duduk di bangku kelas III SMP. Saya ingat persis. Beberapa orang datang tergopoh-gopoh menemui ayah. Sejurus kemudian ayah masuk ke kamar. Lalu keluar lagi bersama orang-orang itu. Mereka meminta ayah menjadi penengah untuk menenangkan keluarga besar si Wadi.
Jika sudah marah kepada rivalnya, keluarga ini tak tanggung-tanggung untuk menyiapkan perkakas perang. Mulai dari ayah-ayah mereka, paman-paman, ponakan, bahkan bocah yang paling ingusan yang belum menginjak usia sekolah, diwajibkan mengasah parang dan menyiapkan badik. Syaratnya, asal dia laki-laki dalam keluarga itu.
Penyebabnya ternyata sangat sepele. Dua bocah dari dua keluarga bertikai itu bermain bersama-sama. Berebut mainan lalu berkelahi. Bocah dari keluarga pria pulang mengadu sembari menangis. Cuma itu. Tapi memantik kemarahan besar hingga ke level paling atas.
Ayah datang dengan petugas Babinsa guna meredam ketegangan itu. Dan saya tahu, ayah punya peran besar dalam meredakan konflik. Ia satu-satunya sosok yang bisa diterima dua keluarga tersebut. Ayah punya kekuatan diplomasi. Ia kerap berdiri di tengah-tengah meski kedua pihak bertikai sudah saling menghunus senjata masing-masing.
Saya tahu itu, karena ayah selalu diundang kedua keluarga tersebut ketika punya hajatan. Seperti syukuran hendak menurunkan kapal kayu yang selesai dibuat. Di sini, orang-orang bugis pandai membuat kapal kayu dalam ukuran besar. Biasanya digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti kopra. Kadang, kapal kayu ini bisa membawa kopra hingga ke Pulau Halmahera.
Syukuran menurunkan perahu biasanya diawali dengan tradisi doa dan barzanji. Barzanji sebenarnya sebuah karya sastra Arab yang berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Meski barzanji tumbuh sebagai bagian dari budaya beragama yang profan (budaya), ada saja yang beranggapan ini wajib (sakral). Mungkin dipengaruhi pemahaman yang parsial dan ahistoris terhadap tradisi barzanji ini.
Tradisi barzanji untuk menurunkan perahu ini kerap dilakukan selepas shalat Jumat. Saya senang ikut bila diajak ayah. Sebab, barzanji bagi saya adalah makan enak. Ada ayam kari, ayam goreng, sokko (bugis): nasi dari beras ketan, hingga aneka kue. Yang wajib hadir adalah kue onde-onde. Saya suka dengan onde-onde.
Ayah tak pernah absen dari undangan dua keluarga itu. Juga oleh undangan warga lainnya. Bahkan, meski bukan Imam Kampung, syukuran belum akan dimulai jika ayah belum datang. Kecuali, ada halangan yang benar-benar tak bisa ditinggalkannya.
Dari sana, banyak hal yang akhirnya saya sadari. Ayah sering mengajak saya untuk membuka dan memperluas pergaulan. Ia mengajarkan ketulusan, konsistensi, meski sikap kerasnya kadang membuat ia tidak disukai oleh tak sedikit orang. Saya tahu, ia begitu kecewa ketika saya memilih lebih banyak berdiam diri di rumah ketika semakin bertumbuh sebagai pemuda.
Mungkin ayah tahu saya tidak punya energi hidup sebesar dia. Lelaki yang juga tumbuh sebagai anak yatim dan tak mengenal wajah ayahnya. Ayah yang seharusnya melindunginya, ditembak segerombolan ‘pengikut’ Kahar Muzakkar saat ia masih berusia dua tahun. Hingga kini, setelah 10 tahun kerap berada jauh dari ayah dan ibu, dua manusia yang teramat saya hormati dan cintai itu, saya masih bertanya-tanya. Apakah ayah benar-benar menginginkan saya tinggal di rantau orang? Ini kah caranya mendidik saya agar tumbuh menjadi seorang pria? Ah, mungkinkah dia benar kalau di kampung halaman sana saya tak bisa ‘berkembang’? Pertanyaan-pertanyaan ini ingin saya tanyakan padanya. Tapi, sampai detik ini, saya masih merasa harus mengumpulkan keberanian untuk itu
Tenggarong, Kutai Kartanegara, 6 April 2010.
Posted by si buah terlarang
on 4/05/2010

Senin, Maret 29, 2010

bau laut

rambutmu seperti bau laut semenanjung. tempat karang memahatkan cumbu camar dan angin selatan. ada renta senja yang dipeluk ufuk.

Aku ingin merupa jejak yang tersimpan di kejauhan samudera. Kau mengenalnya serupa lelaku ombak. berundak ia datang mengecup bibir pantaimu yang bergaram.

aroma muaramu yang terhidu tiriskan asin dan segala kepahitan purba yang dikoar lidah benua-benua. kutemukan geriak pasirmu yang membisikkan sajak manis tentang rindu akan laut.

“bisik. bisikkan lagi” aku ingin seperti senja itu. rentanya dipeluk ufuk. Yang pulang ke haribaan waktu….
Posted by si buah terlarang
on 3/29/2010

Jumat, Maret 05, 2010

Tuhan berteriak di bilik suara

kudengar Tuhan nyaris berteriak
di dekat tumpukan kotak suara

"sudahkah kalian membaca koran hari ini"
tentang janji-janji untuk bayi yang baru dilahirkan bundanya
tentang seragam sekolah,
sepatu,
buku,
bakal digratiskan

lapak-lapak sayur dan ikan
ladang sawah
mendadak dihiasi gambar mirip surat suara
dengan senyum penuh gubah prosa
yang sungguh teramatbukan puisi

deru konvoi
debu kampanye
yang terbang dari rodaroda
hanya membuatku terbatuk, Tuan

kutunggu saja subuh hari pencoblosan
sebelum surau kampung berkumandang
mari bertemu
dan kubacakan puisi tentang mahalnya harga di bilik suara....


*sedikit catatan untuk menyambut bilik suara 1 Mei 2010
Posted by si buah terlarang
on 3/05/2010

Senin, Maret 01, 2010

Calon Independen: Mudah Kumpul KTP, Sulitnya Pembuktian

Pukul 20.00 Wita, Senin, 1 Maret 2010. KPU Kutai Kartanegara menetapkan enam pasangan calon yang akan berlaga di Pilkada 1 Mei mendatang. Empat dari jalur Parpol, dua dari jalur independen. Ada tujuh pasangan yang mendaftar sebelumnya. Satu pasangan dinyatakan gugur. Dari jalur independen. Penyebabnya, kurang dukungan dari minimal 23.244 atau empat persen jumlah penduduk Kukar saat ini.

Fakta ini menarik. Bahwa, jalur independen yang dijamin undang-undang bagi mereka yang bukan kader Parpol untuk menjadi kepala daerah, sebenarnya bukan jalan lempang. Apalagi jalur tol. Tiga calon independen di Pilkada Kukar memang diperhadapkan pada persoalan sama. Mereka terlihat begitu mudah mengumpulkan puluhan ribu dukungan KTP. Tapi setelah diverifikasi, banyak warga yang merasa keberatan karena merasa KTP-nya dicatut. Persoalan pembuktian dukungan si empunya KTP adalah hal yang paling sulit dilakukan.
Sebelumnya, dari tiga calon independen itu, cuma satu yang lolos otomatis. Dua lainnya harus melakukan perbaikan alias menambah kekurangan dukungan. Yang lolos otomatis itu pun, terjadi penyusutan besar dari jumlah KTP yang disetorkan. Dari 74 ribu lebih lembar KTP, tersisa 27 ribu sebagai dukungan sah. Itu pun sempat menuai gugatan karena indikasi pemalsuan KTP. Dewa penyelamatnya adalah sikap ‘acuh tak acuh’ warga di wilayah pedalaman Kutai Kartanegara soal politik. Meski ngaku tak mendukung, mereka tak mau menandatangani surat pernyataan tak mendukung yang dikhususkan KPU. “Gak usah. Yang penting saya gak dukung.” Begitu alasan kebanyakan. Akibatnya, dukungan dianggap sah dan menyelamatkan calon tersebut. Jika tidak, mungkin lain cerita.

Persoalan membuktikan dukungan KTP secara faktual di lapangan sepertinya jadi momok setiap calon independen. Apalagi, fakta menunjukkan banyak cara ilegal yang ditempuh dalam pengumpulan KTP ini. Penulis, yang bekerja sebagai wartawan, saat mencoba menggali modus-modus pengumpulan KTP menemukan hal unik. Ada KTP yang masih bertuliskan “Honda Vario”, “Honda Beat” dan sejumlah merek motor lainnya.

Menurut sumber yang ditemui penulis, KTP warga ini memang dipungut dari sejumlah dealer motor. Belum lagi, ribuan KTP yang didapat dari hasil pendataan konversi minyak tanah ke gas yang dilakukan pemerintah kelurahan bekerjasama pihak ketiga, beberapa bulan sebelumnya. Akibatnya, saat diverifikasi secara faktual, banyak warga kaget dan marah-marah pada petugas KPU. “Dari mana KTP saya diambil?” sergah warga.

Bagi pasangan calon independen yang harus menambah dukungan lebih sulit lagi. Dukungan KTP perbaikan wajib diverifikasi faktual secara kolektif. artinya, pasangan calon tersebut harus mengumpulkan setiap pendukungnya di satu tempat yang disepakati. Jika 100 orang, semua harus dihadirkan secara fisik. Pertanyaan sederhananya, dengan cara apa mendatangkan setiap orang dengan sukarela lalu membenarkan ia benar-benar pendukung. Di sini, dugaan politik uang tak bisa dibendung. Ini fakta yang tak bisa dibantah.

Jika dukungan kurang berjumlah belasan ribu, lalu tak cukup uang untuk membeli sebuah ‘kesukarelaan’ setiap empunya KTP, so pasti jangan mimpi melaju sebagai calon kepala daerah. Terbukti, satu pasangan calon independen gagal melaju ke Pilkada Kukar 2010 karena diharuskan memenuhi kekurangan14.835 dukungan KTP. Ketika diwajibkan menghadirkan pendukungnya secara fisik, jangankan 1.000 orang yang mau datang. Separuhnya saja tak cukup.

Tulisan ini tidak bermaksud menyimpulkan bahwa pasangan calon independen yang lolos melegalkan praktik money politic. Sama sekali tidak. Tapi, setidaknya ada beberapa hal yang perlu jadi catatan bagi calon independen yang melaju di ajang Pilkada. Pertama, jalur independen rentan dengan tindak pidana (pemalsuan tandatangan si empunya KTP). Kedua, jalur ini tak lebih mudah dan murah dari jalur Parpol. Wajar jika indikasi money politic di baliknya sulit dipungkiri.

Penulis mencoba mengemukakan hal ini karena didasari beberapa hal sekaligus pertanyaan yang masih belum terjawab oleh diri sendiri. Pertama, Pilkada Kukar adalah agenda Pilkada pertama secara nasional di tahun 2010 ini. Kesuksesannya lagi-lagi menjadi cermin bagi daerah lain. Seperti halnya Pilkada 1 Juni 2005 silam dimana Kukar adalah penyelenggara Pilkada pertama di Indonesia.

Kedua, KPU setempat baru kali ini ‘menjamu’ kehadiran calon independen dan bagaimana memperlakukannya. Ini juga bakal jadi pelajaran berharga bagi yang lain. Pertanyaannya, sejauh mana kehadiran calon independen dalam dinamika politik lokal. Apakah dukungan KTP yang sah itu menjadi cermin bahwa mereka punya pendukung riil yang pasti mencoblos surat suara di TPS? Jika pemenang Pilkada Kukar dari jalur independen, ini adalah sejarah yang patut dicatat. Sebab, sependek pengetahuan penulis, baru di Aceh ada pemimpin yang dihasilkan jalur independen. Tapi, bukankah Aceh diberi dispensasi oleh Pusat dalam dinamika politik lokal. Ini tidak diberikan pada daerah lain. Ah, sekali lagi penulis hanya ingin menulis. Jika isu-isu lokal tak terlalu berharga di Kompasiana, biarlah ini jadi dagangan tak laku di lapak yang coba dikapling penulis di Kompasiana.
Posted by si buah terlarang
on 3/01/2010

Kamis, Februari 11, 2010

tentang rinduku yang berbisik riuh

selaksa rindu sedang menantimu di beranda
seperti kucicipi sajak yang mesra
ketika segala bebunga
tak hendak istirah di senjakala

dan rerumputan saling berbisik
tentang angin yang juga hendak
membaui tanah pijakan

tak kau dengar bisikan riuh itu di pekarangan
"pulang".
lalu hembuskan nafas dari bibirmu ke bibirku

kerna jiwa ini sesunggukan
dan tak hendak tetirah
sebelum kepulanganmu
kepada rumah sajak kita

segala kata
menopang sebagian dindingnya
remah-remah cinta yang tereja
meski setengah terpejam dan kerap terbata

'masih sebegitu kurang kekasih,
hingga kau kerap memintaku memujamu lebih dari saat ini"

Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010

aku terlelap setelah tahu tentang kau

aku hendak tidur sebelum kantuk
benar-benar terlelap di mataku
lalu ada mimpi yang terjaga
dan kudapati kau,
sisi hidupku yang paling nyata

sebelum melangkah ke segala tualang
sebelum saraf di otakku
menjadi raja bagi sepasang kaki
dan meminta pulang

aku ingin jantungku
yang memompakan sekian liter darah
hingga rongga hati ini penuh
dengan warna paling merah
bersimbah cinta

lalu aku benar-benar tertidur lelap
karena sebelum bermimpi tentang apa saja
hingga terjaga
aku telah tahu tentang kau, perempuan
yang benar mencintai aku apa adanya

2009
Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010

agenda

bergulat lagi pada hidup yang menderu debu. tak kutemukan wajahmu di gelas kopi yang mengepulkan sederetan panjang agenda sebagai skenario hari ini. Mungkin tersimpan dalam jejak mimpi buruk semalam. tentang ATM yang dibobol, sebuah rapat Pansus parlemen yang lebih mirip gaduh kaleng anjal yang menyanyi di lampu merah. atau... kau memang sudah tak lagi butuh kata-kata basi tentang cinta.

maka, kuhirup kopi yang masih mengepul itu.sebentar tersedak. ingin muntah.
ah, bayanganmu berkelebat hendak kukejar. tapi kemarau jejaknya yang kutemukan.
"harus ke alam mimpi" katamu. biar kita bertemu di kasur empuk.
dan agenda hari ini adalah melupakan semua yang membuat muak.
"tidurlah sayang', bisikmu. setelah lelah mendaki sembari menjumlah nafas terengah dalam bilangan desah.

ah, bayangmu benar-benar nyata sebagai agenda yang paling membuatku sibuk hari ini...
Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010

bait hujan

malam ini kita nanti hujan
yang mendaras
bait-bait sajak
dari langit

betapa hikmah ia
bagi bumi
yang betapa pula menyimpan
magma rindu

sebelum aku meledak... meleleh
bersama lava
kau telah mengaliri semua ruang:
di hatiku

demikian lah akhirnya kita menjulang
serupa sepasang gunung berapi
setidaknya untuk malam ini
hingga esok pagi
tak lagi dini:

lalu kita terbakar lagi

2009





Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010

Minggu, Januari 10, 2010

sebab aku ingin selalu pulang

percayalah, aku selalu lelakimu
yang pulang
semalam

aku, matahari dan bayang-bayang
mengetuk pintu sebelah barat
beringsut ke sisimu yang menjelang

sebab lelakimu selalu ingin pulang,
percayalah

kerna aku dan bayang-bayang
lalu hilang
ketika dekapmu tak lekang
kecup bibirmu menjelmakan sejuta kunang-kunang
Posted by si buah terlarang
on 1/10/2010