sebagai mula, izinkan kubertakzim pada pengakuan. betapa tak mudah menanggalkan.
gairah yang hadir karena pemujaan. wajahmu sungguh menggenang memenuhi angan.
Tapi, kuputuskan untuk pulang
usai kutaklukkan kau perawan
pada ketundukan akan kata
dalam perjamuan makna yang tak bersemaian
Akhirnya aku pulang. Kumelangkah memasuki pekarangan yang seolah lama kutinggalkan. Bidadariku meyambut girang dengan wajah yang dijajah rindu berbilang malam. Bocahku tak kalah riang. menggelantung di pinggang tak ingin berlepas.
Oh, kurasakan lagi damai. kudekat. mendekap. Bersandar lah engkau letih. Dan resah menguap lah. Kini kutundukkan hasrat-hasrat itu. Bidadariku...sungguh kau bagai dahan. Setia pada kepastian. Bahwa di suatu senja, sang elang pulang dari kelana jiwa. Usai menjelajah ujung-ujung benua.
Ranjang ikut merayakan kepulanganku. usai penaklukan itu. Sebab, kutetap Maha Diraja atas jiwa. Yang terbebas dari kudeta balatentara budak. Yang agungkan panji-panji kesenangan raga. Ya!...Kutaklukkan dia di perjamuan makna. perawan itu tersipu lalu ketakutan pada temaram. Meski kupuja dia bak rembulan.
*Didedikasikan untuk yang menolak 'ketelanjangan' dengan alasan apapun. Prinsip, dan smua-smuanya.
gairah yang hadir karena pemujaan. wajahmu sungguh menggenang memenuhi angan.
Tapi, kuputuskan untuk pulang
usai kutaklukkan kau perawan
pada ketundukan akan kata
dalam perjamuan makna yang tak bersemaian
Akhirnya aku pulang. Kumelangkah memasuki pekarangan yang seolah lama kutinggalkan. Bidadariku meyambut girang dengan wajah yang dijajah rindu berbilang malam. Bocahku tak kalah riang. menggelantung di pinggang tak ingin berlepas.
Oh, kurasakan lagi damai. kudekat. mendekap. Bersandar lah engkau letih. Dan resah menguap lah. Kini kutundukkan hasrat-hasrat itu. Bidadariku...sungguh kau bagai dahan. Setia pada kepastian. Bahwa di suatu senja, sang elang pulang dari kelana jiwa. Usai menjelajah ujung-ujung benua.
Ranjang ikut merayakan kepulanganku. usai penaklukan itu. Sebab, kutetap Maha Diraja atas jiwa. Yang terbebas dari kudeta balatentara budak. Yang agungkan panji-panji kesenangan raga. Ya!...Kutaklukkan dia di perjamuan makna. perawan itu tersipu lalu ketakutan pada temaram. Meski kupuja dia bak rembulan.
*Didedikasikan untuk yang menolak 'ketelanjangan' dengan alasan apapun. Prinsip, dan smua-smuanya.

0 komentar:
Posting Komentar