 |
| kebiasaan semasa kecil |
Ketika kerinduan akan kampung halaman begitu memanggil-manggil, saya memilih untuk mengenangkan kata-kata ayah. "Lebih baik kamu merantau saja. Iklim di sini, mungkin kamu akan sulit berkembang". Ia juga dengan kerasnya mendorong saya kuliah di kota lain.
Belakangan saya tahu, di balik sikap super kerasnya dalam mendidik anak, ternyata ia begitu rapuh dan mudah dikalahkan jarak. Di seberang sana, ia begitu mudah menitik airmata ketika tahu cucunya sedang sakit keras. Nada suaranya serak di ujung telepon. Ia juga tak kuasa menahan isak ketika kami; saya, istri, beserta cucunya yang kecil, berpamitan padanya. Dan segera kami akan dipisahkan lautan luas setelah purna libur lebaran.
Di kampung kecil itu, laut, pantai, dan ombak selalu menjadi seperangkat kenangan tentang masa kecil dan tak kan pernah lekang dari ingatan saya.
Oh ya, sekadar gambaran. Saya tumbuh di sebuah desa di tepi pantai di Teluk Tomini. Dulu, desa ini menjadi bagian dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sekarang, sudah mekar dan menjadi kabupaten tersendiri.
Jika senja tiba, tak ada yang lebih asyik bagi saya dan teman-teman sepermainan selain berenang di laut. Di dekat rumah, ada sebuah dermaga kapal tanker milik Pertamina. Sekali sebulan, kapal minyak ‘kencing’ di sini. Maka, jadi lah satu-satunya dermaga konstruksi beton itu menjadi tempat bocah-bocah bercengkerama dengan laut jika tak ada aktivitas bongkar muat. Kami tak pernah peduli dengan larangan, "Dilarang Mandi di Sini". Memang, tanda larang itu lebih ditujukan kepada kami, para bocah-bocah pembangkang. Meski beberapa kali petugas keamanan internal datang dan mengejar kami, disitulah seninya. Kami bisa mengejek petugas itu dan berenang menjauh. Sebab, tak mungkin dia ikut melompat dari dermaga hanya untuk menangkap kami. Mengingat kenakalan semasa bocah itu, saya kerap tersenyum sendiri.
Dari segi demografi penduduk, desa tempat saya tumbuh, hampir didominasi etnis bugis. Ada juga etnis lokal dan etnis-etnis lain. Saya sempat berpikir, etnis bugis di sini 'tercerabut' dari asal-usulnya. Leluhur mereka tiba di kampung ini dan beranakpinak setelah melarikan diri dari tanah kelahirannya. Rata-rata, warga bugis disini sebelum bermukim di desa ini, mereka berpindah-pindah dari beberapa daerah. Konon, orang-orang tua mereka lari saat pecah pemberontakan Kahar Muzakkar yang memproklamirkan negara Islam di Sulawesi Selatan. Mereka tak tahan dengan teror. Dari cerita-cerita orang tua-tua, teror dilakukan sekelompok orang bersenjata dan mengaku pengikut Kahar. Minta kerbau, kuda, dan bahan makanan. Kerap, permintaan mereka harus ditebus nyawa warga yang mempertahankan harta miliknya.
Ayah saya juga bercerita kalau kakek meregang nyawa di masa-masa teror itu. Diseret ke hutan dan tak ada anggota keluarga yang melihat dimana kakek dikubur. Tapi, ayah tiba di desa ini sebagai perantau dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tak seperti yang lain, ia datang ke desa ini untuk memenuhi sumpah PNS-nya. Ia seorang guru SMP. Bertemu gadis lokal dan menikah. Saya dan adik lalu terlahir sebagai manusia separuh bugis.
Kebanyakan etnis bugis berdomisili di ujung kampung. Saya cukup banyak menghabiskan masa kecil di ujung kampung itu meski rumah keluarga kami berada cukup jauh. Salah satu aktivitas yang menyebabkan saya sering berinteraksi dengan orang-orang ini adalah belajar mengaji. Di masa itu, belum dikenal metode membaca Quran dengan sistem Iqra dan lainnya. Jadi, saya masih produk sistem pembelajaran membaca Quran dengan cara ejaan berbahasa bugis. Sangat tradisional.
Di ujung kampung itu, saya paling ingat seorang teman sepermainan. Kami pernah sekelas waktu SMP. Namanya Iswadi. Pendiam tapi keras hati. Jika sudah tersinggung, ia siap menghadapi dan berkelahi dengan siapa saja. Karena ia juga murid ayah, Wadi sering datang ke rumah bersama teman-teman sekelas lainnya.
Kami tumbuh remaja bersama-sama. Saya ingat Iswadi bukan cuma karena sikap kerasnya. Tapi, dia tumbuh sebagai anak yatim karena sebuah nilai budaya yang menjadi bagian dari konsep hidup orang-orang bugis. Mungkinkah ia korban dari konsep yang kami sebut dengan budaya siri’? Bisa jadi, ini yang membentuk karakternya menjadi anak keras hati.
Wadi, begitu kami memanggilnya, yatim ketika ia, juga saya, masih bayi yang baru belajar merangkak. Ayahnya dibunuh demi menegakkan budaya siri’ itu. Waktu yang barangkali sudah membenamkan peristiwa ini ke dalam memori terdalam setiap orang. Atau, mereka sudah tak ingin mengingat-ingat peristiwa berdarah itu. Meski tak tahu persis kejadiannya, saya masih merasakan horor justru ketika saya bertumbuh sebagai remaja.
Peristiwa berdarah itu sebenarnya terjadi sekitar tahun 1982 silam. Menurut cerita yang saya nguping dari orang tua-tua, hari itu, Jumat, bertepatan dengan perayaan Idul Fitri. Yang membuatku bergidik, pembunuhan itu terjadi tepat di masjid kampung kami. Seusai shalat Jumat, begitu keluar dari pintu masjid, seorang pria menghujamkan badik ke tubuh ayah Wadi. Ia tewas di dalam masjid.
Bukan cuma itu. Ada dua pria lainnya yang tewas di pekarangan masjid saat itu juga. Konon, salah satunya kebal senjata tajam. Meski dikeroyok beberapa orang, ia tak terluka dan berhasil menikam satu lawannya. Yang kebal ini, kalau tidak salah, masih terhitung paman Wadi. Ia baru jatuh bersimbah darah ketika ditikam dengan bambu berukuran kecil yang tajam dan berwarna kuning. Konon pula, ia sendiri yang membocorkan kelemahan ilmu kebalnya itu.
Pemicu pembunuhan itu adalah silariang. Bahasa bugis yang berarti kawin lari. Mulanya, paman Wadi, adik dari ayahnya, jatuh cinta dengan perempuan dari keluarga N (saya memilih menyamarkan). Karena cinta mereka tak direstui keluarga N, dua muda-mudi itu sepakat mendobrak semua belenggu dan dinding penyekat cinta mereka. Perempuan itu ikut dalam sebuah pelarian dengan pujaan hatinya.
Keluarga N murka. Dalam adab orang bugis, silariang adalah aib yang mencoreng harga diri keluarga perempuan. Meski di keluarga pihak pria juga hal yang mencoreng muka. Maka, direncanakan lah sebuah perhitungan oleh keluarga N. Sayang, satu korbannya adalah ayah Wadi yang mungkin tak tahu kalau adiknya akan berbuat senekat itu.
Peristiwa ini kemudian menyuburkan dendam di antara dua keluarga itu. Hingga bertahun-tahun. Seingat saya, ayah juga pernah bilang padaku,” orang bugis itu punya kekurangan yang tak bisa dibantah. Mereka pandai merawat dendam”.
Meski si pembunuh akhirnya tertangkap setelah perburuan aparat yang cukup panjang, dendam keluarga Wadi seakan tak pernah surut. Setiap saat, apa saja bisa memicu konflik dua keluarga itu. Hal yang paling remeh temeh sekali pun.
Seperti suatu siang ketika saya masih duduk di bangku kelas III SMP. Saya ingat persis. Beberapa orang datang tergopoh-gopoh menemui ayah. Sejurus kemudian ayah masuk ke kamar. Lalu keluar lagi bersama orang-orang itu. Mereka meminta ayah menjadi penengah untuk menenangkan keluarga besar si Wadi.
Jika sudah marah kepada rivalnya, keluarga ini tak tanggung-tanggung untuk menyiapkan perkakas perang. Mulai dari ayah-ayah mereka, paman-paman, ponakan, bahkan bocah yang paling ingusan yang belum menginjak usia sekolah, diwajibkan mengasah parang dan menyiapkan badik. Syaratnya, asal dia laki-laki dalam keluarga itu.
Penyebabnya ternyata sangat sepele. Dua bocah dari dua keluarga bertikai itu bermain bersama-sama. Berebut mainan lalu berkelahi. Bocah dari keluarga pria pulang mengadu sembari menangis. Cuma itu. Tapi memantik kemarahan besar hingga ke level paling atas.
Ayah datang dengan petugas Babinsa guna meredam ketegangan itu. Dan saya tahu, ayah punya peran besar dalam meredakan konflik. Ia satu-satunya sosok yang bisa diterima dua keluarga tersebut. Ayah punya kekuatan diplomasi. Ia kerap berdiri di tengah-tengah meski kedua pihak bertikai sudah saling menghunus senjata masing-masing.
Saya tahu itu, karena ayah selalu diundang kedua keluarga tersebut ketika punya hajatan. Seperti syukuran hendak menurunkan kapal kayu yang selesai dibuat. Di sini, orang-orang bugis pandai membuat kapal kayu dalam ukuran besar. Biasanya digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti kopra. Kadang, kapal kayu ini bisa membawa kopra hingga ke Pulau Halmahera.
Syukuran menurunkan perahu biasanya diawali dengan tradisi doa dan barzanji. Barzanji sebenarnya sebuah karya sastra Arab yang berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Meski barzanji tumbuh sebagai bagian dari budaya beragama yang profan (budaya), ada saja yang beranggapan ini wajib (sakral). Mungkin dipengaruhi pemahaman yang parsial dan ahistoris terhadap tradisi barzanji ini.
Tradisi barzanji untuk menurunkan perahu ini kerap dilakukan selepas shalat Jumat. Saya senang ikut bila diajak ayah. Sebab, barzanji bagi saya adalah makan enak. Ada ayam kari, ayam goreng, sokko (bugis): nasi dari beras ketan, hingga aneka kue. Yang wajib hadir adalah kue onde-onde. Saya suka dengan onde-onde.
Ayah tak pernah absen dari undangan dua keluarga itu. Juga oleh undangan warga lainnya. Bahkan, meski bukan Imam Kampung, syukuran belum akan dimulai jika ayah belum datang. Kecuali, ada halangan yang benar-benar tak bisa ditinggalkannya.
Dari sana, banyak hal yang akhirnya saya sadari. Ayah sering mengajak saya untuk membuka dan memperluas pergaulan. Ia mengajarkan ketulusan, konsistensi, meski sikap kerasnya kadang membuat ia tidak disukai oleh tak sedikit orang. Saya tahu, ia begitu kecewa ketika saya memilih lebih banyak berdiam diri di rumah ketika semakin bertumbuh sebagai pemuda.
Mungkin ayah tahu saya tidak punya energi hidup sebesar dia. Lelaki yang juga tumbuh sebagai anak yatim dan tak mengenal wajah ayahnya. Ayah yang seharusnya melindunginya, ditembak segerombolan ‘pengikut’ Kahar Muzakkar saat ia masih berusia dua tahun. Hingga kini, setelah 10 tahun kerap berada jauh dari ayah dan ibu, dua manusia yang teramat saya hormati dan cintai itu, saya masih bertanya-tanya. Apakah ayah benar-benar menginginkan saya tinggal di rantau orang? Ini kah caranya mendidik saya agar tumbuh menjadi seorang pria? Ah, mungkinkah dia benar kalau di kampung halaman sana saya tak bisa ‘berkembang’? Pertanyaan-pertanyaan ini ingin saya tanyakan padanya. Tapi, sampai detik ini, saya masih merasa harus mengumpulkan keberanian untuk itu
Tenggarong, Kutai Kartanegara, 6 April 2010.
Posted by si buah terlarang
on 4/05/2010