Mengejawantahkan romantisme itu, anakku, selalu dimulai dari aksara. Mungkin, aksara lah yang akan paling bisa membuat kekasihmu bungah. Bahagia. Tertawa lepas. Aku pernah melihat adegan itu. Suatu hari. Dulu sekali. Saat ayahmu masih bocah.
Almarhum kakekmu, perantau yang awalnya tiba di sebuah pulau kecil di tengah Teluk Tomini, Pulau Unauna, Sulawesi Tengah, adalah seorang guru. Rupanya ia berbekal ketrampilan aksara khas sukunya.
Hari itu, nenekmu yang guru SD, lulusan SPG, memegang kertas dan pena. Aku lupa waktu itu duduk SD kelas berapa. Yang kuingat, kakekmu mengambil pena itu lalu menulis. Nenekmu duduk di sampingnya. Menyimak.
Deretan abjad itu begitu asing. Di mataku. Juga buat nenekmu. Beberapa saat, kakekmu menjelaskan cara ejaan. Nenekmu mengeja beberapa huruf. Sejurus kemudian, perempuan ini tertawa manja. "Oh, namaku ternyata!" ujarnya.
Derai tawa keduanya tak dibuat-buat. Membuat perhatianku teralihkan dari mainan mobil-mobilan. Rasanya, itu momen paling romantis yang pernah kusaksikan. Ya, kakekmu menulis nama nenek dengan aksara Bugis. Aksara lontara'.
Aku tumbuh sebagai manusia separuh bugis. Di desa yang mayoritas dihuni para perantau bugis. Belajar mengaji pun pakai cara bugis. Membayar guru ngaji dengan upah harian: menimba sumur hingga semua penampungan air penuh.
Ada hal istimewa lain yang selalu kuingat soal aksara ini, Nak. Kupikir, itu yang membuatku selalu merasa masa kecilku penuh warna dan romansa.
Dulu, di desaku, kala perayaan maulid tiba, ada tradisi barzanji. Kitab yang dibacakan memakai aksara bugis. Jangan kau bayangkan ini maulidan biasa. Durasinya mengalahkan film terpanjang di bioskop 21 yang pernah kutonton. Dimulai selepas isya. Selesai hampir subuh.
Meski tidur dan baru bangun saat jamaah bubar, aku selalu diajak kakekmu. Ayahmu ini selalu bersemangat. Bagiku, barzanji yang pakai aksara bugis atau aksara arab, sama saja. Maknanya MAKAN ENAK.
Aku kerap menikmati privilese. Orang-orang belum memulai barzanji kalau aku dan kakekmu belum nongol. Suatu ketika aku protes.
Ceritanya, malam sebelumnya, kami sekeluarga, pasukan lengkap, ikut barzanji kitab beraksara lontara. Seperti biasanya, aku tertidur. Pagi harinya mengeluh. "Malas ikut barzanji Bugis. Terlalu lama. Sokko' (penganan khas bugis dari beras ketan) dan onde-onde (klepon) sudah keras dan dingin," kataku pada kakekmu.
Rupanya, keluhanku sampai ke panitia pelaksana. Malam harinya, datang Sokko' dan nampan penuh berisi onde-onde hangat. Kamu tau, Nak. Sensasi ketika gula merah klepon yang hangat, pecah dan memenuhi rongga mulut, itu yang paling kusukai!
Sayang, para tetua berpulang, tradisi barzanji ini pun hilang. Manuskrip sirah Nabi Muhammad SAW yang beraksara lontara itu kini entah di tangan siapa.
***
Konon, para kolonialis menganggap bangsa kita orang-orang Barbar. Liyan. Yang harus ditaklukkan. Mungkin, berangkat dari kesombongan logika Cartesian. Kita dianggap bodoh.
Padahal, nenek moyang kita sudah terbiasa mentransmisikan pengetahuan. Di Jawa ada hanacaraka. Di Bugis ada Lontara. Ada kitab-kitab berbahasa Pegon.
Jangan rendah diri, Nak. Soalnya, kalau orang Barat menganggap moyang kita gak bisa baca tulis, kakekmu pernah membodohi salah satu dari mereka.
Sewaktu kuliah di IKIP Menado di kisaran tahun 60-an, dia punya dosen dari Belanda. Saat ujian, kakekmu bikin contekan (jangan ditiru ya!) pakai aksara Lontara. "Apa ini!" hardik si dosen. "Surat dari Ibu, Meneer!" Kakekmu lolos.
****
Sudah lama aku tertarik dengan La Galigo. Sejak membaca the Bugis-nya Christian Pelras. Orang Perancis. Ini mahakarya, Nak. Manuskrip beraksara lontara yang dinobatkan sebagai epos sastra terpanjang di dunia. Mengalahkan epos Mahabharata. Terimakasih pada kak Andi Aisyah Lamboge yang membantu mendapatkan buku edisi lux ini.
Orang Bugis, kata Pelras, kerap disalahartikan. Semisal disematkan sebagai bangsa bajak laut. Padahal, bukan. Kelak kalian harus juga membaca soal Bugis. Penting bagi kita untuk membaca asal-usul para leluhur. Sudah fitrah....setiap serpihan merindukan asal agar dia merasa jadi bagian sebuah keseluruhan.
Posted by huldi amal
on 7/18/2020