Jumat, November 13, 2009

Etalase

di sini kami menjerang rasa lapar yang dibejanakan kekuasaan. Lalu di gerang mana dirimu, tuan? di hutan jatimu yang kau sulap jadi pajangan di etalase bagi mereka yang memburu harga sebagai fetish serupa keris pusaka turun temurun? atau kau sedang dibuai sekian gelinjang kenikmatan yang kau dapatkan dari panenmu di ladang bursa?


Oh, betapa jauh jarak kutub utara tempat kau membekukan hati nurani . lalu kau suburkan kemiskinan yang kian termodernisasi. Di mana ladang padi kami. Sedang rimbunan palawija, sayuran yang berkecambah, kau gantikan dengan mal dan kawasan perbelanjaan yang lebih perkasa dari akasia tapi kian memanaskan udara.

Tapi kami tidak menyesal. Kemiskinan adalah kawan paling karib sebelum selimut usang terhempaskan. Sementara tidur sendiri telah lelah menjadi pehibur derita panjang yang mengendap di bibir ranjang dan tak juga laku hendak dijual. Kami tegar, tuan. Kami tegar meski kaki kami kerap gemetar. Menahan getar terhadap ketidakadilan yang menjelmakan setiap detik-detik di jam dinding kami yang juga lapar.

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/13/2009

Semenanjung

tunggulah aku di pintu
aku sedang kembali
kepada mata , lengan, dan sekujur mu
yang menubuhkan rindu

ada isyarat merah kubaca
di matamu
tapi bukan amarah, kekasih

seakan senja baru saja kupungut
yang dikulum laut
lalu kusimpan
di sebalik kulitku

nantikan di beranda
sang penjala
menguncupkan tiang dan layar
pulang dari semenanjung:
ke-ingat-an wajahmu

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/13/2009

Selasa, November 03, 2009

kau yang menyalakan lilin di hari ulangtahunku

: Uni Eka Wirawati Amal


kau yang menyalakan lilin
di hari ulang tahunku

aku lalu seperti menghitung detik-detik
yang luruh
terjatuh
bersama embun bening dua matamu

seakan sekian waktu
kembali kau nyalakan di lilin itu

lalu yang mana hendak aku padamkan
jika pejam mata kau
adalah diam
serupa karang di semenanjung kesetiaan

maka biarkan embun di matamu pulang
tinggalkan jejak yang paling sajak
untuk setiap esok yang juga kelak

karena kau juga yang akan selalu
menyalakan lilin di hari ulang tahunku....


Kutulis di hari ulang tahunku, 29 Oktober 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

lebur

ini jiwa
setelah namamu tuah
melesatkan doa-doa

tak perlu kunamai cinta

lebur sudah
hingga kerak sajadah

Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

sebuah sajak untuk sahabat di pertemuan yang berjarak

kupikir begitulah dia dinamai waktu, kawanku
aku mengingat peristiwa
sementara kau pada akhirnya
menghitung jarak kejadian

ada yang terlupakan, bukan
setelah persahabatan
dipangkas oleh pulau
lautan
serta kenangan

dan kali ini kita saling membaca jejak
pada bertemuan yang dibentang jarak

berlesatan sebuah ingatan
tentang keriangan di sudut ruang kelas
lalu kita pulang dengan catatan
yang mengendap di seragam putih abu-abu

hidup,
seperti juga pelayaran
dalam naungan angin sakal dari arah selatan
jejak camar hanya petunjuk kita yang samar

aku membayangkan
betapa semuanya juga
kelak tumbang
ke haribaan usia

akan ada doa yang kita altarkan
untuk persahabatan
yang tak pernah terkunci oleh jaman

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009

hikayat bulan yang tak lagi purnama

tentang perang
yang hadir di bibir ranjang
berdesing-desing

di luar ngiau kucing
seperti berebut tulang
menabrak kaleng-kaleng rombeng

pada selimut dan tirai
ada luka cakar
hingga malam tak lagi bisa berkelakar

hei, angin mengintip kita di jendela
dan embun serupa matamu yang berkaca-kaca
kau membenci rembulan, bukan
percayakah kau tak lagi ia purnama:
di hatiku.

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009