Jumat, September 25, 2009

Setelah tanak letih kita

Mungkin telah tanak letih
Yang kita jerang semalaman
Mengapa gairah tak jua jera
Usai senggama tak sudah-sudah?

Hingga terjaga
kita dapati pagi tersengal
bibir selimut ikut menggigil
setelah ditelikung rasa mabuk paling kemaruk

maka,
usai telimpuh kita
pada hasrat yang paling purba
lalu nantikan pertempuran lebih gelora

Samarinda, 2009


Posted by si buah terlarang
on 9/25/2009

Kamis, September 24, 2009

di hatimu ada muara

di hatimu ada muara
kutitip sajakku yang paling cinta
seperti bertemu sungai dan lautan
lalu senja menyimpan kesaksian


di hatimu ada muara
melubuk sajakku yang paling rindu
seperti sungai dan lautan bercumbu
seperti rona senja yang tersipu

di hatimu ada muara
pertemuan sungai dan lautan
menyuburkan bait-bait hujan
melahirkan sajak-sajakku yang sangsai

Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 9/24/2009

Selasa, September 15, 2009

mahakam

mungkin telah banyak peristiwa
juga sekian nama
yang telah kau larungkan

bersama alur
dan gurat-gurat
di balik rona wajah kecoklatanmu

pada lengkung alis jembatan
dan tiang serta tali temalinya yang kepayang
aku melihat kau memanggil senja

ia datang seperti gadis berkerudung lembayung
seakan hendak kau giring
ke kedalaman palung

selepas itu lalu kau mencumbu mesra
bulan setengah yang keperakan
hingga malam memejam matanya

Dan di sini aku merasa direngkuh
dari muaramu
di tepi-tepimu
seperti diremas mata airmu

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009

tentang kesetiaan

Aku akan dendangkan kidung kesetiaan
seperti yang dipinta dedaunan kepada akar pohonan.

Tuliskanlah dengan pena dan kertas
untuk warisan sekian abad

kelak huruf-huruf saling berlepasan
rongga jiwa mengurainya
menjadi renik-renik kesuburan
lalu segala yang bebunga tumbuh di taman hatimu

disitu akhirnya aku meringkuk
berlindung dari semua ruap cuaca
hingga musim gugur tiba
kasih kita mengabadi di haribaan usia

Oh, sambutlah kemarau helai-helai sajakku
dengan tangan musim semimu, kekasih…


Tenggarong,2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009

Muaramu

kita pernah berkobar
pada senja merah
asmarandana
dikepung biru lautan

bersama buih-buih
ikan-ikan berenang
dan mekarnya terumbu karang
kita sambut semua cinta
di kedalaman
dari sekian aliran muara

oh...kini dan disini, kekasih
betapa kesepian
mematungku
serupa jemarinya yang perupa

sambutlah!
aku pulang, sayang
menyusur semua semenanjungmu
tanjung dan telukmu
geriak pasir-pasir di pantaimu

akan mekar pula terumbumu
setelah sekian senggama
yang sempat terjeda

gerianglah!
arus ini menuju
ke muaramu


Tenggarong,Agustus 2009
Posted by si buah terlarang
on 9/15/2009