Kupeluk dia dan hatiku semakin dirundung rindu
Adakah aku bisa berdekatan dengannya setelah itu?
Kucium bibirnya agar hilang gejolak dihati
Namun hasrat bersua semakin menjadi-jadi
Kerinduan belum lagi terobatkan
Karena dua bibir yang saling bersungutan
Hatiku seakan tak perna padam membara
Kecuali setelah jiwa kami bersanding bersama***
***********
Sore tadi, petir benar berkata, tak berbohong. Gelegarnya yang berkali-kali segera disusul rinai berkepanjangan. Oh...Tuhan, gerangan apa rinai itu. Ia petanda kalut hatiku?
Di seberang sana, pada sebuah tanya, angka ganjil itu mengubah namanya. Menjadi sebuah aksara. Ah, kau tetap juga ganjil ternyata. Aku menghitungnya. Tentunya kumulai dari huruf "A".
Duhai.... aku memang memujamu. Kuakui! tentang hasrat-hasrat liarku. Meski bercintaan mata kita hampir tak pernah ada. Salahkan aku saja! sungguh lancang aku sejak benak hendak melahirkan kata.....telanjur aku pada pinta itu ’sekali saja’...
Kini....ijinkan aku memujamu lagi. Aku janji. Kulecut semua lancangku itu. Pada niatan bercintaan yang kau tak berkenan, tak pernah terbayang kau layaknya pelacur binal...Bahkan jika pun iya, persetan! Sudah kupuja engkau seperti penyangga-penyangga langit....
***********
Tuhan.....kini ajari aku cara memuja semesta-Mu. Yang Kau hamparkan pada gurun, savana, lautan dan gua-gua atau pada mahluk-mahlukMu itu. Segera cabut hasrat-hasratku ini, yang pernah Kau adonkan di lempung hitam dulu....jika tak berkenan Kau mengajarkanku!
Ohhh.....aku pergi darinya dan kini datang lagi padaMu. Tapi, ajari aku memuja keindahannya. Bukankah dia penampakan terindah-Mu, seperti dalam syair-syair para makrifatMu....
Sungguh tak ingin lagi hasratku berpatuh pada keliaran. Jika datang lagi, biar kupendam saja. Bukankah kendali rasa itu sebentuk jihad? Bahkan, pada sebuah sabda; yang mati memendam cinta akan dibalas surga.... Duhai Engkau....himpunkan aku dalam taman cintaMu. Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.
***Ibnuur Rumi seperti dikutip Abdul Qayyim Al-Jauziyah dalam Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.
*Judul diiinspirasi dari syair lagu Doel Sumbang berjudul Catatan Selasa Malam
Adakah aku bisa berdekatan dengannya setelah itu?
Kucium bibirnya agar hilang gejolak dihati
Namun hasrat bersua semakin menjadi-jadi
Kerinduan belum lagi terobatkan
Karena dua bibir yang saling bersungutan
Hatiku seakan tak perna padam membara
Kecuali setelah jiwa kami bersanding bersama***
***********
Sore tadi, petir benar berkata, tak berbohong. Gelegarnya yang berkali-kali segera disusul rinai berkepanjangan. Oh...Tuhan, gerangan apa rinai itu. Ia petanda kalut hatiku?
Di seberang sana, pada sebuah tanya, angka ganjil itu mengubah namanya. Menjadi sebuah aksara. Ah, kau tetap juga ganjil ternyata. Aku menghitungnya. Tentunya kumulai dari huruf "A".
Duhai.... aku memang memujamu. Kuakui! tentang hasrat-hasrat liarku. Meski bercintaan mata kita hampir tak pernah ada. Salahkan aku saja! sungguh lancang aku sejak benak hendak melahirkan kata.....telanjur aku pada pinta itu ’sekali saja’...
Kini....ijinkan aku memujamu lagi. Aku janji. Kulecut semua lancangku itu. Pada niatan bercintaan yang kau tak berkenan, tak pernah terbayang kau layaknya pelacur binal...Bahkan jika pun iya, persetan! Sudah kupuja engkau seperti penyangga-penyangga langit....
***********
Tuhan.....kini ajari aku cara memuja semesta-Mu. Yang Kau hamparkan pada gurun, savana, lautan dan gua-gua atau pada mahluk-mahlukMu itu. Segera cabut hasrat-hasratku ini, yang pernah Kau adonkan di lempung hitam dulu....jika tak berkenan Kau mengajarkanku!
Ohhh.....aku pergi darinya dan kini datang lagi padaMu. Tapi, ajari aku memuja keindahannya. Bukankah dia penampakan terindah-Mu, seperti dalam syair-syair para makrifatMu....
Sungguh tak ingin lagi hasratku berpatuh pada keliaran. Jika datang lagi, biar kupendam saja. Bukankah kendali rasa itu sebentuk jihad? Bahkan, pada sebuah sabda; yang mati memendam cinta akan dibalas surga.... Duhai Engkau....himpunkan aku dalam taman cintaMu. Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.
***Ibnuur Rumi seperti dikutip Abdul Qayyim Al-Jauziyah dalam Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.
*Judul diiinspirasi dari syair lagu Doel Sumbang berjudul Catatan Selasa Malam
on 4/28/2009
No comments
