Selasa, April 28, 2009

Catatan Selasa Malam

Kupeluk dia dan hatiku semakin dirundung rindu
Adakah aku bisa berdekatan dengannya setelah itu?
Kucium bibirnya agar hilang gejolak dihati
Namun hasrat bersua semakin menjadi-jadi

Kerinduan belum lagi terobatkan
Karena dua bibir yang saling bersungutan
Hatiku seakan tak perna padam membara
Kecuali setelah jiwa kami bersanding bersama***


***********

Sore tadi, petir benar berkata, tak berbohong. Gelegarnya yang berkali-kali segera disusul rinai berkepanjangan. Oh...Tuhan, gerangan apa rinai itu. Ia petanda kalut hatiku?

Di seberang sana, pada sebuah tanya, angka ganjil itu mengubah namanya. Menjadi sebuah aksara. Ah, kau tetap juga ganjil ternyata. Aku menghitungnya. Tentunya kumulai dari huruf "A".

Duhai.... aku memang memujamu. Kuakui! tentang hasrat-hasrat liarku. Meski bercintaan mata kita hampir tak pernah ada. Salahkan aku saja! sungguh lancang aku sejak benak hendak melahirkan kata.....telanjur aku pada pinta itu ’sekali saja’...

Kini....ijinkan aku memujamu lagi. Aku janji. Kulecut semua lancangku itu. Pada niatan bercintaan yang kau tak berkenan, tak pernah terbayang kau layaknya pelacur binal...Bahkan jika pun iya, persetan! Sudah kupuja engkau seperti penyangga-penyangga langit....

***********

Tuhan.....kini ajari aku cara memuja semesta-Mu. Yang Kau hamparkan pada gurun, savana, lautan dan gua-gua atau pada mahluk-mahlukMu itu. Segera cabut hasrat-hasratku ini, yang pernah Kau adonkan di lempung hitam dulu....jika tak berkenan Kau mengajarkanku!

Ohhh.....aku pergi darinya dan kini datang lagi padaMu. Tapi, ajari aku memuja keindahannya. Bukankah dia penampakan terindah-Mu, seperti dalam syair-syair para makrifatMu....

Sungguh tak ingin lagi hasratku berpatuh pada keliaran. Jika datang lagi, biar kupendam saja. Bukankah kendali rasa itu sebentuk jihad? Bahkan, pada sebuah sabda; yang mati memendam cinta akan dibalas surga.... Duhai Engkau....himpunkan aku dalam taman cintaMu. Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.



***Ibnuur Rumi seperti dikutip Abdul Qayyim Al-Jauziyah dalam Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.


*Judul diiinspirasi dari syair lagu Doel Sumbang berjudul Catatan Selasa Malam
Posted by si buah terlarang
on 4/28/2009

Senin, April 27, 2009

Tabula(h) Rasa

cuma ini kah aku dan kau bisa?
selebihnya tak bisa bisa
pernah kau ingin selingkuh kita
tak hanya canda kata berujung tawa ?

tapi nampak lah sengaja pada rencana
sekadar untuk berselingkuh kata
tak ingin ada singkap selubung rasa
lewat tubuh tanpa busana
di ranjang-ranjang tabula(h) rasa


*didedikasikan untuk yang tak mau mengalah dalam kekalahan akan kata dan hasrat-hasrat liarnya berpendam...
Posted by si buah terlarang
on 4/27/2009

Minggu, April 26, 2009

Di Selasar Subuh Ketelanjangan

Pada cium cumbu itu di selasar subuh
kucoba bisikkan larik baris nubuah
agar aku dan kau tak larut sungguh
dalam bercintaan dangkal yang hanya berpuas lelah

bahwa dekap dan peluk kita adalah karamah
bagi hasrat-hasrat jiwa pemuja syariah
upaya lah rintih selalu jaga dalam puja-puji kalimah
sembari nafas mengikat kalam menata desah

Di selasar subuh ketelanjangan
usai zikir terakhir di sajadah hamparan
mufakatkan nawaitu pada kenikmatan
untuk buih-buah rahimmu nantinya kebanggaan
Posted by si buah terlarang
on 4/26/2009

Jumat, April 24, 2009

sudilah engkau hai savana

bersudikah engkau?
tentang niatan banal binal
dan lancang khayal
membayangkanmu biarkanku merumput di savana dua bukit itu

Jika wajah temaram tiba...
dan terpejamlah semua mata
jadilah kita sepasang kijang yang bebas meronta
liar kemana hasrat hendak membawa

melenguh lah panjang pendek ulang berulang
perdengarkan pada rembulan dan semua gemintang
meski terlarang bagi penguasa rimba
yang merantai setiap makna desah rintih dan hela pertemuan raga

oooh...bersudikah engkau?
jika tak lagi khayal kebinalanku
usai merumput di savana dua bukit itu
kutuntaskan dahaga banal di gua-gua... tanpa cermin yang menggenang di matamu...
Posted by si buah terlarang
on 4/24/2009

Rabu, April 22, 2009

Sekadar Curhat

Akhir-akhir ini semangat kerjaku seolah berada di titik nol. Sepertinya saya butuh momen untuk menyegarkannya kembali. Tapi, sampai saat ini, saya belum menemukan kapan waktunya, apa bentuknya, dan bagaimana caranya….momen itu dihadirkan.
Seingat saya, kejenuhan ini bermula dari sebuah larangan akan suatu peliputan. Sebagai karyawan, loyalitas kepada atasan adalah harga mati. Tak ada istilah menawar jika hal itu bersangkutan dengan persoalan pekerjaan.
Saya teringat kata-kata ayah ketika masih kanak-kanak dulu. “Ketaatan pada pemimpin adalah keharusan sepanjang itu tidak bertentangan dengan perintah Tuhan”. Saya ingat persis, ia tak mengucapkan langsung padaku. Tapi, hal itu adalah prinsip hidupnya yang kutangkap sebagai pelajaran.
Kembali pada persoalan liputan tadi, larangan itu memang berkaitan erat dengan kepentingan politik. Hari itu....saya lupa dan tak mau mengingat-ingat waktunya, sebuah pesan pendek datang. Berisi larangan agar tak meliput lagi kasus tindak pidana Pemilu yang sebelumnya hampir tak pernah saya absen dalam setiap persidangan.
Sebagai karyawan, tentu saya tak mau menanyakan alasannya. Selain karena loyalitas tadi, saya cukup paham apa di balik kasus itu. Setidaknya bisa mengira dan menduga-duga setelah melihat serpihan-serpihan fakta di lapangan.
Memang, saya sempat menawar. Sebab, kasus itu menyisakan vonis hakim. Kepentingan melayani pembaca adalah alasan mengapa saya tetap ingin meliput kasus itu. Bagi saya, prinsip jurnalisme yang tertinggi adalah kesetiaan terhadap pembaca. Dan itu harus mengalahkan segalanya.
Sayang, saya bukan siapa-siapa. Liputan itu harus kutinggalkan. Saya cuma berujar dalam hati, “jika begini, seharusnya dari awal saya diberitahu.”
Kecewa? memang iya. Perasaan itu saya ibaratkan dengan momen saat berhasil menaklukkan perempuan. Perempuan itu yang mau dirayu, disentuh, dan dicumbu, dan memang setuju untuk sebuah persetubuhan. Tapi menjelang klimaks, ia memilih membiarkanku berakhir dengan orgasme yang tak kesampaian....
Hmmm.....komersialisme yang bersenyawa dengan jurnalisme memang kerap melahirkan pragmatisme. Meski komersialisme adalah patahan yang tak bisa dielakkan dalam mekanisme pasar jaman mengglobal ini. Tapi, jika itu dilakukan dengan cara-cara yang tak elegan, komersialisme yang dibingkai kepentingan-kepentingan sesaat hanya akan menjadi bumerang bagi jurnalisme itu sendiri. Wallahu Alam!!!

Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009

dari pertanyaan seorang kawan

sepertinya yang sejati itu datang dari pengungkapan
ilmu sejati itu yang menghadirkan
obyek dan subyek saling mengenal dan tak saling mencari...
berlari saling mendekati
meski yang 'satu' lebih dekat
dan tak perlu berlari
Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009

Kamis, April 16, 2009

jelaga di telaga nikmat

usai sudah cerita kira
membawa kita
di ujung temu
dan sungging senyum di bibirmu.


usai sudah kisah terduga
membawa kita
di titik mula kenangan
digulung relung penyesalan

yang pasti kita pernah bercinta
di tepi sebuah telaga
jelaga di hatimu...di hatiku...
tak ingkari betapa nikmat pertemuan-pertemuan itu…

*(saat ditemani sebatang Cigarillos dan Kucing Garong winamp)
Posted by si buah terlarang
on 4/16/2009

Selasa, April 14, 2009

Seni Berdiskusi dan Seni Aktualisasi Diri

Selasa sore. Jarum jam menunjuk pukul 3. Saya kembali ke rumah. Perut yang melilit, rumah dalam keadaan kosong, memaksa saya kembali ke kebiasaan lama. Sebuah kebiasaan semasa kuliah. Meremas bungkus mi instan lalu merejang air. Sekejap kemudian, mi siap santap. Istri masih di kantor. Sibuk dengan aktivitas entry data perolehan suara Pemilu Legislatif 2009.
Entah kenapa, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada satu buku lama. Novel itu selalu menggelitik untuk dikeluarkan dari lemari, meski sekadar diintip selembar saja. Judulnya Dunia Sophie. Sebenarnya, buku ini kepunyaan istri. Ada nilai historis sampai buku ini jadi miliknya. Justru, nilai historis itu juga salah satu yang memantik ide di benak saya untuk menulis beberapa paragraf di sini.
Karena hanya berniat mengintip selembar saja, saya membuka sekenanya. Sembari menikmati sesuap demi suap mi instan rasa Coto Makassar yang masih beruap dan cukup pedas. Selain kembali ke kebiasaan lama, perut ini rupanya tetap primordialis soal cita rasa. Tak ke warung Coto, tetap ada Indomie rasa Coto Makassar. Yang penting ‘gak seperti kata Cak Nun (Emha Ainun Najib) soal orang di Sulsel yang (pernah atau masih) meyakini berhaji di puncak Gunung Bawakaraeng sama pahalanya berhaji di Mekah. Kata Cak Nun, mereka ibarat orang ingin makan soto ayam. Tak ada soto ayam, indomi rasa soto ayam pun jadi.
Saat membolak-balik halaman novel itu, jari saya terhenti pada sebuah sub judul. Berhenti di sini juga sekenanya. Gak diniatkan. Seni Berdiskusi. Sub judul ini bagian dari bab yang mengupas tentang sosok Socrates.
Seingat saya, di situ digambarkan bagaimana etika Socrates berdiskusi dengan orang lain. Sang filsuf ini digambarkan si penulis buku sebagai seorang pendengar yang baik. Ia tak pernah mengesankan diri sebagai orang yang paling tahu segalanya. Ia tak suka seperti guru. Ia mendengar dan mendengar. Pada saatnya kemudian berbicara.
Socrates, lahir dari ibu yang berprofesi sebagai bidan. Karenanya, ia selalu bilang, saya ingin seperti bidan. Bukan guru. Bidan adalah orang yang membantu proses kelahiran. Bukan orang yang melahirkan. “Saya adalah bidan untuk membantu melahirkan cara berpikir dan berwawasan secara benar”. Begitu kira-kira keinginan filsuf yang satu ini. Baginya, semuanya harus lahir dari dalam diri orang itu sendiri. Pencerahan bukan sesuatu yang terberi.
Membaca ulasan sub judul yang tak terlalu panjang itu, seni berdiskusi, membuat saya terpikir. Betapa banyak orang yang berdiskusi tanpa seni ala Socrates. Lebih banyak orang yang ingin menonjolkan ide-idenya sendiri. Tanpa sadar, mereka berlagak bagai guru. Tak bisa menjadi bidan.
Hingga, terngiang lagi masa-masa di kampus dulu. Semangkuk mi instant, kebiasaan lama saat kuliah, rasa Coto Makassar lagi, rupanya sangat membantu memanggil kembali penggalan-penggalan memori yang sudah berada di recycle bin otak saya. Di sebuah dini hari, saat itu sedang persiapan menyambut kedatangan mahasiswa baru (Maba) dan hari pertama ospek, kawan saya nyeletuk. Kalau tak salah ingat, dia bilang; momen yang dinantikan tiba, momen aktualisasi diri para senior. Yah, Maba adalah pelatuk dari seni aktualisasi diri para seniornya. Saat di mana semua Maba dijejali kata-kata sulit. Persetan, apa paham mereka soal definisi kata-kata itu. Yang penting, kalimat ini diucapkan salah satu senior saya, ‘asal mereka (Maba, Red) kagum’.
Untuk menjunjung tinggi etika dan aspek hukum komunikasi, dan agar tak menuai gugatan di kemudian hari, saya memilih meng-anonim-kan nama kawan dan senior yang dikutip kata-katanya di tulisan ini. Semoga Allah SWT merahmati dan senantiasa mencurahkan rezeki kepada mereka. Amin.
Soal aktualisasi diri itu, harus diakui, dilakukan dalam beragam modus operandi. Tergantung maqam plus sejauh mana tingkat pengorbanan di atas altar intelektual nan penuh motif tadi. Di titik ini, saya mau menjelaskan soal historis novel Dunia Sophie yang ada di depan saya.
Suatu saat, persis waktunya sudah lupa, istri saya mengakui bahwa buku Dunia Sophie itu pemberian seorang seniornya saat masih Maba. “Kamu harus baca ini, Dek. Ini buku bagus,” ucapnya, meniru kata-kata sang senior.
Ketika buku itu dipinjam seorang kawan, alumni filsafat, Mas Jerry Sarimole, saya wanti-wanti jangan sampai hilang. Punya istri. Begitu tahu cerita di balik buku itu, dia terbahak. “Hahahhah. Lagu lama. Ternyata buku ini punya nilai historis ya!” Mulailah dia cerita tentang beragam modus senior saat menyambut Maba. Perbincangan kami tentu tak jauh-jauh dari seni aktualisasi diri tadi.
Akhirnya, indomie itu nyaris tak bersisa. Pori-pori mengucurkan keringat deras. Reaksi yang timbul dari cita rasa pedas, tentunya. Kututup dunia Sophie Admundsen, tokoh utama di novel tersebut. Novel yang pernah kubeli dan hilang setelah dipinjam teman, karena dipinjam temannya, lalu meminjamkan lagi pada temannya, yang meminjamkan lagi, hingga tak jelas, kisanak yang kini memegang buku itu. Kini, setiap memandang novel itu di lemari, saya selalu tersenyum dan bergumam , “Beruntung kau Dunia Sophie. Andai bukan, kau tak kuizinkan berada di lemari bersanding dengan bukuku yang lain. Tabe’ senior!”

Ditulis saat menjalani piket malam
Posted by si buah terlarang
on 4/14/2009

Puisi Orang Bangun Kesiangan

Jemari merunut untaian tasbih
kala mentari bersiap pamer kepada semua penghuni bumi
tilawah tak kan pernah habis
semuanya bertawaf memuji baju kesombongan-Nya.

Jangan sombong
Ketahuilah,
kau sedang mengambil baju-Nya itu....


Posted by si buah terlarang
on 4/14/2009

Jumat, April 10, 2009

Ketakutanmu

masih terngiang
bisikmu di malam buta
tentang ketakutan
kelebat ajal jika datang menjemput sebelumku
bagimu
kesetiaan adalah sepanjang nafas
yang kau baktikan benar-benar
dari kaki hingga ujung rambut

inginmu
aku mati lebih dulu
dan nisan itu menjadi kunci
ruang hati yang menutup kembali

entah kenapa
kau selalu takut menjemput ajal sebelumku
'aku tenang di sisimu'
bisikmu setiap menjelang tidur

Posted by si buah terlarang
on 4/10/2009

Rabu, April 08, 2009

Catatan Menyambut Pemilu 2009

Matahari esok pagi, katanya, membawa sebuah harapan baru. Bahwa, negeri ini akan lebih baik di semua sendi-sendinya. Esok pagi adalah waktu bagi sebuah prosesi demokrasi. Ia sengaja digelar karena lahir dari sistem yang sudah disepakati bersama warga bangsa ini.
Pemilu Legislatif 2009, bagi sebagian orang menyimpan harapan besar. Bahwa, akan lahir sosok-sosok baru, atau muka lama dengan visi baru, yang menempati kursi-kursi parlemen sebagai pembaharu. Akankah perubahan itu hadir?
Pertanyaan ini tentu saja bernada pesimis. Tapi, bukankah pesimisme tak lahir dengan sendirinya? Bagaimana jika itu lahir dari rahim sosial-politik- ekonomi yang selama ini ibarat benang kusut?
Tak salah jika sebagian orang memilih untuk tidak memilih. Toh, itu juga satu pilihan yang maujud. Bagi orang yang percaya, tentunya. Bahwa partai politik hari ini tak ubahnya mesin-mesin penyedot. Dan caleg-caleg mereka sama halnya vampir pengisap darah.
Begitu gampangnya hak-hak dan kebutuhan mendasar warga dijadikan jargon perjuangan, diusung dan dikibar menyentuh awan. Tapi, ketika tujuan tercapai, segera, kesibukan baru orang-orang berdasi menyita mereka. Segala tindak-tanduk berubah dalam derajad satu lingkaran penuh.
Tadinya dekat dengan rakyat menjadi kian berjarak. Tadinya akrab bersahabat, menjadi berwibawa amat. Tadinya menyeruput kopi di kedai sebuah gang, berubah cappucino di sudut mal. Gengsi dong!
Katanya, berjuang untuk semua golongan. Begitu terpilih, pintu rumah dibuka lebar bagi orang-orang tertentu saja. Janji sejahterakan warga. Nyatanya, cuma kantong sendiri yang diisi penuh. Uang rakyat dijarah tanpa malu. Buat anak istri yang doyan belanja produk-produk luar negeri. Bah, siapa yang mau dikadali sekian kali oleh mereka, orang-orang berdasi itu.
Jika tak percaya. Setelah esok pagi, buktikan lah sendiri. Yang jelas, adalah hak setiap orang, meski tak harus bersepakat, untuk tidak berada di barisan orang-orang yang menagih janji dan merasakan kecewa.
Hari ini, persaksikan lah, bahwa aku tidak berada di barisan itu. Kalau memang harus sendiri, karena tak punya barisan, biar lah ku berjalan sendirian. Tapi, aku yakin, barisan itu ada. Barisan yang tidak ingin menagih janji dan kecewa karena janji. Kami memilih kecewa tanpa harus menagih sebuah janji. Hari ini pula, aku lebih memilih dosa karena melanggar sebuah fatwa MUI bahwa Golput itu haram. Toh, orang-orang itu lebih berdosa jika menyalahi janji-janji yang sudah diumbarnya.
Semoga, negeri ini selalu dirahmati oleh sifat kerahmanan dan kerahiman-Nya. Salam Golput.
Posted by si buah terlarang
on 4/08/2009

Selasa, April 07, 2009

Pesan untuk Anakku

Nak
perkasamu nanti untuk dia
perempuan yang mengeja namamu
seperti aksara kitab langit


Nak
kelelakianmu kelak
bukan kadar sepasang paha
sesungguhnya mata hati


Jika saatnya tiba
hendak kau jadikan ia ladangmu
sebelum menyusur setiap lekuk tubuhnya
sujud dan tersungkurlah dulu, Nak
Posted by si buah terlarang
on 4/07/2009

Kamis, April 02, 2009

Memandikan Anak, Agenda Tambahan sebelum Rapat Pagi

Sudah dua hari ini saya menjalankan sebuah aktivitas baru. Memandikan anak setiap bangun pagi sebelum ngantor dan hadir di rapat redaksi. Aktivitas ini sebenarnya adalah sebuah kompromi atas kondisi yang dihadapi keluarga saya. Namun, saya tetap menjalaninya dengan syukur dan senang hati. Cuma, harus sampai kapan?
Memandikan anak mulai saya lakukan karena istri harus masuk kantor pagi-pagi. Sementara, anak saya belum bangun. Apalagi saya, tentunya. Yah, mau tak mau kerjaan baru ini harus dilakoni. Hitung-hitung, membuat saya bisa menikmati celoteh anak saat mandi pagi. Hal yang jarang saya temui sebelumnya karena itu memang kerjaan istri.
Di hari pertamanya bekerja sebagai CPNS di KPU Kutai Kartanegara (Kukar), istri saya sempat memandikan anak sebelum masuk kantor. Kebetulan, anaknya bangun lebih awal. Seolah tahu, ibunya harus menjalani hari dengan kesibukan baru. Jadi, begitu selesai mandi, saya tinggal mengantar anak untuk dititipkan kepada seseorang yang sudah seperti keluarga. Beruntung, dia mau. Setelah itu, menuju kantor.
Disini lah letak masalah yang belum terpecahkan. Sampai kapan saya menitipkan anak di tempat sekarang? Jawabannya memang tidak mungkin selamanya. Sejumlah rencana sudah melompat-lompat di benak saya. Mudah-mudahan, salah satunya akan menjadi solusi yang paling baik.
Ada rencana menitipkan anak di play grup atau lembaga PAUD. Sebenarnya banyak sisi positifnya. Potensi anak bisa lebih terarah dan terasah. Hanya saja, terbentur pada persoalan waktu yang terbatas. Biasanya, anak bisa dititip tak sampai sehari. Sementara, jam kerja saya bisa dikata lebih dari pegawai kantoran biasa.
Semua orang bisa maklum soal jam kerja profesi wartawan. Saya memang kadang tak bisa memperkirakan waktu rehat. Apalagi untuk kembali ke rumah buat anak. Pagi rapat redaksi, lalu meliput. Sore, pukul 4 sudah harus ngantor untuk mengedit halamanku lalu menulis berita hasil liputan. Malamnya, saya harus menunggu semua halaman Koran masuk ke percetakan. Maklum, di kantor saya dipanggil ketua kelas. Katanya, saya ini Koordinator Liputan. Sekali lagi, katanya. Untungnya, salary memang membuktikan kebenarannya.
Jam kerja istri juga sekarang tak bisa diperkirakan. Meski dia CPNS. Pasalnya, sekarang adalah waktu-waktu paling sibuk di kantornya. KPU sedang mempersiapkan pesta demokrasi, Pemilihan Legsilatif 2009. Pulangnya sore sekali. Bahkan, bisa-bisa lembur nantinya.
Ke kantor pun, dia memakai jasa ojek yang disepakati dibayar perbulan. Itu karena tak mungkin mengharapkan saya untuk mengantarnya. Maklum, waktu tidur yang amburadul merubah saya menjadi orang yang paling susah bangun pagi di seantero dunia.
Rencana lain menghadapi kondisi ini adalah memakai jasa baby sitter. Tapi, ini juga masih jadi pertimbangan. Selain sulit mencari orang, adaptasi anak, masih banyak pertimbangan-pertimbangan soal pilihan ini.
Sampai akhirnya, di tengah kebingungan, saya pun minta bantuan Ibu untuk mencari sanak famili yang mau ke Kalimantan dan menjaga anak saya. Mudah-mudahan, ini bisa direalisasikan. Setidaknya, anak tetap berada di rumah. Jika senggang atau liputan kelar, tinggal menengoknya. Cuma, rasa-rasanya ini tak mungkin bisa segera direalisasikan, walau pun ada sanak famili yang rela jauh-jauh ke pulau Borneo. Untuk yang satu ini, saya tak bisa menjelaskan pasal penyebabnya.
Yang jelas, memandikan anak setiap pagi, butuh solusi. Karena, meski ikhlas dan senang hati memandikan anak lalu menitipkannya, toh tetap menyisakan masalah. Saya jadi terlambat datang rapat pagi. Hal yang tak terpuji tentunya. Semoga, solusi segera menghampiri.
Posted by si buah terlarang
on 4/02/2009

Pernikahan Siri Bisa Diresmikan, Asal.....

PRAKTEK nikah siri di masyarakat merupakan fenomena yang tak bisa dipungkiri. Banyak kaum pria melakukannya dengan beragam alasan. Padahal, nikah siri dan pernikahan yang tidak tercatat secara sah menurut hukm positif, punya dampak yang merugikan di kemudian hari. Utamanya bagi kaum perempuan dan anak-anak yang dilahirkan dari jenis pernikahan tersebut.
“Ini memang fenomena yang jamak terjadi. Jika begitu, apakah kita akan menutup mata? Rasanya tidak mungkin “ ujar Ketua Pengadilan Agama (PA) Tenggarong, Marzuki Rauf SH MH, didampingi Humas Syamsuri, baru-baru ini.
Menurut Marzuki, dampak pernikahan siri dan nikah yang tidak tercatat terhadap kaum perempuan dan anak dari hasil pernikahan jenis ini akan terasa dalam hal yang menyangkut hak-hak keperdataan dan perlindungan hukum, misalnya nafkah, harta bersama, warisan dan lain-lain.
Suatu perkawinan yang tidak diakui oleh hukum positif, tambahnya, secara otomatis tidak dapat perlindungan hukum. Jika suami meninggal, istri dan anak hasil dari nikah siri itu bisa saja terlantar. “Atau jika si suami menelantarkan istri atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atas dasar apa si istri meminta perlindungan hukum. Kalau sudah begini, siapa yang akan disalahkan?” tukasnya.
Selain itu, dampak lainnya adalah sulit bagi anak-anak hasil pernikahan siri untuk mendapatkan pengakuan dan memperoleh hak-haknya di mata hukum. Contohnya, anak harus mendapatkan akta kelahiran. “Akta ini penting sekali di jaman sekarang. Mau masuk SD saja, akta kelahiran biasanya menjadi salah satu syarat penting,” ujarnya.
Karena tak bisa menutup mata itu lah, PA sebagai peradilan yang mempunyai kewenangan dalam penetapan pernikahan yang sah (Itsbat Nikah) memungkinkan untuk melaksanakan sidang Itsbat Nikah “Tapi, sebenarnya, kita ingin agar masyarakat tidak mempraktikkan nikah siri itu. Terlebih kaum perempuan agar lebih mempertimbangkan. Karena konsekuensinya di belakang hari cukup berat bagi mereka, “ timpal Syamsuri.
Meski dimungkinkan permohonan itsbat nikah, bukan perkara mudah bagi PA. untuk memeriksa dan mengadilinya. Berdasarkan KMA/032/SK/IV/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan telah diatur soal itsbat nikah ini. “Perkawinan yang tidak tercatat oleh PPN banyak berindikasikan penyelundupan hukum. Misalnya mempermudah poligami tanpa proses hukum atau untuk memperoleh hak waris atsu hak-hak lain atas kebendaan. Karena itu, pengadilan agama harus berhati-hati dalam memeriksa dan memutus sebuah permohonan penetapan sahnya nikah,“ tukasnya.
Salah satu langkah yang diberlakukan saat ini adalah dengan diadakannya masa sanggah. Caranya, setiap permohonan itsbat nikah itu diumumkan terbuka kepada publik melalui media cetak atau elektronik sebanyak 3 kali dalam masa 3 bulan. “Ini adalah ketentuan baru sesuai keputusan MA tadi,” paparnya.
Tujuannya, pihak-pihak yang keberatan dengan itsbat nikah tersebut bisa menyampaikan ke PA dimana permohonan itsbat nikah diajukan. “Misalnya, ada perempuan yang mengaku sebagai istri sah secara hukum dari pria yang bermohon itsbat nikah, dia akan diposisikan sebagai pihak dalam perkara,” tukasnya.
Setelah diumumkan sebanyak 3 kali dalam masa 3 bulan itu, Pengadilan akan memeriksa perkara. “Jika terbukti di persidangan misalnya, sang pria benar memiliki istri yang sah berdasarkan UU No l Tahun 1974 tentang perkawinan, maka Majelis Hakim kemungkinan menolak permohonan Itsbat Nikah itu, “ jelasnya.
Mekanisme ini diharapkan mengeliminir peluang para pemohon untuk melakukan kebohongan. Bagaimana langkah hukum selanjutnya jika permohonan itsbat Nikah itu ditolak karena seorang pria terbukti memiliki istri yang sah? “Upaya hukum adalah banding atau Kasasi. Jika sifat perkara itu permohonan (Voluntoir) yang produk akhirnya berupa penetapan (beschikking), maka upaya hukumnya adalah Kasasi. Dan jika sifat perkara berubah karena adanya sengketa (Kontentiosa) yang produk akhirnya berupa putusan (vonis), maka upaya hukum adalah Banding, “katanya.
Marzuki menjelaskan, sifat perkara sengketa terjadi ketika ada pihak yang berkeberatan dengan permohonan penetapan. “Misalnya kasus si perempuan yang mengaku sebagai istri sah. Dia harus dilibatkan dalam perkara. Di sini ada dua cara. Pertama, si perempuan harus aktif sebagai pihak yang mengintervensi atau menjadi penggugat. Atau, majelis memerintahkan si suami yang bermohon menarik perempuan tadi untuk dilibatkan dalam perkara. Kalau pria yang mengajukan itsbat nikah menolak melibatkannya, sementara perempuan tadi juga tidak aktif, maka sifat kasusnya masih voluntoir,” katanya.
Namun, PA sendiri bakal selektif memberlakukan soal masa sanggah. “Utamanya bagi pernikahan-pernikahan di bawah tahun 1970-an sebelum undang-undang perkawinan keluar. Misalnya orang-orang tua, para veteran. Biasanya karena persoalan administrasi saja hingga pernikahan mereka tidak tercatat,” katanya.
Posted by si buah terlarang
on 4/02/2009