Kamis, April 02, 2009

Memandikan Anak, Agenda Tambahan sebelum Rapat Pagi

Sudah dua hari ini saya menjalankan sebuah aktivitas baru. Memandikan anak setiap bangun pagi sebelum ngantor dan hadir di rapat redaksi. Aktivitas ini sebenarnya adalah sebuah kompromi atas kondisi yang dihadapi keluarga saya. Namun, saya tetap menjalaninya dengan syukur dan senang hati. Cuma, harus sampai kapan?
Memandikan anak mulai saya lakukan karena istri harus masuk kantor pagi-pagi. Sementara, anak saya belum bangun. Apalagi saya, tentunya. Yah, mau tak mau kerjaan baru ini harus dilakoni. Hitung-hitung, membuat saya bisa menikmati celoteh anak saat mandi pagi. Hal yang jarang saya temui sebelumnya karena itu memang kerjaan istri.
Di hari pertamanya bekerja sebagai CPNS di KPU Kutai Kartanegara (Kukar), istri saya sempat memandikan anak sebelum masuk kantor. Kebetulan, anaknya bangun lebih awal. Seolah tahu, ibunya harus menjalani hari dengan kesibukan baru. Jadi, begitu selesai mandi, saya tinggal mengantar anak untuk dititipkan kepada seseorang yang sudah seperti keluarga. Beruntung, dia mau. Setelah itu, menuju kantor.
Disini lah letak masalah yang belum terpecahkan. Sampai kapan saya menitipkan anak di tempat sekarang? Jawabannya memang tidak mungkin selamanya. Sejumlah rencana sudah melompat-lompat di benak saya. Mudah-mudahan, salah satunya akan menjadi solusi yang paling baik.
Ada rencana menitipkan anak di play grup atau lembaga PAUD. Sebenarnya banyak sisi positifnya. Potensi anak bisa lebih terarah dan terasah. Hanya saja, terbentur pada persoalan waktu yang terbatas. Biasanya, anak bisa dititip tak sampai sehari. Sementara, jam kerja saya bisa dikata lebih dari pegawai kantoran biasa.
Semua orang bisa maklum soal jam kerja profesi wartawan. Saya memang kadang tak bisa memperkirakan waktu rehat. Apalagi untuk kembali ke rumah buat anak. Pagi rapat redaksi, lalu meliput. Sore, pukul 4 sudah harus ngantor untuk mengedit halamanku lalu menulis berita hasil liputan. Malamnya, saya harus menunggu semua halaman Koran masuk ke percetakan. Maklum, di kantor saya dipanggil ketua kelas. Katanya, saya ini Koordinator Liputan. Sekali lagi, katanya. Untungnya, salary memang membuktikan kebenarannya.
Jam kerja istri juga sekarang tak bisa diperkirakan. Meski dia CPNS. Pasalnya, sekarang adalah waktu-waktu paling sibuk di kantornya. KPU sedang mempersiapkan pesta demokrasi, Pemilihan Legsilatif 2009. Pulangnya sore sekali. Bahkan, bisa-bisa lembur nantinya.
Ke kantor pun, dia memakai jasa ojek yang disepakati dibayar perbulan. Itu karena tak mungkin mengharapkan saya untuk mengantarnya. Maklum, waktu tidur yang amburadul merubah saya menjadi orang yang paling susah bangun pagi di seantero dunia.
Rencana lain menghadapi kondisi ini adalah memakai jasa baby sitter. Tapi, ini juga masih jadi pertimbangan. Selain sulit mencari orang, adaptasi anak, masih banyak pertimbangan-pertimbangan soal pilihan ini.
Sampai akhirnya, di tengah kebingungan, saya pun minta bantuan Ibu untuk mencari sanak famili yang mau ke Kalimantan dan menjaga anak saya. Mudah-mudahan, ini bisa direalisasikan. Setidaknya, anak tetap berada di rumah. Jika senggang atau liputan kelar, tinggal menengoknya. Cuma, rasa-rasanya ini tak mungkin bisa segera direalisasikan, walau pun ada sanak famili yang rela jauh-jauh ke pulau Borneo. Untuk yang satu ini, saya tak bisa menjelaskan pasal penyebabnya.
Yang jelas, memandikan anak setiap pagi, butuh solusi. Karena, meski ikhlas dan senang hati memandikan anak lalu menitipkannya, toh tetap menyisakan masalah. Saya jadi terlambat datang rapat pagi. Hal yang tak terpuji tentunya. Semoga, solusi segera menghampiri.

0 komentar:

Posting Komentar