Kamis, Januari 01, 2009

Ayah, belikan aku terompet!

MAKNA tahun baru bagiku, entah kenapa, tak pernah begitu istimewa. Seakan ada yang menahan dan mengajak segala rasa untuk bertahan di sini dan sekarang. Sebab, ada yang tak pasti di ‘depan’ sana. Sesuatu yang gaib, yang lepas dari jangkauan rasio, akal budi, dan semua matra insaniah yang bisa mengecapnya.
Karena itu, aku tak pernah sepenuhnya terpana dengan warna-warni percik kembang api. Apa lagi tergugah dengan suara terompet tahun baru. Malah, aku tak senang dengan kebisingan yang ditimbulkannya.
Aku berpikir. Di ‘sana’, ada sesuatu yang tak jelas bentuk dan warnanya, tapi pasti terjadi. Namun, waktu harus berjalan. Gerak harus terjadi. Bukankah, ‘gerak’ adalah sunnatullah yang terjadi di setiap tingkatan kosmos.


Bukankah sang Khalik, yang maha suci dari rasa kantuk dan tak pernah tidur itu, senantiasa memperbaharui setiap eksistensi, sekecil dan selemah apa pun dia. Hingga semuanya bisa melakukan ‘gerak’ yang titik akhir dan muaranya adalah kesempurnaan.
Karena itu, Dia mengajarkan, melalui sang Perintis Jalan Cinta, Rasulullah SAW, tentang ayat, yang salah satunya mengajarkan optimisme dalam sikap hidup. Akhirnya, aku terdiam dan merenungi gerak waktu ini. Di tengah hirup pikuk dan keramaian kota yang aku lewati, di sana-sini ada dentuman musik, terompet yang berteriak congkak, sebuah suara halus tiba-tiba menyergap lamunanku, “ayah, belikan aku terompet!”
Aku terkesiap mendengarnya. Makna tahun baru 2009 seakan terasa berwujud nyata di hadapanku, kala itu. Berbentuk seorang bocah berusia tiga tahun dengan segenap kenakalan dan kemanjaan pada dirinya. Yah, dia putra pertamaku. Maulana Wahid Ramadan.
Ah, aku lupa, tahun ini dia semakin bisa, dan terus berusaha menafsir hidup dengan paradigma dan dunia berpikirnya sendiri. Ternyata, aku lah yang selalu tak menyisakan ruang untuk sekadar tahu, bagaimana dia kini menafsir realitas. Gembirakah dia? Seperti di malam tahun baru itu, ia minta dibelikan terompet. Ia begitu senang dengan keramaian.

Sebab, karena kesibukanku yang terengah-engah mengalahkan rutinitas, dia lebih banyak di dalam rumah bersama ibunya. Kerja jurnalistik ini cukup menyita kebersamaanku dengan mereka. Suaranya yang begitu lirih itu, menyadarkanku satu hal. Bahwa tahun baru 2009, punya makna besar. Bahwa anakku sudah bisa meniup terompet yang dimintanya itu dengan suara yang tak kalah bisingnya dengan anak-anak lain. Dia gembira. Tugasku, sebagai ayahnya, menjaga kegembiraannya itu, kalau bisa tak hanya di malam tahun baru. Persetan, apa pun yang menanti di depan sana. Sebab, aku bukan penyembah setan. Aku yakin Al-Haqq akan beserta orang-orang yang menganggap kerja keras adalah ibadah tanpa melupakan ibadah kepada-Nya…Kepada-Mu kami menyembah…kepada-Mu kamu meminta pertolongan (Al-Fatihah). Tidak bisa dibalik!!!!

0 komentar:

Posting Komentar