Matahari esok pagi, katanya, membawa sebuah harapan baru. Bahwa, negeri ini akan lebih baik di semua sendi-sendinya. Esok pagi adalah waktu bagi sebuah prosesi demokrasi. Ia sengaja digelar karena lahir dari sistem yang sudah disepakati bersama warga bangsa ini.
Pemilu Legislatif 2009, bagi sebagian orang menyimpan harapan besar. Bahwa, akan lahir sosok-sosok baru, atau muka lama dengan visi baru, yang menempati kursi-kursi parlemen sebagai pembaharu. Akankah perubahan itu hadir?
Pertanyaan ini tentu saja bernada pesimis. Tapi, bukankah pesimisme tak lahir dengan sendirinya? Bagaimana jika itu lahir dari rahim sosial-politik- ekonomi yang selama ini ibarat benang kusut?
Tak salah jika sebagian orang memilih untuk tidak memilih. Toh, itu juga satu pilihan yang maujud. Bagi orang yang percaya, tentunya. Bahwa partai politik hari ini tak ubahnya mesin-mesin penyedot. Dan caleg-caleg mereka sama halnya vampir pengisap darah.
Begitu gampangnya hak-hak dan kebutuhan mendasar warga dijadikan jargon perjuangan, diusung dan dikibar menyentuh awan. Tapi, ketika tujuan tercapai, segera, kesibukan baru orang-orang berdasi menyita mereka. Segala tindak-tanduk berubah dalam derajad satu lingkaran penuh.
Tadinya dekat dengan rakyat menjadi kian berjarak. Tadinya akrab bersahabat, menjadi berwibawa amat. Tadinya menyeruput kopi di kedai sebuah gang, berubah cappucino di sudut mal. Gengsi dong!
Katanya, berjuang untuk semua golongan. Begitu terpilih, pintu rumah dibuka lebar bagi orang-orang tertentu saja. Janji sejahterakan warga. Nyatanya, cuma kantong sendiri yang diisi penuh. Uang rakyat dijarah tanpa malu. Buat anak istri yang doyan belanja produk-produk luar negeri. Bah, siapa yang mau dikadali sekian kali oleh mereka, orang-orang berdasi itu.
Jika tak percaya. Setelah esok pagi, buktikan lah sendiri. Yang jelas, adalah hak setiap orang, meski tak harus bersepakat, untuk tidak berada di barisan orang-orang yang menagih janji dan merasakan kecewa.
Hari ini, persaksikan lah, bahwa aku tidak berada di barisan itu. Kalau memang harus sendiri, karena tak punya barisan, biar lah ku berjalan sendirian. Tapi, aku yakin, barisan itu ada. Barisan yang tidak ingin menagih janji dan kecewa karena janji. Kami memilih kecewa tanpa harus menagih sebuah janji. Hari ini pula, aku lebih memilih dosa karena melanggar sebuah fatwa MUI bahwa Golput itu haram. Toh, orang-orang itu lebih berdosa jika menyalahi janji-janji yang sudah diumbarnya.
Semoga, negeri ini selalu dirahmati oleh sifat kerahmanan dan kerahiman-Nya. Salam Golput.
Pemilu Legislatif 2009, bagi sebagian orang menyimpan harapan besar. Bahwa, akan lahir sosok-sosok baru, atau muka lama dengan visi baru, yang menempati kursi-kursi parlemen sebagai pembaharu. Akankah perubahan itu hadir?
Pertanyaan ini tentu saja bernada pesimis. Tapi, bukankah pesimisme tak lahir dengan sendirinya? Bagaimana jika itu lahir dari rahim sosial-politik- ekonomi yang selama ini ibarat benang kusut?
Tak salah jika sebagian orang memilih untuk tidak memilih. Toh, itu juga satu pilihan yang maujud. Bagi orang yang percaya, tentunya. Bahwa partai politik hari ini tak ubahnya mesin-mesin penyedot. Dan caleg-caleg mereka sama halnya vampir pengisap darah.
Begitu gampangnya hak-hak dan kebutuhan mendasar warga dijadikan jargon perjuangan, diusung dan dikibar menyentuh awan. Tapi, ketika tujuan tercapai, segera, kesibukan baru orang-orang berdasi menyita mereka. Segala tindak-tanduk berubah dalam derajad satu lingkaran penuh.
Tadinya dekat dengan rakyat menjadi kian berjarak. Tadinya akrab bersahabat, menjadi berwibawa amat. Tadinya menyeruput kopi di kedai sebuah gang, berubah cappucino di sudut mal. Gengsi dong!
Katanya, berjuang untuk semua golongan. Begitu terpilih, pintu rumah dibuka lebar bagi orang-orang tertentu saja. Janji sejahterakan warga. Nyatanya, cuma kantong sendiri yang diisi penuh. Uang rakyat dijarah tanpa malu. Buat anak istri yang doyan belanja produk-produk luar negeri. Bah, siapa yang mau dikadali sekian kali oleh mereka, orang-orang berdasi itu.
Jika tak percaya. Setelah esok pagi, buktikan lah sendiri. Yang jelas, adalah hak setiap orang, meski tak harus bersepakat, untuk tidak berada di barisan orang-orang yang menagih janji dan merasakan kecewa.
Hari ini, persaksikan lah, bahwa aku tidak berada di barisan itu. Kalau memang harus sendiri, karena tak punya barisan, biar lah ku berjalan sendirian. Tapi, aku yakin, barisan itu ada. Barisan yang tidak ingin menagih janji dan kecewa karena janji. Kami memilih kecewa tanpa harus menagih sebuah janji. Hari ini pula, aku lebih memilih dosa karena melanggar sebuah fatwa MUI bahwa Golput itu haram. Toh, orang-orang itu lebih berdosa jika menyalahi janji-janji yang sudah diumbarnya.
Semoga, negeri ini selalu dirahmati oleh sifat kerahmanan dan kerahiman-Nya. Salam Golput.

0 komentar:
Posting Komentar