Selasa, November 03, 2009

hikayat bulan yang tak lagi purnama

tentang perang
yang hadir di bibir ranjang
berdesing-desing

di luar ngiau kucing
seperti berebut tulang
menabrak kaleng-kaleng rombeng

pada selimut dan tirai
ada luka cakar
hingga malam tak lagi bisa berkelakar

hei, angin mengintip kita di jendela
dan embun serupa matamu yang berkaca-kaca
kau membenci rembulan, bukan
percayakah kau tak lagi ia purnama:
di hatiku.

Tenggarong, 2009

0 komentar:

Posting Komentar