Kamis, September 02, 2010

MASALAH dan masalah (huruf kecil)

Beberapa menit sebelum mem-posting tulisan ini, saya menerima pesan lewat fasilitas chatting di facebook. Seorang perempuan muda yang tidak saya kenal secara personal, menyapa. Seperti biasa, ketika disapa oleh teman facebook yang tidak saya kenal secara pribadi, hal yang saya lakukan pertama kali adalah mengintip informasi pribadi orang itu.
Pertama, saya ingin meraba-raba kalau akun facebook-nya bukan anonim. Informasi tentang identitas tentu penting untuk mengetahui, meski hanya sedikit, siapa orang yang mengajak chatting. jenis kelamin, tempat tinggal, status, usia, tentu akan sangat menentukan konteks komunikasi. begitu teori dalam komunikasi antarpribadi.
Begitu juga yang saya lakukan pada perempuan itu. Pada mulanya kami sebatas basa-basi saja. setelah komunikasi kami menemukan efek diadik, dia mulai bercerita kalau dia sedang punya masalah pribadi. Masalahnya cukup rumit untuk perempuan seusianya. Patah hati. hehehheh. hampir semua orang normal pernah mengalaminya.
tanpa butuh waktu lama, saya segera menemukan sebuah kontradiksi dalam diri perempuan muda ini. Ia mengaku patah hati. Lucunya, ketika ia mengaku patah hati, perempuan ini masih memasang foto profil dirinya dengan sang pacar saling berpelukan. mesra sekali malah.
Jadi, saya langsung saja mencecar dia. "Kamu patah hati karena pria di foto profil itu?" dia jawab, iya. Saya tertawa. Eh, dia protes. "kok diketawain sih!" Saya bilang, "kalau dilihat dari foto profilmu, kamu justru tidak sedang patah hati". Perempuan ini ngotot sampai bersumpah segala.
Menurutnya, karena masalah ini ia tidak bisa tidur hingga selarut itu. Saya ketawa lagi. "Hidup=Masalah," kata saya. Karena itu, Tak Ada Masalah=Tidak Hidup alias MATI. Kemudian saya mencecarnya lagi. "Mau tahu bagaimana mengatasi masalahmu dengan segera?" ia sepertinya tertarik.
Saya bilang padanya. Jika saya adalah kamu, hal pertama kali yang saya lakukan ketika patah hati karena lelaki itu adalah mengeluarkannya dari foto profil facebook. Yah, ganti foto itu. Saya benar-benar memprovokasinya. "Buktikan segera kalau lu bukan lagi apa-apanya dia dan dia bukan siapa-siapa yang bisa nyakitin lu!! sesekali saya pake logat betawian. biar ada proximity (kedekatan), menurut teori komunikasi yang saya pelajari di bangku kuliah dulu.
Memang, informasi pribadinya menyebutkan lawan bicara saya kali ini dari Jakarta. Logat chattingnya juga kental anak ibu kota. "Hayo, ganti sekarang. Jangan pake lama!" Saya terus mencecarnya. Perempuan muda itu langsung nurut. "Iya. saya akan ganti foto saya sendiri," katanya. lima menit kemudian, foto profil di facebook-nya sudah berganti. Bagi saya, dengan menyingkirkan foto pacarnya, dia sudah menyelesaikan, paling tidak, mulai membereskan apa yang dia sebut MASALAH.
Setelah chatting singkat yang tak disengaja itu, saya tersadar. Bahwa, dari situ saya mendapat sebuah perspektif baru dalam memandang apa yang bagi saya, atau mungkin semua orang menyebutnya; MASALAH. Bahwa masalah terkadang benar-benar menjadi MASALAH karena kita sendiri menghadirkan sebuah kontradiksi dalam diri sendiri tanpa pernah menyadarinya. Dengan menyadari dan segera menyingkirkan kontradiksi itu, MASALAH mungkin segera menjadi masalah atau tidak menjadi apa-apa lagi bagi kita. Wallahu alam.
Posted by si buah terlarang
on 9/02/2010