Kamis, Januari 22, 2009

Menulis dengan Eufimistis

Alkisah, di sebuah negeri, seorang penguasa bertahta. Ia bak raja di jaman dulu meski kekuasaannya adalah produk konstitusi modern. Tak heran, media massa yang hidup dari ‘kemurahan’ dan ‘kedermawanan’nya, menjuluki dia, Sang Kaisar.
Kekuasaannya nyaris mutlak seperti praktik monarki absolut. Titahnya dijunjung tinggi. Perkataannya nyaris tanpa cela di mata ‘rakyat’. Itu karena, perilakunya yang dermawan. Setiap yang datang, tak akan pulang dengan kantong kosong.


Uang, entah dari mana asalnya, begitu mudah mengalir begitu saja. Karena hidup dalam konstitusi modern, banyak aturan yang dilabrak begitu saja. Tapi, karena bak raja, semuanya bungkam seribu bahasa.
Aparat hukum seolah tak punya taji dan taring di hadapan penguasa yang satu ini. Lawan politiknya mengkritik tapi tak vulgar. Para aktivis yang vokal dirangkul hingga akhirnya terbuai hangat di ketiaknya. Maka, ia meredam kritik. Nyaris tanpa represi. Sangat persuasif, tangguh dalam menjinakkan.
Aku ingat kata Gramsci soal wajah ganda kekuasaan. Atau Althusser dengan ideological state apparatus dan represif state apparatus-nya. Intinya, kekuasaan tak hanya tampil dengan wajah beringas dalam mencapai tujuannya. Ia bisa mulus dengan modus membujuk, infiltrasi nilai, atau apa saja. Hasilnya, obyek kekuasaan manut. Ada kepatuhan yang muncul karena kekuatan persuasif itu.
******
Kini, penguasa itu telah jatuh dari tahtanya. Bahkan, ia harus menuai buah dari praktik yang disemainya. Ia dijerat pasal tindak pidana korupsi. Berlapis pula kasus yang menjeratnya. Dihukum jauh dari tanah kelahirannya, pidana kurungan lebih dari lima tahun.
Karir politiknya sudah berakhir. Tapi, kharismanya ternyata masih belum pudar. Sebab, tak terhitung banyaknya orang yang merasa berhutang budi. Karena itu tadi. Kedermawanan dan kemurahan hatinya dalam menghambur-hamburkan duit.
Sepeninggal si penguasa ini, negerinya jadi tak stabil. Dia ibarat membangun sebuah gunung es. Ketika ia tak lagi hadir untuk merawat suhu dan temperatur, seketika gunung es itu mencair. Lelehannya menjadi rebutan banyak predator yang sejak lama kehausan. Uniknya, konflik yang terjadi seperti perang dingin. Mugkin saja karena memperebutkan lelehan es.
Tak hanya itu. Lelehannya ikut makan korban. Produk kebijakannya yang dulu melabrak konstitusi membuat orang-orang di sekitarnya, bawahannya, juga jadi korban. Sayang, ada yang benar-benar menjadi korban dalam pengertian yang sebenar-benarnya korban.
******
Aku menyaksikan jelas serpihan cerita itu hari ini. Tepatnya dalam sebuah sidang korupsi. Seorang staf biasa menjadi terdakwa dalam kasus dengan kerugian Negara Rp10 milyar lebih. Ia didakwa menikmati uang negara senilai Rp150 juta. Sisanya dibawa kontraktor yang kini kabur ke luar negeri.
Memang, proyek ini, secara kasat mata, menyalahi aturan. Seharusnya proyek itu dilelang tapi dilakukan penunjukan langsung (PL). Itu kebijakan sang penguasa. Dalam bentuk disposisi setuju. Saksi di persidangan, mantan Sekretaris Daerah saat proyek ini dilelang mengatakan, “PL memang sudah jadi style kepemimpinan (penguasa) kala itu. Tak ada yang bisa mengingatkannya, bahkan menegurnya.” Benar bukan? Kalau dia seorang raja.
*******
Aku sedang dilema kawan! Sebagai wartawan, aku kini hidup dalam bagian dari gunung es yang belum sepenuhnya mencair itu. Dia memaksa aku untuk menulis eufimistis. Jika melanggar, diedit….eh ….disensor pastinya!
Posted by si buah terlarang
on 1/22/2009

Kamis, Januari 15, 2009

Sentuhan Kecundang, Demam Lagu Malaysia

Sudah beberapa malam ini, suasana ruang redaksi dihinggapi "penyakit" demam. Demamnya aneh. Entah mahluk apa yang pertama kali membawa virus ini dan menancapkan kukunya. Hingga, terjadilah demam....lagu Malaysia.
Yang aku ingat, semuanya bermula dari sebuah komentar seorang pujangga muda Kaltim, Nala Arung, di-Facebook kawanku si korektor bahasa, Mas Jerry Sarimole. Soalnya, orang yang disebut belakangan ini menulis statusnya....'Sentuhan Kecundang'. Ini mungkin virus yang membawa demam yang menerpa ruang redaksi belakangan ini.

Mas Nala Arung, mengomentari "Sentuhan Kecundang" yang memang merupakan salah satu judul lagu Malaysia. Katanya, ini salah satu lagu Malaysia yang paling berpengaruh di era '90-an. Bagi generasi di masa-masa itu, pasti akan merindukan lagu ini jika diperdengarkan kembali. Dia bahkan mengusulkan dibentuk grup band, khusus untuk menyanyikan lagu ini. Syairnya , 'putus tak bisa disambung, kusut tak berurai, hilang tak bisa disentuh, patah kekeringan. Cinta terlarang bagai terbuang, hilang dalam rimba gelap dan penuh duriiiiiiii..
Bagiku, lagu ini memang sangat mendayu-dayu. Kenangan-kenangan indah yang sudah terkubur di sudut memori otak yang paling sublim pun, bahkan yang sudah di-ctrl delete sekali pun, seketika bisa di-recycle bin untuk ditampilkan kembali di monitor angan-angan.
Sejak itulah, "Sentuhan Kecundang" punya Ekamarta ini selalu mengawali Malaysian Song Night di ruang redaksi disusul deretan lagu-lagu lain yang membawa kami kembali ke era 90-an ke atas. Entah kapan 'demam' tersebut sembuh. Yang pasti tak ada obatnya. Mungkin akan sembuh sendirinya seiring waktu yang terus berjalan. Sejauh ini, semua awak redaksi menikmati 'demam' ini tanpa ada yang bertanya, apa obat penawarnya. Apalagi bertanya, sejak kapan mereka mengidapnya…
Posted by si buah terlarang
on 1/15/2009

bete...bete...Ah!

aku bukan orang yang suka berprasangka terhadap orang lain. Tapi, akhir-akhir ini ada keanehan di lingkungan kerjaku. Di kantor, ada indikasi kalau tulisanku tak lagi diakomodir di halam tertentu. Mungkin tulisanku kali ya kurang berbobot?
Tapi, kalau udah ditulis, mungkin bisa keliatan bobotnya. Bagaimana kalau itu gak pernah mau diakomodir. Jadinya kan aku gak nulis. Pertanyaanya kenapa ya? padahal dari segi isu gak terlalu bisa dibilang biasa. Ah, malas jadinya. Tapi itu tadi. aku bukan orang yang suka berprasangka. Aku ingin melihat sejauh mana kondisi ini berlangsung sehingga nantinya 'keadaan' itu sendiri yang 'berbicara' tentang apa sebenarnya terjadi.
Yang penting, hidupku harus enjoy. Hati selalu diisi energi positif. Itu bisa jadi kekuatan besar yang bahkan bisa menghentikan tsunami apa pun...he... heh...yang namanya tsunami ya tsunami. Maklum lagi lelah dan.. bete...bete...ah!
Posted by si buah terlarang
on 1/15/2009

Rabu, Januari 14, 2009

Dasar Gaptek!

Aku sedang berusaha belajar menyingkat postinganku. Beberapa hari ini, di sela-sela acara begadangku menunggui semua kloter halaman di-print, aku menjelajahi tips-tips menyingkat postingan blog. tapi...
Entah kenapa, usahaku selalu gagal. Bukannya readmore-nya terinstal. malah postinganku awut-awutan. Ah, memang aku yang gaptek sampai tips-tips itu gak ada yang bisa aku pratikkan secara sempurna. Padahal, menyingkat posting itu penting biar tampilan blog jadi terlihat rapi. ada ya yang bisa bantu??? Please deh.
Posted by si buah terlarang
on 1/14/2009

Selasa, Januari 13, 2009

Saling Tuding di Sidang Korupsi

Hari ini aku menyaksikan sebuah sidang kasus korupsi yang berjalan sangat seru. Nilai kerugian negara dalam kasus ini fantastis. Rp 19,3 miliar. Ada dua terdakwa dalam kasus ini. Yang pertama, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kutai Kartanegara, HM Hardi. Satunya lagi, bendahara khusus penerima, Muh Noor.
Dalam sidang itu, Hardi jadi terdakwa. Sementara, si Muh Noor jadi saksinya. Dalam istilah ilmu hukum, terdakwa yang juga menjadi saksi bagi terdakwa dalam kasus yang sama disebut saksi mahkota.
Muh Noor dalam kesaksiannya benar-benar mengubah alur persidangan sebelumnya. Ia menyatakan dengan yakinnya, kalau cek yang dicairkan sebanyak 14 buah senilai Rp19,3 M itu atas perintah atasannya. Uang sebanyak itu, katanya, semuanya diserahkan langsung pada atasannya, Hardi.
Uniknya, aku Noor, uang sebanyak itu diserahkan di dalam mobil di halaman kantor BPKD. Dari mobilnya, ia memasukkan uang sebanyak itu ke mobil Hardi. Konon, mereka cuma berdua tanpa ada saksi satu pun.
Kesaksiannya ia ungkapkan tanpa tedeng aling-aling. Semuanya dibeberkan tanpa ada kesan untuk menyembunyikan apa pun. Hal ini dibantah mentah-mentah oleh sang atasan. Dapat dibayangkan bagaimana jalannya sidang itu. Sama-sama menuding satu sama lain yang berbohong. Sampai bawa-bawa nama Tuhan segala.
Entah, siapa yang benar. Sebab, kata Hardi, 11 cek tidak pernah ditandatanganinya. Sementara, si bendahara bilang, dialah yang mencantumkan angka di cek yang akan dicairkan itu. Semakin menarik kasus ini untuk diikuti.
Sayang, sepertinya saya harus terbentur pada sebuah tembok besar untuk menulis kasus ini. Saya harus mem-frame berita ini sedemikian rupa. Tidak perlu saya rincikan apa masalahnya. Yang jelas, ini murni kepentingan pemilik modal. Terngiang kata-kata guru jurnalistikku, Prof Dr Sinansari Ecip, “tak ada ideologi wartawan. Yang ada adalah ideologi media.” Aku merasa itu lah fakta saat ini yang tak bias aku ingkari….
Posted by si buah terlarang
on 1/13/2009

Kamis, Januari 01, 2009

Ayah, belikan aku terompet!

MAKNA tahun baru bagiku, entah kenapa, tak pernah begitu istimewa. Seakan ada yang menahan dan mengajak segala rasa untuk bertahan di sini dan sekarang. Sebab, ada yang tak pasti di ‘depan’ sana. Sesuatu yang gaib, yang lepas dari jangkauan rasio, akal budi, dan semua matra insaniah yang bisa mengecapnya.
Karena itu, aku tak pernah sepenuhnya terpana dengan warna-warni percik kembang api. Apa lagi tergugah dengan suara terompet tahun baru. Malah, aku tak senang dengan kebisingan yang ditimbulkannya.
Aku berpikir. Di ‘sana’, ada sesuatu yang tak jelas bentuk dan warnanya, tapi pasti terjadi. Namun, waktu harus berjalan. Gerak harus terjadi. Bukankah, ‘gerak’ adalah sunnatullah yang terjadi di setiap tingkatan kosmos.


Bukankah sang Khalik, yang maha suci dari rasa kantuk dan tak pernah tidur itu, senantiasa memperbaharui setiap eksistensi, sekecil dan selemah apa pun dia. Hingga semuanya bisa melakukan ‘gerak’ yang titik akhir dan muaranya adalah kesempurnaan.
Karena itu, Dia mengajarkan, melalui sang Perintis Jalan Cinta, Rasulullah SAW, tentang ayat, yang salah satunya mengajarkan optimisme dalam sikap hidup. Akhirnya, aku terdiam dan merenungi gerak waktu ini. Di tengah hirup pikuk dan keramaian kota yang aku lewati, di sana-sini ada dentuman musik, terompet yang berteriak congkak, sebuah suara halus tiba-tiba menyergap lamunanku, “ayah, belikan aku terompet!”
Aku terkesiap mendengarnya. Makna tahun baru 2009 seakan terasa berwujud nyata di hadapanku, kala itu. Berbentuk seorang bocah berusia tiga tahun dengan segenap kenakalan dan kemanjaan pada dirinya. Yah, dia putra pertamaku. Maulana Wahid Ramadan.
Ah, aku lupa, tahun ini dia semakin bisa, dan terus berusaha menafsir hidup dengan paradigma dan dunia berpikirnya sendiri. Ternyata, aku lah yang selalu tak menyisakan ruang untuk sekadar tahu, bagaimana dia kini menafsir realitas. Gembirakah dia? Seperti di malam tahun baru itu, ia minta dibelikan terompet. Ia begitu senang dengan keramaian.

Sebab, karena kesibukanku yang terengah-engah mengalahkan rutinitas, dia lebih banyak di dalam rumah bersama ibunya. Kerja jurnalistik ini cukup menyita kebersamaanku dengan mereka. Suaranya yang begitu lirih itu, menyadarkanku satu hal. Bahwa tahun baru 2009, punya makna besar. Bahwa anakku sudah bisa meniup terompet yang dimintanya itu dengan suara yang tak kalah bisingnya dengan anak-anak lain. Dia gembira. Tugasku, sebagai ayahnya, menjaga kegembiraannya itu, kalau bisa tak hanya di malam tahun baru. Persetan, apa pun yang menanti di depan sana. Sebab, aku bukan penyembah setan. Aku yakin Al-Haqq akan beserta orang-orang yang menganggap kerja keras adalah ibadah tanpa melupakan ibadah kepada-Nya…Kepada-Mu kami menyembah…kepada-Mu kamu meminta pertolongan (Al-Fatihah). Tidak bisa dibalik!!!!
Posted by si buah terlarang
on 1/01/2009