Rupanya kau senang memainkan dawai-dawai kata
Sungguh ia tak merdu di telinga
Parasmu, cenderung jiwa di kala senja
Gelombang pantai membuyarkannya lalu punah di cakrawala
katamu, kejenuhan menenggelamkan kita
bagiku, kebimbangan lah yang mengapungkan rasa
dermaga nampak sudah di tepian sana
berkayuhlah, suar petunjukmu menyala-nyala
terakhir kali kau cuma berbisik,
'aku ingin meretas dalam pasungan'
Sayang, ketakutanmu pada dinding-dinding
yang katamu bertelinga dan punya mata
Ah, bukankah sudah kusumpahi bumi dan seisinya
‘Bungkam lah kalian semua!’
Sungguh ia tak merdu di telinga
Parasmu, cenderung jiwa di kala senja
Gelombang pantai membuyarkannya lalu punah di cakrawala
katamu, kejenuhan menenggelamkan kita
bagiku, kebimbangan lah yang mengapungkan rasa
dermaga nampak sudah di tepian sana
berkayuhlah, suar petunjukmu menyala-nyala
terakhir kali kau cuma berbisik,
'aku ingin meretas dalam pasungan'
Sayang, ketakutanmu pada dinding-dinding
yang katamu bertelinga dan punya mata
Ah, bukankah sudah kusumpahi bumi dan seisinya
‘Bungkam lah kalian semua!’

0 komentar:
Posting Komentar