Jumat, Mei 08, 2009

Puisi (katanya) yang membenci

Rupanya kau senang memainkan dawai-dawai kata
Sungguh ia tak merdu di telinga
Parasmu, cenderung jiwa di kala senja
Gelombang pantai membuyarkannya lalu punah di cakrawala

katamu, kejenuhan menenggelamkan kita
bagiku, kebimbangan lah yang mengapungkan rasa
dermaga nampak sudah di tepian sana
berkayuhlah, suar petunjukmu menyala-nyala

terakhir kali kau cuma berbisik,
'aku ingin meretas dalam pasungan'
Sayang, ketakutanmu pada dinding-dinding
yang katamu bertelinga dan punya mata

Ah, bukankah sudah kusumpahi bumi dan seisinya
‘Bungkam lah kalian semua!’


0 komentar:

Posting Komentar