| sok dekat sok kenal seusai workshop |
“Selamat menunaikan ibadah puisi”. Ini tagline blog pribadi penyair Joko
Pinurbo. Akrab disapa Jokpin. Ia hadir bersama penyair Acep Zamzam
Noor dan Beni Setia. Ketiganya kelahiran Jawa Barat. Jokpin lahir di
Sukabumi 11 Mei 1962. Acep di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Beni lahir
di Bandung, 1954. Ketiganya didatangkan sebagai narasumber workshop
sastra, salah satu menu acara di Lanjong Art Festival 2013.
Kemarin, ketiganya berbagi ilmu kepada peserta workshop. Tak ada kesan formal. Diskusi berlangsung santai sembari menikmati minuman dan penganan. Duduk pun lesehan. Beralas karpet warna hijau di salah satu ruang Sekretariat Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara. Tapi, tiga penyair tenar di jagad perpuisian Indonesia ini melayani pertanyaan peserta dengan lugas. Diskusi mengalir lancar. Para peserta ada dari kalangan pelajar hingga guru Bahasa Indonesia.
Ketiganya bergantian memapar-kan soal seni berpuisi. Kerap kali saling menimpali. Jokpin misalnya. Ia berujar, puisi yang baik adalah puisi yang punya kata kunci kuat. Kata kunci itu bisa didapatkan melalui pengalaman dari melihat atau merasakan sesuatu, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Di Tenggarong misalnya, banyak kata kunci yang bisa kita ambil untuk dijadikan sebuah puisi. Seperti Mahakam, perahu, ikan patin dan lain sebagainya. Dari kata kunci tersebut kemudian dirangkai menjadi puisi. Alam disini sudah menyajikan keindahan, tinggal kita saja lagi yang ingin membuatnya sesuai perspektifnya masing-masing,” ujar Joko.
Hal yang terpenting lainnya, sambung Jokpin, penyair itu harus baik dalam penguasaan kosakata sehinggabisa menentukan kata-kata yang tepat dalam menggambarkan apa yang ingin disampaikan dan dimengerti serta kaya makna. “Perlu membuat sebuah catatan kecil dimana bisa mencatat kata-kata baru. Saya kerap menggunakan HP,” tuturnya.
Beni menambahkan, pada dasarnya penyair atau umumnya penulis, tidak fokus hanya pada satu atau tema tertentu. Menulis itu juga sebenarnya terkait hal-hal yang ingin diungkapkan, baik itu dari pengalaman, angan-angan dan lain sebagainya. “Oleh karenanya, harus terus belajar hingga kita paham apa yang menjadi kelebihan kita. Untuk menjadi penulis itu memerlukan proses yang panjang, sehingga memerlukan ketekunan,” ujarnya.
Sementara Acep mengatakan, untuk menulis puisi kita bisa menciptakan atmosfer cerita sendiri dengan cara mencarinya langsung. Misalnya kita datang ke suatu lokasi tertentu kemudian mencatat apa yang kita lihat dan kemudian menggambarkan ke dalam tulisan. “Inti menulis puisi adalah seni merangkai bahasa, sehingga menulis itu tidak mudah karena harus konsisten,” ujarnya.
Shantined, penulis asal Kaltim bertanya soal batas di mana seseorang bisa dikatakan melakukan pembajakan dalam perpuisian. Ketiga penyair nyaris menyajikan jawaban bernada sama. Dalam karya sastra, fenomena itu disebut epigon. “Belum ada batas yang jelas dalam berpuisi, bagaimana epigon itu. Kalau musik, mengambil delapan bar sudah disebut epigon. Apalagi karya ilmiah. Jelas sekali batasannya,” ujar Beni.
Joko lalu menimpali. Dalam berpuisi, kata dia, fenomena yang muncul sebenarnya adalah pengaruh. Dimana seorang penyair muda terpengaruh oleh penyair sebelumnya. “Malah bagi seorang penyair pemula, meniru itu malah bagus. Awal yang baik, lama kelamaan akan menemukan gayanya sendiri,” bebernya.
Acep juga bersetuju. “Kalau idiom-idiom puisi itu digunakan bersama, itu tidak masalah. Misalnya tentang hujan, senja. Kan banyak penyair juga sering membuat puisi tentang hujan dan senja. Sepanjang ada penafsiran baru,” tukas pengasuh Pondok Pesantren Cipasung ini.
Joko menegaskan, metafora dan personifikasi adalah tulang punggung puisi. Penyair harus mampu menghadirkannya dalam tulisan. Nah, kuncinya, tambah Beni, adalah ketekunan dalam berlatih menulis agar menemu gaya kepenulisan. “Saat dipublikasikan, tak usah peduli kepada khalayak yang tak suka atau puas kepada yang suka. Belajar saja terus,” katanya.
Sementara Acep bilang, penyair kerap tak produktif. Bukan berarti penyair melepas diri dari puisi. Justru saat tak menulis penyair sedang bergulat dengan perpuisian. Akhirnya, yang paling berat dari berpuisi adalah di tahap ending. “Karena penulis paling sering ingin cepat-cepat sampai di ending puisinya,” tukas Jokpin.
#Tulisan ini diterbitkan di harian Koran Kaltim edisi Rabu, 29 Mei 2013. dengan foto yang berbeda tentunya.
Ketiganya bergantian memapar-kan soal seni berpuisi. Kerap kali saling menimpali. Jokpin misalnya. Ia berujar, puisi yang baik adalah puisi yang punya kata kunci kuat. Kata kunci itu bisa didapatkan melalui pengalaman dari melihat atau merasakan sesuatu, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Di Tenggarong misalnya, banyak kata kunci yang bisa kita ambil untuk dijadikan sebuah puisi. Seperti Mahakam, perahu, ikan patin dan lain sebagainya. Dari kata kunci tersebut kemudian dirangkai menjadi puisi. Alam disini sudah menyajikan keindahan, tinggal kita saja lagi yang ingin membuatnya sesuai perspektifnya masing-masing,” ujar Joko.
Hal yang terpenting lainnya, sambung Jokpin, penyair itu harus baik dalam penguasaan kosakata sehinggabisa menentukan kata-kata yang tepat dalam menggambarkan apa yang ingin disampaikan dan dimengerti serta kaya makna. “Perlu membuat sebuah catatan kecil dimana bisa mencatat kata-kata baru. Saya kerap menggunakan HP,” tuturnya.
Beni menambahkan, pada dasarnya penyair atau umumnya penulis, tidak fokus hanya pada satu atau tema tertentu. Menulis itu juga sebenarnya terkait hal-hal yang ingin diungkapkan, baik itu dari pengalaman, angan-angan dan lain sebagainya. “Oleh karenanya, harus terus belajar hingga kita paham apa yang menjadi kelebihan kita. Untuk menjadi penulis itu memerlukan proses yang panjang, sehingga memerlukan ketekunan,” ujarnya.
Sementara Acep mengatakan, untuk menulis puisi kita bisa menciptakan atmosfer cerita sendiri dengan cara mencarinya langsung. Misalnya kita datang ke suatu lokasi tertentu kemudian mencatat apa yang kita lihat dan kemudian menggambarkan ke dalam tulisan. “Inti menulis puisi adalah seni merangkai bahasa, sehingga menulis itu tidak mudah karena harus konsisten,” ujarnya.
Shantined, penulis asal Kaltim bertanya soal batas di mana seseorang bisa dikatakan melakukan pembajakan dalam perpuisian. Ketiga penyair nyaris menyajikan jawaban bernada sama. Dalam karya sastra, fenomena itu disebut epigon. “Belum ada batas yang jelas dalam berpuisi, bagaimana epigon itu. Kalau musik, mengambil delapan bar sudah disebut epigon. Apalagi karya ilmiah. Jelas sekali batasannya,” ujar Beni.
Joko lalu menimpali. Dalam berpuisi, kata dia, fenomena yang muncul sebenarnya adalah pengaruh. Dimana seorang penyair muda terpengaruh oleh penyair sebelumnya. “Malah bagi seorang penyair pemula, meniru itu malah bagus. Awal yang baik, lama kelamaan akan menemukan gayanya sendiri,” bebernya.
Acep juga bersetuju. “Kalau idiom-idiom puisi itu digunakan bersama, itu tidak masalah. Misalnya tentang hujan, senja. Kan banyak penyair juga sering membuat puisi tentang hujan dan senja. Sepanjang ada penafsiran baru,” tukas pengasuh Pondok Pesantren Cipasung ini.
Joko menegaskan, metafora dan personifikasi adalah tulang punggung puisi. Penyair harus mampu menghadirkannya dalam tulisan. Nah, kuncinya, tambah Beni, adalah ketekunan dalam berlatih menulis agar menemu gaya kepenulisan. “Saat dipublikasikan, tak usah peduli kepada khalayak yang tak suka atau puas kepada yang suka. Belajar saja terus,” katanya.
Sementara Acep bilang, penyair kerap tak produktif. Bukan berarti penyair melepas diri dari puisi. Justru saat tak menulis penyair sedang bergulat dengan perpuisian. Akhirnya, yang paling berat dari berpuisi adalah di tahap ending. “Karena penulis paling sering ingin cepat-cepat sampai di ending puisinya,” tukas Jokpin.
#Tulisan ini diterbitkan di harian Koran Kaltim edisi Rabu, 29 Mei 2013. dengan foto yang berbeda tentunya.
on 5/28/2013
No comments




