Selasa, Mei 28, 2013

Tiga Penyair di Lanjong Art Festival 2013

sok dekat sok kenal seusai workshop
“Selamat menunaikan ibadah puisi”. Ini tagline blog pribadi penyair Joko Pinurbo. Akrab disapa Jokpin.  Ia hadir bersama penyair Acep Zamzam Noor dan Beni Setia. Ketiganya kelahiran Jawa Barat. Jokpin lahir di Sukabumi 11 Mei 1962. Acep  di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Beni lahir di Bandung, 1954. Ketiganya didatangkan sebagai narasumber workshop sastra, salah satu menu acara di Lanjong Art Festival 2013.
 
Kemarin, ketiganya berbagi ilmu kepada peserta workshop. Tak ada kesan formal. Diskusi berlangsung santai sembari menikmati minuman dan penganan. Duduk pun lesehan. Beralas karpet warna hijau di salah satu ruang Sekretariat Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara. Tapi, tiga penyair tenar di jagad perpuisian Indonesia ini melayani pertanyaan peserta  dengan lugas. Diskusi mengalir lancar. Para peserta ada dari kalangan pelajar hingga guru Bahasa Indonesia.
Ketiganya bergantian memapar-kan soal seni berpuisi. Kerap kali saling menimpali. Jokpin misalnya. Ia berujar, puisi yang baik adalah puisi yang punya kata kunci kuat. Kata kunci itu bisa didapatkan melalui pengalaman dari melihat atau merasakan sesuatu, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Di Tenggarong misalnya, banyak kata kunci yang bisa kita ambil untuk dijadikan sebuah puisi. Seperti Mahakam, perahu, ikan patin dan lain sebagainya. Dari kata kunci tersebut kemudian dirangkai menjadi puisi. Alam disini sudah menyajikan keindahan, tinggal kita saja lagi yang ingin membuatnya sesuai  perspektifnya masing-masing,” ujar Joko.
Hal yang terpenting lainnya, sambung Jokpin, penyair itu harus baik dalam penguasaan kosakata sehinggabisa menentukan kata-kata yang tepat  dalam menggambarkan apa yang ingin disampaikan dan dimengerti serta kaya makna. “Perlu membuat sebuah catatan kecil dimana bisa mencatat kata-kata baru. Saya kerap menggunakan HP,” tuturnya.
Beni menambahkan, pada dasarnya penyair atau umumnya penulis, tidak fokus hanya pada satu atau tema tertentu. Menulis itu juga sebenarnya terkait hal-hal  yang  ingin diungkapkan, baik itu dari pengalaman, angan-angan dan lain sebagainya. “Oleh karenanya, harus terus belajar hingga kita paham apa yang menjadi kelebihan kita. Untuk menjadi penulis itu memerlukan proses yang panjang, sehingga memerlukan ketekunan,” ujarnya.
Sementara Acep mengatakan, untuk menulis puisi kita bisa menciptakan atmosfer cerita sendiri dengan cara mencarinya langsung. Misalnya kita datang ke suatu lokasi tertentu kemudian mencatat apa yang kita lihat dan kemudian menggambarkan ke dalam tulisan. “Inti menulis puisi adalah seni merangkai bahasa, sehingga menulis itu tidak mudah karena harus konsisten,” ujarnya.
Shantined, penulis asal Kaltim bertanya soal batas di mana seseorang bisa dikatakan melakukan pembajakan dalam perpuisian. Ketiga penyair nyaris menyajikan jawaban bernada sama. Dalam karya sastra, fenomena itu disebut epigon. “Belum ada batas yang jelas dalam berpuisi, bagaimana epigon itu. Kalau musik, mengambil delapan bar sudah disebut epigon. Apalagi karya ilmiah. Jelas sekali batasannya,” ujar Beni.
Joko lalu menimpali. Dalam berpuisi, kata dia, fenomena yang muncul sebenarnya adalah pengaruh. Dimana seorang penyair muda terpengaruh oleh penyair sebelumnya. “Malah bagi seorang penyair pemula, meniru itu malah bagus. Awal yang baik, lama kelamaan akan menemukan gayanya sendiri,” bebernya.
Acep juga bersetuju. “Kalau idiom-idiom puisi itu digunakan bersama, itu tidak masalah. Misalnya tentang hujan, senja. Kan banyak penyair juga sering membuat puisi tentang hujan dan senja. Sepanjang ada penafsiran baru,” tukas pengasuh Pondok Pesantren Cipasung ini.
Joko menegaskan, metafora dan personifikasi adalah tulang punggung puisi. Penyair harus mampu menghadirkannya dalam tulisan. Nah, kuncinya, tambah Beni, adalah ketekunan dalam berlatih menulis agar menemu gaya kepenulisan. “Saat dipublikasikan, tak usah peduli kepada khalayak yang tak suka atau puas kepada yang suka. Belajar saja terus,” katanya.
Sementara Acep bilang, penyair kerap tak produktif. Bukan berarti penyair melepas diri dari puisi. Justru saat tak menulis penyair sedang bergulat dengan perpuisian. Akhirnya, yang paling berat dari berpuisi adalah di tahap ending. “Karena penulis paling sering ingin cepat-cepat sampai di ending puisinya,” tukas Jokpin. 


#Tulisan ini diterbitkan di harian Koran Kaltim edisi Rabu, 29 Mei 2013. dengan foto yang berbeda tentunya.
Posted by si buah terlarang
on 5/28/2013

Senin, Mei 27, 2013

Gunakan "burung" pada tempat, saat yang tepat, dan persetujuan pemilik 'sangkar'

Membaca berita di media online tentang seorang santriwati, NN, memotong kelamin lelaki bernama Muhyi. Lelaki itu kini harus hidup dengan 'cacat' fisik dan batin yang harus ditanggung sesisa umurnya.
Saya tak punya pretensi apapun untuk menilai, siapa yang paling benar dan paling salah dalam kasus ini. Si perempuan kah yang harus disalahkan? karena dia menemui lelaki yang bukan muhrimnya hingga dinihari? lalu dia dipaksa bersetubuh hingga mahkotanya terenggut? 
Lalu, si Muhyi, lelaki yang dikenal NN dari sebuah telepon nyasar alias salah sambung. Muhyi, yang berkali-kali menelpon, meminta berkenalan, akhirnya mampu meluluhkan pertahanan NN, hingga mau bertemu. Dari pertemuan pertama, dan pasti tak akan terlupakan bagi keduanya, Muhyi juga berhasil membobol 'keperawanan' si santriwati yang dikenal bercadar. anak tokoh masyarakat pula. apakah salah si Muhyi? memaksa NN melayaninya di pertemuan pertama. Bahkan, spermanya tumpah di jilbab si korban 'petualangannya'. Konon, inilah yang membuat NN merasa terhina. Apalagi, seusai hajatnya terpuaskan, Muhyi memberi uang kepada NN yang berujar, "emang aku perempuan gituan, diberi uang?" Sepenuhnya salah Muhyi semua itu?
Titik nadirnya, NN yang mengaku dendam menemu sebilah pisau cutter. Di sebuah warung makan, selepas persetubuhan yang katanya 'bertepuk sebelah tangan'. Ia meminta melihat 'burung' si lelaki. Entah apa di benaknya? 'Burung' itu digenggamnya, diperlakukannya hingga mengeras. NN melakukan itu di balik jilbab besarnya agar tak terlihat orang. tak berselang lama, crasssssss! pisau cutter itu menebas 'burung' ajaib itu. putus. bagiannya terjatuh ke tanah. darahnya juga muncrat ke jilbab NN.
Saya ingat kata-kata seseorang, ketika sepasang muda-mudi memutuskan bersetubuh, yang bersalah adalah lelakinya. perempuannya 'turut' bersalah.    
***
kasus ini akhirnya harus berujung hukum. Keluarga NN 'mencoba' menempuh jalan damai dengan menawarkan pernikahan antara keduanya. Eh, keluarga si Muhyi bilang. 'gak mau'!! Enak saja. Muhyi sudah 'kehilangan' masa depannya! gara-gara NN. Lho! Lalu, masa depan NN gimana? 
Kalau benar ia terpaksa melayani Muhyi, ia kehilangan keperawanan tanpa bulat hati. berarti ia kehilangan masa depannya juga. Bayangkan, ketika menikah nanti, suaminya tak rela istrinya sudah tidak perawan. Musibah juga bagi NN.
Terlihat jelas dalam kasus ini, bagaimana cara pandang dunia patriarki menafsirkan tentang 'masa depan' itu. Perempuan ternyata tak dipandang penuh, terus disepelekan, dan tak jadi pertimbangan. Padahal  keperawanan dan kehormatan perempuan adalah sesuatu yang paling berharga. Pria, walau berkali-kali ejakulasi dengan sekian  perempuan, dianggap biasa. Bukankah ini konstruksi yang sepenuhnya tak adil? 
Saya mulai berpikir, jika benar Muhyi memaksa, NN terpaksa, keduanya impas. Muhyi akan 'terpenjara' dari kemungkinan petualangan-petualangan kelaminnya. Sementara, NN dipenjara akibat ulah kriminalnya. Hmmmmm. Menggunakan 'burung' memang harus pada tempat, waktu yang tepat, dan persetujuan pemilik 'sangkar'-nya. Jika tidak, si 'burung' bisa pensiun dini. Syukur-syukur saja pemilik 'burung' masih bisa hidup. Tapi, hidup lelaki tanpa 'burung' ibarat...........Maaf, saya tak bisa menemukan cara bagaimana mengiaskannya. Oh, Muhyi....Muhyi!
Posted by si buah terlarang
on 5/27/2013

Jumat, Mei 24, 2013

Membenci Amerika: catatan kecil tentang Film “Innocence of Muslims”

  Why do people hate america? Mengapa orang membenci Amerika? Pertanyaan ini memang terdengar sederhana. Ditanyakan berulang-ulang. Tapi, konon pertanyaan ini lah yang paling sulit dijawab jika diajukan kepada setiap warga Amerika Serikat.Lalu, terbitlah sebuah buku. Judulnya “why do people hate America?” Buku ini ditulis Ziauddin Sardar, penulis, penyiar dan kritikus budaya bersama  Merryl Wyn Davies, penulis dan antropolog.
  
Britney Spears (kapanlagi.com)
Pascaperistiwa  11 September, pertanyaan ini bergaung keras. Diulang-ulang oleh Presiden Bush, senator  dan para politisi Amerika. Dalam buku ini, Sardar dan Davies memperlihatkan bagaimana kemudian jawaban yang seharusnya muncul dari pertanyaan ini menjadi bukan sebuah jawaban. Lebih parah lagi, kebutuhan untuk mengetahui diubah menjadi ketidaktahuan. Mengapa disini hanya melahirkan asumsi lalu vonis lalu perang. Bukan jawaban.
   Buku ini memang bukan membahas peristiwa 11 September. Hanya saja, memang diakui peristiwa tersebut menimbulkan trauma psikis terbesar bagi publik negara adidaya itu. Salah satu argumen inti dari buku ini adalah terdapat jurang menganga, begitu lebar, antara hubungan AS dengan negara-negara lain di dunia. Jurang itu bernama pengetahuan.
   Yah, tidak ada masyarakat yang lebih terbuka dari masyarakat AS. Lebih diberkati dengan sarana teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa canggih. Dengan itu, sumber daya mereka begitu melimpah untuk mengenali, mencari, menggali serta memproyeksikan ide-ide mereka. Coba lihat, bagaimana Hollywood mengendalikan selera dunia.
  Tapi, sayang beribu sayang. Produk dari segala infrastruktur berkelimpahan yang maha besar itu, media massanya, hanya membawa Amerika lebih melihat ke dalam dan menyerap diri sendiri. Muncul citra diri tentang kebaikan, kesempurnaan, dan kebajikan sempurna bangsanya. Sebauh Amerikan yang monolitik. Coba lihat. Sosok superhero begitu mendominasi dalam produk budaya populer bangsa Amerika. Lewat TV dan film yang diproduksi sineas-sineas mereka.
   Pengetahuan warga Amerika tentang dunia di luar mereka ternyata tidak lebih baik. Sardar dan Davies menggambarkan fenomena ini dengan istilah “ketidak-tahuan walaupun mempunyai pengetahuan”. Kekuasaan media massa Amerika yang begitu besar justru menjadikan warganya seolah memakai jaket-jaket kebudayaan yang tebal. Membuat mereka semakin tertutup dengan pengalaman serta ide-ide dari bangsa lain. Jaket yang meningkatkan tingkat keterisolasian, keterserapan diri, dan ketidaktahuannya dengan kebudayaan lain.
   Masalah pengetahuan ini tidaklah ekslusif milik Amerika. “Ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan” adalah istilah umum untuk menggambarkan bagaimana peradaban barat melihat timur. Khususnya terkait tentang agama dan pemeluknya. (Sardar dan Davies, hal. 18). Istilah ini mengacu kepada lebih dari sekadar sikap dan ide-ide umum yang negatif, melainkan sebuah definisi tentang cara bagaimana sikap-sikap seperti itu ditanamkan dalam pendekatan terhadap pengetahuan. Suatu studi yang kemudian dikenal dengan nama Orientalisme. Ini lah sifat umum peradaban Barat yang diwarisi Amerika.
   Sebuah paradigma yang digugat keras oleh Edward W. Said 34 tahun silam lewat bukunya berjudul sama, Orientalisme. Orientalisme lah, kata Edward, membuat Timur dekat (Islam) di mata barat adalah sebuah entitas yang tidak bisa dipahami tapi bisa diramalkan. Bagi Barat, Timur (the others), adalah mereka dalam pandangan kita, bukan mereka seperti apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri.
   Namun, tidak berarti semua warga Amerika begitu dibutakan hingga tak bisa melihat jernih mengapa bangsa mereka begitu dibenci. Memang, media massa memainkan peran besar dalam menjawab pertanyaan sederhana di atas. Banyak penulis dari media konservatif  kemudian menyokong kebijakan rezim Bush menangani kasus 11 September. Tak peduli betapa terbuktinya standar-standar mendua AS yang semakin memicu kebencian bangsa lain kepada bangsa ini. Belum lagi soal campur tangan, intervensi militer AS di berbagai belahan dunia. Faktanya sudah jelas, media sekaliber CNN bisa meliput perang Irak dengan dua ‘wajah’. Liputan ‘apa adanya’ disiarkan untuk publik luar negeri. Tapi, siaran yang diberi ‘pemanis’ ditayangkan untuk publik dalam negeri. (Borjesson, Katrina (ed): Mesin Penindas Pers: membongkar mitos kebebasan pers di Amerika:2004).
  AS memang sebuah bangsa yang telah mengembangkan tradisi lupa instrospeksi diri. Tetapi, Amerika juga, seperti yang dijelaskan seorang koresponden Inggris untuk Timur Tengah, Robert Fisk, adalah negara yang telah mengembangkan kritik diri yang pedas dan opini beragam. Negara ini menghasilkan banyak penulis, intelektual  dan kolumnis yang begitu lantang mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahannya. Sebut saja satu nama, Noam Chomsky.
   Sayangnya lagi, kata Fisk, ini lah yang semakin menjadikan masalah bagi publik AS. Keragaman opini dan kritik-kritik yang cerdas dan disuarakan dengan pemikiran jernih itu kurang, bahkan nyaris tidak tercermin dalam pemerintahan, kongres, dan lebih parah lagi, media massanya.
Rasanya tidak sulit untuk membayangkan mengapa mereka kesulitan untuk menjawab pertanyaan, mengapa (why). Why do people hate America? Mengapa mereka membenci kami? Sekarang mari mereka-reka, apa reaksi kebanyakan warga AS ketika film Innconce of Muslim, yang disutradarai seorang Yahudi warga Amerika itu menimbulkan kemarahan umat Islam. Obama mengutuk serangan kedubes AS di Libya yang menewaskan  duta besarnya. Bisa kah mereka memahami amarah umat Islam ketika nabi mulia nan suci direndahkan?
   Jangan lupa soal  “ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan”  yang dimiliki Amerika. Kebebasan dan kelimpahan informasi tidak lah membuat mereka tahu tentang ‘the others’ sebagai apa adanya, terlebih mencoba mendengarkan suaranya. Sungguh,  kita patut marah ketika Nabi mulia direndahkan. Tapi, masihkah kita ingin  marah kepada orang-orang yang ‘telinga, mata, hati’ mereka tertutup. Haruskah kita meregang nyawa karena ulah seorang sutradara  pembuat film porno picisan? Ada ungkapan, lebih baik yang waras ngalah. Orang mabuk gak usah diladeni. Percuma. Nabi akan tetap mulia seperti janji Allah. …..Innasyani ‘aka huwal abtar. Sesungguhnya yang membencimu (Muhammad) terputus dari rahmat Allah). (***)

Tenggarong, 21 Oktober. Telah diposting di www.huldiamal.wordpress.com, kompasiana, dan dimuat di harian Tribun Kaltim
Posted by si buah terlarang
on 5/24/2013

Kamis, Mei 23, 2013

Ayo ke Kutai Kartanegara, ada Lanjong Art Festival 2013

salah satu penampilan Teater Kampoeng Lanjong
Barangkali, ini pertama kalinya di Kaltim, sebuah lembaga selevel yayasan menggeber sebuah festival seni budaya berkaliber internasional. Biasanya, acara serupa dikemas lembaga macam Taman Budaya yang berkedudukan di ibu kota provinsi.Ya, Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara pada 25 Mei-1 Juni 2013 menggelar Lanjong Art Festival 2013: Karya Maha di Mahakam. 
   Dari keterangan panitia, ada tujuh negara yang dilibatkan. Mulai Jepang, Meksiko, Singapura, India, Norwegia, hingga Hungaria. Jika benar, hajatan ini bukan main-main. Tim juri festival ini saja jadi jaminan bahwa even ini tak sekadar kemasan asal jadi. Ada Jajang C Noer, pemenang Festival Film Indonesia edisi 1992 kategori Aktris Pendukung Terbaik lewat film Bibir Mer. Ada nama Wawan Sofwan, aktor dan sutradara teater yang sudah malang melintang dalam dunia pementasan. 
    Menurut ketua panitia, Ab Asmarandana, jebolan jurusan Teater ISI Jogyakarta, festival kali ini memang beda dengan edisi sebelumnya. Tak hanya dari segi level dan pamor. Fokus konten Lanjong Art Festival 2013 adalah teater. Akan ada pertunjukan hingga workshop dengan narasumber berkompeten. Meski begitu, konten lain seperti tari, sastra musik hingga film tak kalah berkilau. 
    Sastra misalnya. Penyair tenar seperti Joko Pinurbo (Jokpin), Acep Zamzam Noor dan Benni Setia akan berbagi ilmu kepada peserta workshop. Untuk workshop music, ada Kroncong by Khoko Tole, membuat biola bamboo bersama Indonesia Bamboo Community dan composing music with electronic media (by Victor Hugo Hildago’s). Workshop film ada konten sinematik dan naratif yang menghadirkan Lulu Hendra Komala dan Ulul Alba. Untuk tari: kontemporer& Butoh (by Kae Ishimoto), Capoera (by Aguibou Bougobali), India Classical Dance (by Pavitra Bath), dan Tari Topeng Cirebon Gaya Losari (by Nur’anani M, Irman S.Sen). Lalu untuk menu festival lainnya ada pentas monolog berskala nasional, hingga lomba baca dan menulis puisi se-Kaltim, lomba film pendek, musikalisasi puisi hingga tari kontemporer. 
   Patut ditunggu, bagaimana panitia mengemas festival seni budaya kolosal ini. Di sebuah kabupaten bernama Kutai Kartanegara, Yayasan Lanjong kini memiliki sebuah lahan yang mereka namakan Ladang Budaya Lanjong. Terletak di Jl H Bachrin Seman, Kelurahan Mangkurawang, Kota Tenggarong. Di sini, sebuah tonggak telah dipancang tinggi. Terbaca dari tema festival: Karya Maha di Mahakam.Tema ini tentu punya makna besar. Sebuah manifesto seni budaya yang diucapkan di tepian sungai Mahakam, sungai besar membelah tanah Kutai yang menyimpan sejarah kerajaan Hindu tertua nusantara. 
    Saya pernah menyaksikan festival Lanjong sebelumnya. Di tahun 2009. Meski saat itu, belum ada peserta dari luar negeri, setidaknya saya bisa menyaksikan sebuah kemauan dan daya juang yayasan ini. Kemauan dan daya juang untuk menghadirkan semacam panggung. Panggung yang dinamis, juga langgeng untuk seni dan kebudayaan di Kutai. Walau saat ini, saya masih bertanya apakah Lanjong Art Festival 2013 ‘meledak’ karena mengundang seniman luar negeri? Atau kah karya anak sendiri yang perlu ‘meledakkan’ Lanjong ke luar sana? Tapi, saya tahu. Anak-anak Lanjong sudah akrab dan kerap mentas di sejumlah even seni budaya di luar negeri dan membawa nama Kaltim, juga Indonesia. Selamat berfestival, Lanjong!!
Posted by si buah terlarang
on 5/23/2013

Saatnya membebaskan jin dari dalam botol

Blog ini hidup lagi. setelah dua tahun 'mati suri'. Ini karena penyakit 'gaptek' yang tak pernah saya coba kalahkan. saya lebih memilih menyerah ketimbang belajar kepada yang lebih tahu soal dunia blogger. 

Akhirnya, saya bertemu kawan yang mumpuni di bidang ini. Ia dipanggil Ari, perantau asal Lamongan, Jawa Timur. Anak baru di ruang redaksi koran tempat saya bekerja. Saya meminta dia 'memermak' blog lama saya. Dia pun bersedia. 

Kini, setelah dua tahun absen, saya akan lebih memilih menghidupkan blog dengan tampilan barunya. Setidaknya, Curhat, ide dan gagasan apapun yang ingin saya tulis, akan ditumpahkan di lapak ini. Kehadiran blog dengan tampilan baru ini penting. setidaknya, bisa memotivasi kemalasan saya menulis. 

Saya memang agak malas meski banyak ide berseliweran dan lalu lalang. semestinya, ide-ide itu segera ditangkap dan diikat dalam bentuk tulisan. Ibarat jin yang terperangkap dalam botol. 

Begitulah nasib arsip tulisan-tulsan di blog ini selama dua tahun. Mereka terperangkap. Blog ini terpenjara. saatnya membebaskan jin itu dengan membuka penutup botolnya. Caranya, dengan menghadirkan setiap rekaman peristiwa, perasaan, atau sekadar gerutu tak penting dalam bentuk tulisan yang ter-up date. So, jangan malas lagi menulis, Bung Huldi.
Posted by si buah terlarang
on 5/23/2013