Rabu, Mei 20, 2009

Wawancara dengan Gus Acep Zamzam Noor

Bersama Kang Acep di Hotel Lesong Batu
Perbincangan singkat ini, coba saya sarikan menjadi berita. Meski saya yakin banyak reduksi yang saya lakukan dari seorang Gus Acep, tapi sengaja tulisan ini saya simpan agar suatu waktu bisa menjadi oase dalam pembelajaran saya. Terima kasih berkenan membacanya…. Lokasi berbincang di lobi Hotel Lesong Batu, Tenggarong, Sabtu Tanggal 16 Mei 2009.

Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:……
(Menjadi Penyair Lagi)

---Acep Zamzam Noor:
Penyair Itu Pengamat Kehidupan
Acep Zamzam Noor, penyair yang lahir di Cipasung, tepatnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung. Karena dilahirkan dan dibesarkan di Ponpes, nuansa keislaman pada sebagian karyanya sangat terasa. Apalagi, ayahnya memang seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) terkenal di Ponpes Cipasung.
Namun, bukan berarti ia “terjebak”. Acep pun menulis banyak puisi yang juga romantis bahkan nakal. Karya terbarunya, antologi puisi Menjadi Penyair Lagi, diambil dari salah satu judul puisi dalam antologi itu. Sabtu (16/5) lalu, di Hotel Singgasana Tangga Arung, Acep yang kini pemimpin Ponpes Cipasung, bertutur tentang kerja kepenyairan bersama Koran Kaltim.
Bagi Acep, puisi itu dibangun dari sebuah intensitas dan kekhusyukan terhadap sebuah kerja kepenyairan. Sehingga, puisi tidak hanya melulu bertemakan cinta pada seseorang. Dimensi sosial, politik, alam, religi dan sebagainya adalah bahan dasar puisi.
Apakah memang puisi itu harus terbangun dari sebuah kepedihan yang mendalam? Menurutnya, hal itu salah satu yang menjadi bisa menjadi pemicu. Tapi, sebenarnya kesedihan dan kegembiraan, keduanya sama-sama bisa menjadi sebuah puisi.
Tema cinta, misalnya, bisa menjadi salah satu pemicu dari intensitas penulisan puisi. Dan lewat angle cinta itu, kita bisa berbicara tentang sosial, alam, dan sebagainya. Jadi, tidak melulu ketika seseorang jatuh cinta harus selalu menghasilkan puisi-puisi romantis. Lantas, sah-sah saja jika sebuah kekecewaan atau kegagalan cinta menjadi pintu kepenyairan?
“Justru, itu nggak masalah. Itu hidayah. Jika cinta kita ditolak, itu lebih dahsyat. Kalau cinta yang diterima biasanya tidak banyak melahirkan puisi. Itu sah-sah saja. Malah kegagalan disitu akan menjadi hidayah,” ujarnya, tertawa.
Bahkan, kata Acep, hal seperti bukanlah sebuah pelarian. Tapi, itu adalah sebuah pengalaman yang sangat digeluti dan menjadi salah satu yang membuat seseorang menjadi penyair.
Namun, intensitas kepenyairan tidaklah seperti menulis yang terjadwal dan harus setiap hari. Puisi, katanya, bisa lahir dalam seminggu hanya hitungan jari. Sebab, yang paling penting adalah kehusyukan terhadap kerja kepenyairan yang melibatkan kerja seluruh indera. Tidak hanya pikiran, perasaan juga pendengaran, penciuman, dan lainnya.
“Kapan puisi itu lahir, itu juga bergantung pada momen-momen tertentu yang hadir. Puisi juga bisa kita paksakan ditulis sekarang, tapi bisa juga mengendap dulu, temanya kita belum tau, akhirnya bisa muncul belakangan,” katanya.
Dikatakannya, penyair itu tidak bekerja ketika menghadapi mesin ketik. Tapi, ia bekerja ketika berhadapan dengan kehidupan. Sehingga produktivitas kepenulisan bukan sebuah indikator bagi seorang penyair.
“Bukan kemalasan sebenarnya. Penyair itu adalah pengamat kehidupan. Dan itu yang lebih berat. Kalau kita perhatikan penyair-penyair terkemuka kita, bukan penulis-penulis produktif. Kecuali beberapa seperti Taufik Ismail yang produktif menulis,” katanya.
Sejauh mana pengaruh pembacaan seseorang terhadap teks sastra atau puisi dengan kemampuan menulis? “Itu salah satu yang bisa menjadi latihan dan pembelajaran kepenulisan. Itu akan membuat kita bisa tahu bahwa begitu banyak ungkapan-ungkapan puisi dan sastra yang sudah ada,” katanya.
Bahkan, pembacaan terhadap teks-teks rumit seperti filsafat dan teori-teori sosial juga bisa menjadi bahan pengayaan. Hanya saja, tukas Acep, ada sejumlah orang yang terlalu suntuk dalam pembacaan teks jenis ini hingga gagal menulis puisi. “Mungkin ketika mengutip teori ini lancar sekali. Tapi, mereka kesulitan mencari ungkapan-ungkapan yang lahir dari intuisi. Jadi, bagi saya memang harus diniatkan dan pendekatannya berbeda,” katanya.
Namun, karena menyadari jebakan-jebakan teks tadi, bukan berarti penyair harus tidak membaca dan menjadi bermasa bodoh. “Itu tetap harus. Namun, menurut saya, orang-orang yang gagal itu karena terlalu suntuk mengutip pendapat orang. Padahal, penyair itu dengan intuisinya juga bisa menghasilkan filsafat,” paparnya.
Intuisi, adalah senjata penyair yang sangat berhubungan dengan kreatifitas dan alam bawah sadar dan tidak berhubungan dengan teori-teori. Berbeda dengan nalar Cartesian yang serba teratur dan dominatif. “Lahirnya orisinalitas itu kan bukan pembongkaran secara keseluruhan. Tapi merupakan penyegaran terhadap sesuatu yang sudah ada. Itu lah bagian dari bagaimana kita menggunakan intuisi,” ujarnya.
Tentang puisi Menjadi Penyair Lagi, Acep mengakui bahwa perempuan bernama Melva disitu adalah nama sebenarnya. Bahkan, nama hotel Karang Setra juga nama hotel yang sebenarnya. Di puisi itu yang agak naratif itu, ia sebenarnya lahir dari pengamatan ssoial dan ingin berbicara tentang Indonesia, namun dengan gaya berbeda seperti puisi sosial Rendra. “Makanya, bisa lahir semacan cerita di dalamnya,” ujarnya.
Puisi tersebut adalah puisi lama yang sempat hilang. “Sempat saya kirimkan ke sebuah pertemuan penyair di festival di Surabaya. Memang ada bukunya. Akhirnya saya ketemukan lagi. Makanya muncul belakangan,” tambahnya.
Posted by si buah terlarang
on 5/20/2009

Senin, Mei 18, 2009

aku selalu mengenalmu, sayangku

tubuh ini baru saja rebah
belum juga mata ini mengetuk pintu istirah

di ranjang kita yang tak empuk itu
setelah penat menjajah dan matahari merajam kulitku siang tadi

kau bisik tentang ketakutanmu
"jika matamu buta, bisakah kau mengenali bentuk wajahku"

setengah kantuk, jawabku
jari-jari ini selalu bisa mengenali tiap lekukan landai kedua payudaramu, sayang
dan aku tak kan pernah tergelincir...

Posted by si buah terlarang
on 5/18/2009

Rabu, Mei 13, 2009

aku akan mengadu padaMu

Untuk seorang perempuan yang merelakan susah payah rahimnya berbilang bulan
rasanya pantas kumembunuh setiap desir di perlintasan hati
Meski kadang, aku juga tergagap ketika sepasukan hasrat hendak menaklukkan garis depan kelelakianku....


tunggulah....
malam nanti akan kukeluhkan ini, Tuhan
ketika semesta sedang terlelap
dan Engkau menatap satu persatu mereka dengan kerahmanan dan kerahimanMu

bahwa aku telah membunuh dia di hatiku
sebuah rasa yang hadir berhari-hari lalu kunikmati
karena kuyakini sebagai sebagian dari tatapan kasih sayangMu

disinilah aku....
yang terus dibenamkan oleh rasa yang absurd itu

Aku sungguh akan mengadu padaMu
wahai, nantikan kepulanganku
Posted by si buah terlarang
on 5/13/2009

Jumat, Mei 08, 2009

Ah, Cemburukah kamu pada puisi?

beringsutlah mendekat, sayang
usai saling silang berpagutan di tarian sepanjang malam
lelah peluh perjumpaan kita bercucuran
kenapa sepasang bibirmu itu masih bersungutan?

Ah, kau cemburu pula rupanya
pada puisi itu yang masih juga terbata-bata
sini, kubisikkan rahasia padamu......


dia hanya sejenak persinggahan rasa
maka tak berkekalan lah ia
kuasah tajamtajamkan saja rasa di bibir kata
dikau tetap sebenar dan sepenuh asa

engkau adalah pelita cinta
menyala lah aku karena minyak kasih sayangmu
tanpa celupan itu
kegelapan aku ini, kesurupan dalam keremangan yang tak berujung
Posted by si buah terlarang
on 5/08/2009

Puisi (katanya) yang membenci

Rupanya kau senang memainkan dawai-dawai kata
Sungguh ia tak merdu di telinga
Parasmu, cenderung jiwa di kala senja
Gelombang pantai membuyarkannya lalu punah di cakrawala

katamu, kejenuhan menenggelamkan kita
bagiku, kebimbangan lah yang mengapungkan rasa
dermaga nampak sudah di tepian sana
berkayuhlah, suar petunjukmu menyala-nyala

terakhir kali kau cuma berbisik,
'aku ingin meretas dalam pasungan'
Sayang, ketakutanmu pada dinding-dinding
yang katamu bertelinga dan punya mata

Ah, bukankah sudah kusumpahi bumi dan seisinya
‘Bungkam lah kalian semua!’


Posted by si buah terlarang
on 5/08/2009

Selasa, Mei 05, 2009

Sebuah Pertanyaan

Dia bertanya padaku
"Bagaimana rasanya mencintai dua perempuan"

Ah, sederhana jawabku...
seperti mencintai matahari
dan menggairahi rembulan

Siang kala meretas harapan
di sekujur peluh
Pada malam kau merendanya
dengan nyenyak mimpi-mimpi
Posted by si buah terlarang
on 5/05/2009

Minggu, Mei 03, 2009

Lelaki yang melepas rembulan di pekarangan belakang

Malam...
seorang lelaki
saling berbisik tentang ketidakberdayaannya
menjamah jarijemari rembulan

keduanya saling mendengarkan
dititipnya pesan agar ia tak datang lagi
mengganggunya di mimpi-mimpi
dipintanya malam menguapkan angan-angan



Lelaki itu bersama Malam
melepas rembulan di pekarangan belakang...
Posted by si buah terlarang
on 5/03/2009

Jumat, Mei 01, 2009

Aku Pulang

sebagai mula, izinkan kubertakzim pada pengakuan. betapa tak mudah menanggalkan.
gairah yang hadir karena pemujaan. wajahmu sungguh menggenang memenuhi angan.

Tapi, kuputuskan untuk pulang
usai kutaklukkan kau perawan
pada ketundukan akan kata
dalam perjamuan makna yang tak bersemaian


Akhirnya aku pulang. Kumelangkah memasuki pekarangan yang seolah lama kutinggalkan. Bidadariku meyambut girang dengan wajah yang dijajah rindu berbilang malam. Bocahku tak kalah riang. menggelantung di pinggang tak ingin berlepas.

Oh, kurasakan lagi damai. kudekat. mendekap. Bersandar lah engkau letih. Dan resah menguap lah. Kini kutundukkan hasrat-hasrat itu. Bidadariku...sungguh kau bagai dahan. Setia pada kepastian. Bahwa di suatu senja, sang elang pulang dari kelana jiwa. Usai menjelajah ujung-ujung benua.

Ranjang ikut merayakan kepulanganku. usai penaklukan itu. Sebab, kutetap Maha Diraja atas jiwa. Yang terbebas dari kudeta balatentara budak. Yang agungkan panji-panji kesenangan raga. Ya!...Kutaklukkan dia di perjamuan makna. perawan itu tersipu lalu ketakutan pada temaram. Meski kupuja dia bak rembulan.


*Didedikasikan untuk yang menolak 'ketelanjangan' dengan alasan apapun. Prinsip, dan smua-smuanya.
Posted by si buah terlarang
on 5/01/2009