![]() |
| Bersama Kang Acep di Hotel Lesong Batu |
Tidak, Melva, penyair tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:……
(Menjadi Penyair Lagi)
Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata saktinya berubah menjadi prosa:……
(Menjadi Penyair Lagi)
---Acep Zamzam Noor:
Penyair Itu Pengamat Kehidupan
Acep Zamzam Noor, penyair yang lahir di Cipasung, tepatnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung. Karena dilahirkan dan dibesarkan di Ponpes, nuansa keislaman pada sebagian karyanya sangat terasa. Apalagi, ayahnya memang seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) terkenal di Ponpes Cipasung.
Namun, bukan berarti ia “terjebak”. Acep pun menulis banyak puisi yang juga romantis bahkan nakal. Karya terbarunya, antologi puisi Menjadi Penyair Lagi, diambil dari salah satu judul puisi dalam antologi itu. Sabtu (16/5) lalu, di Hotel Singgasana Tangga Arung, Acep yang kini pemimpin Ponpes Cipasung, bertutur tentang kerja kepenyairan bersama Koran Kaltim.
Bagi Acep, puisi itu dibangun dari sebuah intensitas dan kekhusyukan terhadap sebuah kerja kepenyairan. Sehingga, puisi tidak hanya melulu bertemakan cinta pada seseorang. Dimensi sosial, politik, alam, religi dan sebagainya adalah bahan dasar puisi.
Apakah memang puisi itu harus terbangun dari sebuah kepedihan yang mendalam? Menurutnya, hal itu salah satu yang menjadi bisa menjadi pemicu. Tapi, sebenarnya kesedihan dan kegembiraan, keduanya sama-sama bisa menjadi sebuah puisi.
Tema cinta, misalnya, bisa menjadi salah satu pemicu dari intensitas penulisan puisi. Dan lewat angle cinta itu, kita bisa berbicara tentang sosial, alam, dan sebagainya. Jadi, tidak melulu ketika seseorang jatuh cinta harus selalu menghasilkan puisi-puisi romantis. Lantas, sah-sah saja jika sebuah kekecewaan atau kegagalan cinta menjadi pintu kepenyairan?
“Justru, itu nggak masalah. Itu hidayah. Jika cinta kita ditolak, itu lebih dahsyat. Kalau cinta yang diterima biasanya tidak banyak melahirkan puisi. Itu sah-sah saja. Malah kegagalan disitu akan menjadi hidayah,” ujarnya, tertawa.
Bahkan, kata Acep, hal seperti bukanlah sebuah pelarian. Tapi, itu adalah sebuah pengalaman yang sangat digeluti dan menjadi salah satu yang membuat seseorang menjadi penyair.
Namun, intensitas kepenyairan tidaklah seperti menulis yang terjadwal dan harus setiap hari. Puisi, katanya, bisa lahir dalam seminggu hanya hitungan jari. Sebab, yang paling penting adalah kehusyukan terhadap kerja kepenyairan yang melibatkan kerja seluruh indera. Tidak hanya pikiran, perasaan juga pendengaran, penciuman, dan lainnya.
“Kapan puisi itu lahir, itu juga bergantung pada momen-momen tertentu yang hadir. Puisi juga bisa kita paksakan ditulis sekarang, tapi bisa juga mengendap dulu, temanya kita belum tau, akhirnya bisa muncul belakangan,” katanya.
Dikatakannya, penyair itu tidak bekerja ketika menghadapi mesin ketik. Tapi, ia bekerja ketika berhadapan dengan kehidupan. Sehingga produktivitas kepenulisan bukan sebuah indikator bagi seorang penyair.
“Bukan kemalasan sebenarnya. Penyair itu adalah pengamat kehidupan. Dan itu yang lebih berat. Kalau kita perhatikan penyair-penyair terkemuka kita, bukan penulis-penulis produktif. Kecuali beberapa seperti Taufik Ismail yang produktif menulis,” katanya.
Sejauh mana pengaruh pembacaan seseorang terhadap teks sastra atau puisi dengan kemampuan menulis? “Itu salah satu yang bisa menjadi latihan dan pembelajaran kepenulisan. Itu akan membuat kita bisa tahu bahwa begitu banyak ungkapan-ungkapan puisi dan sastra yang sudah ada,” katanya.
Bahkan, pembacaan terhadap teks-teks rumit seperti filsafat dan teori-teori sosial juga bisa menjadi bahan pengayaan. Hanya saja, tukas Acep, ada sejumlah orang yang terlalu suntuk dalam pembacaan teks jenis ini hingga gagal menulis puisi. “Mungkin ketika mengutip teori ini lancar sekali. Tapi, mereka kesulitan mencari ungkapan-ungkapan yang lahir dari intuisi. Jadi, bagi saya memang harus diniatkan dan pendekatannya berbeda,” katanya.
Namun, karena menyadari jebakan-jebakan teks tadi, bukan berarti penyair harus tidak membaca dan menjadi bermasa bodoh. “Itu tetap harus. Namun, menurut saya, orang-orang yang gagal itu karena terlalu suntuk mengutip pendapat orang. Padahal, penyair itu dengan intuisinya juga bisa menghasilkan filsafat,” paparnya.
Intuisi, adalah senjata penyair yang sangat berhubungan dengan kreatifitas dan alam bawah sadar dan tidak berhubungan dengan teori-teori. Berbeda dengan nalar Cartesian yang serba teratur dan dominatif. “Lahirnya orisinalitas itu kan bukan pembongkaran secara keseluruhan. Tapi merupakan penyegaran terhadap sesuatu yang sudah ada. Itu lah bagian dari bagaimana kita menggunakan intuisi,” ujarnya.
Tentang puisi Menjadi Penyair Lagi, Acep mengakui bahwa perempuan bernama Melva disitu adalah nama sebenarnya. Bahkan, nama hotel Karang Setra juga nama hotel yang sebenarnya. Di puisi itu yang agak naratif itu, ia sebenarnya lahir dari pengamatan ssoial dan ingin berbicara tentang Indonesia, namun dengan gaya berbeda seperti puisi sosial Rendra. “Makanya, bisa lahir semacan cerita di dalamnya,” ujarnya.
Puisi tersebut adalah puisi lama yang sempat hilang. “Sempat saya kirimkan ke sebuah pertemuan penyair di festival di Surabaya. Memang ada bukunya. Akhirnya saya ketemukan lagi. Makanya muncul belakangan,” tambahnya.
Namun, bukan berarti ia “terjebak”. Acep pun menulis banyak puisi yang juga romantis bahkan nakal. Karya terbarunya, antologi puisi Menjadi Penyair Lagi, diambil dari salah satu judul puisi dalam antologi itu. Sabtu (16/5) lalu, di Hotel Singgasana Tangga Arung, Acep yang kini pemimpin Ponpes Cipasung, bertutur tentang kerja kepenyairan bersama Koran Kaltim.
Bagi Acep, puisi itu dibangun dari sebuah intensitas dan kekhusyukan terhadap sebuah kerja kepenyairan. Sehingga, puisi tidak hanya melulu bertemakan cinta pada seseorang. Dimensi sosial, politik, alam, religi dan sebagainya adalah bahan dasar puisi.
Apakah memang puisi itu harus terbangun dari sebuah kepedihan yang mendalam? Menurutnya, hal itu salah satu yang menjadi bisa menjadi pemicu. Tapi, sebenarnya kesedihan dan kegembiraan, keduanya sama-sama bisa menjadi sebuah puisi.
Tema cinta, misalnya, bisa menjadi salah satu pemicu dari intensitas penulisan puisi. Dan lewat angle cinta itu, kita bisa berbicara tentang sosial, alam, dan sebagainya. Jadi, tidak melulu ketika seseorang jatuh cinta harus selalu menghasilkan puisi-puisi romantis. Lantas, sah-sah saja jika sebuah kekecewaan atau kegagalan cinta menjadi pintu kepenyairan?
“Justru, itu nggak masalah. Itu hidayah. Jika cinta kita ditolak, itu lebih dahsyat. Kalau cinta yang diterima biasanya tidak banyak melahirkan puisi. Itu sah-sah saja. Malah kegagalan disitu akan menjadi hidayah,” ujarnya, tertawa.
Bahkan, kata Acep, hal seperti bukanlah sebuah pelarian. Tapi, itu adalah sebuah pengalaman yang sangat digeluti dan menjadi salah satu yang membuat seseorang menjadi penyair.
Namun, intensitas kepenyairan tidaklah seperti menulis yang terjadwal dan harus setiap hari. Puisi, katanya, bisa lahir dalam seminggu hanya hitungan jari. Sebab, yang paling penting adalah kehusyukan terhadap kerja kepenyairan yang melibatkan kerja seluruh indera. Tidak hanya pikiran, perasaan juga pendengaran, penciuman, dan lainnya.
“Kapan puisi itu lahir, itu juga bergantung pada momen-momen tertentu yang hadir. Puisi juga bisa kita paksakan ditulis sekarang, tapi bisa juga mengendap dulu, temanya kita belum tau, akhirnya bisa muncul belakangan,” katanya.
Dikatakannya, penyair itu tidak bekerja ketika menghadapi mesin ketik. Tapi, ia bekerja ketika berhadapan dengan kehidupan. Sehingga produktivitas kepenulisan bukan sebuah indikator bagi seorang penyair.
“Bukan kemalasan sebenarnya. Penyair itu adalah pengamat kehidupan. Dan itu yang lebih berat. Kalau kita perhatikan penyair-penyair terkemuka kita, bukan penulis-penulis produktif. Kecuali beberapa seperti Taufik Ismail yang produktif menulis,” katanya.
Sejauh mana pengaruh pembacaan seseorang terhadap teks sastra atau puisi dengan kemampuan menulis? “Itu salah satu yang bisa menjadi latihan dan pembelajaran kepenulisan. Itu akan membuat kita bisa tahu bahwa begitu banyak ungkapan-ungkapan puisi dan sastra yang sudah ada,” katanya.
Bahkan, pembacaan terhadap teks-teks rumit seperti filsafat dan teori-teori sosial juga bisa menjadi bahan pengayaan. Hanya saja, tukas Acep, ada sejumlah orang yang terlalu suntuk dalam pembacaan teks jenis ini hingga gagal menulis puisi. “Mungkin ketika mengutip teori ini lancar sekali. Tapi, mereka kesulitan mencari ungkapan-ungkapan yang lahir dari intuisi. Jadi, bagi saya memang harus diniatkan dan pendekatannya berbeda,” katanya.
Namun, karena menyadari jebakan-jebakan teks tadi, bukan berarti penyair harus tidak membaca dan menjadi bermasa bodoh. “Itu tetap harus. Namun, menurut saya, orang-orang yang gagal itu karena terlalu suntuk mengutip pendapat orang. Padahal, penyair itu dengan intuisinya juga bisa menghasilkan filsafat,” paparnya.
Intuisi, adalah senjata penyair yang sangat berhubungan dengan kreatifitas dan alam bawah sadar dan tidak berhubungan dengan teori-teori. Berbeda dengan nalar Cartesian yang serba teratur dan dominatif. “Lahirnya orisinalitas itu kan bukan pembongkaran secara keseluruhan. Tapi merupakan penyegaran terhadap sesuatu yang sudah ada. Itu lah bagian dari bagaimana kita menggunakan intuisi,” ujarnya.
Tentang puisi Menjadi Penyair Lagi, Acep mengakui bahwa perempuan bernama Melva disitu adalah nama sebenarnya. Bahkan, nama hotel Karang Setra juga nama hotel yang sebenarnya. Di puisi itu yang agak naratif itu, ia sebenarnya lahir dari pengamatan ssoial dan ingin berbicara tentang Indonesia, namun dengan gaya berbeda seperti puisi sosial Rendra. “Makanya, bisa lahir semacan cerita di dalamnya,” ujarnya.
Puisi tersebut adalah puisi lama yang sempat hilang. “Sempat saya kirimkan ke sebuah pertemuan penyair di festival di Surabaya. Memang ada bukunya. Akhirnya saya ketemukan lagi. Makanya muncul belakangan,” tambahnya.
on 5/20/2009
No comments

