Kamis, Desember 26, 2013

redaktur menggerutu, wartawan malah request

Malam-malam di kantor redaksi kami, akhir-akhir ini, makin heboh. Penyebabnya lagu dangdut dan gerutuan yang timbul karenanya. Adalah Tomi Syahputra. Si Elektronik Data Processing (EDP) ini kerap memutar lagu-lagu beraliran dangdut 'antah berantah'. Syair-syairnya itu loh. "aku gadis tapi bukan perawan. keperawananku sudah hilang. gara pacaran....bla...bla...."
Mas Bambang, salah satu redaktur menggerutu. "Ini lagu gak beres." gerutunya. Yang lain cuma tergelak. "Dasar Tomi. Lagumu itu aneh," tukas Rusman, layouter yang duduk tepat di samping Tomi. Anak muda ini cuma cengar-cengir kuda.
Setelah lagu itu, meluncur lagi syair dangdut yang tak kalah 'canggih'. "aku jalak, bukan jablay. aku janda galak, bukan janda lebay..." . Semuanya jadi hafal lirik ini gara-gara Tomi. Rupanya, tugas mengoleksi data berupa foto-foto untuk keperluan redaksi menjalarinya sebuah kreativitas lain. Mengoleksi lagu dangdut 'antah berantah'. Koleksinya lumayan. Bila ruangan redaksi mulai hening, terdengar cuma suara keyboard  dipatuk-patuk jari-jemari wartawan dan redakur, Tomi segera beraksi. Lagu-lagu dangdut itu mengalun dengan volume kecil. Celakanya, bila sudah mengalun, request bermunculan dari para wartawan. "volumenya ditambah. Jalak ya." Rupanya, lagu-lagu ini digemari wartawan. Karena wartawan yang sedang  ngetik berita terhibur, lagu-lagu ini rupanya “membantu” di ruang redaksi. Walaupun efek sampingnya ada redaktur yang menggerutu. Jadilah Tomi berfungsi ganda. Menyiapkan lalu lintas data di server berupa berita dan foto, plus operator musik dangdut pesanan wartawan. Redaktur harus belajar menikmatinya....

Posted by huldi amal
on 12/26/2013

Rabu, November 13, 2013

Bambang, Jilbab Hitam, dan Rantai Redaksi yang “Telanjang”


Apa Pak Bambang akan menyinggung soal tuduhan akun Jilbab Hitam di Kompasiana, saat jadi pemateri hari ini? Tulisan akun itu memang langsung menunjuk hidung wartawan senior Tempo yang pernah bertugas selama delapan tahun di London itu. Pertanyaan ini terus saja menggelayut dalam kepala saya. Terus berngiang hingga mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini masuk Matahari Room. Saya didera penasaran.
Waktu menunjuk pukul 08.00. Di ruangan pertemuan milik Arya Duta Suites ini, saya, juga kawan-kawan media lainnya, menunggu kedatangan Bambang Harymurti. Kami peserta workshop pengelolaan media. Sang empunya acara, PT Pertamina EP Asset V. Kegiatan dibuka Pjs GM Pertamina Asset V, Sigit Budijatno. Selain wartawan, pesertanya adalah staf Humas dari sejumlah field di lingkungan Pertamina Asset V.  
Bersama Bambang Harimurti
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Mengenakan batik putih bermotif kembang-kembang kecoklatan, Direktur Utama Tempo Inti media ini berjalan pelan memasuki ruangan. Menebar senyum. Ia langsung menyapa sejumlah awak Tempo Institute. Lembaga yang digandeng Pertamina guna menggelar workshop sejak Rabu, 13 November hingga Jumat, 15 November.
Bambang menjadi pembicara pertama. Ia memaparkan tentang Peta Kepemilikan Media Terkini Di Indonesia-Kepemilikan dan Independensi. Independensi, hal yang saya tahu, teramat dirawat dan menjadi ruh bagi para jurnalis Tempo. Lantas, apakah ia akan menyinggung soal jilbab hitam ya? Dituding memeras Direktur salah satu bank pelat merah dalam kasus korupsi SKK Migas, tentu bukan perkara remeh. Pertanyaan ini terus menggelitik saya selama pria ini berdiri di hadapan kami, para peserta workshop.
Sebagai mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Bambang sangat up date  dengan kasus-kasus ‘menyimpang’ dalam praktik media. Yang paling menyita perhatian saya adalah ketika ia sampai pada salah satu pasal yang mengatur tentang independensi pers. Bahwa wartawan bisa melaporkan big boss-nya ketika mengintervensi medianya sendiri. “Itu tergantung wartawan. Punya nyali apa tidak,” sergahnya.
Tiba di topik itu setelah dia memaparkan tentang peta konglomerasi media di Indonesia. Bagaimana kepemilikan media, utamanya TV, masih terpusat pada segelintir elit. Praktek ini mengancam prinsip keberagaman isi dan demokratisasi penyiaran. Utamanya bagi media yang menggunakan frekuensi publik. “Ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Penyiaran,” ujar Bambang. Dewan Pers dan Komisi Penyiaran, kata dia, berkali-kali menggonggong soal ini.
Nah, menurutnya, hal ini makin krusial menjelang perhelatan Pemilu Presiden. Sejumlah konglomerat pemilik media adalah bakal kandidat presiden dan wakil presiden. Logikanya, siapa yang paling banyak menguasai media bisa menggalang opini publik untuk mendongkrak elektabilitasnya. “Hari Tanoe punya stasiun TV paling banyak. Dia bisa menang, dong. Tapi memang tak segampang itu kenyataannya,” kata Bambang soal bakal calon Wapres dari Partai Hanura berpasangan dengan Wiranto, sang ketua umum.  
Nah, kembali soal nyali wartawan yang bisa melaporkan big boss-nya tadi, Bambang yang pernah beperkara dengan konglomerat Tomy Winata ini mengisahkan tentang keberanian wartawan salah satu stasiun TV swasta. “Liputan khusus mereka soal penyimpangan di balik LP tak jadi ditayangkan karena intervensi menteri Hukum dan HAM. Menteri menelpon pimpinan agar liputan itu tak ditayangkan. Pimred-nya kami (Dewan Pers) panggil,” bebernya. Akhirnya, liputan khusus itu bisa menyapa pemirsa.
Salah satu peserta menanyakan soal independensi media yang bisa saja ewuh pakewuh dengan pemasang iklan. Apa jawab Bambang? “Bagi saya, pemasang iklan ketika memasang iklan bukan karena mereka takut kepada medianya. Pemasang iklan di Tempo, bagi saya, justru karena mereka merasa bahwa Tempo adalah media yang paling efektif bagi mereka. Kalau takut ya mending gak usah masang,” katanya.
Klop. Bambang, tiba-tiba, langsung berujar, “saya sekarang dituduh memeras. Gila apa Bambang meras Direktur Mandiri.” Akhirnya, pertanyaan yang tadi berngiang di telinga saya beroleh jawaban. “Bagi saya, memeras itu seperti candu. Sekali anda melakukannya, itu berbahaya. Saya tidak akan melakukan itu,” tambah dia.
Akun jilbab hitam di media warga Kompasiana memang menimbulkan kehebohan di media sosial. Akun ini memposting tulisan yang menuduh Bambang, bersama lembaga Kata Data memeras Bank Mandiri sebelum menurunkan cover story “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?”
Bambang memang sudah membantah. Semua orang, termasuk saya, punya hak percaya atau sebaliknya soal kebenaran pengakuan dia. Hingga, sebuah bantahan lain, bukan keluar dari mulut Bambang, datang juga di ruangan di mana saya harus berjuang menahan gempuran pendingin udara.
 “Kami menyebutnya Intranet,” kata Direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim, ketika saya menanyakan nama software ini.  Mardiyah, narasumber setelah Bambang, usai simulasi rapat perencanaan redaksi, tampak mengakses Intranet ini. Ia mengetik namanya lalu password.
Software ini menyahihkan anggapan saya selama ini bahwa Tempo benar-benar, setidaknya berusaha, merawat independensinya. Independensi  tak lagi sekadar doktrin yang di-install dalam memori otak wartawan. Tapi, bagaimana Tempo juga memanfaatkan teknologi dalam upaya merawat kredo yang satu ini.
Dari penjelasan Mardiyah, saya mengetahui bagaimana rantai keredaksian Tempo. Tak hanya soal rantai mulai keranjang mentah, keranjang redaktur, keranjang bahasa, redaktur senior, keranjang tata letak hingga berita menjadi hidangan matang bagi pembaca.
Intranet, kata Mardiyah dirancang seorang mahasiswa,  menjadikan setiap fase dari rantai panjang keredaksian tadi menjadi sesuatu yang ‘telanjang’.
Setiap berita yang akan ditulis melewati rapat redaksi. Angle tulisan juga disepakati mekanisme rapat. Sejak tahap ini, hingga berita diedit, semua transparan. Lewat Intranet yang diakses dengan password itu bisa terlihat, siapa redaktur yang mengedit tiap tulisan, angle awal yang disepakati apakah berubah atau tidak, hingga di fase akhir di mana tulisan benar-benar sudah jadi.  “Dengan begitu, semua bisa mengontrol. Jadi, kalau ada angle peliputan tiba-tiba berubah saat editing, tentu akan terlihat. Kenapa tak sesuai dengan rapat?” tukas Mardiyah.
Menurut redaktur rubrik ekonomi Tempo ini, mekanisme 'telanjang' itulah yang menjaga setiap kemungkinan adanya intervensi siapa pun menjelang tenggat akhir dead line penulisan. Apalagi  karena “kepentingan’ pribadi.  “Lalu, di tahap mana Pak Bambang Harimurti yang dengan militansi jurnalistik seperti itu bisa mengintervensi karena mau memeras,” bebernya.
Setiap rapat perencanaan saja, dibeberkan Mardiyah, ide-ide Bambang bisa ‘dibantai’ dalam rapat redaksi dan gugur. “Pimred kami saja menjadi ketua forum Pimred, kami sidang rame-rame,” tukas dia.
Dari akun FB pendiri Tempo, Goenawan Mohammad (GM), saya langsung mendapatkan cerita segar bagaimana ending sidang itu. Usai sidang, GM langsung menulis di wall FB-nya. Singkat tapi tetap dengan gaya khas eseinya: Wahyu Muryadi menangis dan mengaku salah. Muryadi akhirnya mundur dari jabatan yang dikhawatirkan menyeret Tempo menjauh dari kredo independensi.
Kini, satu pertanyaan baru menggelayut lagi di kepala saya. Sebenarnya, dipicu pernyataan salah satu awak Tempo di ruangan workshop. Bahwa, ternyata ancaman baru bagi jurnalisme adalah jurnalisme kewargaan. Jilbab hitam, tentu itu yang dimaksudkannya. Benar-benar berbahayakah? Sejak awal, kredo jurnalisme kewargaan menyebutkan setiap warga adalah reporter. Maka sejak awal pula ada keraguan di sana. Terutama, tentang bagaimana nilai dan prinsip-prinsip dalam jurnalisme ditegakkan. Apakah jurnalisme warga mengatakan fakta, terverifikasi, oleh dan menurut siapa? Hal yang tentu tak bisa didapatkan jawabannya dari sebuah akun yang menulis tanpa identitas lantas menghilang tak tentu rimbanya.  
Posted by huldi amal
on 11/13/2013

Minggu, Oktober 06, 2013

Suasana baru

Saya ingat pertama kali menjejakkan kaki di kota ini. Ketika itu, lelampu warna-warni berkilauan di sekujur tubuh jembatan Golden Gate Tenggarong. Keindahan lampu-lampu tersebut membuat saya terpesona. saya tiba malam hari. begitu berada di tengah jembatan, saya merasa bergetar. Ini lah kabupaten terkaya yang pernah disebut-sebut dalam pembicaraan beberapa orang dan  saya sempat dengar.
Saya tak pernah menyangka akan mengadu nasib di sini. Saya  memang diajak mertua. Setahun lamanya, saya tinggal di pondok mertua indah. Setahun waktu yang cukup singkat. Lalu,mertua saya meninggal dunia. Istri saya resmi jadi yatim piatu. Saat itu, kami berdua, saya dan istri, sempat ingin pulang kampung. setidaknya pulang dan mengadu hidup di dekat keluarga. entah kenapa, niat itu tak pernah kunjung terwujud. hingga kini, sudah delapan tahun berlalu. Kami hidup dan bertahan tanpa sanak famili. keluarga kami hanya para tetangga dan kenalan. Mereka yang selama ini kerap membantu segala kesulitan yang kami temui di sini. Tapi, begitu lah hidup di perantauan. Kita bisa belajar menyelesaikan masalah apapun. Setiap masalah pasti punya jalan keluar. kami menggantungkan segalanya pada kemampuan diri sendiri. Tanpa melupakan kehadiran, bantuan, juga membantu orang lain.
Tak terasa, saya mulai belajar berdamai dengan segala keinginan. Keinginan-keinginan itu saya simpan rapi untuk skala prioritas hari ini. Saya masih menyimpan cita-cita yang entah kapan bisa saya wujudkan lagi. Saya ingin kuliah. tapi, kepentingan keluarga membuat saya berpikir ulang. Apalagi, profesi istri  sebagai PNS tak bisa ditinggalkan. 
Saya memang harus belajar mensyukuri apa yang ada. Meski sempat menganggur, saya masih bisa kembali berkarir di dunia jurnalistik. saya dan istri bersepakat untuk terus berjuang di kota ini. kami punya cita-cita. tak muluk-muluk. Bisa membina keluarga, mendidik anak-anak yang dititipkan Tuhan, agar mereka kelak bisa bangga berdiri di kakinya sendiri. 
Dua hari belakangan, kami baru menikmati suasana rumah kontrakan baru. berbeda dengan sebelumnya, di mana kami harus berbagi kebisingan dengan para tetangga. Maklum kontrakan tersebut bersekat-sekat. kini, kami bisa sedikit menikmati rumah tunggal. suasana agak tenang karena letak rumah yang sedikit menjorok ke dalam gang. Semoga, di rumah baru ini, semuanya berjalan baik dan keberkahan serta lindungan Allah, senantiasa berlimpah. Juga menjadi titik awal bagi kami bisa membangun rumah sendiri. rumah yang menjadi surga bagi kami.   Amin.
Posted by huldi amal
on 10/06/2013

Kamis, Oktober 03, 2013

tamparan si raja hakim

wartawan bertanya pada sang raja hakim itu perihal kata-katanya tempo hari. "koruptor itu pantas dipotong jarinya. biar jadi efek jera". itu kata-katanya sendiri soal korupsi dan efek jera pada pelaku korupsi. ketika itu publik memujanya. banyak yang menggantungkan keadilan konstitusi pada palu di tangannya. 
begitulah dulu. ketika ia bicara soal korupsi dan efek jera, publik bersetuju, bersorak, dan bertepuktangan menyambut ide radikalnya.
kini, semuanya berubah 2 X 360 derajat. pakaian kebesarannya telah sobek. palu yang dipegangnya patah. sang raja hakim jatuh ke titik nadir. menjadi tersangka korupsi, mungkin tak pernah melintas di benaknya. lalu, apakah dirinya ingat soal kata-katanya sendiri tentang hukum potong jari pada pelaku korupsi? lupakah dia?
jawabannya jelas. sang raja hakim itu sama sekali tidak lupa. Begitu lah, ketika ia keluar dari sarang para pemburu korupsi. Dengan pakaian "kebesaran" baru: tahanan KPK. segerombolan wartawan mencegatnya. Dari mulut seorang wartawan, mencuat pertanyaan itu. "Bagaimana dengan hukum potong jari? Jawaban sang raja hakim jelas menggambarkan ia tak lupa dengan kata-kata yang pernah diucapkannya sendiri. hanya saja ia tak memberi jawaban  dengan kata-kata. ia yang kini terpojok di sudut sempit, nyaris tak bergerak, spontan memberi jawaban berupa tamparan kepada si wartawan. Ah, ia semakin lupa. tangannya itu pernah memukulkan palu keadilan. adakah beda rasanya ketika ayunan tangannya mendarat ke wajah wartawan? sepertinya, makin pantas jari tangannya itu dipotong. untuk mengingatkan dirinya, bahwa tamparannya, juga adalah keruntuhan kewibawaan sebuah lembaga yang diamanatkan oleh, sekaligus penjaga gerbang bernama konstitusi.
Apa yang lebih miris dari seorang raja hakim  tertangkap tangan menerima suap? Ini seperti seorang penganjur agama tetapi kedapatan berbuat maksiat. orang pasti terhenyak. Berada pada sikap terbelah, antara percaya dan tidak. tapi, bukankah manusia adalah mahluk dengan segala kemungkinan bisa terjadi. 
entah kutukan apa yang tengah menanti negeri ini di depan sana. seseorang yang pernah berapi-api membicarakan efek jera korupsi kini seolah dipaksa harus menelan ludah sendiri. terjerumus ke praktik nista ini ternyata tak susah. cukup sedikit celah. tinggal dicongkel pelan, sedikit demi sedikit, lalu Rp 3 miliar itu bisa masuk dengan lancar.
sekarang, akan kemana kita menggantungkan palu konstitusi. masihkah kita percaya di dalam Mahkamah ini tak ada lagi mental serupa? Episode cerita sang raja hakim memang baru bagian awal. anggap saja ia nantinya tak terbukti, atau nantinya bisa membuktikan tak korupsi. anggap saja begitu. tapi, pertanyaan kemudian, bagaimana kita menghilangkan celah agar para hakim konstitusi lainnya tak lagi "masuk angin"? andai saja kisah ini ada di buku dongeng, kita tinggal menutup saja buku itu. tak perlu lagi harus tahu ending cerita si raja hakim. Toh hanya dongeng. tapi, ini bukan dongeng. bahkan, ini lebih dari sekadar cerita. ini narasi besar tentang nasib dan perjalanan sebuah bangsa. karena ini perjalanan, kita memang harus melangkah sembari berusaha menepis ketidakpercayaan dan keraguan yang semakin menggelayut. di ujung cerita, mari membayangkan, negeri ini telah lulus dari ujian ketidakadilan, ketidakbecusan, dan kenistaan anak-anak yang dikandungnya sendiri.
Posted by huldi amal
on 10/03/2013

Kamis, September 26, 2013

Satu pelajaran lagi.....

Kali ini, ada yang salah dari keputusan saya dalam hal pemberitaan. saya memutuskan menaikkan berita tanpa ada hak jawab dari pihak yang diberitakan. Walaupun saya tetap berusaha meminta reporter untuk mengupayakan hak jawab tersebut. Sebuah berita seharusnya utuh memberi hak jawab ketika diturunkan. Sayangnya, hak jawab itu sulit didapatkan karena kontak narasumber yang memang tidak ada. 
Sekali lagi ini jadi pelajaran. Meski tak perlu mencari pembenaran, harus saya akui bahwa keputusan itu dikarenakan sebuah instruksi. Instruksi untuk tidak lagi sekadar menjalankan jurnalisme bercita rasa datar di hadapan penguasa. kritik harus ada. 
Yang saya tidak tahu, instruksi itu ternyata masih berada dalam wilayah 'abu-abu'. Sejak awal saya mahfum benar, media tempat saya bekerja memang punya proximity (kedekatan) psikologis dengan penguasa di daerah ini. Lalu, ketika ada instruksi untuk 'melawan' dan sedikit garang , saya lantas menduga satu hal. Media ini sudah sadar benar kemana seharusnya mengarahkan wajahnya. Media ini sudah kembali kepada khittahnya untuk melayani kepentingan sebenarnya: publik. 
Keyakinan ini masih utuh sebelum akhirnya sebuah pesan mampir di blackberry messenger (BBM) saya. Saya setuju sekali jika kritikan yang datang ini menyoal soal keberimbangan berita. Kebetulan pesan BBM ini datang dari mantan pimpinan koran saya. Tapi, belakangan, yang lebih disoal adalah kemana kritik pemberitaan tersebut mengarah. 
Dari sinilah saya menyimpulkan, bahwa kebijakan internal redaksi yang saya yakini tadi harus dicermati ulang. Ada hal yang kasatmata tengah terjadi dan belum bisa saya tangkap seutuh-utuhnya. Mungkin ada 'pertarungan' besar di balik ini. Harus diakui, warna kepentingan politik di media ini adalah hal yang paling sukar ditutupi. Lantas, tidak mustahil pula, politik lah yang kemudian 'membelah' sikap dan kebijakan yang terjadi akhir-akhir ini. Bukankah pemeo mengatakan, 'dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan".       
Jika demikian, sebagai jurnalis, hal pertama yang akan saya lakukan adalah memastikan setiap pemberitaan wajib memenuhi hak jawab. Hatta, pemberitaan itu tidak berkaitan dengan kritik apapun kepada penguasa.Ini sudah menjadi tuntutan dan kaidah etika jurnalisme sendiri. Berkaitan dengan kebijakan redaksional, saya memang harus pandai membaca 'tanda-tanda' dan memahami psikologi di internal manajemen media ini. Jika perlu, saya harus mempertanyakannya secara lugas. Apa, mengapa dan bagaimana yang harus kami lakukan terkait arah kebijakan berita.  
Posted by huldi amal
on 9/26/2013

Senin, September 02, 2013

Ketika kesibukan menyita kami....

Aku merindukan setiap inci lekuk tubuh perempuanku. Setiap aroma yang pendar dari kulitnya membuatku bergairah. kata-kata cinta yang dia ucapkan hari ini meriungkan sukacita. Memang, semanya bermula dari kesibukan yang menyita waktu-waktu intim kami,akhir-akhir ini. Kami jarang bertemu dalam dekapan yang saling menghangatkan. Malam-malam hanya lewat sebagai periuk penanak letih. Begitu pagi, kami hanya saling tersenyum. Nyaris sekejap. Obrolan-obrolan terasa begitu singkat di sela ruap kopi dan teh manis yang kami seruput bersamaan.
Kesibukan perempuanku memang lebih menyita energinya. Dalam dua pekan terakhir, dia harus berangkat begitu pagi. Pulang tengah malam. Kerap kali dia harus melakukan perjalanan dinas ke kecamatan-kecamatan lain dalam sehari. Saya dituntut untuk menjadi lelaki dan suami lebih penyabar dan lebih memaklumi setiap 'kegaduhan' yang ia bawa sepulang kerja. 
Saya harus mengerti rasa letih yang dia tanggung. Kesibukannya memang luar biasa. Maklum, ada hajatan besar yang membuatnya harus lebih banyak di luar rumah. Karena itu lah, terkadang tugas-tugas rutinnya sebagai ibu saya ambil alih. Anak-anak  kerap lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh dan saya.
Saya sendiri memang harus pulang malam. Karena jam kerja yang sudah sememangnya sebagai pekerja media.
Tapi, ada hal yang bisa jadi hikmah dan kesyukuran tersendiri. Setiap kali ada jeda dari kesibukan, kami memanfaatkannya dengan sangat baik. Kualitas hubungan kami seakan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Keintiman yang terbangun terasa begitu berharga antara kami berdua dan anak-anak. 
Ya, seperti hari ini. Saya merasa begitu menggilai setiap lekuk tubuh perempuanku itu. Tiba-tiba saja saya merasa jatuh cinta, benar-benar membutuhkan dia, dan betapa berartinya dia dalam hidup. Semoga perasaan ini terjaga hingga kami menua. Bila umur kami dipanjangkan oleh-Nya. Amin..amin..ya Allah.   
Posted by huldi amal
on 9/02/2013

Jumat, Agustus 23, 2013

Sebuah tawaran via fesbuk

seseorang yang baru kukenal lewat fesbuk menawari  sesuatu. Cukup menarik perhatian saya. Dia mengaku manajer sebuah penerbitan buku elektronik (e-Book). Ia menawarkan cara menerbitkan naskah buku di situs online-nya. Buku apa jenis apa saja. Mulai kumpulan cerpen,puisi, buku kelimuan, atau apa saja. 
Mungkin ini sebuah kebetulan yang menyenangkan. Saya punya beberapa kumpulan puisi yang pernah ditulis 2-3 tahun lewat. Belum ada satu pun yang saya publikasikan. Kecuali di laman fesbuk dan situs pribadi. Tawaran ini cukup bagus. Sebab, sejak awal saya masih kurang pede menawarkan puisi-puisi saya ke lembaga penerbitan konvensional. Apalagi, saya mendengar, di penerbitan konvensional, terkadang kita diwajibkan membeli 500 eksemplar buku yang kita tulis sendiri kala diterbitkan.
Tawaran ini menarik bagi saya karena relatif lebih mudah. Lagipula, saat ini saya tidak memikirkan royalti buku. Walaupun, di website orang ini, e-book juga bisa diperjualbelikan, Si penulis juga diberi royalti, Bahkan, bisa jadi ada penerbit konvensional yang mau menerbitkan e-Book kita. Lumayan juga.
Yang perlu saya siapkan sendiri cuma desain cover dan tata letak halaman buku. Mudah-mudahan kumpulan puisi ini bisa jadi e-Book dan bisa dipajang di website lembaga tersebut. Niat saya hanya satu. Semoga kumpulan puisi ini bisa menyumbang sedikit saja terhadap khazanah perbukuan walau tak bagus-bagus amat. Semoga ya pemirsa. 
Posted by huldi amal
on 8/23/2013

Rabu, Juni 19, 2013

Makin Irit Nikmati Listrik

Dalam pekan-pekan ini, warga Kaltim di tiga daerah, Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Balikpapan, makin irit mendapatkan penerangan listrik. Rasanya seperti kembali ke suasana baheula. Lilin makin laris. Lampu padam semalaman. Bisa dibayangkan tidur warga tak lagi nyenyak.
Tak nyenyak karena kepanasan. Kipas angin tak berfungsi. Bagi yang ekonomi kelas atas, AC mereka tak berfungsi. Yang punya duit segudang punya cara tersendiri ketika listrik padam semalaman: nginap di hotel. Nah, yang miskin seperti saya punya satu cara. jendela dibuka lebar-lebar. Nyamuk berdatangan. Pakai anti nyamuk bakar. Beres. Meski harus tetap mencoba berdamai dengan gerah udara yang tak bisa sepenuhnya  diusir.
Masalah bermula ketika ada fasilitas pembangkit PLTU di daerah kami, Kutai Kartanegara, meledak. Travo arus salah satu PLTU yang menjadi bagian dari  sistem interkoneksitas MAhakam, jaringan listrik yang menyuplai daya listrik  di tiga daerah. Listrik padam nyaris 12 jam. Meski sempat menyala beberapa jam, peristiwa ini berulang malam selanjutnya. 
Anehnya, tak ada penjelasan dan pemberitahuan kenapa pemadaman terjadi lagi, Dengan durasi yang nyaris sama. Kondisi ini jelas bikin jengkel semua orang. Pelaku usaha mengeluh. Kantor PLN mulai didemo.
PLN rupanya tak bisa menjamin pemadaman segera berakhir. Mereka hanya berjanji memberikan diskon 10 persen kepada pelanggan. Ini sebagai bentuk kompensasi akibat pemadaman yang tak berkesudahan tadi.
Masalahnya tak hanya sebatas diskon. Semua sektor terpukul ketika listrik tidak kunjung beres. Bahkan, ada korban jiwa. Meski listrik mati bukan penyebab langsungnya. Musibah kebakaran terjadi di Kota Samarinda. Karena padam semalaman, pasti orang mencari penerangan alternatif. Nah, sebagaian memilih lilin. Inilah yang memicu kebakaran. Ibu dan anak tewas terpanggang. Kalau sudah begini, siapa yang patut disalahkan. Saya pikir, rencana class action terhadap PLN patut didukung. Biar PLN bisa terus berupaya membenahi pelayanan kepada pelanggannya.
Posted by huldi amal
on 6/19/2013

Kamis, Juni 13, 2013

Pengen beli sepatu futsal, eh malah dapat Android...

Saya memang tak bilang terima kasih secara tersurat. tapi dalam hati, saya sungguh berbunga-bunga. mungkin harus ada kata-kata yang lebih dari sekadar 'terima kasih'. Jika memang ini harus dibalas, saya bingung, bagaimana cara membalas nantinya.

Hari itu, istri saya tiba-tiba bilang satu hal. saya tidak menyangka ia benar-benar mewujudkannnya, kemudian. Bermula dari keinginan yang saya utarakan padanya. "saya mau beli sepatu futsal". "berapa harganya"? saya bilang."800 ribu". Kok mahal amat, jawabnya. Yah, namanya sepatu futsal ori bermerek, ya memang mahal. Lalu dengan santai dia bilang. "gak usah beli sepatu yang mahal-mahal. Tuh, kan masih ada dua pasang". Ia menunjuk lemari sepatu. di situ, ada dua pasang sepatu futsal brand lokal yang sering saya pakai setiap kali jadwal futsal kantor. Sesekali ada jadwal ekstra lawan tim lain. 

Saya memang bermimpi punya sepasang sepatu futsal merek Nike. Sepatu yang dipunyai teman sekantor. "Nyaman dipakai," begitu teman itu berpromosi soal sepatu Nike-nya itu. Rupanya, bak gayung tak bersambut. istri  tak setuju dengan proposal yang saya ajukan tadi. Eh, yang bikin kaget dia punya ide membelikan sesuatu buat saya. "Mending beli HP. HP Ayah kan udah ketinggalan jaman". Iseng, saya bertanya. "HP apa?". Samsung Android. Wow. Harganya jauh di atas proposal sepatu yang saya ajukan.

Rupanya, niat membelikan Samsung Android buat saya itu juga karena melihat HP teman sekantornya. "HP Indra (teman sekantornya) bagus. Samsung Grand Duos". Layarnya lebar. Bagus buat Ayah," katanya. Saya manggut-manggut. (dalam hati sih sebenarnya berbunga-bunga dan sudah tak sabar dibelikan. cieeeeeeeee).

Akhirnya, hari itu tiba juga. Istri saya pergi sendiri ke gerai Ponsel di kota kami. Sore-sore, ketika saya masih berkutat dengan editing berita halaman koran, HP saya berdering. "Malam ini kalau bisa cepat pulang ya? Samsung Androidnya sudah menunggu," ujar istri saya di seberang telepon.

Duh, asyiknya. Ia benar-benar membuktikan ucapannya. Malam itu, saya menambah speed jari-jari saya di atas papan ketik. tapi, tetap harus teliti jangan sampai hasil editing berita saya amburadul dan banyak salah-salah huruf. Hati saya digempur rasa penasaran, gimana sih bentuk Android Duos itu? Saya memang gak sempat malam itu searching soal spesifikasi dan bentuk Samsung Grand Duos.

Sampai di rumah, ponsel Android warna putih sudah berganti rupa. Istri membelikan cover warna biru lembut. Soal memilih warna, perempuan ini memang tak bisa diragukan. Saya memang tak berterimakasih padanya. secara tersurat. ini satu kelemahan saya sebagai suami. Jarang memuji istri dengan terang. Ini berkali-kali dia keluhkan. Tapi, saya sungguh berterimakasih dari lubuk hati paling dalam. "Thanks honey atas hadiahnya". Kata-kata itu saya tulis di status Blackberry Mesenger. Semoga dia membacanya. pasti deh. 

Dan, Android itu kini membantu saya setiap kali membutuhkan informasi sesegera mungkin. Kecepatan akses, layar yang cukup lebar, memudahkan saya setiap kali browsing, membaca, mengirim email. Harus diakui, saya harus belajar banyak memaksimalkan fungsi gadget yang saya miliki ini. Satu kelemahan juga yang bikin malu-maluin. Saya agak gaptek, pemirsa....





Posted by huldi amal
on 6/13/2013

Jumat, Juni 07, 2013

Catatan kecil sembari menanti laga Milan vs Barca


Tiba-tiba saya merindukannya. si penyuka kopi pahit. Pembawaannya tenang, penyabar dengan gaya khasnya saat tertawa. Bertahun-tahun setelah kematiannya, Ibu saya bilang, 'saya tak lagi menangis setelah jasad kakekmu membeku'. Bukan karena Ibu tak bersedih ditinggalkan Kakek. Tidak. Ibu telah bersedih lebih dulu sebelum Kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibu bercerita. Sewaktu saya masih bocah, seumuran anak TK, kakek sudah berpesan. “Tidak usah datang menjenguk kalau saya sakit. Tidak usah tinggalkan pekerjaan. Nanti saya minta datang dan berkumpul, maka suruhlah saudara-saudaramu datang semuanya.” Begitu pesan kakek pada Ibu.
Dan hari itu akhirnya datang. Saya tak ingat tanggalnya. Kakek jatuh sakit. Ia berpesan agar semua anak-anaknya berkumpul. Ibu sudah membaca isyarat itu. Entah karena berada paling jauh dari kampung Kakek, Ibu berinisiatif menjemput kakek. Alasannya biar dirawat di rumah sakit setempat. Semua paman dan tante ikut datang.
Hingga pada sebuah malam, telepon berdering. Dari Sulawesi Tengah. Ibu mengabarkan kakek telah berpulang. Saya tak hadir di situ. Karena saya berada jauh dari kampung. Waktu itu saya masih kuliah semester pertama di Kota Makassar. Tapi saya merasakan duka banyak orang. “Banyak betul orang datang melayat.” Cerita ibu.
Saya ingat bagaimana pembawaan kakek. Ia memang tak pernah terlihat marah sekali pun. Saya tanya pada Ibu. Pernahkah dimarahi Kakek semasa kecil? Tidak pernah. Selaku suami pun, ia juga begitu sabar kepada nenek, istrinya itu. Bahkan, ketika istrinya marah-marah, tawanya berderai penuh makna. Rasanya  saya begitu sulit mengikuti jejak-jejak kesabarannya.
Lalu saya tahu dari cerita ibu. Saat kakek sakit, ia kerap menangis sembunyi-sembunyi. Ibu membaca sebuah isyarat dari kata-kata kakek. “Setelah ini saya tidak akan sakit lagi”. Dan benar. Kakek pergi setelah menyebutkan hari dan jam di mana akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya.
Karenanya, saya jadi teringat novel karya almarhum Prof. Kuntowijoyo. Judulnya Wasripin dan Satinah. Di situ, ada sepenggal kisah tentang paman Satinah. Prof Kunto menulis, paman Satinah mengetahui tentang ilmu kematian. Saya jadi teringat kakek. Kakek punya kitab berhuruf lontara’ (aksara bugis). Walau bukan orang bugis, ia berguru pada seorang bugis. Suatu malam kakek pernah bilang pada saya. “Ayahmu sangat tepat belajar dari buku ini karena ia orang bugis dan bisa baca tulis dalam aksara lontara’. Sayang, ayahmu kurang sabar.”
Begitu banyak kenangan tentang kakek. Ia disenangi banyak orang karena jiwa sosialnya. Banyak orang sakit yang diobatinya. Tanpa mereka harus berpikir biayanya berapa. Tinggal datang saja ke rumah kakek. Lalu ada cerita tentang seorang jawara yang konon sudah malang melintang ke berbagai daerah nusantara hingga mendekam di Nusa Kambangan. Jawara itu hanya datang untuk menguji ilmu kakek. “Orang itu pulang begitu saja setelah melihat wajah kakekmu,” kata seorang adik laki-laki ibu. Entah benar atau tidak. Konon, sang jawara itu pulang karena melihat kepala kakek bercabang dua. Namun, yang paling lekat di ingatan saya adalah ketika suatu hari kakek menyeduh kopi. Ketika itu saya libur sekolah dan berkunjung ke kampung kakek. Saat menyeduh kopi itu, wajahnya girang bukan main. “Ini biji kopi yang ditanam di halaman rumahmu. Biji kopi unggulan.” Saya membayangkan wajah kakek. Saya pun tiba-tiba ingin menyeduh kopi. Sembari menunggu laga liga Champion Milan vs Barcelona.

Sebuah tulisan lama. Tenggarong, 29 Maret. Sebelum laga Milan vs Barca.  
Posted by huldi amal
on 6/07/2013

Senin, Juni 03, 2013

hikayat banjir

 hujan menyerbu kotaku.
seekor ikan meloncat ke piring makan
sungai Mahakam makin penuh, katanya.
kapan surut?

tunggulah, jawabku.
kompor, panci, dan sambal
mengeringkan badannya kemudian.
Posted by huldi amal
on 6/03/2013

pada senyummu yang kupikir juga sebuah puisi

pada sabit senyummu itu,
alamat puisi yang entah
telah lama kita lupakan.

kau berjanji,
"besok alamat puisi itu aku kirimkan"

kutunggu dengan mata pejam
lengkung senyummu itu datang lagi.

kupikir itu juga puisi. entah siapa menuliskannya.

siapa yang butuh alamat itu?
aku.
karena hilang senyummu ditelan bulan semalam

Posted by huldi amal
on 6/03/2013

Selasa, Mei 28, 2013

Tiga Penyair di Lanjong Art Festival 2013

sok dekat sok kenal seusai workshop
“Selamat menunaikan ibadah puisi”. Ini tagline blog pribadi penyair Joko Pinurbo. Akrab disapa Jokpin.  Ia hadir bersama penyair Acep Zamzam Noor dan Beni Setia. Ketiganya kelahiran Jawa Barat. Jokpin lahir di Sukabumi 11 Mei 1962. Acep  di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Beni lahir di Bandung, 1954. Ketiganya didatangkan sebagai narasumber workshop sastra, salah satu menu acara di Lanjong Art Festival 2013.
 
Kemarin, ketiganya berbagi ilmu kepada peserta workshop. Tak ada kesan formal. Diskusi berlangsung santai sembari menikmati minuman dan penganan. Duduk pun lesehan. Beralas karpet warna hijau di salah satu ruang Sekretariat Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara. Tapi, tiga penyair tenar di jagad perpuisian Indonesia ini melayani pertanyaan peserta  dengan lugas. Diskusi mengalir lancar. Para peserta ada dari kalangan pelajar hingga guru Bahasa Indonesia.
Ketiganya bergantian memapar-kan soal seni berpuisi. Kerap kali saling menimpali. Jokpin misalnya. Ia berujar, puisi yang baik adalah puisi yang punya kata kunci kuat. Kata kunci itu bisa didapatkan melalui pengalaman dari melihat atau merasakan sesuatu, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Di Tenggarong misalnya, banyak kata kunci yang bisa kita ambil untuk dijadikan sebuah puisi. Seperti Mahakam, perahu, ikan patin dan lain sebagainya. Dari kata kunci tersebut kemudian dirangkai menjadi puisi. Alam disini sudah menyajikan keindahan, tinggal kita saja lagi yang ingin membuatnya sesuai  perspektifnya masing-masing,” ujar Joko.
Hal yang terpenting lainnya, sambung Jokpin, penyair itu harus baik dalam penguasaan kosakata sehinggabisa menentukan kata-kata yang tepat  dalam menggambarkan apa yang ingin disampaikan dan dimengerti serta kaya makna. “Perlu membuat sebuah catatan kecil dimana bisa mencatat kata-kata baru. Saya kerap menggunakan HP,” tuturnya.
Beni menambahkan, pada dasarnya penyair atau umumnya penulis, tidak fokus hanya pada satu atau tema tertentu. Menulis itu juga sebenarnya terkait hal-hal  yang  ingin diungkapkan, baik itu dari pengalaman, angan-angan dan lain sebagainya. “Oleh karenanya, harus terus belajar hingga kita paham apa yang menjadi kelebihan kita. Untuk menjadi penulis itu memerlukan proses yang panjang, sehingga memerlukan ketekunan,” ujarnya.
Sementara Acep mengatakan, untuk menulis puisi kita bisa menciptakan atmosfer cerita sendiri dengan cara mencarinya langsung. Misalnya kita datang ke suatu lokasi tertentu kemudian mencatat apa yang kita lihat dan kemudian menggambarkan ke dalam tulisan. “Inti menulis puisi adalah seni merangkai bahasa, sehingga menulis itu tidak mudah karena harus konsisten,” ujarnya.
Shantined, penulis asal Kaltim bertanya soal batas di mana seseorang bisa dikatakan melakukan pembajakan dalam perpuisian. Ketiga penyair nyaris menyajikan jawaban bernada sama. Dalam karya sastra, fenomena itu disebut epigon. “Belum ada batas yang jelas dalam berpuisi, bagaimana epigon itu. Kalau musik, mengambil delapan bar sudah disebut epigon. Apalagi karya ilmiah. Jelas sekali batasannya,” ujar Beni.
Joko lalu menimpali. Dalam berpuisi, kata dia, fenomena yang muncul sebenarnya adalah pengaruh. Dimana seorang penyair muda terpengaruh oleh penyair sebelumnya. “Malah bagi seorang penyair pemula, meniru itu malah bagus. Awal yang baik, lama kelamaan akan menemukan gayanya sendiri,” bebernya.
Acep juga bersetuju. “Kalau idiom-idiom puisi itu digunakan bersama, itu tidak masalah. Misalnya tentang hujan, senja. Kan banyak penyair juga sering membuat puisi tentang hujan dan senja. Sepanjang ada penafsiran baru,” tukas pengasuh Pondok Pesantren Cipasung ini.
Joko menegaskan, metafora dan personifikasi adalah tulang punggung puisi. Penyair harus mampu menghadirkannya dalam tulisan. Nah, kuncinya, tambah Beni, adalah ketekunan dalam berlatih menulis agar menemu gaya kepenulisan. “Saat dipublikasikan, tak usah peduli kepada khalayak yang tak suka atau puas kepada yang suka. Belajar saja terus,” katanya.
Sementara Acep bilang, penyair kerap tak produktif. Bukan berarti penyair melepas diri dari puisi. Justru saat tak menulis penyair sedang bergulat dengan perpuisian. Akhirnya, yang paling berat dari berpuisi adalah di tahap ending. “Karena penulis paling sering ingin cepat-cepat sampai di ending puisinya,” tukas Jokpin. 


#Tulisan ini diterbitkan di harian Koran Kaltim edisi Rabu, 29 Mei 2013. dengan foto yang berbeda tentunya.
Posted by si buah terlarang
on 5/28/2013

Senin, Mei 27, 2013

Gunakan "burung" pada tempat, saat yang tepat, dan persetujuan pemilik 'sangkar'

Membaca berita di media online tentang seorang santriwati, NN, memotong kelamin lelaki bernama Muhyi. Lelaki itu kini harus hidup dengan 'cacat' fisik dan batin yang harus ditanggung sesisa umurnya.
Saya tak punya pretensi apapun untuk menilai, siapa yang paling benar dan paling salah dalam kasus ini. Si perempuan kah yang harus disalahkan? karena dia menemui lelaki yang bukan muhrimnya hingga dinihari? lalu dia dipaksa bersetubuh hingga mahkotanya terenggut? 
Lalu, si Muhyi, lelaki yang dikenal NN dari sebuah telepon nyasar alias salah sambung. Muhyi, yang berkali-kali menelpon, meminta berkenalan, akhirnya mampu meluluhkan pertahanan NN, hingga mau bertemu. Dari pertemuan pertama, dan pasti tak akan terlupakan bagi keduanya, Muhyi juga berhasil membobol 'keperawanan' si santriwati yang dikenal bercadar. anak tokoh masyarakat pula. apakah salah si Muhyi? memaksa NN melayaninya di pertemuan pertama. Bahkan, spermanya tumpah di jilbab si korban 'petualangannya'. Konon, inilah yang membuat NN merasa terhina. Apalagi, seusai hajatnya terpuaskan, Muhyi memberi uang kepada NN yang berujar, "emang aku perempuan gituan, diberi uang?" Sepenuhnya salah Muhyi semua itu?
Titik nadirnya, NN yang mengaku dendam menemu sebilah pisau cutter. Di sebuah warung makan, selepas persetubuhan yang katanya 'bertepuk sebelah tangan'. Ia meminta melihat 'burung' si lelaki. Entah apa di benaknya? 'Burung' itu digenggamnya, diperlakukannya hingga mengeras. NN melakukan itu di balik jilbab besarnya agar tak terlihat orang. tak berselang lama, crasssssss! pisau cutter itu menebas 'burung' ajaib itu. putus. bagiannya terjatuh ke tanah. darahnya juga muncrat ke jilbab NN.
Saya ingat kata-kata seseorang, ketika sepasang muda-mudi memutuskan bersetubuh, yang bersalah adalah lelakinya. perempuannya 'turut' bersalah.    
***
kasus ini akhirnya harus berujung hukum. Keluarga NN 'mencoba' menempuh jalan damai dengan menawarkan pernikahan antara keduanya. Eh, keluarga si Muhyi bilang. 'gak mau'!! Enak saja. Muhyi sudah 'kehilangan' masa depannya! gara-gara NN. Lho! Lalu, masa depan NN gimana? 
Kalau benar ia terpaksa melayani Muhyi, ia kehilangan keperawanan tanpa bulat hati. berarti ia kehilangan masa depannya juga. Bayangkan, ketika menikah nanti, suaminya tak rela istrinya sudah tidak perawan. Musibah juga bagi NN.
Terlihat jelas dalam kasus ini, bagaimana cara pandang dunia patriarki menafsirkan tentang 'masa depan' itu. Perempuan ternyata tak dipandang penuh, terus disepelekan, dan tak jadi pertimbangan. Padahal  keperawanan dan kehormatan perempuan adalah sesuatu yang paling berharga. Pria, walau berkali-kali ejakulasi dengan sekian  perempuan, dianggap biasa. Bukankah ini konstruksi yang sepenuhnya tak adil? 
Saya mulai berpikir, jika benar Muhyi memaksa, NN terpaksa, keduanya impas. Muhyi akan 'terpenjara' dari kemungkinan petualangan-petualangan kelaminnya. Sementara, NN dipenjara akibat ulah kriminalnya. Hmmmmm. Menggunakan 'burung' memang harus pada tempat, waktu yang tepat, dan persetujuan pemilik 'sangkar'-nya. Jika tidak, si 'burung' bisa pensiun dini. Syukur-syukur saja pemilik 'burung' masih bisa hidup. Tapi, hidup lelaki tanpa 'burung' ibarat...........Maaf, saya tak bisa menemukan cara bagaimana mengiaskannya. Oh, Muhyi....Muhyi!
Posted by si buah terlarang
on 5/27/2013

Jumat, Mei 24, 2013

Membenci Amerika: catatan kecil tentang Film “Innocence of Muslims”

  Why do people hate america? Mengapa orang membenci Amerika? Pertanyaan ini memang terdengar sederhana. Ditanyakan berulang-ulang. Tapi, konon pertanyaan ini lah yang paling sulit dijawab jika diajukan kepada setiap warga Amerika Serikat.Lalu, terbitlah sebuah buku. Judulnya “why do people hate America?” Buku ini ditulis Ziauddin Sardar, penulis, penyiar dan kritikus budaya bersama  Merryl Wyn Davies, penulis dan antropolog.
  
Britney Spears (kapanlagi.com)
Pascaperistiwa  11 September, pertanyaan ini bergaung keras. Diulang-ulang oleh Presiden Bush, senator  dan para politisi Amerika. Dalam buku ini, Sardar dan Davies memperlihatkan bagaimana kemudian jawaban yang seharusnya muncul dari pertanyaan ini menjadi bukan sebuah jawaban. Lebih parah lagi, kebutuhan untuk mengetahui diubah menjadi ketidaktahuan. Mengapa disini hanya melahirkan asumsi lalu vonis lalu perang. Bukan jawaban.
   Buku ini memang bukan membahas peristiwa 11 September. Hanya saja, memang diakui peristiwa tersebut menimbulkan trauma psikis terbesar bagi publik negara adidaya itu. Salah satu argumen inti dari buku ini adalah terdapat jurang menganga, begitu lebar, antara hubungan AS dengan negara-negara lain di dunia. Jurang itu bernama pengetahuan.
   Yah, tidak ada masyarakat yang lebih terbuka dari masyarakat AS. Lebih diberkati dengan sarana teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa canggih. Dengan itu, sumber daya mereka begitu melimpah untuk mengenali, mencari, menggali serta memproyeksikan ide-ide mereka. Coba lihat, bagaimana Hollywood mengendalikan selera dunia.
  Tapi, sayang beribu sayang. Produk dari segala infrastruktur berkelimpahan yang maha besar itu, media massanya, hanya membawa Amerika lebih melihat ke dalam dan menyerap diri sendiri. Muncul citra diri tentang kebaikan, kesempurnaan, dan kebajikan sempurna bangsanya. Sebauh Amerikan yang monolitik. Coba lihat. Sosok superhero begitu mendominasi dalam produk budaya populer bangsa Amerika. Lewat TV dan film yang diproduksi sineas-sineas mereka.
   Pengetahuan warga Amerika tentang dunia di luar mereka ternyata tidak lebih baik. Sardar dan Davies menggambarkan fenomena ini dengan istilah “ketidak-tahuan walaupun mempunyai pengetahuan”. Kekuasaan media massa Amerika yang begitu besar justru menjadikan warganya seolah memakai jaket-jaket kebudayaan yang tebal. Membuat mereka semakin tertutup dengan pengalaman serta ide-ide dari bangsa lain. Jaket yang meningkatkan tingkat keterisolasian, keterserapan diri, dan ketidaktahuannya dengan kebudayaan lain.
   Masalah pengetahuan ini tidaklah ekslusif milik Amerika. “Ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan” adalah istilah umum untuk menggambarkan bagaimana peradaban barat melihat timur. Khususnya terkait tentang agama dan pemeluknya. (Sardar dan Davies, hal. 18). Istilah ini mengacu kepada lebih dari sekadar sikap dan ide-ide umum yang negatif, melainkan sebuah definisi tentang cara bagaimana sikap-sikap seperti itu ditanamkan dalam pendekatan terhadap pengetahuan. Suatu studi yang kemudian dikenal dengan nama Orientalisme. Ini lah sifat umum peradaban Barat yang diwarisi Amerika.
   Sebuah paradigma yang digugat keras oleh Edward W. Said 34 tahun silam lewat bukunya berjudul sama, Orientalisme. Orientalisme lah, kata Edward, membuat Timur dekat (Islam) di mata barat adalah sebuah entitas yang tidak bisa dipahami tapi bisa diramalkan. Bagi Barat, Timur (the others), adalah mereka dalam pandangan kita, bukan mereka seperti apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri.
   Namun, tidak berarti semua warga Amerika begitu dibutakan hingga tak bisa melihat jernih mengapa bangsa mereka begitu dibenci. Memang, media massa memainkan peran besar dalam menjawab pertanyaan sederhana di atas. Banyak penulis dari media konservatif  kemudian menyokong kebijakan rezim Bush menangani kasus 11 September. Tak peduli betapa terbuktinya standar-standar mendua AS yang semakin memicu kebencian bangsa lain kepada bangsa ini. Belum lagi soal campur tangan, intervensi militer AS di berbagai belahan dunia. Faktanya sudah jelas, media sekaliber CNN bisa meliput perang Irak dengan dua ‘wajah’. Liputan ‘apa adanya’ disiarkan untuk publik luar negeri. Tapi, siaran yang diberi ‘pemanis’ ditayangkan untuk publik dalam negeri. (Borjesson, Katrina (ed): Mesin Penindas Pers: membongkar mitos kebebasan pers di Amerika:2004).
  AS memang sebuah bangsa yang telah mengembangkan tradisi lupa instrospeksi diri. Tetapi, Amerika juga, seperti yang dijelaskan seorang koresponden Inggris untuk Timur Tengah, Robert Fisk, adalah negara yang telah mengembangkan kritik diri yang pedas dan opini beragam. Negara ini menghasilkan banyak penulis, intelektual  dan kolumnis yang begitu lantang mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahannya. Sebut saja satu nama, Noam Chomsky.
   Sayangnya lagi, kata Fisk, ini lah yang semakin menjadikan masalah bagi publik AS. Keragaman opini dan kritik-kritik yang cerdas dan disuarakan dengan pemikiran jernih itu kurang, bahkan nyaris tidak tercermin dalam pemerintahan, kongres, dan lebih parah lagi, media massanya.
Rasanya tidak sulit untuk membayangkan mengapa mereka kesulitan untuk menjawab pertanyaan, mengapa (why). Why do people hate America? Mengapa mereka membenci kami? Sekarang mari mereka-reka, apa reaksi kebanyakan warga AS ketika film Innconce of Muslim, yang disutradarai seorang Yahudi warga Amerika itu menimbulkan kemarahan umat Islam. Obama mengutuk serangan kedubes AS di Libya yang menewaskan  duta besarnya. Bisa kah mereka memahami amarah umat Islam ketika nabi mulia nan suci direndahkan?
   Jangan lupa soal  “ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan”  yang dimiliki Amerika. Kebebasan dan kelimpahan informasi tidak lah membuat mereka tahu tentang ‘the others’ sebagai apa adanya, terlebih mencoba mendengarkan suaranya. Sungguh,  kita patut marah ketika Nabi mulia direndahkan. Tapi, masihkah kita ingin  marah kepada orang-orang yang ‘telinga, mata, hati’ mereka tertutup. Haruskah kita meregang nyawa karena ulah seorang sutradara  pembuat film porno picisan? Ada ungkapan, lebih baik yang waras ngalah. Orang mabuk gak usah diladeni. Percuma. Nabi akan tetap mulia seperti janji Allah. …..Innasyani ‘aka huwal abtar. Sesungguhnya yang membencimu (Muhammad) terputus dari rahmat Allah). (***)

Tenggarong, 21 Oktober. Telah diposting di www.huldiamal.wordpress.com, kompasiana, dan dimuat di harian Tribun Kaltim
Posted by si buah terlarang
on 5/24/2013