Hadir di peringatan Hari Arbain kesyahidan Imam Husain di Pendopo Odah Etam. Kata-kata Habib itu mengusik hatiku. Madrasah Karbala. Di sini tersaji puncak semua aspek kehidupan. kemuliaan, kesetiaan, kesyahidan, ketataan, dan semuanya.
"Siapa pun anda, apakah anda seorang ibu, seorang ayah, pemuda, bahkan bayi sekali pun. Di Madrasah Karbala semua puncak itu tersaji," kata Habib asal Bogor ini.
Kata-katanya mengalir detil. Detik-detik kesyahidan Husain, keberanian cucu-cucu Rasul menyambut pedang dan anak panah musuh, hingga perlakuan kasar yang diterima kaum perempuan ahlul bait.
Apa di benak Yazid? Ketika ia dengan laknatnya menjadikan kepala Husain yang tak pernah alpa dari sujud kepada Rabb-nya itu sebagai hiasan gerbang istana. Diaraknya bersama senandung syair-syair penghinaan. Ah, aku bersyukur bisa mengenal mazhab para pecintanya. Meski kadarnya mungkin tak bisa disebut penganut.
Teringat, ketika kubaca peristiwa Saqifah semalam suntuk. Esok paginya 'Islam' ku goncang sesaat. Beberapa lamanya kutinggalkan salat. Pertanyaaanku ketika itu, inikah wajah Islamku? Ah, aku bersyukur bisa melewati proses itu dan bisa menakar kecintaanku yang sederhana kepada ahlul bait.
Hingga, kala habib itu mengajak semuanya berdoa. Ia berujar, ".....doa untuk orang tua kita. Jika mereka belum mengenal madrasah karbala,kita mensyukuri lahir dari rahim suci mereka, mereka yang kesusahan menyapih kita, tidur mereka tak nyenyak selama merawat kita.....semoga Allah mempersatukan kita bersama Imam....
Oh, kuamini setiap bait doa-doa itu dengan tetesan bening di kedua mataku. Ya Rabb, andai mata ini tak bisa menangis saat itu, di sudut manakah aku di mata-Mu??
"Siapa pun anda, apakah anda seorang ibu, seorang ayah, pemuda, bahkan bayi sekali pun. Di Madrasah Karbala semua puncak itu tersaji," kata Habib asal Bogor ini.
Kata-katanya mengalir detil. Detik-detik kesyahidan Husain, keberanian cucu-cucu Rasul menyambut pedang dan anak panah musuh, hingga perlakuan kasar yang diterima kaum perempuan ahlul bait.
Apa di benak Yazid? Ketika ia dengan laknatnya menjadikan kepala Husain yang tak pernah alpa dari sujud kepada Rabb-nya itu sebagai hiasan gerbang istana. Diaraknya bersama senandung syair-syair penghinaan. Ah, aku bersyukur bisa mengenal mazhab para pecintanya. Meski kadarnya mungkin tak bisa disebut penganut.
Teringat, ketika kubaca peristiwa Saqifah semalam suntuk. Esok paginya 'Islam' ku goncang sesaat. Beberapa lamanya kutinggalkan salat. Pertanyaaanku ketika itu, inikah wajah Islamku? Ah, aku bersyukur bisa melewati proses itu dan bisa menakar kecintaanku yang sederhana kepada ahlul bait.
Hingga, kala habib itu mengajak semuanya berdoa. Ia berujar, ".....doa untuk orang tua kita. Jika mereka belum mengenal madrasah karbala,kita mensyukuri lahir dari rahim suci mereka, mereka yang kesusahan menyapih kita, tidur mereka tak nyenyak selama merawat kita.....semoga Allah mempersatukan kita bersama Imam....
Oh, kuamini setiap bait doa-doa itu dengan tetesan bening di kedua mataku. Ya Rabb, andai mata ini tak bisa menangis saat itu, di sudut manakah aku di mata-Mu??

0 komentar:
Posting Komentar