Kamis, September 26, 2013

Satu pelajaran lagi.....

Kali ini, ada yang salah dari keputusan saya dalam hal pemberitaan. saya memutuskan menaikkan berita tanpa ada hak jawab dari pihak yang diberitakan. Walaupun saya tetap berusaha meminta reporter untuk mengupayakan hak jawab tersebut. Sebuah berita seharusnya utuh memberi hak jawab ketika diturunkan. Sayangnya, hak jawab itu sulit didapatkan karena kontak narasumber yang memang tidak ada. 
Sekali lagi ini jadi pelajaran. Meski tak perlu mencari pembenaran, harus saya akui bahwa keputusan itu dikarenakan sebuah instruksi. Instruksi untuk tidak lagi sekadar menjalankan jurnalisme bercita rasa datar di hadapan penguasa. kritik harus ada. 
Yang saya tidak tahu, instruksi itu ternyata masih berada dalam wilayah 'abu-abu'. Sejak awal saya mahfum benar, media tempat saya bekerja memang punya proximity (kedekatan) psikologis dengan penguasa di daerah ini. Lalu, ketika ada instruksi untuk 'melawan' dan sedikit garang , saya lantas menduga satu hal. Media ini sudah sadar benar kemana seharusnya mengarahkan wajahnya. Media ini sudah kembali kepada khittahnya untuk melayani kepentingan sebenarnya: publik. 
Keyakinan ini masih utuh sebelum akhirnya sebuah pesan mampir di blackberry messenger (BBM) saya. Saya setuju sekali jika kritikan yang datang ini menyoal soal keberimbangan berita. Kebetulan pesan BBM ini datang dari mantan pimpinan koran saya. Tapi, belakangan, yang lebih disoal adalah kemana kritik pemberitaan tersebut mengarah. 
Dari sinilah saya menyimpulkan, bahwa kebijakan internal redaksi yang saya yakini tadi harus dicermati ulang. Ada hal yang kasatmata tengah terjadi dan belum bisa saya tangkap seutuh-utuhnya. Mungkin ada 'pertarungan' besar di balik ini. Harus diakui, warna kepentingan politik di media ini adalah hal yang paling sukar ditutupi. Lantas, tidak mustahil pula, politik lah yang kemudian 'membelah' sikap dan kebijakan yang terjadi akhir-akhir ini. Bukankah pemeo mengatakan, 'dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan".       
Jika demikian, sebagai jurnalis, hal pertama yang akan saya lakukan adalah memastikan setiap pemberitaan wajib memenuhi hak jawab. Hatta, pemberitaan itu tidak berkaitan dengan kritik apapun kepada penguasa.Ini sudah menjadi tuntutan dan kaidah etika jurnalisme sendiri. Berkaitan dengan kebijakan redaksional, saya memang harus pandai membaca 'tanda-tanda' dan memahami psikologi di internal manajemen media ini. Jika perlu, saya harus mempertanyakannya secara lugas. Apa, mengapa dan bagaimana yang harus kami lakukan terkait arah kebijakan berita.  
Posted by huldi amal
on 9/26/2013

Senin, September 02, 2013

Ketika kesibukan menyita kami....

Aku merindukan setiap inci lekuk tubuh perempuanku. Setiap aroma yang pendar dari kulitnya membuatku bergairah. kata-kata cinta yang dia ucapkan hari ini meriungkan sukacita. Memang, semanya bermula dari kesibukan yang menyita waktu-waktu intim kami,akhir-akhir ini. Kami jarang bertemu dalam dekapan yang saling menghangatkan. Malam-malam hanya lewat sebagai periuk penanak letih. Begitu pagi, kami hanya saling tersenyum. Nyaris sekejap. Obrolan-obrolan terasa begitu singkat di sela ruap kopi dan teh manis yang kami seruput bersamaan.
Kesibukan perempuanku memang lebih menyita energinya. Dalam dua pekan terakhir, dia harus berangkat begitu pagi. Pulang tengah malam. Kerap kali dia harus melakukan perjalanan dinas ke kecamatan-kecamatan lain dalam sehari. Saya dituntut untuk menjadi lelaki dan suami lebih penyabar dan lebih memaklumi setiap 'kegaduhan' yang ia bawa sepulang kerja. 
Saya harus mengerti rasa letih yang dia tanggung. Kesibukannya memang luar biasa. Maklum, ada hajatan besar yang membuatnya harus lebih banyak di luar rumah. Karena itu lah, terkadang tugas-tugas rutinnya sebagai ibu saya ambil alih. Anak-anak  kerap lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh dan saya.
Saya sendiri memang harus pulang malam. Karena jam kerja yang sudah sememangnya sebagai pekerja media.
Tapi, ada hal yang bisa jadi hikmah dan kesyukuran tersendiri. Setiap kali ada jeda dari kesibukan, kami memanfaatkannya dengan sangat baik. Kualitas hubungan kami seakan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Keintiman yang terbangun terasa begitu berharga antara kami berdua dan anak-anak. 
Ya, seperti hari ini. Saya merasa begitu menggilai setiap lekuk tubuh perempuanku itu. Tiba-tiba saja saya merasa jatuh cinta, benar-benar membutuhkan dia, dan betapa berartinya dia dalam hidup. Semoga perasaan ini terjaga hingga kami menua. Bila umur kami dipanjangkan oleh-Nya. Amin..amin..ya Allah.   
Posted by huldi amal
on 9/02/2013