Hari ini saya melakukan sebuah kesalahan fatal sebagai seorang wartawan. Saya tidak ingin mencari pembenaran apa pun terhadap kesalahan ini. Sebab, kalau ditimbang-timbang, kesalahan yang saya lakukan mendasar sekali bagi profesi wartawan.
Kalau dirunut kesalahan itu, kira-kira begini. Sebagai wartawan, harus merekam wawancara dengan narasumber. Jangan pernah percaya ingatan sendiri. Kredo ini sudah ditanamkan sejak Diklat Jurnalistik paling dasar. Dan ini saya langgar. Saya percaya dengan ingatan saya. Akhirnya, saya melakukan kesalahan itu. Mendasar sekali bukan?
Persoalan kedua. Narasumber saya wanti-wanti apa yang dikatakannya itu off the record. Artinya, dari segi etika jurnalistik, hukumnya haram dijadikan berita. Tapi, karena saya tidak merekam wawancara tersebut, saya lupa kalau bagian itu off the record. Memang, pada saat wawancara kami ngobrol lepas dan seingat saya ada beberapa bagian yang diwanti-wanti narasumber; off the record. Karena lupa itu lah, bagian off the record, bagian yang diharamkan menjadi berita dari segi etika jurnalistik itu, tersaji sebagai berita. Fatal bukan????
Ah, rasanya selama menjadi wartawan, seingat saya sudah dua kali merugikan narasumber. Pertama ketika awal-awal menjadi wartawan di Tribun Timur, harian di Makassar, Sulsel. Tapi, saya merasa, kalau bisa dibilang begini, tidak murni kesalahan saya. Hanya kurang koordinatifnya para pejabat di instansi tersebut atau bagian humasnya yang kurang berfungsi. Jadinya, instansi tersebut akhirnya ‘mengemis-ngemis’ supaya saya melakukan ralat pemberitaan.
Nah, kejadian kedua yang saya lakukan Senin 9 Agustus 2010 dan baru saya ketahui hari ini. Ini memang benar-benar kesalahan mendasar seperti sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini. Kesalahan yang mungkin susah dimaafkan.
Kesalahan yang memang harus menjadi pelajaran berharga dan harus benar-benar diupayakan jangan sampai terulang. Semoga. Beruntung, narasumber saya hanya mengingatkan. Bagaimana ya jika dia menuntut karena dirugikan. Atau karirnya terancam karena berita yang saya tulis. Mudah-mudahan yang terakhir ini tidak sampai terjadi.
Yang pasti, kesalahan hari ini semakin menebalkan keyakinan saya, bahwa menjadi wartawan itu tidak mudah. Profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar. Pekerjaan ini memang harus melibatkan segenap panca indera untuk menangkap, merekam, dan menafsir realitas sosial kemudian tidak menyajikannya begitu saja tanpa berpikir dampak pemberitaan itu. Merenungkan hal ini dan kesalahan yang saya lakukan, saya benar-benar merasa bersalah. Ya Allah, lindungi saya dengan kalam-Mu dan ajarkan kebenaran sehingga hamba-Mu ini bukan termasuk golongan yang melebihi batas.
Ah, rasanya selama menjadi wartawan, seingat saya sudah dua kali merugikan narasumber. Pertama ketika awal-awal menjadi wartawan di Tribun Timur, harian di Makassar, Sulsel. Tapi, saya merasa, kalau bisa dibilang begini, tidak murni kesalahan saya. Hanya kurang koordinatifnya para pejabat di instansi tersebut atau bagian humasnya yang kurang berfungsi. Jadinya, instansi tersebut akhirnya ‘mengemis-ngemis’ supaya saya melakukan ralat pemberitaan.
Nah, kejadian kedua yang saya lakukan Senin 9 Agustus 2010 dan baru saya ketahui hari ini. Ini memang benar-benar kesalahan mendasar seperti sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini. Kesalahan yang mungkin susah dimaafkan.
Kesalahan yang memang harus menjadi pelajaran berharga dan harus benar-benar diupayakan jangan sampai terulang. Semoga. Beruntung, narasumber saya hanya mengingatkan. Bagaimana ya jika dia menuntut karena dirugikan. Atau karirnya terancam karena berita yang saya tulis. Mudah-mudahan yang terakhir ini tidak sampai terjadi.
Yang pasti, kesalahan hari ini semakin menebalkan keyakinan saya, bahwa menjadi wartawan itu tidak mudah. Profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar. Pekerjaan ini memang harus melibatkan segenap panca indera untuk menangkap, merekam, dan menafsir realitas sosial kemudian tidak menyajikannya begitu saja tanpa berpikir dampak pemberitaan itu. Merenungkan hal ini dan kesalahan yang saya lakukan, saya benar-benar merasa bersalah. Ya Allah, lindungi saya dengan kalam-Mu dan ajarkan kebenaran sehingga hamba-Mu ini bukan termasuk golongan yang melebihi batas.

yang terbaik adalah ketika mau memeprbaikinya :D
BalasHapusya mbak desi. trimakasih...
BalasHapus