Sabtu, November 14, 2020

Mata Pelajaran Paling Sulit itu...adalah...

Kalau ada kata-kata yang pernah saya ucapkan dan harus ditarik kembali malam ini, segera, adalah: pelajaran Matematika itu sulit! 

Matematika ternyata bukan mata pelajaran paling sulit diajarkan ke anak kelas 4 SD. Yang sulit itu ternyata pelajaran Agama.

Malam ini, seperti biasa, saya mulai "meneror" bungsuku. "Ambil buku. Kerjakan tugas!" Semua video materi pelajaran dan tugas dari guru kelas disimak. Dia memilih membuka video mapel Agama lebih dulu. Menyiapkan buku.  Menyimak. "Bagus. Ini bakal mudah," pikirku.

Senja di Kota Samarinda.


Materinya, keteladanan Nabi Ayub. Baru menyimak awal video, bocah ini tiba-tiba unjuk pertanyaan. Saya kelabakan.

"Ada gak, Yah, Nabi dari Indonesia?" Nabi-nabi, kata dia, semua dari Arab. Jlebbb! Kalau saya jawab gak ada, dia pasti tanya "kenapa?" Mikir super keras!

Saya jawab singkat, leluhur Nabi Muhammad bukan asli penduduk Mekah. Syukurnya, di kepala anak ini, Arab itu "hanya" Mekah. Dia bungkam. Hmmmm...

Lanjut...

Narasi video itu akhirnya mengisahkan sumpah Nabi Ayub. 100 kali cambukan buat istrinya.  "Loh, kan gak boleh suami mukul istri, Yah?" Video itu dijedanya. Kali ini, urusan jadi lebih serius. Mata beradu mata. Dahinya mengernyit.   

Aduh, Mak! 

Saya ambil gawai dari tangannya. Layar kusentuh. Video berlanjut. "Tuh, kan? Dengar sendiri. Allah dengan kasih sayang-Nya mengganti kayu dengan 100 lidi. Jadi hanya sekali saja, tapi terhitung sama dengan 100 kali," jawabku. Saya tunggu "serangan" susulan. 

Rupanya dia diam. Puas? Entahlah. Lima poin pertanyaan dari gurunya tuntas dijawabnya sendiri. Mungkin, dia yakin dengan narasi video. Bahwa janji atau sumpah harus tetap dilaksanakan. 

Di titik ini, saya tiba-tiba ingin tampil seperti Gus Baha di depan anak. Kebetulan, dua hari lalu, saya menyimak materi video akun Santri Gayeng, juga tentang topik ini. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya," gumamku.

***

Pagi tadi, saya juga gagap dengan pertanyaan kakak perempuannya. 

Bermula dari kaing anjing tetangga. Beberapa hari lalu, mereka pindah. Rumah kosong. Gelap saat malam hari. Sejak itu, suara anjing bikin saya terganggu. 

Entah apa pertimbangannya, anjing itu masih dirantai di samping rumah yang kosong melompong. Saya husnuzan. Mungkin masih ada barang yang ditinggal. Apalagi, anak tetangga itu saya lihat sempat datang lagi.

Di rumah kami, ada 3 ekor kucing pejantan besar. Semua diurusi Zahra. Sisa makanan dikumpulkan lalu dibagikan secara terpisah kepada kucing-kucing itu. Biar tak terjadi adu kekuatan.

"Masih ada sisa daging semalam? Tambahkan nasi, masukkan ke sini!" Saya sodorkan bekas kotak makanan. "Buat apa?" "Anjing itu lapar. Ayo, kita beri makan."

Dia diam. Sorot matanya menolak. Awalnya, saya berpikir karena takut. Anak ini memang takut dengan anjing. "Gak usah, anjing kan haram!" ujarnya.

Saya diam sejenak. Lalu, kotak nasi kuambil. Ada sisa potongan paha bebek. "Ayo, tambah nasinya," saya memerintah lagi. Dia ke dapur. 

Zahra lalu menyusul langkah kaki saya. Menyeberang jalan. Anjing itu pun melahap habis nasi dengan cepat. 

Di keran air depan rumah tetangga itu ada ember kecil. Saya tunjuk. "Ambil itu, isi air. Buat minum anjingnya." 

Kali ini Zahra bergegas. Dia senang anjing itu tampak lugu. Persentuhan pertamanya dengan anjing tak sehoror di pikirannya.

"Ayah, apakah kita bisa masuk surga dengan memberi makan anjing?" 

Tiba-tiba, ingin sekali kuceritakan padanya, kisah seorang seorang pelacur yang rontok semua dosanya.  Hanya karena memberi minum seekor anjing.

Ingin kuceritakan kisah KH Mas Mansyur, Ketua Muhammadiyah, yang memarahi anaknya karena lupa mengikat anjing piaraan. Sebab, gara-gara anjing jenis Keeshond itu, insiden terjadi. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Hasbullah yang datang bersilaturrahmi langsung melompat dan berdiri di atas kursinya. 

Ingin kuceritakan juga, Nabi membiarkan dua permata hatinya, imam Hasan dan Husain, kala bocah, bermain dengan anak anjing. Atawa, kisah para Ashabul Kahfi yang turut ditemani anjing. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya!"

Pertanyaan anak perempuan ini hanya saya jawab sekenanya. "Memberi makan kucing dan anjing, akan membawa kita ke surga. Tapi, yang paling penting, kasih sayang Allah. Sayangilah semua mahluk Allah, Allah akan sayang kepada kita. Bisa gak kita masuk neraka kalau Allah sudah sayang sama kita?"

Posted by huldi amal
on 11/14/2020
Read More »

Minggu, September 13, 2020

Teror Pinjol


 
Berbulan-bulan dapat teror aplikasi pinjaman online (Pinjol). "Ini dengan Ibu Del*****?". Bosan juga meladeni penelpon yang gonta-ganti. Dari pemilik suara bas sampe yg mezzo-sopran. Mulai cara debat pake dasar-dasar hukum logika sampe saya harus membentak. 

Mereka mulai bosan saat tak diladeni.    Apalagi, kalau ponsel saya dekatkan di speaker keyboard Casio WK-7600. Lalu, saya mainkan satu dua nada, mirip tebak-tebakan judul lagu di acara kuis Berpacu Dalam Melodi di era keemasan TVRI sebagai pemain tunggal dunia broadcasting analog.

Para penelpon ini, dari aplikasi pinjaman online yang namanya juga sebelumnya saya tak kenal. Menelpon berulang. Jedanya kadang hanya sehari. Padahal, mereka sendiri bilang, "percakapan ini terekam otomatis dan jadi bahan laporan ke perusahaan." 

Kalau begitu, temanmu yg nelpon bulan lalu, dia kemanakan rekaman suaraku? Diapakan? Buat nakut-nakutin, bosmu? Biar naik gaji? Fucek!!! 


Kini, sudah tak pernah ada lagi suara manis di ujung telepon, menanyakan nama wanita malang yang terjerat hutang. Entah siapa dan tinggal dimana gerangan dirinya, saya juga tak ambil pusing. 

"Itu karena perempuan yang dicari mereka punya nomor kontak sampean," begitu penjelasan kawan yang menggeluti dunia marketing berpadu algoritma era digitalisasi.

Nah, siapa dia? Bikin penasaran! Siapa perempuan yang menyimpan kontak saya tapi tak kukenal? Apa motifnya? Tak pernah mengontak juga! Kan, minimal WhatsApp, lah. Say Hello, gitu! Kalau memang kamu secret admirer, kumaafkan. Tak apa sy jadi korban tagihan cicilanmu, tapi setidaknya saya tahu juga nomor WA-mu...

Masalahnya, saat teror aplikasi ini sudah berakhir, teror baru muncul. SMS tawaran pinjaman dana, produk pembesar dan 'tahan lama', sampe judi togel, mampir 3 kali sehari. Mirip resep dokter!!! Asseeeemmm....😠

Posted by huldi amal
on 9/13/2020
Read More »

Rabu, Juli 29, 2020

Jante Arkidam

Setelah Sapardi pergi, menyusul Ajip Rosidi. Saya pernah terpesona dengan pembacaan puisi Jante Arkidam. Oleh seorang tokoh seni teater negeri ini. Namanya Kang Iman Soleh I. Beliau hadir dengan sastrawan, Kang Acep Zamzam Noor. Di Festival Lanjong tahun 2009. 

Usai pembacaan puisi yang berkisah soal bromocorah sakti itu, saya langsung menghampiri sang mahaguru teater. "Itu puisi siapa, Kang?" tanpa sungkan dan malu, saya bertanya. 

Pikir saya, buat apa malu? Saya bukan orang yang melek sastra. Waktu itu, saya wartawan kriminal, malah disuruh liputan festival seni dan kebudayaan. Namanya kuli. Mau tak mau taat pada titah majikan berduli.

Mungkin, keawaman saya pada sastra tak jauh bedanya dulu dengan sekarang. Namun, setidaknya, dari jawaban maestro teater yg begitu ekspresif dalam membaca Jante, saya membeli kumpulan puisi Ajip Rosidi...
Ajip Rosidi
Ajip Rosidi. (merdeka.com)


Kepergian dua sastrawan yang berdekatan membuat rasa kehilangan semakin kuat. Sayangnya, orang-orang seperti mereka tetap 'tinggal'. Tak beranjak dari benak. Sebab, mereka punya karya. Monumen ingatan paling hakikat. 

Saya termenung membayangkan, bahwa kita yang pulang belakangan, justru akan paling cepat terlupakan. Tidak seperti jejak-jejak mereka yang melampaui zaman...
Posted by huldi amal
on 7/29/2020
Read More »

Sabtu, Juli 18, 2020

Aksara dan Romantisme

Mengejawantahkan romantisme itu, anakku, selalu dimulai dari aksara. Mungkin, aksara lah yang akan paling bisa membuat kekasihmu bungah. Bahagia. Tertawa lepas. Aku pernah melihat adegan itu. Suatu hari. Dulu sekali. Saat ayahmu masih bocah. 

Almarhum kakekmu, perantau yang awalnya tiba di sebuah pulau kecil di tengah Teluk Tomini, Pulau Unauna, Sulawesi Tengah, adalah seorang guru. Rupanya ia berbekal ketrampilan aksara khas sukunya. 

Hari itu, nenekmu yang guru SD, lulusan SPG, memegang kertas dan pena. Aku lupa waktu itu duduk SD kelas berapa. Yang kuingat, kakekmu mengambil pena itu lalu menulis. Nenekmu duduk di sampingnya. Menyimak. 

Deretan abjad itu begitu asing. Di mataku. Juga buat nenekmu. Beberapa saat, kakekmu menjelaskan cara ejaan. Nenekmu mengeja beberapa huruf. Sejurus kemudian, perempuan ini tertawa manja. "Oh, namaku ternyata!" ujarnya. 

Derai tawa keduanya tak dibuat-buat. Membuat perhatianku teralihkan dari mainan mobil-mobilan. Rasanya, itu momen paling romantis yang pernah kusaksikan. Ya, kakekmu menulis nama nenek dengan aksara Bugis. Aksara lontara'.

Aku tumbuh sebagai manusia separuh bugis. Di desa yang mayoritas dihuni para perantau bugis. Belajar mengaji pun pakai cara bugis. Membayar guru ngaji dengan upah harian: menimba sumur hingga semua penampungan air penuh.

Ada hal istimewa lain yang selalu kuingat soal aksara ini, Nak. Kupikir, itu yang membuatku selalu merasa masa kecilku penuh warna dan romansa. 

Dulu, di desaku, kala perayaan maulid tiba, ada tradisi barzanji. Kitab yang dibacakan memakai aksara bugis. Jangan kau bayangkan ini maulidan biasa. Durasinya mengalahkan film terpanjang di bioskop 21 yang pernah kutonton. Dimulai selepas isya. Selesai hampir subuh.

Meski tidur dan baru bangun saat jamaah bubar,  aku selalu diajak kakekmu. Ayahmu ini selalu bersemangat. Bagiku, barzanji yang pakai aksara bugis atau aksara arab, sama saja. Maknanya MAKAN ENAK. 

Aku kerap menikmati privilese. Orang-orang belum memulai barzanji kalau aku dan kakekmu belum nongol. Suatu ketika aku protes. 

Ceritanya, malam sebelumnya, kami sekeluarga, pasukan lengkap, ikut barzanji kitab beraksara lontara. Seperti biasanya, aku tertidur. Pagi harinya mengeluh. "Malas ikut barzanji Bugis. Terlalu lama. Sokko' (penganan khas bugis dari beras ketan) dan onde-onde (klepon) sudah keras dan dingin," kataku pada kakekmu.

Rupanya, keluhanku sampai ke panitia pelaksana. Malam harinya, datang Sokko' dan nampan penuh berisi onde-onde hangat. Kamu tau, Nak. Sensasi ketika gula merah klepon yang hangat, pecah dan memenuhi rongga mulut, itu yang paling kusukai! 

Sayang, para tetua berpulang, tradisi barzanji ini pun hilang. Manuskrip sirah Nabi Muhammad SAW yang beraksara lontara itu kini entah di tangan siapa.

                          ***

Konon, para kolonialis menganggap bangsa kita orang-orang Barbar. Liyan. Yang harus ditaklukkan. Mungkin, berangkat dari kesombongan logika Cartesian. Kita dianggap bodoh.

Padahal, nenek moyang kita sudah terbiasa mentransmisikan pengetahuan. Di Jawa ada hanacaraka. Di Bugis ada Lontara. Ada kitab-kitab berbahasa Pegon. 

Jangan rendah diri, Nak. Soalnya, kalau orang Barat menganggap moyang kita gak bisa baca tulis, kakekmu pernah membodohi salah satu dari mereka.

Sewaktu kuliah di IKIP Menado di kisaran tahun 60-an, dia punya dosen dari Belanda. Saat ujian, kakekmu bikin contekan (jangan ditiru ya!) pakai aksara Lontara. "Apa ini!" hardik si dosen. "Surat dari Ibu, Meneer!" Kakekmu lolos.

           ****

Sudah lama aku tertarik dengan La Galigo. Sejak membaca the Bugis-nya Christian Pelras. Orang Perancis. Ini mahakarya, Nak. Manuskrip beraksara lontara yang dinobatkan sebagai epos sastra terpanjang di dunia. Mengalahkan epos Mahabharata. Terimakasih pada kak Andi Aisyah Lamboge yang membantu mendapatkan buku edisi lux ini.

Orang Bugis, kata Pelras, kerap disalahartikan. Semisal disematkan sebagai bangsa bajak laut. Padahal, bukan. Kelak kalian harus juga membaca soal Bugis. Penting bagi kita untuk membaca asal-usul para leluhur. Sudah fitrah....setiap serpihan merindukan asal agar dia merasa jadi bagian sebuah keseluruhan.
Posted by huldi amal
on 7/18/2020
Read More »

Senin, Juli 06, 2020

BENDI

Kerajinan tangan adik saya di tojo-unauna


Kampung saya, Ampana, Tojo-Unauna, Sulteng, begitu majemuk dari komposisi penduduk. Salah satu yang cukup dominan adalah perantau dari Gorontalo. 

Ayah saya, perantau dari Bone, Sulsel, akhirnya membeli sebidang tanah. Membangun rumah. Pemilik sebelumnya adalah seorang Gorontalo, maestro pembuat Bendi, alat transportasi legendaris di kampung saya. Di tempat lain disebut dokar, atau delman. 

Setelah menjual tanahnya, pemilik workshop bendi itu pindah ke seberang jalan. Di situ, saya kerap bermain-main dengan kawan sebaya. Melihat dr dekat pembuatan bendi. Kadang kami dimarahi karena lancang memainkan perkakas berbahaya. 

Selain bentuknya khas, bendi buatan orang2 Gorontalo kukuh dan ramping. Artistik juga. Setiap sisi dilapisi seng dipipihkan lalu dicat warna sesuai selera. 

Kala SMA, saya masih pulang sekolah naik bendi. Waktu pulang kampung terakhir kali, bendi jarang terlihat lagi. Lebih banyak becak motor. Tukang ojek bejibun. Kalau ojek online juga beroperasi, masih kah orang mengenang bendi? Padahal, bendi punya teknik khusus. Kalau kudanya berak saat narik penumpang, jatuhnya di karung. Dipasang di dekat pantat kuda. Letaknya di sisi bawah bagian depan. Kecuali kudanya, maaf, mencret, kotorannya meleset.😀 

Saya terkenang kuda betina milik kami. Namanya Kelly. Dijual murah oleh Om Aruji (alm), si maestro pembuat bendi di depan rumah. Karena Kelly, sy pernah belajar berkuda. Belajar memanah saja yang belum. Wajar kalau belum bisa mengamalkan ayat..."mastna wa tsulatsa wa ruba'..."😁😁 

#kerajinantangan
#kreatif #ampanakota
#tojounauna
Posted by huldi amal
on 7/06/2020
Read More »

Minggu, Juli 05, 2020

Mahakam Bridge

Harapan selalu akan. Di balik mendung awan. Tersungkur selalu dalam syukur. Jangan gaduh dengan keluh. Kelak kau akan menertawai setiap kesementaraan...

Hidup hanya berpindah dari satu masalah ke solusi. Lalu, solusi menjadi soalan baru. Hari yang berganti membuat kita jadi 'baru'. Paksalah diri bahagia. Agar tak luput melihat ragam nikmat dari Tuhan. Atau, bahagialah tanpa alasan. Sebab, jika bahagia butuh alasan, ada resikonya: bahagia hilang saat alasan tadi hilang. 
Samarinda, 5 Juli 2020
Posted by huldi amal
on 7/05/2020
Read More »

Senin, September 22, 2014

homo-animus

“Saya menatap diri saya tengah menatap diri saya sendiri”. (Jacques Lacan).

TERSEBUTLAH seorang pemuda bernama Narsisus (Yunani: Narkissos), dari Thespian. Ketika Narsisus masih kecil, seorang peramal bernama Teiresias berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak ini akan berumur panjang apabila tidak melihat dirinya sendiri. Ia berwajah amat tampan. Ketampanannya membuat banyak orang jatuh cinta.
Tidak seorang pun dibalas cintanya. Perempuan bernama Ekho, frustasi karena cintanya tak bersambut. Dewi Nemesis mendengar doanya lalu mengutuk Narsisus jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Ketika si pemuda melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, ia terpesona. Sampai mati, Narsisus terus menatap wajah sendiri.
Dari tokoh mitologi Yunani ini kemudian lahir istilah “Narsisisme”, kerap diartikan kecintaan berlebihan pada diri sendiri. Sigmund Freud, memakainya sebagai pisau analisis gejala patologi dalam kepribadian manusia dan seksualitasnya.
Arti narsis kemudian lebih ‘sederhana’. Utamanya dalam kosa kata anak-anak muda zaman kini. Narsis itu ‘eksis’ dan mejeng di mana saja. Di media sosial, fotomu majang paling unik, paling keren, atau paling ‘konyol’ sekalipun. Pokoknya narsis abis!
Zaman kini Narsisus-Narsisus baru lahir. Menatap wajah tidak lagi dari pantulan permukaan kolam. Berbagai gadget kini menawarkan kamera hingga belasan megapixel. Lewat foto dan mengabadikan video, mereka tenggelam dalam kegairahan dan keasyikan dengan diri sendiri—semacam “narsisisme”, kecenderungan memandang dunia sebagaimana layaknya sebuah cermin. .
Apa saja bisa direkam dengan kamera gadget. Dari wajah hingga aurat. Narsisus zaman modern tenggelam dalam kondisi ecstasy. Segala dimensi dan nilai spiritualitas telah tenggelam. Ekstasi dalam bentuk yang narsisistik tidak lagi merasa perlu membedakan mana moral dan amoral, baik dan tidak baik, rasa malu pun ditolak. Di sini semuanya serba terbalik. Yang imoral itu bikin bangga, buruk tak memalukan, wilayah privasi diumbar tanpa selubung apapun. (lihat Yasraf, 2010, 91)     
Jangan heran, Narsisus zaman kini senang tatkala melakukan kekerasan, merasa bangga saat berlakon cabul, merasa sempurna dengan keburukan. Bahkan, seorang guru madrasah di era gadget bisa mendadak begitu ‘Narsis’. Menyuruh siswinya sendiri melakukan adegan tak senonoh lalu merekam dengan kamera tabletnya.
Pepatah lama, guru gugu ditiru, kini runtuh. Setidaknya, di era ‘Narsisisus’ ala gadget, oknum guru di madrasah Samarinda itu telah bermetamorfosa menjadi homo-animus—mahluk tanpa rasa malu yang penuh gelora hasrat.    

Posted by huldi amal
on 9/22/2014
Read More »

Rabu, September 17, 2014

Profesional Parpol

Jokowi-JK saat mengumumkan psotur kabinet (sumber:merdeka.com)
Apa gerangan aktivitas berbahasa itu? Apakah bahasa itu sebuah praktek ‘telanjang’ di mana manusia mencanangkan makna ‘apa adanya’? Atawa, praktek berbahasa adalah medan persembunyian manusia karena mungkin ‘ada sesuatu’ di balik makna sebuah kata?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan kajian murni kebahasaan atau formalisme linguistik. Ini mengandaikan semacam fungsi bahasa yang membentuk dunia kesepahaman antarpenutur; alat komunikasi sehari-hari. Sedangkan pertanyaan terakhir tentu saja menyuarakan semacam kecurigaan besar.

Ihwal ‘ada-apa’ di balik praktek berbahasa adalah pertanyaan yang terentang dalam studi relasi bahasa dan kekuasaan.  Tersebutlah nama-nama seperti Habermas, Foucault, Baudrilard, Antonio Gramsci yang kerap diasosiasikan dalam mazhab pemikiran post-struktralis.

Para pemikir ini tentu saja tak lagi memahfumkan bahwa bahasa sebagai praktek ‘telanjang’. Alih-alih, bahasa justru sebuah medan kontestasi atau pertarungan makna. Bahasa adalah peranti untuk menegaskan diri atau mempertahankan status quo. Di sini, menabur bahasa berarti menuai kuasa.

Habermas misalnya menyatakan, “language is also medium of domination of power”. Dengan demikian, bahasa identik dengan ideologi kekuasaan. Melalui bahasa, kekuasaan politik misalnya, berupaya memenangkan pertarungan makna. Kekuasaan berjuang menjangkau kesadaran lewat hegemoni bahasa guna menghasilkan ‘kepatuhan’.

Jangan heran ketika kekuasaan kemudian memproduksi serentetan kosa kata ambigu. Ingat bagaimana orde baru memakai  ‘ekstrim kanan’ dan ‘ekstrim kiri’, ‘organisasi tanpa bentuk’. Seperti apa rupanya organisasi tanpa bentuk itu dalam kenyataannya?    

Salah satu modus ajang operasi kekuasaan dalam bahasa adalah eufimisme. Fowler (1996) mendefinisikan bahwa “euphemism is the use of mild or periphastic expression as substitute for blunt precision or disagreable. Pemakaian suatu ungkapan yang lembut, samar, atau berputar-putar untuk menggantikan presisi yang kasar, atau suatu kebenaran yang kurang enak.

Rasa-rasanya, eufisme menjadi pilihan niscaya bagi kekuasaan. Simak saja ketika Jokowi-JK mengumumkan postur kabinet yang tak (lagi) ramping itu karena mempertahankan 34 kementerian.  Ada 18 menteri dari kalangan pofesional dan 16 profesional parpol.

Profesional Parpol? Saya mendadak bertanya-tanya ihwal kosa kata yang menarik ini. Kenapa tak disebut saja seperti biasa, menteri dari kader Parpol. Apakah Jokowi sedang berusaha meyakinkan bahwa ia sedang tidak disandera Parpol pendukungnya yang minta jatah menteri? Bukankah sejak awal ia mencitrakan soal koalisi tanpa syarat dan menterinya harus profesional?

Baiklah, itu hak prerogatif Jokowi sebagai presiden. Saya masih menunggu janjinya yang lain soal para ‘profesional Parpol’ harus melepas jabatan partai kalau duduk di kabinet. Jika janji yang satu ini urung juga, maka saya harus belajar menerima definisi ‘profesional Parpol’ itu.  
Posted by huldi amal
on 9/17/2014
Read More »

Senin, Mei 12, 2014

Kisah si wartawan magang

Memutuskan sesuatu itu harus cepat. itu yang saya lakukan hari ini. seorang wartawan magang saya putuskan mengundurkan diri setelah yang bersangkutan tidak masuk tanpa alasan. Lebih tepat ini disebut menjalankan aturan. bukan keputusan. di mana-mana, setiap karyawan magang yang tidak masuk tanpa alasan dianggap langsung mengundurkan diri. saya hanya menjalankan aturan bukan?

Harus diakui, kinerja si anak magang yang satu ini tidak bisa dibilang bagus untuk menjadi wartawan. dia punya masalah besar dari segi mental. Dari segi tulisan sih, sudah ada peningkatan. tapi, kembali lagi pada persoalan bahwa menjadi wartawan tidak hanya sekadar bisa menulis. wartawan harus tangguh di lapangan, percaya diri dan mampu membangun jejaring lobi.

Mungkin, si anak magang ini tumbuh di lingkungan keluarga yang mengekangnya. dia akhirnya tumbuh menjadi anak yang pasif, motivasi dan rasa percaya dirinya kurang. Introvert. Ini yang menjadi hambatan besar saat dia ditugaskan di lapangan. 

Setiap penugasan yang diberikan  menjadi beban berat bagi dia. Masalahnya, setiap diberi tugas dia akan mengeluh kepada siapa saja. rekan kerjanya semua jadi tempat curhat. tak ada orang di sampingnya saat hendak Curcol, ia menelpon semua rekan kerjanya. Tujuannya cuma untuk berkeluh kesah. nah, semua rekan-rekannya pun ikut-ikutan mengeluh karena terganggu dengan keluhannya. Lumayan berabe.

Justru, ketika tidak diberi tugas, dia akan kelimpungan sendiri. Nah, sudah pasti dia akan mengeluh. telpon sana-sini, gedor pintu mes kawan yang lain, hanya untuk mendengar keluhannya. Persoalan ini sudah lama sampai di telinga saya. 

Hingga akhirnya, kemarin dia tidak masuk tanpa kabar apapun. Saya anggap, dia mundur. Saya bersyukur, dia tidak jadi 'dipecat'. saya memang sudah mengusulkan masa magangnya tidak diperpanjang. Rupanya, hal ini dia tidak terima dengan baik. Alasannya, dia punya urusan keluarga sehingga belum bisa masuk kerja. Kalau ini perusahaan moyangmu, silakan aja kamu gak masuk berhari-hari. Tapi di sini ada aturan perusahaan, bro. Yah, saya hanya bisa mendoakan dia sukses di tempa lain. Sebab, saya pernah bilang ke dia, masalahmu ada di dirimu sendiri. Jika kau tidak bisa menaklukkan dirimu sendiri, sampai kapan pun dan dimanapun kau akan jadi pecundang.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014
Read More »

DUA BAGIAN YANG LANCANG AKU SEBUT PUISI UNTUKMU

I
Pada lengkung senyummu itu
semacam alamat puisi yang
telah lama aku terlupa.
Hari ini kau meminta aku mengirimkan puisi, bukan?

Aku butuh alamat itu.
“besok alamat itu aku kirimkan”
Katamu. Aku menunggu dengan mata yang pejam.

Lalu kesunyian mematung.
Malam ditunggangi bayang-bayang
Mimpi-mimpi berkelebat.

II
Kini, istirah kita pengantar singkat
Kerna kesibukan begitu merajam
Pertemuan yang lebih panjang
Kita cari lewat mimpi masing-masing

Jika kebetulan bertemu
Apakah benar kita saling memimpikan?

Ketika aku memikirkanmu,
Kerinduan menjelang.
Seperti memacu detak waktu,
detak jantungku.
Posted by huldi amal
on 5/12/2014
Read More »

Kamis, Desember 26, 2013

redaktur menggerutu, wartawan malah request

Malam-malam di kantor redaksi kami, akhir-akhir ini, makin heboh. Penyebabnya lagu dangdut dan gerutuan yang timbul karenanya. Adalah Tomi Syahputra. Si Elektronik Data Processing (EDP) ini kerap memutar lagu-lagu beraliran dangdut 'antah berantah'. Syair-syairnya itu loh. "aku gadis tapi bukan perawan. keperawananku sudah hilang. gara pacaran....bla...bla...."
Mas Bambang, salah satu redaktur menggerutu. "Ini lagu gak beres." gerutunya. Yang lain cuma tergelak. "Dasar Tomi. Lagumu itu aneh," tukas Rusman, layouter yang duduk tepat di samping Tomi. Anak muda ini cuma cengar-cengir kuda.
Setelah lagu itu, meluncur lagi syair dangdut yang tak kalah 'canggih'. "aku jalak, bukan jablay. aku janda galak, bukan janda lebay..." . Semuanya jadi hafal lirik ini gara-gara Tomi. Rupanya, tugas mengoleksi data berupa foto-foto untuk keperluan redaksi menjalarinya sebuah kreativitas lain. Mengoleksi lagu dangdut 'antah berantah'. Koleksinya lumayan. Bila ruangan redaksi mulai hening, terdengar cuma suara keyboard  dipatuk-patuk jari-jemari wartawan dan redakur, Tomi segera beraksi. Lagu-lagu dangdut itu mengalun dengan volume kecil. Celakanya, bila sudah mengalun, request bermunculan dari para wartawan. "volumenya ditambah. Jalak ya." Rupanya, lagu-lagu ini digemari wartawan. Karena wartawan yang sedang  ngetik berita terhibur, lagu-lagu ini rupanya “membantu” di ruang redaksi. Walaupun efek sampingnya ada redaktur yang menggerutu. Jadilah Tomi berfungsi ganda. Menyiapkan lalu lintas data di server berupa berita dan foto, plus operator musik dangdut pesanan wartawan. Redaktur harus belajar menikmatinya....

Posted by huldi amal
on 12/26/2013
Read More »

Rabu, November 13, 2013

Bambang, Jilbab Hitam, dan Rantai Redaksi yang “Telanjang”


Apa Pak Bambang akan menyinggung soal tuduhan akun Jilbab Hitam di Kompasiana, saat jadi pemateri hari ini? Tulisan akun itu memang langsung menunjuk hidung wartawan senior Tempo yang pernah bertugas selama delapan tahun di London itu. Pertanyaan ini terus saja menggelayut dalam kepala saya. Terus berngiang hingga mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini masuk Matahari Room. Saya didera penasaran.
Waktu menunjuk pukul 08.00. Di ruangan pertemuan milik Arya Duta Suites ini, saya, juga kawan-kawan media lainnya, menunggu kedatangan Bambang Harymurti. Kami peserta workshop pengelolaan media. Sang empunya acara, PT Pertamina EP Asset V. Kegiatan dibuka Pjs GM Pertamina Asset V, Sigit Budijatno. Selain wartawan, pesertanya adalah staf Humas dari sejumlah field di lingkungan Pertamina Asset V.  
Bersama Bambang Harimurti
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Mengenakan batik putih bermotif kembang-kembang kecoklatan, Direktur Utama Tempo Inti media ini berjalan pelan memasuki ruangan. Menebar senyum. Ia langsung menyapa sejumlah awak Tempo Institute. Lembaga yang digandeng Pertamina guna menggelar workshop sejak Rabu, 13 November hingga Jumat, 15 November.
Bambang menjadi pembicara pertama. Ia memaparkan tentang Peta Kepemilikan Media Terkini Di Indonesia-Kepemilikan dan Independensi. Independensi, hal yang saya tahu, teramat dirawat dan menjadi ruh bagi para jurnalis Tempo. Lantas, apakah ia akan menyinggung soal jilbab hitam ya? Dituding memeras Direktur salah satu bank pelat merah dalam kasus korupsi SKK Migas, tentu bukan perkara remeh. Pertanyaan ini terus menggelitik saya selama pria ini berdiri di hadapan kami, para peserta workshop.
Sebagai mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Bambang sangat up date  dengan kasus-kasus ‘menyimpang’ dalam praktik media. Yang paling menyita perhatian saya adalah ketika ia sampai pada salah satu pasal yang mengatur tentang independensi pers. Bahwa wartawan bisa melaporkan big boss-nya ketika mengintervensi medianya sendiri. “Itu tergantung wartawan. Punya nyali apa tidak,” sergahnya.
Tiba di topik itu setelah dia memaparkan tentang peta konglomerasi media di Indonesia. Bagaimana kepemilikan media, utamanya TV, masih terpusat pada segelintir elit. Praktek ini mengancam prinsip keberagaman isi dan demokratisasi penyiaran. Utamanya bagi media yang menggunakan frekuensi publik. “Ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Penyiaran,” ujar Bambang. Dewan Pers dan Komisi Penyiaran, kata dia, berkali-kali menggonggong soal ini.
Nah, menurutnya, hal ini makin krusial menjelang perhelatan Pemilu Presiden. Sejumlah konglomerat pemilik media adalah bakal kandidat presiden dan wakil presiden. Logikanya, siapa yang paling banyak menguasai media bisa menggalang opini publik untuk mendongkrak elektabilitasnya. “Hari Tanoe punya stasiun TV paling banyak. Dia bisa menang, dong. Tapi memang tak segampang itu kenyataannya,” kata Bambang soal bakal calon Wapres dari Partai Hanura berpasangan dengan Wiranto, sang ketua umum.  
Nah, kembali soal nyali wartawan yang bisa melaporkan big boss-nya tadi, Bambang yang pernah beperkara dengan konglomerat Tomy Winata ini mengisahkan tentang keberanian wartawan salah satu stasiun TV swasta. “Liputan khusus mereka soal penyimpangan di balik LP tak jadi ditayangkan karena intervensi menteri Hukum dan HAM. Menteri menelpon pimpinan agar liputan itu tak ditayangkan. Pimred-nya kami (Dewan Pers) panggil,” bebernya. Akhirnya, liputan khusus itu bisa menyapa pemirsa.
Salah satu peserta menanyakan soal independensi media yang bisa saja ewuh pakewuh dengan pemasang iklan. Apa jawab Bambang? “Bagi saya, pemasang iklan ketika memasang iklan bukan karena mereka takut kepada medianya. Pemasang iklan di Tempo, bagi saya, justru karena mereka merasa bahwa Tempo adalah media yang paling efektif bagi mereka. Kalau takut ya mending gak usah masang,” katanya.
Klop. Bambang, tiba-tiba, langsung berujar, “saya sekarang dituduh memeras. Gila apa Bambang meras Direktur Mandiri.” Akhirnya, pertanyaan yang tadi berngiang di telinga saya beroleh jawaban. “Bagi saya, memeras itu seperti candu. Sekali anda melakukannya, itu berbahaya. Saya tidak akan melakukan itu,” tambah dia.
Akun jilbab hitam di media warga Kompasiana memang menimbulkan kehebohan di media sosial. Akun ini memposting tulisan yang menuduh Bambang, bersama lembaga Kata Data memeras Bank Mandiri sebelum menurunkan cover story “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?”
Bambang memang sudah membantah. Semua orang, termasuk saya, punya hak percaya atau sebaliknya soal kebenaran pengakuan dia. Hingga, sebuah bantahan lain, bukan keluar dari mulut Bambang, datang juga di ruangan di mana saya harus berjuang menahan gempuran pendingin udara.
 “Kami menyebutnya Intranet,” kata Direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim, ketika saya menanyakan nama software ini.  Mardiyah, narasumber setelah Bambang, usai simulasi rapat perencanaan redaksi, tampak mengakses Intranet ini. Ia mengetik namanya lalu password.
Software ini menyahihkan anggapan saya selama ini bahwa Tempo benar-benar, setidaknya berusaha, merawat independensinya. Independensi  tak lagi sekadar doktrin yang di-install dalam memori otak wartawan. Tapi, bagaimana Tempo juga memanfaatkan teknologi dalam upaya merawat kredo yang satu ini.
Dari penjelasan Mardiyah, saya mengetahui bagaimana rantai keredaksian Tempo. Tak hanya soal rantai mulai keranjang mentah, keranjang redaktur, keranjang bahasa, redaktur senior, keranjang tata letak hingga berita menjadi hidangan matang bagi pembaca.
Intranet, kata Mardiyah dirancang seorang mahasiswa,  menjadikan setiap fase dari rantai panjang keredaksian tadi menjadi sesuatu yang ‘telanjang’.
Setiap berita yang akan ditulis melewati rapat redaksi. Angle tulisan juga disepakati mekanisme rapat. Sejak tahap ini, hingga berita diedit, semua transparan. Lewat Intranet yang diakses dengan password itu bisa terlihat, siapa redaktur yang mengedit tiap tulisan, angle awal yang disepakati apakah berubah atau tidak, hingga di fase akhir di mana tulisan benar-benar sudah jadi.  “Dengan begitu, semua bisa mengontrol. Jadi, kalau ada angle peliputan tiba-tiba berubah saat editing, tentu akan terlihat. Kenapa tak sesuai dengan rapat?” tukas Mardiyah.
Menurut redaktur rubrik ekonomi Tempo ini, mekanisme 'telanjang' itulah yang menjaga setiap kemungkinan adanya intervensi siapa pun menjelang tenggat akhir dead line penulisan. Apalagi  karena “kepentingan’ pribadi.  “Lalu, di tahap mana Pak Bambang Harimurti yang dengan militansi jurnalistik seperti itu bisa mengintervensi karena mau memeras,” bebernya.
Setiap rapat perencanaan saja, dibeberkan Mardiyah, ide-ide Bambang bisa ‘dibantai’ dalam rapat redaksi dan gugur. “Pimred kami saja menjadi ketua forum Pimred, kami sidang rame-rame,” tukas dia.
Dari akun FB pendiri Tempo, Goenawan Mohammad (GM), saya langsung mendapatkan cerita segar bagaimana ending sidang itu. Usai sidang, GM langsung menulis di wall FB-nya. Singkat tapi tetap dengan gaya khas eseinya: Wahyu Muryadi menangis dan mengaku salah. Muryadi akhirnya mundur dari jabatan yang dikhawatirkan menyeret Tempo menjauh dari kredo independensi.
Kini, satu pertanyaan baru menggelayut lagi di kepala saya. Sebenarnya, dipicu pernyataan salah satu awak Tempo di ruangan workshop. Bahwa, ternyata ancaman baru bagi jurnalisme adalah jurnalisme kewargaan. Jilbab hitam, tentu itu yang dimaksudkannya. Benar-benar berbahayakah? Sejak awal, kredo jurnalisme kewargaan menyebutkan setiap warga adalah reporter. Maka sejak awal pula ada keraguan di sana. Terutama, tentang bagaimana nilai dan prinsip-prinsip dalam jurnalisme ditegakkan. Apakah jurnalisme warga mengatakan fakta, terverifikasi, oleh dan menurut siapa? Hal yang tentu tak bisa didapatkan jawabannya dari sebuah akun yang menulis tanpa identitas lantas menghilang tak tentu rimbanya.  
Posted by huldi amal
on 11/13/2013
Read More »