Mereka mulai bosan saat tak diladeni. Apalagi, kalau ponsel saya dekatkan di speaker keyboard Casio WK-7600. Lalu, saya mainkan satu dua nada, mirip tebak-tebakan judul lagu di acara kuis Berpacu Dalam Melodi di era keemasan TVRI sebagai pemain tunggal dunia broadcasting analog.
Para penelpon ini, dari aplikasi pinjaman online yang namanya juga sebelumnya saya tak kenal. Menelpon berulang. Jedanya kadang hanya sehari. Padahal, mereka sendiri bilang, "percakapan ini terekam otomatis dan jadi bahan laporan ke perusahaan."
Kalau begitu, temanmu yg nelpon bulan lalu, dia kemanakan rekaman suaraku? Diapakan? Buat nakut-nakutin, bosmu? Biar naik gaji? Fucek!!!
Kini, sudah tak pernah ada lagi suara manis di ujung telepon, menanyakan nama wanita malang yang terjerat hutang. Entah siapa dan tinggal dimana gerangan dirinya, saya juga tak ambil pusing.
"Itu karena perempuan yang dicari mereka punya nomor kontak sampean," begitu penjelasan kawan yang menggeluti dunia marketing berpadu algoritma era digitalisasi.
Nah, siapa dia? Bikin penasaran! Siapa perempuan yang menyimpan kontak saya tapi tak kukenal? Apa motifnya? Tak pernah mengontak juga! Kan, minimal WhatsApp, lah. Say Hello, gitu! Kalau memang kamu secret admirer, kumaafkan. Tak apa sy jadi korban tagihan cicilanmu, tapi setidaknya saya tahu juga nomor WA-mu...
Masalahnya, saat teror aplikasi ini sudah berakhir, teror baru muncul. SMS tawaran pinjaman dana, produk pembesar dan 'tahan lama', sampe judi togel, mampir 3 kali sehari. Mirip resep dokter!!! Asseeeemmm....😠


0 komentar:
Posting Komentar