| Kerajinan tangan adik saya di tojo-unauna |
Kampung saya, Ampana, Tojo-Unauna, Sulteng, begitu majemuk dari komposisi penduduk. Salah satu yang cukup dominan adalah perantau dari Gorontalo.
Ayah saya, perantau dari Bone, Sulsel, akhirnya membeli sebidang tanah. Membangun rumah. Pemilik sebelumnya adalah seorang Gorontalo, maestro pembuat Bendi, alat transportasi legendaris di kampung saya. Di tempat lain disebut dokar, atau delman.
Setelah menjual tanahnya, pemilik workshop bendi itu pindah ke seberang jalan. Di situ, saya kerap bermain-main dengan kawan sebaya. Melihat dr dekat pembuatan bendi. Kadang kami dimarahi karena lancang memainkan perkakas berbahaya.
Selain bentuknya khas, bendi buatan orang2 Gorontalo kukuh dan ramping. Artistik juga. Setiap sisi dilapisi seng dipipihkan lalu dicat warna sesuai selera.
Kala SMA, saya masih pulang sekolah naik bendi. Waktu pulang kampung terakhir kali, bendi jarang terlihat lagi. Lebih banyak becak motor. Tukang ojek bejibun. Kalau ojek online juga beroperasi, masih kah orang mengenang bendi? Padahal, bendi punya teknik khusus. Kalau kudanya berak saat narik penumpang, jatuhnya di karung. Dipasang di dekat pantat kuda. Letaknya di sisi bawah bagian depan. Kecuali kudanya, maaf, mencret, kotorannya meleset.😀
Saya terkenang kuda betina milik kami. Namanya Kelly. Dijual murah oleh Om Aruji (alm), si maestro pembuat bendi di depan rumah. Karena Kelly, sy pernah belajar berkuda. Belajar memanah saja yang belum. Wajar kalau belum bisa mengamalkan ayat..."mastna wa tsulatsa wa ruba'..."😁😁
#kerajinantangan
#kreatif #ampanakota
#tojounauna

0 komentar:
Posting Komentar