Rabu, Juli 29, 2020

Jante Arkidam

Setelah Sapardi pergi, menyusul Ajip Rosidi. Saya pernah terpesona dengan pembacaan puisi Jante Arkidam. Oleh seorang tokoh seni teater negeri ini. Namanya Kang Iman Soleh I. Beliau hadir dengan sastrawan, Kang Acep Zamzam Noor. Di Festival Lanjong tahun 2009. 

Usai pembacaan puisi yang berkisah soal bromocorah sakti itu, saya langsung menghampiri sang mahaguru teater. "Itu puisi siapa, Kang?" tanpa sungkan dan malu, saya bertanya. 

Pikir saya, buat apa malu? Saya bukan orang yang melek sastra. Waktu itu, saya wartawan kriminal, malah disuruh liputan festival seni dan kebudayaan. Namanya kuli. Mau tak mau taat pada titah majikan berduli.

Mungkin, keawaman saya pada sastra tak jauh bedanya dulu dengan sekarang. Namun, setidaknya, dari jawaban maestro teater yg begitu ekspresif dalam membaca Jante, saya membeli kumpulan puisi Ajip Rosidi...
Ajip Rosidi
Ajip Rosidi. (merdeka.com)


Kepergian dua sastrawan yang berdekatan membuat rasa kehilangan semakin kuat. Sayangnya, orang-orang seperti mereka tetap 'tinggal'. Tak beranjak dari benak. Sebab, mereka punya karya. Monumen ingatan paling hakikat. 

Saya termenung membayangkan, bahwa kita yang pulang belakangan, justru akan paling cepat terlupakan. Tidak seperti jejak-jejak mereka yang melampaui zaman...

0 komentar:

Posting Komentar