Kalau ada kata-kata yang pernah saya ucapkan dan harus ditarik kembali malam ini, segera, adalah: pelajaran Matematika itu sulit!
Matematika ternyata bukan mata pelajaran paling sulit diajarkan ke anak kelas 4 SD. Yang sulit itu ternyata pelajaran Agama.
Malam ini, seperti biasa, saya mulai "meneror" bungsuku. "Ambil buku. Kerjakan tugas!" Semua video materi pelajaran dan tugas dari guru kelas disimak. Dia memilih membuka video mapel Agama lebih dulu. Menyiapkan buku. Menyimak. "Bagus. Ini bakal mudah," pikirku.
![]() |
| Senja di Kota Samarinda. |
Materinya, keteladanan Nabi Ayub. Baru menyimak awal video, bocah ini tiba-tiba unjuk pertanyaan. Saya kelabakan.
"Ada gak, Yah, Nabi dari Indonesia?" Nabi-nabi, kata dia, semua dari Arab. Jlebbb! Kalau saya jawab gak ada, dia pasti tanya "kenapa?" Mikir super keras!
Saya jawab singkat, leluhur Nabi Muhammad bukan asli penduduk Mekah. Syukurnya, di kepala anak ini, Arab itu "hanya" Mekah. Dia bungkam. Hmmmm...
Lanjut...
Narasi video itu akhirnya mengisahkan sumpah Nabi Ayub. 100 kali cambukan buat istrinya. "Loh, kan gak boleh suami mukul istri, Yah?" Video itu dijedanya. Kali ini, urusan jadi lebih serius. Mata beradu mata. Dahinya mengernyit.
Aduh, Mak!
Saya ambil gawai dari tangannya. Layar kusentuh. Video berlanjut. "Tuh, kan? Dengar sendiri. Allah dengan kasih sayang-Nya mengganti kayu dengan 100 lidi. Jadi hanya sekali saja, tapi terhitung sama dengan 100 kali," jawabku. Saya tunggu "serangan" susulan.
Rupanya dia diam. Puas? Entahlah. Lima poin pertanyaan dari gurunya tuntas dijawabnya sendiri. Mungkin, dia yakin dengan narasi video. Bahwa janji atau sumpah harus tetap dilaksanakan.
Di titik ini, saya tiba-tiba ingin tampil seperti Gus Baha di depan anak. Kebetulan, dua hari lalu, saya menyimak materi video akun Santri Gayeng, juga tentang topik ini. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya," gumamku.
***
Pagi tadi, saya juga gagap dengan pertanyaan kakak perempuannya.
Bermula dari kaing anjing tetangga. Beberapa hari lalu, mereka pindah. Rumah kosong. Gelap saat malam hari. Sejak itu, suara anjing bikin saya terganggu.
Entah apa pertimbangannya, anjing itu masih dirantai di samping rumah yang kosong melompong. Saya husnuzan. Mungkin masih ada barang yang ditinggal. Apalagi, anak tetangga itu saya lihat sempat datang lagi.
Di rumah kami, ada 3 ekor kucing pejantan besar. Semua diurusi Zahra. Sisa makanan dikumpulkan lalu dibagikan secara terpisah kepada kucing-kucing itu. Biar tak terjadi adu kekuatan.
"Masih ada sisa daging semalam? Tambahkan nasi, masukkan ke sini!" Saya sodorkan bekas kotak makanan. "Buat apa?" "Anjing itu lapar. Ayo, kita beri makan."
Dia diam. Sorot matanya menolak. Awalnya, saya berpikir karena takut. Anak ini memang takut dengan anjing. "Gak usah, anjing kan haram!" ujarnya.
Saya diam sejenak. Lalu, kotak nasi kuambil. Ada sisa potongan paha bebek. "Ayo, tambah nasinya," saya memerintah lagi. Dia ke dapur.
Zahra lalu menyusul langkah kaki saya. Menyeberang jalan. Anjing itu pun melahap habis nasi dengan cepat.
Di keran air depan rumah tetangga itu ada ember kecil. Saya tunjuk. "Ambil itu, isi air. Buat minum anjingnya."
Kali ini Zahra bergegas. Dia senang anjing itu tampak lugu. Persentuhan pertamanya dengan anjing tak sehoror di pikirannya.
"Ayah, apakah kita bisa masuk surga dengan memberi makan anjing?"
Tiba-tiba, ingin sekali kuceritakan padanya, kisah seorang seorang pelacur yang rontok semua dosanya. Hanya karena memberi minum seekor anjing.
Ingin kuceritakan kisah KH Mas Mansyur, Ketua Muhammadiyah, yang memarahi anaknya karena lupa mengikat anjing piaraan. Sebab, gara-gara anjing jenis Keeshond itu, insiden terjadi. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Hasbullah yang datang bersilaturrahmi langsung melompat dan berdiri di atas kursinya.
Ingin kuceritakan juga, Nabi membiarkan dua permata hatinya, imam Hasan dan Husain, kala bocah, bermain dengan anak anjing. Atawa, kisah para Ashabul Kahfi yang turut ditemani anjing. Namun, kata-kata saya telan kembali. "Ini belum saatnya!"
Pertanyaan anak perempuan ini hanya saya jawab sekenanya. "Memberi makan kucing dan anjing, akan membawa kita ke surga. Tapi, yang paling penting, kasih sayang Allah. Sayangilah semua mahluk Allah, Allah akan sayang kepada kita. Bisa gak kita masuk neraka kalau Allah sudah sayang sama kita?"


0 komentar:
Posting Komentar