Apa Pak Bambang akan menyinggung soal tuduhan akun
Jilbab Hitam di Kompasiana, saat jadi
pemateri hari ini? Tulisan akun itu memang langsung menunjuk hidung wartawan senior
Tempo yang pernah bertugas selama delapan tahun di London itu. Pertanyaan ini
terus saja menggelayut dalam kepala saya. Terus berngiang hingga mantan Wakil
Ketua Dewan Pers ini masuk Matahari Room. Saya didera penasaran.
Waktu menunjuk pukul 08.00. Di ruangan pertemuan milik
Arya Duta Suites ini, saya, juga kawan-kawan media lainnya, menunggu kedatangan
Bambang Harymurti. Kami peserta workshop pengelolaan media. Sang empunya acara, PT Pertamina EP Asset V. Kegiatan
dibuka Pjs GM Pertamina Asset V, Sigit Budijatno. Selain wartawan, pesertanya
adalah staf Humas dari sejumlah field
di lingkungan Pertamina Asset V.
![]() |
| Bersama Bambang Harimurti |
Bambang menjadi pembicara pertama. Ia memaparkan
tentang Peta Kepemilikan Media Terkini Di Indonesia-Kepemilikan dan
Independensi. Independensi, hal yang saya tahu, teramat dirawat dan menjadi ruh
bagi para jurnalis Tempo. Lantas, apakah ia akan menyinggung soal jilbab hitam
ya? Dituding memeras Direktur salah satu bank pelat merah dalam kasus korupsi
SKK Migas, tentu bukan perkara remeh. Pertanyaan ini terus menggelitik saya
selama pria ini berdiri di hadapan kami, para peserta workshop.
Sebagai mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Bambang
sangat up date dengan kasus-kasus ‘menyimpang’ dalam praktik
media. Yang paling menyita perhatian saya adalah ketika ia sampai pada salah
satu pasal yang mengatur tentang independensi pers. Bahwa wartawan bisa
melaporkan big boss-nya ketika mengintervensi medianya sendiri. “Itu tergantung
wartawan. Punya nyali apa tidak,” sergahnya.
Tiba di topik itu setelah dia memaparkan tentang peta
konglomerasi media di Indonesia. Bagaimana kepemilikan media, utamanya TV,
masih terpusat pada segelintir elit. Praktek ini mengancam prinsip keberagaman
isi dan demokratisasi penyiaran. Utamanya bagi media yang menggunakan frekuensi
publik. “Ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Penyiaran,” ujar Bambang.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran, kata dia, berkali-kali menggonggong soal ini.
Nah, menurutnya, hal ini makin krusial menjelang
perhelatan Pemilu Presiden. Sejumlah konglomerat pemilik media adalah bakal
kandidat presiden dan wakil presiden. Logikanya, siapa yang paling banyak menguasai
media bisa menggalang opini publik untuk mendongkrak elektabilitasnya. “Hari
Tanoe punya stasiun TV paling banyak. Dia bisa menang, dong. Tapi memang tak segampang itu kenyataannya,” kata Bambang
soal bakal calon Wapres dari Partai Hanura berpasangan dengan Wiranto, sang
ketua umum.
Nah, kembali soal nyali wartawan yang bisa
melaporkan big boss-nya tadi, Bambang yang pernah beperkara dengan konglomerat
Tomy Winata ini mengisahkan tentang keberanian wartawan salah satu stasiun TV
swasta. “Liputan khusus mereka soal penyimpangan di balik LP tak jadi
ditayangkan karena intervensi menteri Hukum dan HAM. Menteri menelpon pimpinan
agar liputan itu tak ditayangkan. Pimred-nya kami (Dewan Pers) panggil,”
bebernya. Akhirnya, liputan khusus itu bisa menyapa pemirsa.
Salah satu peserta menanyakan soal independensi
media yang bisa saja ewuh pakewuh dengan
pemasang iklan. Apa jawab Bambang? “Bagi saya, pemasang iklan ketika memasang
iklan bukan karena mereka takut kepada medianya. Pemasang iklan di Tempo, bagi
saya, justru karena mereka merasa bahwa Tempo adalah media yang paling efektif
bagi mereka. Kalau takut ya mending gak usah masang,” katanya.
Klop. Bambang, tiba-tiba, langsung berujar, “saya
sekarang dituduh memeras. Gila apa Bambang meras
Direktur Mandiri.” Akhirnya, pertanyaan yang tadi berngiang di telinga saya
beroleh jawaban. “Bagi saya, memeras itu seperti candu. Sekali anda
melakukannya, itu berbahaya. Saya tidak akan melakukan itu,” tambah dia.
Akun jilbab hitam di media warga Kompasiana memang menimbulkan kehebohan
di media sosial. Akun ini memposting tulisan yang menuduh Bambang, bersama
lembaga Kata Data memeras Bank
Mandiri sebelum menurunkan cover story “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?”
Bambang memang sudah membantah. Semua orang,
termasuk saya, punya hak percaya atau sebaliknya soal kebenaran pengakuan dia. Hingga, sebuah bantahan lain, bukan
keluar dari mulut Bambang, datang juga di ruangan di mana saya harus berjuang
menahan gempuran pendingin udara.
“Kami
menyebutnya Intranet,” kata Direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim, ketika
saya menanyakan nama software ini. Mardiyah,
narasumber setelah Bambang, usai simulasi rapat perencanaan redaksi, tampak
mengakses Intranet ini. Ia mengetik namanya lalu password.
Software ini menyahihkan anggapan saya selama ini
bahwa Tempo benar-benar, setidaknya berusaha, merawat independensinya.
Independensi tak lagi sekadar doktrin
yang di-install dalam memori otak wartawan. Tapi, bagaimana Tempo juga
memanfaatkan teknologi dalam upaya merawat kredo yang satu ini.
Dari penjelasan Mardiyah, saya mengetahui bagaimana
rantai keredaksian Tempo. Tak hanya soal rantai mulai keranjang mentah,
keranjang redaktur, keranjang bahasa, redaktur senior, keranjang tata letak
hingga berita menjadi hidangan matang bagi pembaca.
Intranet, kata Mardiyah dirancang seorang
mahasiswa, menjadikan setiap fase dari rantai
panjang keredaksian tadi menjadi sesuatu yang ‘telanjang’.
Setiap berita yang akan ditulis melewati rapat
redaksi. Angle tulisan juga disepakati mekanisme rapat. Sejak tahap ini, hingga
berita diedit, semua transparan. Lewat Intranet yang diakses dengan password
itu bisa terlihat, siapa redaktur yang mengedit tiap tulisan, angle awal yang
disepakati apakah berubah atau tidak, hingga di fase akhir di mana tulisan benar-benar
sudah jadi. “Dengan begitu, semua bisa
mengontrol. Jadi, kalau ada angle peliputan tiba-tiba berubah saat editing,
tentu akan terlihat. Kenapa tak sesuai dengan rapat?” tukas Mardiyah.
Menurut redaktur rubrik ekonomi Tempo ini, mekanisme 'telanjang'
itulah yang menjaga setiap kemungkinan adanya intervensi siapa pun menjelang
tenggat akhir dead line penulisan.
Apalagi karena “kepentingan’
pribadi. “Lalu, di tahap mana Pak
Bambang Harimurti yang dengan militansi jurnalistik seperti itu bisa
mengintervensi karena mau memeras,” bebernya.
Setiap rapat perencanaan saja, dibeberkan Mardiyah,
ide-ide Bambang bisa ‘dibantai’ dalam rapat redaksi dan gugur. “Pimred kami
saja menjadi ketua forum Pimred, kami sidang rame-rame,” tukas dia.
Dari akun FB pendiri Tempo, Goenawan Mohammad (GM), saya
langsung mendapatkan cerita segar bagaimana ending
sidang itu. Usai sidang, GM langsung menulis di wall FB-nya. Singkat tapi tetap dengan gaya khas eseinya: Wahyu Muryadi
menangis dan mengaku salah. Muryadi akhirnya mundur dari jabatan yang
dikhawatirkan menyeret Tempo menjauh dari kredo independensi.
Kini, satu pertanyaan baru menggelayut lagi di
kepala saya. Sebenarnya, dipicu pernyataan salah satu awak Tempo di ruangan
workshop. Bahwa, ternyata ancaman baru bagi jurnalisme adalah jurnalisme
kewargaan. Jilbab hitam, tentu itu yang dimaksudkannya. Benar-benar
berbahayakah? Sejak awal, kredo jurnalisme kewargaan menyebutkan setiap warga
adalah reporter. Maka sejak awal pula ada keraguan di sana. Terutama, tentang
bagaimana nilai dan prinsip-prinsip dalam jurnalisme ditegakkan. Apakah jurnalisme
warga mengatakan fakta, terverifikasi, oleh dan menurut siapa? Hal yang tentu tak
bisa didapatkan jawabannya dari sebuah akun yang menulis tanpa identitas lantas
menghilang tak tentu rimbanya.


0 komentar:
Posting Komentar