I
Pada
lengkung senyummu itu
semacam
alamat puisi yang
telah
lama aku terlupa.
Hari ini kau meminta aku
mengirimkan puisi, bukan?
Aku
butuh alamat itu.
“besok
alamat itu aku kirimkan”
Katamu. Aku
menunggu dengan mata yang pejam.
Lalu
kesunyian mematung.
Malam
ditunggangi bayang-bayang
Mimpi-mimpi
berkelebat.
II
Kini,
istirah kita pengantar singkat
Kerna
kesibukan begitu merajam
Pertemuan
yang lebih panjang
Kita
cari lewat mimpi masing-masing
Jika
kebetulan bertemu
Apakah benar kita saling memimpikan?
Ketika
aku memikirkanmu,
Kerinduan
menjelang.
Seperti
memacu detak waktu,
detak
jantungku.


0 komentar:
Posting Komentar