Dalam pekan-pekan ini, warga Kaltim di tiga daerah, Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Balikpapan, makin irit mendapatkan penerangan listrik. Rasanya seperti kembali ke suasana baheula. Lilin makin laris. Lampu padam semalaman. Bisa dibayangkan tidur warga tak lagi nyenyak.
Tak nyenyak karena kepanasan. Kipas angin tak berfungsi. Bagi yang ekonomi kelas atas, AC mereka tak berfungsi. Yang punya duit segudang punya cara tersendiri ketika listrik padam semalaman: nginap di hotel. Nah, yang miskin seperti saya punya satu cara. jendela dibuka lebar-lebar. Nyamuk berdatangan. Pakai anti nyamuk bakar. Beres. Meski harus tetap mencoba berdamai dengan gerah udara yang tak bisa sepenuhnya diusir.
Masalah bermula ketika ada fasilitas pembangkit PLTU di daerah kami, Kutai Kartanegara, meledak. Travo arus salah satu PLTU yang menjadi bagian dari sistem interkoneksitas MAhakam, jaringan listrik yang menyuplai daya listrik di tiga daerah. Listrik padam nyaris 12 jam. Meski sempat menyala beberapa jam, peristiwa ini berulang malam selanjutnya.
Anehnya, tak ada penjelasan dan pemberitahuan kenapa pemadaman terjadi lagi, Dengan durasi yang nyaris sama. Kondisi ini jelas bikin jengkel semua orang. Pelaku usaha mengeluh. Kantor PLN mulai didemo.
PLN rupanya tak bisa menjamin pemadaman segera berakhir. Mereka hanya berjanji memberikan diskon 10 persen kepada pelanggan. Ini sebagai bentuk kompensasi akibat pemadaman yang tak berkesudahan tadi.
Masalahnya tak hanya sebatas diskon. Semua sektor terpukul ketika listrik tidak kunjung beres. Bahkan, ada korban jiwa. Meski listrik mati bukan penyebab langsungnya. Musibah kebakaran terjadi di Kota Samarinda. Karena padam semalaman, pasti orang mencari penerangan alternatif. Nah, sebagaian memilih lilin. Inilah yang memicu kebakaran. Ibu dan anak tewas terpanggang. Kalau sudah begini, siapa yang patut disalahkan. Saya pikir, rencana class action terhadap PLN patut didukung. Biar PLN bisa terus berupaya membenahi pelayanan kepada pelanggannya.


0 komentar:
Posting Komentar