Membaca berita di media online tentang seorang santriwati, NN, memotong kelamin lelaki bernama Muhyi. Lelaki itu kini harus hidup dengan 'cacat' fisik dan batin yang harus ditanggung sesisa umurnya.
Saya tak punya pretensi apapun untuk menilai, siapa yang paling benar dan paling salah dalam kasus ini. Si perempuan kah yang harus disalahkan? karena dia menemui lelaki yang bukan muhrimnya hingga dinihari? lalu dia dipaksa bersetubuh hingga mahkotanya terenggut?
Lalu, si Muhyi, lelaki yang dikenal NN dari sebuah telepon nyasar alias salah sambung. Muhyi, yang berkali-kali menelpon, meminta berkenalan, akhirnya mampu meluluhkan pertahanan NN, hingga mau bertemu. Dari pertemuan pertama, dan pasti tak akan terlupakan bagi keduanya, Muhyi juga berhasil membobol 'keperawanan' si santriwati yang dikenal bercadar. anak tokoh masyarakat pula. apakah salah si Muhyi? memaksa NN melayaninya di pertemuan pertama. Bahkan, spermanya tumpah di jilbab si korban 'petualangannya'. Konon, inilah yang membuat NN merasa terhina. Apalagi, seusai hajatnya terpuaskan, Muhyi memberi uang kepada NN yang berujar, "emang aku perempuan gituan, diberi uang?" Sepenuhnya salah Muhyi semua itu?
Titik nadirnya, NN yang mengaku dendam menemu sebilah pisau cutter. Di sebuah warung makan, selepas persetubuhan yang katanya 'bertepuk sebelah tangan'. Ia meminta melihat 'burung' si lelaki. Entah apa di benaknya? 'Burung' itu digenggamnya, diperlakukannya hingga mengeras. NN melakukan itu di balik jilbab besarnya agar tak terlihat orang. tak berselang lama, crasssssss! pisau cutter itu menebas 'burung' ajaib itu. putus. bagiannya terjatuh ke tanah. darahnya juga muncrat ke jilbab NN.
Saya ingat kata-kata seseorang, ketika sepasang muda-mudi memutuskan bersetubuh, yang bersalah adalah lelakinya. perempuannya 'turut' bersalah.
***
kasus ini akhirnya harus berujung hukum. Keluarga NN 'mencoba' menempuh jalan damai dengan menawarkan pernikahan antara keduanya. Eh, keluarga si Muhyi bilang. 'gak mau'!! Enak saja. Muhyi sudah 'kehilangan' masa depannya! gara-gara NN. Lho! Lalu, masa depan NN gimana?
Kalau benar ia terpaksa melayani Muhyi, ia kehilangan keperawanan tanpa bulat hati. berarti ia kehilangan masa depannya juga. Bayangkan, ketika menikah nanti, suaminya tak rela istrinya sudah tidak perawan. Musibah juga bagi NN.
Terlihat jelas dalam kasus ini, bagaimana cara pandang dunia patriarki menafsirkan tentang 'masa depan' itu. Perempuan ternyata tak dipandang penuh, terus disepelekan, dan tak jadi pertimbangan. Padahal keperawanan dan kehormatan perempuan adalah sesuatu yang paling berharga. Pria, walau berkali-kali ejakulasi dengan sekian perempuan, dianggap biasa. Bukankah ini konstruksi yang sepenuhnya tak adil?
Saya mulai berpikir, jika benar Muhyi memaksa, NN terpaksa, keduanya impas. Muhyi akan 'terpenjara' dari kemungkinan petualangan-petualangan kelaminnya. Sementara, NN dipenjara akibat ulah kriminalnya. Hmmmmm. Menggunakan 'burung' memang harus pada tempat, waktu yang tepat, dan persetujuan pemilik 'sangkar'-nya. Jika tidak, si 'burung' bisa pensiun dini. Syukur-syukur saja pemilik 'burung' masih bisa hidup. Tapi, hidup lelaki tanpa 'burung' ibarat...........Maaf, saya tak bisa menemukan cara bagaimana mengiaskannya. Oh, Muhyi....Muhyi!

0 komentar:
Posting Komentar