Jumat, Mei 24, 2013

Membenci Amerika: catatan kecil tentang Film “Innocence of Muslims”

  Why do people hate america? Mengapa orang membenci Amerika? Pertanyaan ini memang terdengar sederhana. Ditanyakan berulang-ulang. Tapi, konon pertanyaan ini lah yang paling sulit dijawab jika diajukan kepada setiap warga Amerika Serikat.Lalu, terbitlah sebuah buku. Judulnya “why do people hate America?” Buku ini ditulis Ziauddin Sardar, penulis, penyiar dan kritikus budaya bersama  Merryl Wyn Davies, penulis dan antropolog.
  
Britney Spears (kapanlagi.com)
Pascaperistiwa  11 September, pertanyaan ini bergaung keras. Diulang-ulang oleh Presiden Bush, senator  dan para politisi Amerika. Dalam buku ini, Sardar dan Davies memperlihatkan bagaimana kemudian jawaban yang seharusnya muncul dari pertanyaan ini menjadi bukan sebuah jawaban. Lebih parah lagi, kebutuhan untuk mengetahui diubah menjadi ketidaktahuan. Mengapa disini hanya melahirkan asumsi lalu vonis lalu perang. Bukan jawaban.
   Buku ini memang bukan membahas peristiwa 11 September. Hanya saja, memang diakui peristiwa tersebut menimbulkan trauma psikis terbesar bagi publik negara adidaya itu. Salah satu argumen inti dari buku ini adalah terdapat jurang menganga, begitu lebar, antara hubungan AS dengan negara-negara lain di dunia. Jurang itu bernama pengetahuan.
   Yah, tidak ada masyarakat yang lebih terbuka dari masyarakat AS. Lebih diberkati dengan sarana teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa canggih. Dengan itu, sumber daya mereka begitu melimpah untuk mengenali, mencari, menggali serta memproyeksikan ide-ide mereka. Coba lihat, bagaimana Hollywood mengendalikan selera dunia.
  Tapi, sayang beribu sayang. Produk dari segala infrastruktur berkelimpahan yang maha besar itu, media massanya, hanya membawa Amerika lebih melihat ke dalam dan menyerap diri sendiri. Muncul citra diri tentang kebaikan, kesempurnaan, dan kebajikan sempurna bangsanya. Sebauh Amerikan yang monolitik. Coba lihat. Sosok superhero begitu mendominasi dalam produk budaya populer bangsa Amerika. Lewat TV dan film yang diproduksi sineas-sineas mereka.
   Pengetahuan warga Amerika tentang dunia di luar mereka ternyata tidak lebih baik. Sardar dan Davies menggambarkan fenomena ini dengan istilah “ketidak-tahuan walaupun mempunyai pengetahuan”. Kekuasaan media massa Amerika yang begitu besar justru menjadikan warganya seolah memakai jaket-jaket kebudayaan yang tebal. Membuat mereka semakin tertutup dengan pengalaman serta ide-ide dari bangsa lain. Jaket yang meningkatkan tingkat keterisolasian, keterserapan diri, dan ketidaktahuannya dengan kebudayaan lain.
   Masalah pengetahuan ini tidaklah ekslusif milik Amerika. “Ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan” adalah istilah umum untuk menggambarkan bagaimana peradaban barat melihat timur. Khususnya terkait tentang agama dan pemeluknya. (Sardar dan Davies, hal. 18). Istilah ini mengacu kepada lebih dari sekadar sikap dan ide-ide umum yang negatif, melainkan sebuah definisi tentang cara bagaimana sikap-sikap seperti itu ditanamkan dalam pendekatan terhadap pengetahuan. Suatu studi yang kemudian dikenal dengan nama Orientalisme. Ini lah sifat umum peradaban Barat yang diwarisi Amerika.
   Sebuah paradigma yang digugat keras oleh Edward W. Said 34 tahun silam lewat bukunya berjudul sama, Orientalisme. Orientalisme lah, kata Edward, membuat Timur dekat (Islam) di mata barat adalah sebuah entitas yang tidak bisa dipahami tapi bisa diramalkan. Bagi Barat, Timur (the others), adalah mereka dalam pandangan kita, bukan mereka seperti apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri.
   Namun, tidak berarti semua warga Amerika begitu dibutakan hingga tak bisa melihat jernih mengapa bangsa mereka begitu dibenci. Memang, media massa memainkan peran besar dalam menjawab pertanyaan sederhana di atas. Banyak penulis dari media konservatif  kemudian menyokong kebijakan rezim Bush menangani kasus 11 September. Tak peduli betapa terbuktinya standar-standar mendua AS yang semakin memicu kebencian bangsa lain kepada bangsa ini. Belum lagi soal campur tangan, intervensi militer AS di berbagai belahan dunia. Faktanya sudah jelas, media sekaliber CNN bisa meliput perang Irak dengan dua ‘wajah’. Liputan ‘apa adanya’ disiarkan untuk publik luar negeri. Tapi, siaran yang diberi ‘pemanis’ ditayangkan untuk publik dalam negeri. (Borjesson, Katrina (ed): Mesin Penindas Pers: membongkar mitos kebebasan pers di Amerika:2004).
  AS memang sebuah bangsa yang telah mengembangkan tradisi lupa instrospeksi diri. Tetapi, Amerika juga, seperti yang dijelaskan seorang koresponden Inggris untuk Timur Tengah, Robert Fisk, adalah negara yang telah mengembangkan kritik diri yang pedas dan opini beragam. Negara ini menghasilkan banyak penulis, intelektual  dan kolumnis yang begitu lantang mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahannya. Sebut saja satu nama, Noam Chomsky.
   Sayangnya lagi, kata Fisk, ini lah yang semakin menjadikan masalah bagi publik AS. Keragaman opini dan kritik-kritik yang cerdas dan disuarakan dengan pemikiran jernih itu kurang, bahkan nyaris tidak tercermin dalam pemerintahan, kongres, dan lebih parah lagi, media massanya.
Rasanya tidak sulit untuk membayangkan mengapa mereka kesulitan untuk menjawab pertanyaan, mengapa (why). Why do people hate America? Mengapa mereka membenci kami? Sekarang mari mereka-reka, apa reaksi kebanyakan warga AS ketika film Innconce of Muslim, yang disutradarai seorang Yahudi warga Amerika itu menimbulkan kemarahan umat Islam. Obama mengutuk serangan kedubes AS di Libya yang menewaskan  duta besarnya. Bisa kah mereka memahami amarah umat Islam ketika nabi mulia nan suci direndahkan?
   Jangan lupa soal  “ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan”  yang dimiliki Amerika. Kebebasan dan kelimpahan informasi tidak lah membuat mereka tahu tentang ‘the others’ sebagai apa adanya, terlebih mencoba mendengarkan suaranya. Sungguh,  kita patut marah ketika Nabi mulia direndahkan. Tapi, masihkah kita ingin  marah kepada orang-orang yang ‘telinga, mata, hati’ mereka tertutup. Haruskah kita meregang nyawa karena ulah seorang sutradara  pembuat film porno picisan? Ada ungkapan, lebih baik yang waras ngalah. Orang mabuk gak usah diladeni. Percuma. Nabi akan tetap mulia seperti janji Allah. …..Innasyani ‘aka huwal abtar. Sesungguhnya yang membencimu (Muhammad) terputus dari rahmat Allah). (***)

Tenggarong, 21 Oktober. Telah diposting di www.huldiamal.wordpress.com, kompasiana, dan dimuat di harian Tribun Kaltim

0 komentar:

Posting Komentar