Why do people hate america? Mengapa orang membenci Amerika?
Pertanyaan ini memang terdengar sederhana. Ditanyakan berulang-ulang.
Tapi, konon pertanyaan ini lah yang paling sulit dijawab jika diajukan
kepada setiap warga Amerika Serikat.Lalu, terbitlah sebuah buku.
Judulnya “why do people hate America?” Buku ini ditulis Ziauddin Sardar,
penulis, penyiar dan kritikus budaya bersama Merryl Wyn Davies,
penulis dan antropolog.
![]() |
| Britney Spears (kapanlagi.com) |
Buku ini memang bukan membahas peristiwa 11 September. Hanya saja,
memang diakui peristiwa tersebut menimbulkan trauma psikis terbesar bagi
publik negara adidaya itu. Salah satu argumen inti dari buku ini adalah
terdapat jurang menganga, begitu lebar, antara hubungan AS dengan
negara-negara lain di dunia. Jurang itu bernama pengetahuan.
Yah, tidak ada masyarakat yang lebih terbuka dari masyarakat AS.
Lebih diberkati dengan sarana teknologi komunikasi dan informasi yang
luar biasa canggih. Dengan itu, sumber daya mereka begitu melimpah untuk
mengenali, mencari, menggali serta memproyeksikan ide-ide mereka. Coba
lihat, bagaimana Hollywood mengendalikan selera dunia.
Tapi, sayang beribu sayang. Produk dari segala infrastruktur
berkelimpahan yang maha besar itu, media massanya, hanya membawa Amerika
lebih melihat ke dalam dan menyerap diri sendiri. Muncul citra diri
tentang kebaikan, kesempurnaan, dan kebajikan sempurna bangsanya. Sebauh
Amerikan yang monolitik. Coba lihat. Sosok superhero begitu mendominasi
dalam produk budaya populer bangsa Amerika. Lewat TV dan film yang
diproduksi sineas-sineas mereka.
Pengetahuan warga Amerika tentang dunia di luar mereka ternyata tidak
lebih baik. Sardar dan Davies menggambarkan fenomena ini dengan istilah
“ketidak-tahuan walaupun mempunyai pengetahuan”. Kekuasaan media massa
Amerika yang begitu besar justru menjadikan warganya seolah memakai
jaket-jaket kebudayaan yang tebal. Membuat mereka semakin tertutup
dengan pengalaman serta ide-ide dari bangsa lain. Jaket yang
meningkatkan tingkat keterisolasian, keterserapan diri, dan
ketidaktahuannya dengan kebudayaan lain.
Masalah pengetahuan ini tidaklah ekslusif milik Amerika.
“Ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan” adalah istilah umum
untuk menggambarkan bagaimana peradaban barat melihat timur. Khususnya
terkait tentang agama dan pemeluknya. (Sardar dan Davies, hal. 18). Istilah
ini mengacu kepada lebih dari sekadar sikap dan ide-ide umum yang
negatif, melainkan sebuah definisi tentang cara bagaimana sikap-sikap
seperti itu ditanamkan dalam pendekatan terhadap pengetahuan. Suatu
studi yang kemudian dikenal dengan nama Orientalisme. Ini lah sifat umum peradaban Barat yang diwarisi Amerika.
Sebuah paradigma yang digugat keras oleh Edward W. Said 34 tahun silam lewat bukunya berjudul sama, Orientalisme. Orientalisme
lah, kata Edward, membuat Timur dekat (Islam) di mata barat adalah
sebuah entitas yang tidak bisa dipahami tapi bisa diramalkan. Bagi
Barat, Timur (the others), adalah mereka dalam pandangan kita, bukan mereka seperti apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri.
Namun, tidak berarti semua warga Amerika begitu dibutakan hingga tak
bisa melihat jernih mengapa bangsa mereka begitu dibenci. Memang, media
massa memainkan peran besar dalam menjawab pertanyaan sederhana di atas.
Banyak penulis dari media konservatif kemudian menyokong kebijakan
rezim Bush menangani kasus 11 September. Tak peduli betapa terbuktinya
standar-standar mendua AS yang semakin memicu kebencian bangsa lain
kepada bangsa ini. Belum lagi soal campur tangan, intervensi militer AS
di berbagai belahan dunia. Faktanya sudah jelas, media sekaliber CNN
bisa meliput perang Irak dengan dua ‘wajah’. Liputan ‘apa adanya’
disiarkan untuk publik luar negeri. Tapi, siaran yang diberi ‘pemanis’
ditayangkan untuk publik dalam negeri. (Borjesson, Katrina (ed): Mesin Penindas Pers: membongkar mitos kebebasan pers di Amerika:2004).
AS memang sebuah bangsa yang telah mengembangkan tradisi lupa
instrospeksi diri. Tetapi, Amerika juga, seperti yang dijelaskan seorang
koresponden Inggris untuk Timur Tengah, Robert Fisk, adalah negara yang
telah mengembangkan kritik diri yang pedas dan opini beragam. Negara
ini menghasilkan banyak penulis, intelektual dan kolumnis yang begitu
lantang mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahannya. Sebut saja
satu nama, Noam Chomsky.
Sayangnya lagi, kata Fisk, ini lah yang semakin menjadikan masalah
bagi publik AS. Keragaman opini dan kritik-kritik yang cerdas dan
disuarakan dengan pemikiran jernih itu kurang, bahkan nyaris tidak
tercermin dalam pemerintahan, kongres, dan lebih parah lagi, media
massanya.
Rasanya tidak sulit untuk membayangkan mengapa mereka kesulitan untuk
menjawab pertanyaan, mengapa (why). Why do people hate America? Mengapa mereka membenci kami? Sekarang mari mereka-reka, apa reaksi
kebanyakan warga AS ketika film Innconce of Muslim, yang
disutradarai seorang Yahudi warga Amerika itu menimbulkan kemarahan umat
Islam. Obama mengutuk serangan kedubes AS di Libya yang menewaskan
duta besarnya. Bisa kah mereka memahami amarah umat Islam ketika nabi
mulia nan suci direndahkan?
Jangan lupa soal “ketidak-tahuan walau pun memiliki pengetahuan”
yang dimiliki Amerika. Kebebasan dan kelimpahan informasi tidak lah
membuat mereka tahu tentang ‘the others’ sebagai apa adanya, terlebih
mencoba mendengarkan suaranya. Sungguh, kita patut marah ketika Nabi
mulia direndahkan. Tapi, masihkah kita ingin marah kepada orang-orang
yang ‘telinga, mata, hati’ mereka tertutup. Haruskah kita meregang nyawa
karena ulah seorang sutradara pembuat film porno picisan? Ada
ungkapan, lebih baik yang waras ngalah. Orang mabuk gak usah diladeni. Percuma. Nabi akan tetap mulia seperti janji Allah. …..Innasyani ‘aka huwal abtar. Sesungguhnya yang membencimu (Muhammad) terputus dari rahmat Allah). (***)
Tenggarong, 21 Oktober. Telah diposting di www.huldiamal.wordpress.com, kompasiana,
dan dimuat di harian Tribun Kaltim


0 komentar:
Posting Komentar