Jumat, Juni 07, 2013

Catatan kecil sembari menanti laga Milan vs Barca


Tiba-tiba saya merindukannya. si penyuka kopi pahit. Pembawaannya tenang, penyabar dengan gaya khasnya saat tertawa. Bertahun-tahun setelah kematiannya, Ibu saya bilang, 'saya tak lagi menangis setelah jasad kakekmu membeku'. Bukan karena Ibu tak bersedih ditinggalkan Kakek. Tidak. Ibu telah bersedih lebih dulu sebelum Kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibu bercerita. Sewaktu saya masih bocah, seumuran anak TK, kakek sudah berpesan. “Tidak usah datang menjenguk kalau saya sakit. Tidak usah tinggalkan pekerjaan. Nanti saya minta datang dan berkumpul, maka suruhlah saudara-saudaramu datang semuanya.” Begitu pesan kakek pada Ibu.
Dan hari itu akhirnya datang. Saya tak ingat tanggalnya. Kakek jatuh sakit. Ia berpesan agar semua anak-anaknya berkumpul. Ibu sudah membaca isyarat itu. Entah karena berada paling jauh dari kampung Kakek, Ibu berinisiatif menjemput kakek. Alasannya biar dirawat di rumah sakit setempat. Semua paman dan tante ikut datang.
Hingga pada sebuah malam, telepon berdering. Dari Sulawesi Tengah. Ibu mengabarkan kakek telah berpulang. Saya tak hadir di situ. Karena saya berada jauh dari kampung. Waktu itu saya masih kuliah semester pertama di Kota Makassar. Tapi saya merasakan duka banyak orang. “Banyak betul orang datang melayat.” Cerita ibu.
Saya ingat bagaimana pembawaan kakek. Ia memang tak pernah terlihat marah sekali pun. Saya tanya pada Ibu. Pernahkah dimarahi Kakek semasa kecil? Tidak pernah. Selaku suami pun, ia juga begitu sabar kepada nenek, istrinya itu. Bahkan, ketika istrinya marah-marah, tawanya berderai penuh makna. Rasanya  saya begitu sulit mengikuti jejak-jejak kesabarannya.
Lalu saya tahu dari cerita ibu. Saat kakek sakit, ia kerap menangis sembunyi-sembunyi. Ibu membaca sebuah isyarat dari kata-kata kakek. “Setelah ini saya tidak akan sakit lagi”. Dan benar. Kakek pergi setelah menyebutkan hari dan jam di mana akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya.
Karenanya, saya jadi teringat novel karya almarhum Prof. Kuntowijoyo. Judulnya Wasripin dan Satinah. Di situ, ada sepenggal kisah tentang paman Satinah. Prof Kunto menulis, paman Satinah mengetahui tentang ilmu kematian. Saya jadi teringat kakek. Kakek punya kitab berhuruf lontara’ (aksara bugis). Walau bukan orang bugis, ia berguru pada seorang bugis. Suatu malam kakek pernah bilang pada saya. “Ayahmu sangat tepat belajar dari buku ini karena ia orang bugis dan bisa baca tulis dalam aksara lontara’. Sayang, ayahmu kurang sabar.”
Begitu banyak kenangan tentang kakek. Ia disenangi banyak orang karena jiwa sosialnya. Banyak orang sakit yang diobatinya. Tanpa mereka harus berpikir biayanya berapa. Tinggal datang saja ke rumah kakek. Lalu ada cerita tentang seorang jawara yang konon sudah malang melintang ke berbagai daerah nusantara hingga mendekam di Nusa Kambangan. Jawara itu hanya datang untuk menguji ilmu kakek. “Orang itu pulang begitu saja setelah melihat wajah kakekmu,” kata seorang adik laki-laki ibu. Entah benar atau tidak. Konon, sang jawara itu pulang karena melihat kepala kakek bercabang dua. Namun, yang paling lekat di ingatan saya adalah ketika suatu hari kakek menyeduh kopi. Ketika itu saya libur sekolah dan berkunjung ke kampung kakek. Saat menyeduh kopi itu, wajahnya girang bukan main. “Ini biji kopi yang ditanam di halaman rumahmu. Biji kopi unggulan.” Saya membayangkan wajah kakek. Saya pun tiba-tiba ingin menyeduh kopi. Sembari menunggu laga liga Champion Milan vs Barcelona.

Sebuah tulisan lama. Tenggarong, 29 Maret. Sebelum laga Milan vs Barca.  

0 komentar:

Posting Komentar