Kamis, Oktober 08, 2009

Tentang rindu seperti nyala suar yang menunjuk arah pulang

I

Kukirimkan sisa belukar rindu
yang terbakar di kejauhan

asap dan abu
lalu jadi sesak
di rongga dadamu

menjelma lidah api
membiru tungku

di gigil malam
di antara kaki
yang kedinginan


II

kau telah suar
di menaramu
yang jauh

jauh sebelum aku
mengenal
lekuk-lekuk tubuh lautan

kau telah suar
sejak kapal-kapal tua
berderak hendak pecah

menahan lunas
buritan
dan kerinduan

sayap-sayap camar
yang matanya nanar
menunjuk ke arah pulang

Tenggarong, 2009

Posted by si buah terlarang
on 10/08/2009
Read More »

Senin, Oktober 05, 2009

sajak pertengkaran

dalam diam
aku membaca
jejak karang

yang membatu
di laut
hatimu

Posted by si buah terlarang
on 10/05/2009
Read More »

sajak yang lahir dari senyuman pertama Zahra

ranum tubuhmu
adalah jejak pergulatan abadi
di palung bunda
yang kini ceruk dan mengerut

bola matamu
seperti bulatan bulan
yang beranjak purnama

cikal lesung pipimu
seakan kejora
yang paling binar di ufuk selatan

lihatlah, pecahan tangis pertamamu
masih terlipat rapi
dan belum mau beranjak pergi
mendadak berlari ke balik lemari

setelah bibir mungilmu
dihiasi lengkung senyum
jejak bulan sabit

segera, bencah purnamanya
menggoreskan cemburu di wajah malam
dan embun-embun yang mengintipmu
menangis di kaca jendela
Posted by si buah terlarang
on 10/05/2009
Read More »

Jumat, September 25, 2009

Setelah tanak letih kita

Mungkin telah tanak letih
Yang kita jerang semalaman
Mengapa gairah tak jua jera
Usai senggama tak sudah-sudah?

Hingga terjaga
kita dapati pagi tersengal
bibir selimut ikut menggigil
setelah ditelikung rasa mabuk paling kemaruk

maka,
usai telimpuh kita
pada hasrat yang paling purba
lalu nantikan pertempuran lebih gelora

Samarinda, 2009


Posted by si buah terlarang
on 9/25/2009
Read More »