
Tulisan ini cukup penting bagi mereka yang bekerja sebagai pemulung berita (wartawan, Red). Sengaja kupasang di blog ini biar selalu terbaca setiap kali aku sign-in. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang kebetulan mampir di blog ini meski hanya sebentar. Disadur dari Harian Kompas Edisi Jumat, 11 Juli 2008 | 00:17 WIB
Oleh: Liu Hui-En*
Berasal dari bahasa Belanda, juga dari bahasa Inggris, kata konfirmasi kita pakai dalam percakapan dan penulisan sehari-hari. Menjadi kata serapan dengan bentuk dasar konfirmasi, bentuk turunannya adalah dikonfirmasikan, mengonfirmasikan. Sayang, di media cetak maupun di internet kerap janggal penerapannya.
Sering kali dalam pemakaian sehari-hari menjadi tak jelas apa yang dikonfirmasikan atau siapa yang melakukan atau memberikan konfirmasi dalam suatu wacana. Kerancuan itu terjadi akibat kekeliruan pemahaman sang penutur atau penulis tentang kosakata ini.
Dalam bahasa Belanda, confirmatie berlaku dalam lingkungan Protestan yang berarti peresmian sebagai anggota gereja; confirmandus sebutan untuk anggota baru dalam lingkungan gereja. Kata sifatnya adalah confirmatief atau confirmatoir yang artinya menguatkan, mengukuhkan, membenarkan (Kamus Belanda-Indonesia, Datje Rahajoekoesoemah, 1995).
Dalam bahasa Inggris ada verba confirm ’menegaskan, memperkuat, membaptis’ dan nomina confirmation ’penegasan, pengesahan’.
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, konfirmasi berarti penegasan, pengesahan, pembenaran. Mengonfirmasikan berarti menyatakan dengan tegas, menegaskan.
Setelah menelusuri makna konfirmasi dari ketiga bahasa tersebut, mari melihat tiga contoh kalimat yang saya ambil secara acak dari berbagai media.
Yang pertama: ”Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma’arif mengaku dikonfirmasi oleh wartawan BBC London. Konfirmasi BBC itu untuk meminta kepastian mengenai sejumlah….” Kejanggalan makna dalam kalimat itu muncul lantaran bentukan dikonfirmasi tidak memenuhi kaidah. Seharusnya bentukannya adalah dikonfirmasikan karena ada sesuatu yang menjadi obyeknya: ”sesuatu yang dikonfirmasikan” atau ”membutuhkan konfirmasi”. Sebagai dampak lanjutannya, kalimat ini menjadi aneh. Mengapa sang wakil rakyat ditegaskan (dikonfirmasikan)? Untuk apa pula? Tampak jelas di sini bahwa sang jurnalis tidak betul-betul mengerti makna konfirmasi. Kasus semacam ini relatif sering terjadi di media massa.
Ada juga contoh serupa: ”… saat dikonfirmasi, Henry mengaku mendapatkan informasi adanya anak-anak Aceh yang akan diadopsi berasal dari SMS-SMS yang diterimanya.” Padahal, sang wartawan seharusnya menulis: ”… saat dimintai konfirmasi, Henry mengaku….” sebab yang dibutuhkan adalah konfirmasi—penegasan, pengukuhan, pengesahan—dari Henry tentang kebenaran informasi yang ditanyakan.
Ada juga kalimat rancu seperti berikut ini: ”Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada Kapolres, pihaknya menyatakan belum dapat memastikannya karena masih mengumpulkan bukti-bukti valid.” Kapolres adalah subyek untuk dimintai konfirmasi alias penegasan atas masalah yang jadi pokok berita. Lalu kenapa subyek ini malah menjadi obyek penegasan? Bukankah kacau jadinya? Sepintas lalu, seolah-olah kalimat itu benar. Keseakan-akanan inilah yang membuat kekeliruan itu tak mudah dideteksi. Di sini malah sang wartawan menjadi pihak yang memberikan konfirmasi. Akhirnya terasa bahwa sebagian dari kita memakai kata dikonfirmasikan untuk makna ditanyakan.
*Pengusaha, Tinggal di Jakarta
Oleh: Liu Hui-En*
Berasal dari bahasa Belanda, juga dari bahasa Inggris, kata konfirmasi kita pakai dalam percakapan dan penulisan sehari-hari. Menjadi kata serapan dengan bentuk dasar konfirmasi, bentuk turunannya adalah dikonfirmasikan, mengonfirmasikan. Sayang, di media cetak maupun di internet kerap janggal penerapannya.
Sering kali dalam pemakaian sehari-hari menjadi tak jelas apa yang dikonfirmasikan atau siapa yang melakukan atau memberikan konfirmasi dalam suatu wacana. Kerancuan itu terjadi akibat kekeliruan pemahaman sang penutur atau penulis tentang kosakata ini.
Dalam bahasa Belanda, confirmatie berlaku dalam lingkungan Protestan yang berarti peresmian sebagai anggota gereja; confirmandus sebutan untuk anggota baru dalam lingkungan gereja. Kata sifatnya adalah confirmatief atau confirmatoir yang artinya menguatkan, mengukuhkan, membenarkan (Kamus Belanda-Indonesia, Datje Rahajoekoesoemah, 1995).
Dalam bahasa Inggris ada verba confirm ’menegaskan, memperkuat, membaptis’ dan nomina confirmation ’penegasan, pengesahan’.
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, konfirmasi berarti penegasan, pengesahan, pembenaran. Mengonfirmasikan berarti menyatakan dengan tegas, menegaskan.
Setelah menelusuri makna konfirmasi dari ketiga bahasa tersebut, mari melihat tiga contoh kalimat yang saya ambil secara acak dari berbagai media.
Yang pertama: ”Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma’arif mengaku dikonfirmasi oleh wartawan BBC London. Konfirmasi BBC itu untuk meminta kepastian mengenai sejumlah….” Kejanggalan makna dalam kalimat itu muncul lantaran bentukan dikonfirmasi tidak memenuhi kaidah. Seharusnya bentukannya adalah dikonfirmasikan karena ada sesuatu yang menjadi obyeknya: ”sesuatu yang dikonfirmasikan” atau ”membutuhkan konfirmasi”. Sebagai dampak lanjutannya, kalimat ini menjadi aneh. Mengapa sang wakil rakyat ditegaskan (dikonfirmasikan)? Untuk apa pula? Tampak jelas di sini bahwa sang jurnalis tidak betul-betul mengerti makna konfirmasi. Kasus semacam ini relatif sering terjadi di media massa.
Ada juga contoh serupa: ”… saat dikonfirmasi, Henry mengaku mendapatkan informasi adanya anak-anak Aceh yang akan diadopsi berasal dari SMS-SMS yang diterimanya.” Padahal, sang wartawan seharusnya menulis: ”… saat dimintai konfirmasi, Henry mengaku….” sebab yang dibutuhkan adalah konfirmasi—penegasan, pengukuhan, pengesahan—dari Henry tentang kebenaran informasi yang ditanyakan.
Ada juga kalimat rancu seperti berikut ini: ”Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada Kapolres, pihaknya menyatakan belum dapat memastikannya karena masih mengumpulkan bukti-bukti valid.” Kapolres adalah subyek untuk dimintai konfirmasi alias penegasan atas masalah yang jadi pokok berita. Lalu kenapa subyek ini malah menjadi obyek penegasan? Bukankah kacau jadinya? Sepintas lalu, seolah-olah kalimat itu benar. Keseakan-akanan inilah yang membuat kekeliruan itu tak mudah dideteksi. Di sini malah sang wartawan menjadi pihak yang memberikan konfirmasi. Akhirnya terasa bahwa sebagian dari kita memakai kata dikonfirmasikan untuk makna ditanyakan.
*Pengusaha, Tinggal di Jakarta

0 komentar:
Posting Komentar