.jpg)
Setelah sekitar tiga tahun tinggal di Kutai Kartanegara, akhirnya aku bisa melihat apa yang disebut Erau. Sebuah pesta adat Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Erau berasal dari bahasa Kutai "eroh" yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.
Selama seminggu, ada sejumlah ritual yang digelar. Setiap malam misalnya, sejak Erau resmi dimulai, selalu terdengar dentuman suara mirip bom. Jumlah dentuman itu akan bertambah setiap malamnya. Itu berarti, pada malam ke tujuh, ada tujuh suara dentuman. Dentuman itulah yang mengawali ritual adat bernama Bepelas.
Dan suara dentuman itu, katanya, bermakna pemberitahuan. Seperti halnya azan yang mejadi pengingat tiba waktu salat bagi umat Muslim. Dentuman memberitahukan bahwa sultan sedang punya hajatan besar, Erau. Konon, suara ledakan itu juga adalah pesan bagi seluruh mahluk halus yang ada agar mereka datang untuk menyaksikan sekaligus menjaga kelancaran Erau selama sepekan lamanya.
Pelaksanaan Erau, kini tidak hanya menjadi pesta adat keraton saja. Ia juga menjadi bagian dari pesta rakyat dan pesta budaya. Pemerintah daerah juga tak ketinggalan dalam mensukseskannya. Maklum, even ini juga menjadi ikon pariwisata daerah. Banyak pameran digelar. Semua dinas/instansi ikut terlibat.
Yang terpenting, Erau juga selalu diupayakan sebagai pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Di sekitar lingkungan keraton, pedagang berbagai komoditi bermunculan bak cendawan di musim hujan. Sayangnya, mereka memasang harga melangit. Aku sempat makan bakso. Minumnya es jeruk. Bayarnya sampai Rp19 ribu. Besoknya, walau lapar, aku memilih makan di luar keraton.
Har ini, Erau itu resmi diakhiri. Puncaknya, sepasang naga diarak ke Kutai Lama, sebuah daerah yang dulu adalah situs kerajaan Kutai pertama. Dua naga ini disucikan. Sebagai orang baru, aku sendiri belum paham apa sejatinya makna Erau. Itu harus kutanyakan lagi kepada sumber yang layak dipercaya.
Yang pasti, di hari ini, setiap warga di seluruh Kutai Kartanegara riuh dalam sebuah kegiatan yang disebut Belimbur. Belimbur ditandai dimana warga saling menyiram air di jalan-jalan. Setiap orang, siapa pun dia, akan disiram sampai basah kuyup. Tak ada yang boleh marah karena itu katanya bagian dari adat Erau. Yang tidak tau lantas marah, akan segera diberi tahu bahwa itu lah adat di Kutai.
Semua larut dalam sebuah euforia dan kegembiraan kolektif. Sama-sama basah, saling siram, hal yang biasa. Semua harus merasakan air Erau. Tapi, sebuah semangat kolektifitas yang terbentuk dari kerumunan massa selalu saja membuat setiap individu kehilangan rasionalitasnya. Yang ada adalah suara kolektif yang membenarkan setiap tindakan mereka selalu benar. Kata ilmu sosiologi, kerumunan massa selalu cenderung tak terkendali, beringas, dan membabibuta.
Itulah yang terjadi di hari Belimbur itu. Seorang kawan, fotografer sebuah harian di Kaltim jadi korban pengeroyokan sejumlah orang. Pemicunya Cuma sepele. Ia minta kamerna tidak disiram. Bukannya terima, orang-orang malah marah dan langsung mengeroyoknya. “Emang kenapa kalau kamu wartawan,” tukas seorang pria yang ikut memukul. Beruntung, dia selamat karena bisa meloloskan diri dari amukan massa.
Tak Cuma itu. Seorang warga dari luar Kota Tenggarong juga ketiban sial. Ia bahkan dikeroyok ratusan orang. Hanya gara-gara disiram. Dia ikut menyiram. Entah kenapa, ada yang marah dan mengeroyoknya. Ketika lari, dia diteriaki maling. Semua orang yang tau apa-apa ikutan mengejar dan memukulnya. Pemuda itu nyaris meregang nyawa.
Erau berasal dari bahasa Kutai "eroh" yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.
Selama seminggu, ada sejumlah ritual yang digelar. Setiap malam misalnya, sejak Erau resmi dimulai, selalu terdengar dentuman suara mirip bom. Jumlah dentuman itu akan bertambah setiap malamnya. Itu berarti, pada malam ke tujuh, ada tujuh suara dentuman. Dentuman itulah yang mengawali ritual adat bernama Bepelas.
Dan suara dentuman itu, katanya, bermakna pemberitahuan. Seperti halnya azan yang mejadi pengingat tiba waktu salat bagi umat Muslim. Dentuman memberitahukan bahwa sultan sedang punya hajatan besar, Erau. Konon, suara ledakan itu juga adalah pesan bagi seluruh mahluk halus yang ada agar mereka datang untuk menyaksikan sekaligus menjaga kelancaran Erau selama sepekan lamanya.
Pelaksanaan Erau, kini tidak hanya menjadi pesta adat keraton saja. Ia juga menjadi bagian dari pesta rakyat dan pesta budaya. Pemerintah daerah juga tak ketinggalan dalam mensukseskannya. Maklum, even ini juga menjadi ikon pariwisata daerah. Banyak pameran digelar. Semua dinas/instansi ikut terlibat.
Yang terpenting, Erau juga selalu diupayakan sebagai pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Di sekitar lingkungan keraton, pedagang berbagai komoditi bermunculan bak cendawan di musim hujan. Sayangnya, mereka memasang harga melangit. Aku sempat makan bakso. Minumnya es jeruk. Bayarnya sampai Rp19 ribu. Besoknya, walau lapar, aku memilih makan di luar keraton.
Har ini, Erau itu resmi diakhiri. Puncaknya, sepasang naga diarak ke Kutai Lama, sebuah daerah yang dulu adalah situs kerajaan Kutai pertama. Dua naga ini disucikan. Sebagai orang baru, aku sendiri belum paham apa sejatinya makna Erau. Itu harus kutanyakan lagi kepada sumber yang layak dipercaya.
Yang pasti, di hari ini, setiap warga di seluruh Kutai Kartanegara riuh dalam sebuah kegiatan yang disebut Belimbur. Belimbur ditandai dimana warga saling menyiram air di jalan-jalan. Setiap orang, siapa pun dia, akan disiram sampai basah kuyup. Tak ada yang boleh marah karena itu katanya bagian dari adat Erau. Yang tidak tau lantas marah, akan segera diberi tahu bahwa itu lah adat di Kutai.
Semua larut dalam sebuah euforia dan kegembiraan kolektif. Sama-sama basah, saling siram, hal yang biasa. Semua harus merasakan air Erau. Tapi, sebuah semangat kolektifitas yang terbentuk dari kerumunan massa selalu saja membuat setiap individu kehilangan rasionalitasnya. Yang ada adalah suara kolektif yang membenarkan setiap tindakan mereka selalu benar. Kata ilmu sosiologi, kerumunan massa selalu cenderung tak terkendali, beringas, dan membabibuta.
Itulah yang terjadi di hari Belimbur itu. Seorang kawan, fotografer sebuah harian di Kaltim jadi korban pengeroyokan sejumlah orang. Pemicunya Cuma sepele. Ia minta kamerna tidak disiram. Bukannya terima, orang-orang malah marah dan langsung mengeroyoknya. “Emang kenapa kalau kamu wartawan,” tukas seorang pria yang ikut memukul. Beruntung, dia selamat karena bisa meloloskan diri dari amukan massa.
Tak Cuma itu. Seorang warga dari luar Kota Tenggarong juga ketiban sial. Ia bahkan dikeroyok ratusan orang. Hanya gara-gara disiram. Dia ikut menyiram. Entah kenapa, ada yang marah dan mengeroyoknya. Ketika lari, dia diteriaki maling. Semua orang yang tau apa-apa ikutan mengejar dan memukulnya. Pemuda itu nyaris meregang nyawa.
Ah...untung aku pakai jas hujan sejak dari rumah menuju kantor. Basahnya hanya sedikit, Tak peduli orang-orang berteriak dan menertawaiku karena pake jas hujan, Persetan! Asal tidak basah. Ini kesan pertamaku melihat Erau. Ternyata benar. Setiap ada Erau ada yang jadi korban dari sebuah keriuhan, pesta, kegembiraan kolektif atas nama adat itu. Padahal, awalnya, ritual belimbur itu sendiri sebenarnya hanya memakai air suci yang diambil dari Kutai Lama tadi. Entah kenapa berbelok menjadi air ledeng, bahkan ada dari comberan yang dipakai menyiram setiap orang yang melintas di jalan-jalan.

0 komentar:
Posting Komentar