
Blog ini baru saja lahir. Gak ada yang istimewa darinya. Selain diperuntukkan sebagai oase di tengah hiruk pikuk rutinitas mengejar berita kriminal, utamanya kriminal kerah putih (white collar crime). Maklum, di tempat kerjaku saat ini, aku ngetem di tiga tempat secara bergantian.
Polres, Kejari, dan Pengadilan Negeri. Nyaris setiap harinya aku bertemu polisi, jaksa, pengacara, terdakwa, terpidana, hingga tersangka. Maaf, baru belajar hukum kemarin sore. Trus, kata guru jurnalistikku, jangan sampai media menggantikan hakim. "Don't tell it, but show it'.
Kalimat ini aku dengar langsung dari Pak Sinansari Ecip waktu ngajar mata kulaih pengantar jurnalistik. Beliau orang cerdas tapi bersahaja. Sayang, dia kurang mendapat tempat yang layak di Universitas Hasanuddin. Jadi, jangan salahkan ketika ia mendapat tempat yang sangat layak di universitas lainnya seperti UI, misalnya.
Btw, soal tempat, sekarang aku tinggal di sebuah negeri bernama Kutai Kartanegara. Kabupaten di Kaltim dengan ibu kota Tenggarong. Daerah ini terkenal dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Sektor tambang menghasilkan kompensasi perimbangan keuangan yang melimpah. Pembangunan memang terlihat geliat dari segi infrastruktur. Sayang, pembangunan itu masih berpusat di perkotaan saja. Banyak daerah pedalaman masih menyandang nama ini. Karena masih terisolir. Tanya kenapa?
Entah ada hubungannya apa tidak. Yang jelas, praktik korupsi seakan tumbuh subur di negeri yang menyimpan situs sejarah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ini pelajaran sejarah SD loh! Mau tau, pejabat yang terjerat kasus korupsi di sini komplit. Dari level tertinggi hingga terendah. Nyaris terwakili di hampir semua jenjang.
Bupati, wakil bupati, ditahan KPK. Sepeninggalnya, Ketua DPRD divonis dua tahun penjara di PN TEnggarong. Soal bawahan mereka, lebih banyak lagi. Ada staf, bendahara, hingga kepala dinas.
Ah, gak usah disebut lagi satu persatu. Membosankan. Yang jelas, sekadar info, untuk tahun 2008 saja, Kejari Tenggarong melimpahkan 9 kasus korupsi untuk disidangkan. Jumlah ini melebihi target yang dibebankan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus korupsi 3 dalam setahun untuk level Kejari.
Polres, Kejari, dan Pengadilan Negeri. Nyaris setiap harinya aku bertemu polisi, jaksa, pengacara, terdakwa, terpidana, hingga tersangka. Maaf, baru belajar hukum kemarin sore. Trus, kata guru jurnalistikku, jangan sampai media menggantikan hakim. "Don't tell it, but show it'.
Kalimat ini aku dengar langsung dari Pak Sinansari Ecip waktu ngajar mata kulaih pengantar jurnalistik. Beliau orang cerdas tapi bersahaja. Sayang, dia kurang mendapat tempat yang layak di Universitas Hasanuddin. Jadi, jangan salahkan ketika ia mendapat tempat yang sangat layak di universitas lainnya seperti UI, misalnya.
Btw, soal tempat, sekarang aku tinggal di sebuah negeri bernama Kutai Kartanegara. Kabupaten di Kaltim dengan ibu kota Tenggarong. Daerah ini terkenal dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Sektor tambang menghasilkan kompensasi perimbangan keuangan yang melimpah. Pembangunan memang terlihat geliat dari segi infrastruktur. Sayang, pembangunan itu masih berpusat di perkotaan saja. Banyak daerah pedalaman masih menyandang nama ini. Karena masih terisolir. Tanya kenapa?
Entah ada hubungannya apa tidak. Yang jelas, praktik korupsi seakan tumbuh subur di negeri yang menyimpan situs sejarah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ini pelajaran sejarah SD loh! Mau tau, pejabat yang terjerat kasus korupsi di sini komplit. Dari level tertinggi hingga terendah. Nyaris terwakili di hampir semua jenjang.
Bupati, wakil bupati, ditahan KPK. Sepeninggalnya, Ketua DPRD divonis dua tahun penjara di PN TEnggarong. Soal bawahan mereka, lebih banyak lagi. Ada staf, bendahara, hingga kepala dinas.
Ah, gak usah disebut lagi satu persatu. Membosankan. Yang jelas, sekadar info, untuk tahun 2008 saja, Kejari Tenggarong melimpahkan 9 kasus korupsi untuk disidangkan. Jumlah ini melebihi target yang dibebankan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus korupsi 3 dalam setahun untuk level Kejari.
Cukup sajalah tulisan kali ini. Eeeiiiit! tadinya blog ini mengusung nama lain. Ada perubahan nama karena ada kemiripan dengan 'rumah' orang lain. Tapi, tetap, setiap kata dan kalimat akan dirangkai dalam blog ini. Seperti kukatakan di awal. Menjadi oase dari sebuah rutinitas memulung berita. Seperti layaknya para pemulung yang memungut sampah yang kotor sekalipun. Semoga kata-kata menjadi salah satu jalan hikmah....

Hello. I liked your blog - invite you to visit the best and most controversial blog from Brazil.
BalasHapuswww.puteirodoandre.blogspot.com
the fantastic, sensational and controversial writer gaucho andre