Rabu, Juni 19, 2013

Makin Irit Nikmati Listrik

Dalam pekan-pekan ini, warga Kaltim di tiga daerah, Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Balikpapan, makin irit mendapatkan penerangan listrik. Rasanya seperti kembali ke suasana baheula. Lilin makin laris. Lampu padam semalaman. Bisa dibayangkan tidur warga tak lagi nyenyak.
Tak nyenyak karena kepanasan. Kipas angin tak berfungsi. Bagi yang ekonomi kelas atas, AC mereka tak berfungsi. Yang punya duit segudang punya cara tersendiri ketika listrik padam semalaman: nginap di hotel. Nah, yang miskin seperti saya punya satu cara. jendela dibuka lebar-lebar. Nyamuk berdatangan. Pakai anti nyamuk bakar. Beres. Meski harus tetap mencoba berdamai dengan gerah udara yang tak bisa sepenuhnya  diusir.
Masalah bermula ketika ada fasilitas pembangkit PLTU di daerah kami, Kutai Kartanegara, meledak. Travo arus salah satu PLTU yang menjadi bagian dari  sistem interkoneksitas MAhakam, jaringan listrik yang menyuplai daya listrik  di tiga daerah. Listrik padam nyaris 12 jam. Meski sempat menyala beberapa jam, peristiwa ini berulang malam selanjutnya. 
Anehnya, tak ada penjelasan dan pemberitahuan kenapa pemadaman terjadi lagi, Dengan durasi yang nyaris sama. Kondisi ini jelas bikin jengkel semua orang. Pelaku usaha mengeluh. Kantor PLN mulai didemo.
PLN rupanya tak bisa menjamin pemadaman segera berakhir. Mereka hanya berjanji memberikan diskon 10 persen kepada pelanggan. Ini sebagai bentuk kompensasi akibat pemadaman yang tak berkesudahan tadi.
Masalahnya tak hanya sebatas diskon. Semua sektor terpukul ketika listrik tidak kunjung beres. Bahkan, ada korban jiwa. Meski listrik mati bukan penyebab langsungnya. Musibah kebakaran terjadi di Kota Samarinda. Karena padam semalaman, pasti orang mencari penerangan alternatif. Nah, sebagaian memilih lilin. Inilah yang memicu kebakaran. Ibu dan anak tewas terpanggang. Kalau sudah begini, siapa yang patut disalahkan. Saya pikir, rencana class action terhadap PLN patut didukung. Biar PLN bisa terus berupaya membenahi pelayanan kepada pelanggannya.
Posted by huldi amal
on 6/19/2013
Read More »

Kamis, Juni 13, 2013

Pengen beli sepatu futsal, eh malah dapat Android...

Saya memang tak bilang terima kasih secara tersurat. tapi dalam hati, saya sungguh berbunga-bunga. mungkin harus ada kata-kata yang lebih dari sekadar 'terima kasih'. Jika memang ini harus dibalas, saya bingung, bagaimana cara membalas nantinya.

Hari itu, istri saya tiba-tiba bilang satu hal. saya tidak menyangka ia benar-benar mewujudkannnya, kemudian. Bermula dari keinginan yang saya utarakan padanya. "saya mau beli sepatu futsal". "berapa harganya"? saya bilang."800 ribu". Kok mahal amat, jawabnya. Yah, namanya sepatu futsal ori bermerek, ya memang mahal. Lalu dengan santai dia bilang. "gak usah beli sepatu yang mahal-mahal. Tuh, kan masih ada dua pasang". Ia menunjuk lemari sepatu. di situ, ada dua pasang sepatu futsal brand lokal yang sering saya pakai setiap kali jadwal futsal kantor. Sesekali ada jadwal ekstra lawan tim lain. 

Saya memang bermimpi punya sepasang sepatu futsal merek Nike. Sepatu yang dipunyai teman sekantor. "Nyaman dipakai," begitu teman itu berpromosi soal sepatu Nike-nya itu. Rupanya, bak gayung tak bersambut. istri  tak setuju dengan proposal yang saya ajukan tadi. Eh, yang bikin kaget dia punya ide membelikan sesuatu buat saya. "Mending beli HP. HP Ayah kan udah ketinggalan jaman". Iseng, saya bertanya. "HP apa?". Samsung Android. Wow. Harganya jauh di atas proposal sepatu yang saya ajukan.

Rupanya, niat membelikan Samsung Android buat saya itu juga karena melihat HP teman sekantornya. "HP Indra (teman sekantornya) bagus. Samsung Grand Duos". Layarnya lebar. Bagus buat Ayah," katanya. Saya manggut-manggut. (dalam hati sih sebenarnya berbunga-bunga dan sudah tak sabar dibelikan. cieeeeeeeee).

Akhirnya, hari itu tiba juga. Istri saya pergi sendiri ke gerai Ponsel di kota kami. Sore-sore, ketika saya masih berkutat dengan editing berita halaman koran, HP saya berdering. "Malam ini kalau bisa cepat pulang ya? Samsung Androidnya sudah menunggu," ujar istri saya di seberang telepon.

Duh, asyiknya. Ia benar-benar membuktikan ucapannya. Malam itu, saya menambah speed jari-jari saya di atas papan ketik. tapi, tetap harus teliti jangan sampai hasil editing berita saya amburadul dan banyak salah-salah huruf. Hati saya digempur rasa penasaran, gimana sih bentuk Android Duos itu? Saya memang gak sempat malam itu searching soal spesifikasi dan bentuk Samsung Grand Duos.

Sampai di rumah, ponsel Android warna putih sudah berganti rupa. Istri membelikan cover warna biru lembut. Soal memilih warna, perempuan ini memang tak bisa diragukan. Saya memang tak berterimakasih padanya. secara tersurat. ini satu kelemahan saya sebagai suami. Jarang memuji istri dengan terang. Ini berkali-kali dia keluhkan. Tapi, saya sungguh berterimakasih dari lubuk hati paling dalam. "Thanks honey atas hadiahnya". Kata-kata itu saya tulis di status Blackberry Mesenger. Semoga dia membacanya. pasti deh. 

Dan, Android itu kini membantu saya setiap kali membutuhkan informasi sesegera mungkin. Kecepatan akses, layar yang cukup lebar, memudahkan saya setiap kali browsing, membaca, mengirim email. Harus diakui, saya harus belajar banyak memaksimalkan fungsi gadget yang saya miliki ini. Satu kelemahan juga yang bikin malu-maluin. Saya agak gaptek, pemirsa....





Posted by huldi amal
on 6/13/2013
Read More »

Jumat, Juni 07, 2013

Catatan kecil sembari menanti laga Milan vs Barca


Tiba-tiba saya merindukannya. si penyuka kopi pahit. Pembawaannya tenang, penyabar dengan gaya khasnya saat tertawa. Bertahun-tahun setelah kematiannya, Ibu saya bilang, 'saya tak lagi menangis setelah jasad kakekmu membeku'. Bukan karena Ibu tak bersedih ditinggalkan Kakek. Tidak. Ibu telah bersedih lebih dulu sebelum Kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibu bercerita. Sewaktu saya masih bocah, seumuran anak TK, kakek sudah berpesan. “Tidak usah datang menjenguk kalau saya sakit. Tidak usah tinggalkan pekerjaan. Nanti saya minta datang dan berkumpul, maka suruhlah saudara-saudaramu datang semuanya.” Begitu pesan kakek pada Ibu.
Dan hari itu akhirnya datang. Saya tak ingat tanggalnya. Kakek jatuh sakit. Ia berpesan agar semua anak-anaknya berkumpul. Ibu sudah membaca isyarat itu. Entah karena berada paling jauh dari kampung Kakek, Ibu berinisiatif menjemput kakek. Alasannya biar dirawat di rumah sakit setempat. Semua paman dan tante ikut datang.
Hingga pada sebuah malam, telepon berdering. Dari Sulawesi Tengah. Ibu mengabarkan kakek telah berpulang. Saya tak hadir di situ. Karena saya berada jauh dari kampung. Waktu itu saya masih kuliah semester pertama di Kota Makassar. Tapi saya merasakan duka banyak orang. “Banyak betul orang datang melayat.” Cerita ibu.
Saya ingat bagaimana pembawaan kakek. Ia memang tak pernah terlihat marah sekali pun. Saya tanya pada Ibu. Pernahkah dimarahi Kakek semasa kecil? Tidak pernah. Selaku suami pun, ia juga begitu sabar kepada nenek, istrinya itu. Bahkan, ketika istrinya marah-marah, tawanya berderai penuh makna. Rasanya  saya begitu sulit mengikuti jejak-jejak kesabarannya.
Lalu saya tahu dari cerita ibu. Saat kakek sakit, ia kerap menangis sembunyi-sembunyi. Ibu membaca sebuah isyarat dari kata-kata kakek. “Setelah ini saya tidak akan sakit lagi”. Dan benar. Kakek pergi setelah menyebutkan hari dan jam di mana akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya.
Karenanya, saya jadi teringat novel karya almarhum Prof. Kuntowijoyo. Judulnya Wasripin dan Satinah. Di situ, ada sepenggal kisah tentang paman Satinah. Prof Kunto menulis, paman Satinah mengetahui tentang ilmu kematian. Saya jadi teringat kakek. Kakek punya kitab berhuruf lontara’ (aksara bugis). Walau bukan orang bugis, ia berguru pada seorang bugis. Suatu malam kakek pernah bilang pada saya. “Ayahmu sangat tepat belajar dari buku ini karena ia orang bugis dan bisa baca tulis dalam aksara lontara’. Sayang, ayahmu kurang sabar.”
Begitu banyak kenangan tentang kakek. Ia disenangi banyak orang karena jiwa sosialnya. Banyak orang sakit yang diobatinya. Tanpa mereka harus berpikir biayanya berapa. Tinggal datang saja ke rumah kakek. Lalu ada cerita tentang seorang jawara yang konon sudah malang melintang ke berbagai daerah nusantara hingga mendekam di Nusa Kambangan. Jawara itu hanya datang untuk menguji ilmu kakek. “Orang itu pulang begitu saja setelah melihat wajah kakekmu,” kata seorang adik laki-laki ibu. Entah benar atau tidak. Konon, sang jawara itu pulang karena melihat kepala kakek bercabang dua. Namun, yang paling lekat di ingatan saya adalah ketika suatu hari kakek menyeduh kopi. Ketika itu saya libur sekolah dan berkunjung ke kampung kakek. Saat menyeduh kopi itu, wajahnya girang bukan main. “Ini biji kopi yang ditanam di halaman rumahmu. Biji kopi unggulan.” Saya membayangkan wajah kakek. Saya pun tiba-tiba ingin menyeduh kopi. Sembari menunggu laga liga Champion Milan vs Barcelona.

Sebuah tulisan lama. Tenggarong, 29 Maret. Sebelum laga Milan vs Barca.  
Posted by huldi amal
on 6/07/2013
Read More »

Senin, Juni 03, 2013

hikayat banjir

 hujan menyerbu kotaku.
seekor ikan meloncat ke piring makan
sungai Mahakam makin penuh, katanya.
kapan surut?

tunggulah, jawabku.
kompor, panci, dan sambal
mengeringkan badannya kemudian.
Posted by huldi amal
on 6/03/2013
Read More »