Rabu, Februari 25, 2009

Sang Munafik dengan kenikmatannya

Lubang yang mengapit itu
Katamu menjepit, membuat nikmat
Gelinjangmu, detak jantung yang terhenti sesaat

Ada yang lebih nikmat dari lubang itu, kata Jenar.

Engkau mencari kenyang di sudut mal itu
Di sebuah kedai siap saji
dengan minuman yang menusuk hidung kala bersendawa

kenyang oleh sekerat roti dan segelar air putih
tak beda dengan kenyang berjenis makanan, kata Ihwan Al-Shafa.

Sang munafik berujar jujur, 'aku bukan lah Sang Makrifat’


Posted by si buah terlarang
on 2/25/2009
Read More »

Senin, Februari 16, 2009

Sebuah Madrasah Bernama Karbala

Hadir di peringatan Hari Arbain kesyahidan Imam Husain di Pendopo Odah Etam. Kata-kata Habib itu mengusik hatiku. Madrasah Karbala. Di sini tersaji puncak semua aspek kehidupan. kemuliaan, kesetiaan, kesyahidan, ketataan, dan semuanya.
"Siapa pun anda, apakah anda seorang ibu, seorang ayah, pemuda, bahkan bayi sekali pun. Di Madrasah Karbala semua puncak itu tersaji," kata Habib asal Bogor ini.
Kata-katanya mengalir detil. Detik-detik kesyahidan Husain, keberanian cucu-cucu Rasul menyambut pedang dan anak panah musuh, hingga perlakuan kasar yang diterima kaum perempuan ahlul bait.
Apa di benak Yazid? Ketika ia dengan laknatnya menjadikan kepala Husain yang tak pernah alpa dari sujud kepada Rabb-nya itu sebagai hiasan gerbang istana. Diaraknya bersama senandung syair-syair penghinaan. Ah, aku bersyukur bisa mengenal mazhab para pecintanya. Meski kadarnya mungkin tak bisa disebut penganut.
Teringat, ketika kubaca peristiwa Saqifah semalam suntuk. Esok paginya 'Islam' ku goncang sesaat. Beberapa lamanya kutinggalkan salat. Pertanyaaanku ketika itu, inikah wajah Islamku? Ah, aku bersyukur bisa melewati proses itu dan bisa menakar kecintaanku yang sederhana kepada ahlul bait.
Hingga, kala habib itu mengajak semuanya berdoa. Ia berujar, ".....doa untuk orang tua kita. Jika mereka belum mengenal madrasah karbala,kita mensyukuri lahir dari rahim suci mereka, mereka yang kesusahan menyapih kita, tidur mereka tak nyenyak selama merawat kita.....semoga Allah mempersatukan kita bersama Imam....
Oh, kuamini setiap bait doa-doa itu dengan tetesan bening di kedua mataku. Ya Rabb, andai mata ini tak bisa menangis saat itu, di sudut manakah aku di mata-Mu??
Posted by si buah terlarang
on 2/16/2009
Read More »

Rabu, Februari 04, 2009

Akhirnya cuti juga

Aku ingat kata-kata Pak Mansyur Semma (alm). "Jadi wartawan itu ada titik jenuhnya, Di." Kalimat itu diucapkannya saat aku menuntunnya menuruni tangga FIS I di kampusku. Ia tahu, aku begitu mendamba jadi dosen.
Tapi, ia memang tak salah. Rutinitas selalu menyiksa siapa saja jika tak pandai menyiasatinya. Karena itu, aku selalu dimotivasi kata-kata seorang pujangga muda di Macazzart sana. Bahwa hidup itu sebuah rutinitas yang besar. Makan, tidur, mandi, cuci piring, makan lagi...itu berulang nyaris setipa hari. Tapi, kenapa kita tidak merasakannya sebagai sebuah rutinitas?
Ah, akhirnya aku cuti juga. Selamat tinggal rutinitas untuk semntara waktu. Mau puas-puasin nih bersantai bersama kleuarga. Mau maen PS juga nih
Posted by si buah terlarang
on 2/04/2009
Read More »

Kamis, Januari 22, 2009

Menulis dengan Eufimistis

Alkisah, di sebuah negeri, seorang penguasa bertahta. Ia bak raja di jaman dulu meski kekuasaannya adalah produk konstitusi modern. Tak heran, media massa yang hidup dari ‘kemurahan’ dan ‘kedermawanan’nya, menjuluki dia, Sang Kaisar.
Kekuasaannya nyaris mutlak seperti praktik monarki absolut. Titahnya dijunjung tinggi. Perkataannya nyaris tanpa cela di mata ‘rakyat’. Itu karena, perilakunya yang dermawan. Setiap yang datang, tak akan pulang dengan kantong kosong.


Uang, entah dari mana asalnya, begitu mudah mengalir begitu saja. Karena hidup dalam konstitusi modern, banyak aturan yang dilabrak begitu saja. Tapi, karena bak raja, semuanya bungkam seribu bahasa.
Aparat hukum seolah tak punya taji dan taring di hadapan penguasa yang satu ini. Lawan politiknya mengkritik tapi tak vulgar. Para aktivis yang vokal dirangkul hingga akhirnya terbuai hangat di ketiaknya. Maka, ia meredam kritik. Nyaris tanpa represi. Sangat persuasif, tangguh dalam menjinakkan.
Aku ingat kata Gramsci soal wajah ganda kekuasaan. Atau Althusser dengan ideological state apparatus dan represif state apparatus-nya. Intinya, kekuasaan tak hanya tampil dengan wajah beringas dalam mencapai tujuannya. Ia bisa mulus dengan modus membujuk, infiltrasi nilai, atau apa saja. Hasilnya, obyek kekuasaan manut. Ada kepatuhan yang muncul karena kekuatan persuasif itu.
******
Kini, penguasa itu telah jatuh dari tahtanya. Bahkan, ia harus menuai buah dari praktik yang disemainya. Ia dijerat pasal tindak pidana korupsi. Berlapis pula kasus yang menjeratnya. Dihukum jauh dari tanah kelahirannya, pidana kurungan lebih dari lima tahun.
Karir politiknya sudah berakhir. Tapi, kharismanya ternyata masih belum pudar. Sebab, tak terhitung banyaknya orang yang merasa berhutang budi. Karena itu tadi. Kedermawanan dan kemurahan hatinya dalam menghambur-hamburkan duit.
Sepeninggal si penguasa ini, negerinya jadi tak stabil. Dia ibarat membangun sebuah gunung es. Ketika ia tak lagi hadir untuk merawat suhu dan temperatur, seketika gunung es itu mencair. Lelehannya menjadi rebutan banyak predator yang sejak lama kehausan. Uniknya, konflik yang terjadi seperti perang dingin. Mugkin saja karena memperebutkan lelehan es.
Tak hanya itu. Lelehannya ikut makan korban. Produk kebijakannya yang dulu melabrak konstitusi membuat orang-orang di sekitarnya, bawahannya, juga jadi korban. Sayang, ada yang benar-benar menjadi korban dalam pengertian yang sebenar-benarnya korban.
******
Aku menyaksikan jelas serpihan cerita itu hari ini. Tepatnya dalam sebuah sidang korupsi. Seorang staf biasa menjadi terdakwa dalam kasus dengan kerugian Negara Rp10 milyar lebih. Ia didakwa menikmati uang negara senilai Rp150 juta. Sisanya dibawa kontraktor yang kini kabur ke luar negeri.
Memang, proyek ini, secara kasat mata, menyalahi aturan. Seharusnya proyek itu dilelang tapi dilakukan penunjukan langsung (PL). Itu kebijakan sang penguasa. Dalam bentuk disposisi setuju. Saksi di persidangan, mantan Sekretaris Daerah saat proyek ini dilelang mengatakan, “PL memang sudah jadi style kepemimpinan (penguasa) kala itu. Tak ada yang bisa mengingatkannya, bahkan menegurnya.” Benar bukan? Kalau dia seorang raja.
*******
Aku sedang dilema kawan! Sebagai wartawan, aku kini hidup dalam bagian dari gunung es yang belum sepenuhnya mencair itu. Dia memaksa aku untuk menulis eufimistis. Jika melanggar, diedit….eh ….disensor pastinya!
Posted by si buah terlarang
on 1/22/2009
Read More »