Kamis, Februari 11, 2010

agenda

bergulat lagi pada hidup yang menderu debu. tak kutemukan wajahmu di gelas kopi yang mengepulkan sederetan panjang agenda sebagai skenario hari ini. Mungkin tersimpan dalam jejak mimpi buruk semalam. tentang ATM yang dibobol, sebuah rapat Pansus parlemen yang lebih mirip gaduh kaleng anjal yang menyanyi di lampu merah. atau... kau memang sudah tak lagi butuh kata-kata basi tentang cinta.

maka, kuhirup kopi yang masih mengepul itu.sebentar tersedak. ingin muntah.
ah, bayanganmu berkelebat hendak kukejar. tapi kemarau jejaknya yang kutemukan.
"harus ke alam mimpi" katamu. biar kita bertemu di kasur empuk.
dan agenda hari ini adalah melupakan semua yang membuat muak.
"tidurlah sayang', bisikmu. setelah lelah mendaki sembari menjumlah nafas terengah dalam bilangan desah.

ah, bayangmu benar-benar nyata sebagai agenda yang paling membuatku sibuk hari ini...
Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010
Read More »

bait hujan

malam ini kita nanti hujan
yang mendaras
bait-bait sajak
dari langit

betapa hikmah ia
bagi bumi
yang betapa pula menyimpan
magma rindu

sebelum aku meledak... meleleh
bersama lava
kau telah mengaliri semua ruang:
di hatiku

demikian lah akhirnya kita menjulang
serupa sepasang gunung berapi
setidaknya untuk malam ini
hingga esok pagi
tak lagi dini:

lalu kita terbakar lagi

2009





Posted by si buah terlarang
on 2/11/2010
Read More »

Minggu, Januari 10, 2010

sebab aku ingin selalu pulang

percayalah, aku selalu lelakimu
yang pulang
semalam

aku, matahari dan bayang-bayang
mengetuk pintu sebelah barat
beringsut ke sisimu yang menjelang

sebab lelakimu selalu ingin pulang,
percayalah

kerna aku dan bayang-bayang
lalu hilang
ketika dekapmu tak lekang
kecup bibirmu menjelmakan sejuta kunang-kunang
Posted by si buah terlarang
on 1/10/2010
Read More »

Rabu, Desember 16, 2009

sebuah praktik kekerasan (catatan menyambut Pilkada Kukar)

Ponsel saya berdering. Bunyi nada menandakan sebuah pesan singkat. Nada standar dari sebuah Ponsel yang teramat standar di tengah hiruk pikuk iklan model Ponsel keluaran terbaru. Tapi, sumpah, saya tidak pernah risau dengan hal yang satu ini. Isi pesan singkat tadi lah yang membuat saya sangat-sangat risau.
"Mesin perahunya macet". Begitu isi SMS yang dikirimkan istri saya sekitar pukul 19:06:46. Tanggal 16 Desember 2009. Saat itu, rombongan KPUD Kutai Kartanegara, istri saya termasuk satu dalam rombongan, sedang menuju Kecamatan Kembang Janggut untuk sebuah kegiatan Bimtek Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Petugas Pemutahiran Data Pemilih (PPDP).
Selama 15 menit, long boat yang ditumpangi rombongan terkatung-katung di atas Sungai Mahakam di pedalaman Kalimantan Timur. Katanya, tali kipas mesin perahu itu putus. Suasana sudah gelap gulita. Di tepi-tepi sungai, cuma hutan-hutan yang memamerkan gigil malam dengan warna sunyi yang pekat. Duh, saya tidak bisa membayangkan suasana itu.
***
Saya tahu benar ketakutan si pengirim SMS ini. maklum, dia seorang perenang dengan satu-satunya gaya, 'gaya batu'. Berkali-kali, ia selalu mengeluhkan 'kekurangan'-nya yang satu itu. Memang, dia menikah dengan seorang 'anak seribu pulau' yang dilahirkan di sebuah pulau di tengah perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Meski kemampuan berenang saya, tidak terlalu bisa diandalkan.
Signal Ponsel memang sempat hilang. Kerisauan jadi tambah mengental. Akhirnya, setelah menelpon beberapa menit kemudian, saya lega. Rombongan tiba dengan selamat. Alhamdulillah. Tapi, saya lagi kepikiran soal lain. Soal bagaimana seharusnya mewujudkan akses transportasi yang nyaman dan aman bagi masyarakat, khususnya di Kutai Kartanegara (Kukar).
Ini bukan soal merumitkan sesuatu yang sederhana atau menyederhanakan sesuatu yang rumit. (Kata teman saya, ini penyakit yang kerap menjangkiti kaum akademisi). Ah, untung saya bukan akademisi.
Memang persoalan ini terkesan klise, jamak, dan sudah sangat biasa. Bahwa tanggung jawab pemerintah lah mewujudkan akses transportasi seperti membangun jalan, jembatan, dan infrastruktur mendasar lain untuk warganya.
****
Dengan APBD yang begitu besar, persoalan ini seharusnya memang bukan masalah bagi Kutai Kartanegara. APBD Perubahan Tahun 2009 saja yang disahkan baru-baru ini mencapai Rp5,1 triliun. Jumlah uang yang besar bukan?
Karena belum pernah melakukan perjalanan ke wilayah Hulu Mahakam, saya memang belum paham betul soal seluk beluk moda transportasi di sana. Katanya, memang bisa ditempuh lewat darat meski sebagian jalan belum terlalu mulus. Ada juga yang masih harus ditempuh dengan jalur sungai.
Yang unik, di daerah ini ada sebuah jembatan yang selesai dibangun dengan dana miliaran. Sampai sekarang, jembatan megah dengan model meniru sebuah jembatan di Amerika itu belum bisa digunakan. Karena, jalan yang akan dihubungkannya justru belum dibangun. Jalan dulu atau jembatan dulu? Jadi ingat pertanyaan, duluan mana telur atau ayam, karena tak habis pikir dengan keanehan jembatan ini. Orang di sini bilang jembatan “Abu Nawas”.
****
Mungkin, mengalami masalah mesin perahu yang mati di tengah sungai Mahakam sudah biasa bagi penduduk setempat. Tapi, bukan soal biasa jika pemerintah sangat punya kemampuan untuk ‘membebaskan’ warganya dari hal ‘biasa’ ini. Bagaimana jika terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan?
Ingatan saya melayang pada seorang peneliti Sosiologi kekerasan, Prof. Johan Galtung. Kalau tidak salah, ia juga membangun asumsi bahwa Negara (baca: pemerintah) tidak hanya bisa melakukan kekerasan terhadap warganya melalui mekanisme represif (aparat militer, polisi, dll). Represive State Aparatus (RSA), meminjam bahasa seorang pemikir Marxis, Louis Althusser.
Thesis Galtung, ketika pemerintah mampu mencegah resiko yang mengancam nyawa warganya, tapi tidak melakukannya, maka itu adalah sebuah bentuk kekerasan. Semoga, hasil Pilkada Kukar 1 Juni 2010 mendatang menghasilkan pemimpin cinta damai dan tak suka dengan praktik kekerasan seperti disitir Prof Galtung.

Tenggarong, 17 Desember 2009
Posted by si buah terlarang
on 12/16/2009
Read More »