Selasa, November 03, 2009

sebuah sajak untuk sahabat di pertemuan yang berjarak

kupikir begitulah dia dinamai waktu, kawanku
aku mengingat peristiwa
sementara kau pada akhirnya
menghitung jarak kejadian

ada yang terlupakan, bukan
setelah persahabatan
dipangkas oleh pulau
lautan
serta kenangan

dan kali ini kita saling membaca jejak
pada bertemuan yang dibentang jarak

berlesatan sebuah ingatan
tentang keriangan di sudut ruang kelas
lalu kita pulang dengan catatan
yang mengendap di seragam putih abu-abu

hidup,
seperti juga pelayaran
dalam naungan angin sakal dari arah selatan
jejak camar hanya petunjuk kita yang samar

aku membayangkan
betapa semuanya juga
kelak tumbang
ke haribaan usia

akan ada doa yang kita altarkan
untuk persahabatan
yang tak pernah terkunci oleh jaman

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009
Read More »

hikayat bulan yang tak lagi purnama

tentang perang
yang hadir di bibir ranjang
berdesing-desing

di luar ngiau kucing
seperti berebut tulang
menabrak kaleng-kaleng rombeng

pada selimut dan tirai
ada luka cakar
hingga malam tak lagi bisa berkelakar

hei, angin mengintip kita di jendela
dan embun serupa matamu yang berkaca-kaca
kau membenci rembulan, bukan
percayakah kau tak lagi ia purnama:
di hatiku.

Tenggarong, 2009
Posted by si buah terlarang
on 11/03/2009
Read More »

Rabu, Oktober 21, 2009

lembar doa menuju samudera yang ribuan pena tak akan menghabiskannya sebagai tinta

kemarau
lembar-lembar doa
berguguran
di pucuk sajadah

kitab yang terlipat
menyimpan reranting zikir
yang patah
di sela-selanya

azan bergegas
pada subuh yang lamat
melambat
di puncak surau

bukan oase, musafir
bangun dan hela kafilahmu

tepi samudera yang kau tuju
tak habis kau timba
meski ribuan pena
menjadikannya tinta
Posted by si buah terlarang
on 10/21/2009
Read More »

pulang

aku akan pulang
seperti pinta bulan
sembari menggamit lengan malam
yang kian menua

seperti kau yang telah mengirimkan puisi sunyi malam tadi
yang membuat aku tiba-tiba bertanya
"sejak kapan kucecap asin kenangan"

dari dua aliran sungai
yang tak tahu kemana muara
terlebih arah pulang:
ke bola mataku?

aku akan pulang
tak seperti cintamu itu
seakan lahir dari rahim sajak yang tersakiti
Posted by si buah terlarang
on 10/21/2009
Read More »