Minggu, April 26, 2009

Di Selasar Subuh Ketelanjangan

Pada cium cumbu itu di selasar subuh
kucoba bisikkan larik baris nubuah
agar aku dan kau tak larut sungguh
dalam bercintaan dangkal yang hanya berpuas lelah

bahwa dekap dan peluk kita adalah karamah
bagi hasrat-hasrat jiwa pemuja syariah
upaya lah rintih selalu jaga dalam puja-puji kalimah
sembari nafas mengikat kalam menata desah

Di selasar subuh ketelanjangan
usai zikir terakhir di sajadah hamparan
mufakatkan nawaitu pada kenikmatan
untuk buih-buah rahimmu nantinya kebanggaan
Posted by si buah terlarang
on 4/26/2009
Read More »

Jumat, April 24, 2009

sudilah engkau hai savana

bersudikah engkau?
tentang niatan banal binal
dan lancang khayal
membayangkanmu biarkanku merumput di savana dua bukit itu

Jika wajah temaram tiba...
dan terpejamlah semua mata
jadilah kita sepasang kijang yang bebas meronta
liar kemana hasrat hendak membawa

melenguh lah panjang pendek ulang berulang
perdengarkan pada rembulan dan semua gemintang
meski terlarang bagi penguasa rimba
yang merantai setiap makna desah rintih dan hela pertemuan raga

oooh...bersudikah engkau?
jika tak lagi khayal kebinalanku
usai merumput di savana dua bukit itu
kutuntaskan dahaga banal di gua-gua... tanpa cermin yang menggenang di matamu...
Posted by si buah terlarang
on 4/24/2009
Read More »

Rabu, April 22, 2009

Sekadar Curhat

Akhir-akhir ini semangat kerjaku seolah berada di titik nol. Sepertinya saya butuh momen untuk menyegarkannya kembali. Tapi, sampai saat ini, saya belum menemukan kapan waktunya, apa bentuknya, dan bagaimana caranya….momen itu dihadirkan.
Seingat saya, kejenuhan ini bermula dari sebuah larangan akan suatu peliputan. Sebagai karyawan, loyalitas kepada atasan adalah harga mati. Tak ada istilah menawar jika hal itu bersangkutan dengan persoalan pekerjaan.
Saya teringat kata-kata ayah ketika masih kanak-kanak dulu. “Ketaatan pada pemimpin adalah keharusan sepanjang itu tidak bertentangan dengan perintah Tuhan”. Saya ingat persis, ia tak mengucapkan langsung padaku. Tapi, hal itu adalah prinsip hidupnya yang kutangkap sebagai pelajaran.
Kembali pada persoalan liputan tadi, larangan itu memang berkaitan erat dengan kepentingan politik. Hari itu....saya lupa dan tak mau mengingat-ingat waktunya, sebuah pesan pendek datang. Berisi larangan agar tak meliput lagi kasus tindak pidana Pemilu yang sebelumnya hampir tak pernah saya absen dalam setiap persidangan.
Sebagai karyawan, tentu saya tak mau menanyakan alasannya. Selain karena loyalitas tadi, saya cukup paham apa di balik kasus itu. Setidaknya bisa mengira dan menduga-duga setelah melihat serpihan-serpihan fakta di lapangan.
Memang, saya sempat menawar. Sebab, kasus itu menyisakan vonis hakim. Kepentingan melayani pembaca adalah alasan mengapa saya tetap ingin meliput kasus itu. Bagi saya, prinsip jurnalisme yang tertinggi adalah kesetiaan terhadap pembaca. Dan itu harus mengalahkan segalanya.
Sayang, saya bukan siapa-siapa. Liputan itu harus kutinggalkan. Saya cuma berujar dalam hati, “jika begini, seharusnya dari awal saya diberitahu.”
Kecewa? memang iya. Perasaan itu saya ibaratkan dengan momen saat berhasil menaklukkan perempuan. Perempuan itu yang mau dirayu, disentuh, dan dicumbu, dan memang setuju untuk sebuah persetubuhan. Tapi menjelang klimaks, ia memilih membiarkanku berakhir dengan orgasme yang tak kesampaian....
Hmmm.....komersialisme yang bersenyawa dengan jurnalisme memang kerap melahirkan pragmatisme. Meski komersialisme adalah patahan yang tak bisa dielakkan dalam mekanisme pasar jaman mengglobal ini. Tapi, jika itu dilakukan dengan cara-cara yang tak elegan, komersialisme yang dibingkai kepentingan-kepentingan sesaat hanya akan menjadi bumerang bagi jurnalisme itu sendiri. Wallahu Alam!!!

Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009
Read More »

dari pertanyaan seorang kawan

sepertinya yang sejati itu datang dari pengungkapan
ilmu sejati itu yang menghadirkan
obyek dan subyek saling mengenal dan tak saling mencari...
berlari saling mendekati
meski yang 'satu' lebih dekat
dan tak perlu berlari
Posted by si buah terlarang
on 4/22/2009
Read More »